Draft

Lelucon soal perempuan belum menikah itu memang sama sekali tidak lucu. Misalnya begini, seorang perempuan perangainya buruk. Lalu kebetulan dia sudah berumur dan belum menikah. Lalu dibilang, “Maklumlah, dia itu belum menikah. Kurang belaian. Bla bla bla.” 

Aduh cuy, yang dikatain bukan gue sih, tapi itu pemikiran kurang akal atau bagaimana? Logikanya begini, misal ada perempuan yang sudah menikah tapi perangainya buruk bagaimana? Apakah kita perlu secara khusus menyebutkan status pernikahannya dan memberikan label bahwa pernikahan dan belaian suami, kehadiran baby-baby lucu tidak membuat dia bahagia? Ndak to? Hihi…

Seorang kakak kelas (laki-laki), “Kalau pria semakin tua semakin laku. Kalau perempuan semakin tua semakin sedikit yang mau.” 

Sorry to say but, “Lihat-lihat juga lakinya bagaimana lah. Ya kali kalau dia om-om cerdas, tampan, berwibawa, kali aja banyak yang mau. Lha kalau lakinya (dalam hati: KAYA ELU) pemalas, diajak ngomong nggak nyambung, ya sapa mau.”

​Do we need to label a literary work as good or bad?

Mungkin salahku adalah, aku mendengar anak itu mengeluarkan begitu banyak judgement. Menilai karya ini begini begitu. Sebagian dengan penilaian bagus atau tidak. Sebagian menilai penulis A bagus atau tidak.

Yang pertama kutanyakan pada pakdhe hari itu, sebenarnya hanya untuk bahan pembicaraan ringan, mengapa kita perlu menjudge suatu karya itu bagus atau tidak? 
Sejak pertama kali berkenalan dengan karya sastra, aku tidak pernah mendengar senior-senior atau teman menghakimi suatu sastra bagus atau tidak. 
Kalaupun ada, itu hanya pendapat pribadi. Seniorku pernah bilang “49 Hari” karya Rabindranath Tagore itu bagus pakai banget, tapi ketika kubaca sampai akhir…aku kecewa sudah berekspektasi terlalu tinggi gara-gara kata-kata senior itu. Orang bilang Laskar Pelangi bagus, tapi aku mencoba membacanya beberapa kali dan tak pernah lewat dari Bab 1. Haruskah aku bilang buku itu bagus hanya karena orang-orang bilang buku itu bagus? Atau aku harus bilang buku itu jelek, padahal direkomendasikan di beberapa universitas? 
Jadi sebenarnya apa ukuran karya itu bagus dan tidak? Perlukah kita mengatakan suatu karya bagus, lalu semua orang harus membaca karya itu? Lalu kita bilang suatu karya jelek, lebih baik orang tidak membaca karya itu? 
Salah satu dosen kami pernah bilang, memang tidak ada benar dan salah dalam karya sastra. Tapi, kita bisa melihat nalar seseorang dari caranya menganalisa. Maka yang dipelajari adalah bagaimana kita mempertanggungjawabkan argumen kita. Jadi kritik sastra itu sering kali lebih menunjukkan kitanya, si pengkritik, bukan karyanya. Suatu karya kalau sudah dilepas ke publik, interpretasinya kembali ke publik. 
Karena itu kritik sastra jarang berakhir dengan judgment bagus atau tidaknya sebuah karya. Atau benar atau tidaknya. 
Pakdhe bilang, “itu karena ranahnya kritik sastra. Kita perlu memahami siapa yang dihadapi. Yang ini kan anak-anak yang tidak sedalam itu pemahamannya tentang sastra. Jadi perlu diberi petunjuk mana karya yang bagus dan yang tidak.”
Nooo… artinya kita sudah memosisikan diri sebagai yang lebih tahu dari ‘mereka’? Kritikus sastra tidak membicarakan soal bagus atau tidak, bukan karena mereka sudah paham mana yang bagus dan mana yang tidak. Tapi memang label bagus atau tidak bagus itu mungkin tidak perlu.
Dalam taraf belajar mencintai karya sastra, bahkan tidak perlu menunjuk karya sastra itu baik atau tidak, kecuali hanya sebagai opini. Pakdhe bilang karya Linda Christanty bagus, aku bilang tidak. Itu hanya pendapat pribadiku dari sisi bahasa (terutama karena Pakdhe menyandingkannya dengan SGA). Kita belum bicara soal tema, soal teknik menulis, dll.
Dan itu hanya dari satu karya yang Pakdhe tunjukkan. Karena itu aku berkali-kali bilang, jangan-jangan yang Pakdhe tunjukkan bukan karyanya yang ‘bagus’. 
Balik lagi dalam taraf belajar. Justru dalam taraf belajar dulu agak tabu untuk bicara bagus atau tidaknya karya. Kami hanya disuguhi beberapa cerpen, lalu kami diminta mengomparasikan karya yang satu dan yang lain. Kalau tidak salah, Hamsad Rangkuty dan Budi Dharma. 
Tanpa diskusi itu, mungkin aku hanya akan melihat “Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” sebagai karya yang menceritakan perselingkuhan dosen dan mahasiswa. Yo wis itu saja. 
Apa menariknya dua orang yang berselingkuh, duduk berdua menikmati kelapa muda? 
Tapi kami belajar lagi tentang bagaimana Hamsad Rangkuty membuat judul. Orang percaya judul itu harus pendek. Tapi ia membuat judul yang panjang dengan kata berulang. Katanya judul panjang membuat orang cepat lupa, tapi judul cerpen Hamsad Rangkuty justru nempel di kepala. 
Lalu kami belajar tentang cerita dalam cerita. Sebagian teman awalnya menganggap cerita sisipan yang ia taruh di awal itu sebagai yang utama. Mereka lupa bahwa cerita itu sejatinya hanya bercerita tentang perselingkuhan. Dan kami sepakat bahwa cerita sisipan itu lebih hidup daripada cerita aslinya. 
Ok ini bukan teknik yang baru, tapi ia menggunakan teknik itu dengan tepat, sehingga cerita perselingkuhan yang biasa-biasa saja bisa diramu menjadi kisah yang lebih hidup. Kita tidak bilang teknik menulis ini bagus, tapi teknik ini digunakan pada saat yang pas, pada cerpen yang tepat. 
Kita belajar tentang deskripsi suasana yang kuat. Ia menggambarkan pergolakan batin perempuan yang ingin bunuh diri itu. Betapa ia ingin membuang semua hal dari laki-laki yang membuatnya ingin bunuh diri, tapi ia tidak mampu. Karenanya ia membuang segala yang melekat pada dirinya, hingga membuang dirinya sendiri. 
Nggak cuma Hamsad Rangkuty yang punya deskripsi kuat, tentu saja. Tapi dari karya itu ternyata kita bisa belajar banyak mulai dari judul, teknik, deskripsi, dll. 
Dari situ kita jadi penasaran. Tidak perlu bilang karya itu bagus atau tidak, kita bisa menilai sendiri. Kadang yang tampak buruk di satu sisi, ternyata di sisi lain sangat bagus. 
Trus zaman dulu ada karya anak SMA. Dia menerbitkan bukunya sendiri. Aku lupa judulnya. Novel berbahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya nggak sempurna. Ceritanya biasa saja. Tapi aku nggak bisa bilang karya itu jelek. Di zaman itu tidak banyak penulis anak yang berani menulis novel berbahasa Inggris, lalu berani menerbitkannya. Entah di bawah penerbit ternama atau indie. I really appreciate that. Dan sangat tidak arif untuk membandingkannya dengan karya anak-anak yang berbahasa Indonesia. Atau karya berbahasa Inggris di luar negeri. Itu kaya membandingkan sesuatu yang bukan pada tempatnya dibandingkan.
Kalau aku pribadi merasa, sastra itu karya seni. Bagaimana menilai sebuah lukisan abstrak bagus? Kadang dia cuma coretan saja, tapi dibilang bagus. Kita bisa bilang bagus karena kita menafsirinya dengan indah-indah. Kadang karya sastra juga begitu. 
Apa bagusnya puisi “Tragedi Winka dan Sihka” kalau kita tidak paham cerita di belakangnya? Maka kalau menurutku, ketimbang memulai dengan bagus tidaknya, lebih nikmat memaknai karya itu. Bahkan setelah memaknai, kadang juga ndak perlu menyimpulkan bagus atau tidak. Kecuali hanya sebagai pendapat pribadi. Atau kita jadi juri, boleh lah. Tapi juri pun hanya memilih yang ‘lebih’ dibanding yang lain kan? 
Menilai suatu karya bagus atau tidak juga kurang arif karena karya seni itu kaya lautan yang dalam atau semesta yang luas. Kadang kita hanya menapakinya sepetak, yang berpetak-petak lagi tak tampak. Bagaimana kalau kita bilang karya itu jelek, sehingga orang nggak mau mengeksplor lagi? Padahal ketika dieksplor, mungkin dia bisa menyelami lebih dalam. Bukan berarti karena dia lebih muda, lebih belakangan masuk, lebih junior, kemampuannya menyelami karya tidak lebih bagus dari kita kan? 
Di sinilah sebuah karya seni tidak bisa dilihat seperti ilmu pasti. Setahuku, alat-alat yang ada, seperti berbagai pendekatan, bukan diciptakan untuk menilai karya sastra bagus atau tidak. Lebih untuk membantu kita memahaminya. 

Berdebat Soal Kalimat Panjang

Ada dua hal yang kami bicarakan malam itu. Pertama, tentang kalimat yang panjang, yang kemudian dikaitkan dengan karya terjemahan. Kedua, tentang perlu atau tidaknya melabeli sebuah karya sastra bagus atau tidak.

 

Aku seperti dibawa dalam kenangan sepuluh tahun lalu ketika masih duduk di ruang diskusi, menguliti karya sastra satu per satu. Tak banyak karya sastra kubaca. Bahkan hari ini semakin sedikit. Dan di titik ini aku merasa, membaca karya sastra itu sesederhana menyelesaikannya hingga kalimat terakhir. Nggak perlu ndakik-ndakik membahas secara struktural, psikologis, dan lain-lain. Bisa menyelesaikannya saja Alhamdulillah. Hahaha…

 

Balik ke diskusi, kedua tema itu itu awalnya dimulai dariku. Kok yo aku harus mulai mempermasalahkan itu? Mbuh…haha

 

Awalnya Uda Gita datang, duduk bersama kami yang tak jadi ke pantai. Dia membawa beberapa lembar naskah calon buku. Aku nyelonong meminjam lalu membacanya. Lha aku penasaran kok.

 

Aku masih ingat, kalimat panjang itu adalah kalimat kedua. Sekitar tiga baris lebih beberapa kata. Kalau beberapa kata ini dihitung, kalimat itu terdiri dari lima baris.

 

Pakdhe men-skak aku dengan mengatakan aku terpengaruh gaya bahasa jurnalistik. Apa yang kubaca dan kutulis tiap hari adalah produk jurnalistik. Karenanya, aku merasa kalimat itu harus pendek. Sebab, kalimat jelas, singkat, dan padat merupakan bagian pakem dari aturan bahasa jurnalistik.

 

Tidak, Pakdhe. Aku segera meralat kata-kataku. Ini bukan soal panjang dan pendek. Bagiku ini soal rasa, selera, dan ‘aliran’ (flow) dalam membaca. Makanya ketika aku mengkritik kalimat-kalimat sangat panjang yang kutemukan di tulisan itu, lalu oleh beberapa orang dikatakan tidak apa-apa kalimat itu panjang, aku diam.

 

Diamku dalam hal ini pertanda, “It’s ok. Ya sudah. Ndak papa. Ndak masalah. It is only a choice.”

 

Bagiku, yang kuyakini selama ini, kalimat-kalimat pendek lebih mudah dipahami. Ia memberikan aliran tersendiri dalam ritme membaca. Ia memberikan jeda, sehingga membaca tidak terasa berat. Ia memberikan kesempatan bagi otak untuk memilah gagasan-gagasan yang ada dalam satu kalimat, sehingga tidak tumpang tindih, tidak mengaburkan satu sama lain.

 

Ketika Pakdhe berkata, “Memangnya kenapa dengan kalimat panjang? Aku tidak masalah dengan kalimat panjang.”

 

Aku tidak punya argument lain. Ibaratnya kalau harus menjawab, aku akan bilang, “Ya sudah kalau Pakdhe nyaman membaca kalimat panjang. Aku tidak nyaman dengan kalimat sepanjang itu.”

 

Aku tidak bisa mengatakan, “Kalimat panjang itu membuat orang berpikir lebih berat.” 

 

Kenyataannya Pakdhe tidak berpikir begitu kan? Kalau aku mau mengatakan kebanyakan orang akan berpikir lebih berat ketika membaca kalimat panjang, aku harus membuktikan itu dengan survei atau penelitian yang lain. Aku ndak punya.

 

Bahkan kalaupun ada yang bisa membuktikannya dengan survei, aku tidak bisa menafikan bahwa ada orang-orang yang menyukai hal di luar yang mainstream. Dan setiap penerbit punya warna sendiri yang ingin dibawa, pembaca yang menjadi target, dan idealisme yang ingin dipegang atau dipertahankan.

 

Di situ letak ‘ndak masalah’-nya.  

 

Dan di situlah menariknya ilmu bahasa, budaya, sastra. Kita tidak perlu beradu pandang untuk menemukan satu kesepakatan. Ya mungkin dalam hal tertentu ada, tapi dalam banyak hal kita tidak perlu sepakat.

 

Kupikir semua sudah selesai ditelan meja kotak, kartu uno, bau bangkai, dan rasa kantuk malam itu. Kami pindah di bagian depan, di pojok Kafe Semesta.

 

Lalu Pakdhe mengajukan tema itu lagi. Kenapa kalau kalimat panjang? Aduh, kan aku tidak bilang harus panjang. Tapi buatku, tidak sepanjang itu juga.

 

Ini pengalamanku membaca kalimat panjang itu. Aku menikmati kalimat pertama. Ringan, enak dibaca, dan mudah dipahami. Lalu aku bergerak pada kalimat kedua. Awalnya masih enak dibaca, lalu aku bertemu koma, masih bisa dibaca, bertemu koma lagi, mulai hilang konsentrasi, lalu di akhir kalimat aku berhenti dengan pikiran, “Aku nggak paham. Dan aku malas membacanya untuk kedua kali. It takes my time.”

 

Tapi lagi-lagi, itu pengalamanku. Kalau Pakdhe dan orang lain punya pengalaman berbeda, kalau para pembaca lain pun begitu, it’s ok. Aku akan memilih buku lain yang nyaman buatku. Atau kalau memang isi buku itu sangat menarik untuk diketahui, aku akan mengalahkan kesulitan itu untuk membacanya.  

 

Nah pandangan bahwa aku terpengaruh oleh sisi jurnalistik itu bisa dibilang sebagai adhominem. Aku tidak bisa berbohong bahwa jiwa jurnalistikku akan memengaruhi beberapa aspek kehidupan. Misalnya, aku akan lebih skeptis, lebih banyak bertanya, dan sebagainya. Tapi tidak dalam semua hal aku njuk kaya wartawan -,-

 

Begini, beberapa alasan di awal sudah kusampaikan. Kenapa kalimat pendek? Bagiku dan bagi beberapa orang yang setipe denganku, kalimat pendek lebih mudah dipahami, lebih efektif, tidak melelahkan. Kalau bisa satu kalimat itu dibaca satu napas.

 

Apakah ini kaidah jurnalistik? Tidak juga. Zaman dahulu, tidak hanya kaidah jurnalistik yang mengajarkan kalimat singkat, padat, dan jelas. Dalam pelajaran bahasa Indonesia pun diajarkan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang mudah dipahami, singkat, padat, dan jelas.

 

Bagaimana dengan kalimat jurnalistik di masa ini? Jurnalisme sudah berkembang begitu jauh. Kita mengenal jurnalisme sastrawi yang bahasanya terkadang mendayu-dayu. Ada jurnalisme data yang bermain dengan tabel-tabel, diagram, dan sebagainya. Ada jurnalisme warga, yang bentuknya terkadang sangat bebas. Banyak lagi lah, aku juga belum khatam memelajarinya. Jadi ini bukan soal jurnalisme.

 

Nah, karena ini soal keterbacaan, aku menyimpulkan kemampuanku membaca tidak secanggih orang lain yang mampu membaca kalimat panjang. Jadi kalau ada orang yang nyaman dengan kalimat-kalimat panjang, it’s ok.

 

Mari bergeser pada bahasan 1a, yaitu kalimat panjang dalam karya terjemahan. Orang punya alasan masing-masing dalam menerjemah. Ini terkadang menentukan hasil terjemahan. Dan berbeda itu tidak apa. Mungkin ini yang harus berkali-kali kuucapkan pada diri sendiri dan pada orang lain. Tidak ada aturan saklek, termasuk dalam menerjemah.

 

Untuk karya yang dipublikasi, jumlah buku yang terjual mungkin akan menunjukkan seberapa buku itu mampu menarik. Walaupun, promosi, sampul/perwajahan, jenis kertas, dan lain-lain juga akan berpengaruh. Selain itu, feedback dari pembaca juga menentukan.

  

Dalam karya terjemahan, tujuan utama menerjemahkan suatu tulisan adalah untuk menyampaikan ide dan gagasan penulis aslinya. Kalau sebuah karya terjemahan tidak mampu menyampaikan gagasan penulisnya, untuk apa diterjemahkan? Itu seperti yang Mas Ahmad bilang. ‘Minimal’ sebuah karya terjemahan itu bisa dipahami saja, kita harus sudah mengapresiasi. Kalau tidak ada yang mau menerjemahkan karya orang dari bangsa lain, pengetahuan kita hanya akan berkutat di sini-sini saja.

 

Ada banyak karya yang dalam bahasa aslinya memiliki kalimat sangat panjang. Banyak koma dan banyak penjelasan dalam tanda penghubung –kaya gini. Buat saya, tak ulang lagi, bukan panjang pendeknya yang utama. Tapi keterbacaannya. Kemampuannya dipahami. Kalau dalam kalimat super panjang, seperti aslinya, ia menjadi sulit dipahami, kurasa tak ada salahnya diperpendek. Secara teknik, melakukan parafrase atau memecah kalimat menjadi beberapa bagian itu ‘legal’ kok. Selama tidak mengubah arti.

 

Jika dengan cara itu kalimat jadi lebih enak dibaca, lebih mudah dipahami, maknanya lebih mudah tersampaikan, ‘flow’nya lebih dapet, kenapa tidak? Maksud saya, memendekkan kalimat bukan sesuatu yang ‘haram’ dalam ilmu menerjemah. Dan dalam beberapa kasus yang pernah kualami, suatu kalimat yang saangat panjang kadang memang perlu dipecah.

 

Berbeda lagi dengan karya sastra. Saya termasuk yang tidak berani menerjemahkan karya sastra. Karena itu ketika Mas Olih bilang ada beberapa cerpen, saya cepat bilang NO. Menerjemahkan karya sastra butuh perjuangan lebih. ‘rasa’ sastra, taste of the masterpiece itu sulit dituangkan dalam karya terjemahan. Pandangan bahwa “minimal” sebuah karya terjemahan itu mudah dipahami menjadi agak-perlu-dikesampingkan.

 

Kenapa? Karena bahasa tak bisa dipisahkan dari pola masing-masing bahasa. Aduh apa istilahnya ya? Struktur, tenses (untuk bahasa Inggris), gender, kosakata, latar belakang budaya, bahkan mungkin sejarah bahasa itu sendiri. Itu menjadikan setiap bahasa punya cirri khas dan rasa tersendiri.

 

Belum lagi bicara soal karya sastra. Ia pun kental dengan latar belakang si penulis, tempat, waktu, dan sebagainya. Bagaimana mempertahankan semua unsur itu dalam karya terjemahan? Menurut saya, yang bisa dilakukan hanya mendekati. Sebagus-bagusnya karya terjemahan hanya mampu mendekati rasa karya aslinya. Tapi ia tak akan pernah menggantikan atau menyamainya.

 

Saya tidak bisa menyalahkan jika ada orang lebih memilih membaca karya terjemahan yang mudah dipahami daripada karya aslinya yang sulit dimengerti. Tergantung tujuan membacanya. Kalau tujuannya memahami, ya mending membaca terjemahannya. Apalagi kalau kemampuan kita memahami bahasa asing terbatas. Saya ndak ngerti bahasa Arab. Maka ketika redaktur saya mampu menjelaskan isi buku berbahasa Arab, saya senang sekali. Tapi rasa skeptis saya naik 75%. “Memang begitu, atau dia memahaminya begitu?”

 

Nah, kalau kita menginginkan feelnya, ingin menyelami pemikiran si penulisnya secara lebih dekat, atau dalam taraf tertentu ingin memahami karakter asli si penulis, ya kudu baca aslinya. You will never got it except you read the real masterpieces. Satu-satunya ya dari buku aslinya.

 

Menurut saya, cara terbaik menikmati karya terjemahan adalah memperlakukannya sebagai karya terpisah dari yang asli. Nah ini jadi pertanyaan lagi. hahaha. Maksud saya bukan tidak mengaitkan sama sekali dengan karya asli. Ibarat menonton film yang kisahnya diambil dari novel deh. Biar nggak mencak-mencak, perlakukan film itu seperti film yang terinspirasi dari novel. Sementara novelnya adalah novel yang mampu menginspirasi orang untuk membuat film. Bukan novel yang film atau film yang novel. Ya gitu lah pokoknya. Hahahah

 

Buku terjemahan juga gitu. Buku asli dan buku terjemahan adalah dua karya yang berbeda. Karenanya, walaupun kita sudah membaca buku Noam Choamsky yang terjemahan, di daftar pustaka kita tidak boleh memasukkan karya Noam Choamsky asli seakan-akan kita sudah membacanya. Yang dimasukkan ya nama penerbit terjemahannya kan?

 

Nah, ketika ngomong soal pola bahasa itu. Saya bingung mencari istilah yang tepat sih. Mungkin lebih tepatnya ‘rasa/feel’ kali ya, yang di dalamnya ada struktur, kosakata, tenses, kultur, dll. Ketika sedang membahas itu, tiba-tiba Pakdhe menyebut soal kata tertentu yang tidak ada dalam bahasa lain. Misalnya benda, hewan, bunga tertentu. Pakdhe mencontohkan kata “spork” yang merupakan gabungan spoon dan fork.

 

Sebenarnya itu pembahasan yang berbeda dari yang kumaksud. Tidak sepenuhnya berbeda sih. Kosakata dan pilihan kata atau diksi adalah bagian kecil yang membentuk rasa. Setahu saya, ada beberapa cara untuk menerjemahkan yang seperti ini. Misalnya, pertama, mempertahankan istilah itu dalam bentuk aslinya. Saya termasuk yang tidak masalah kalau orang mempertahankan kata asli dalam bahasa asing dengan tanda kurung. Dengan catatan, tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan makna aslinya. Atau dia tidak menemukan. Daripada dia mengganti dengan kata bahasa Indonesia yang asal-asalan, nggak pas, nggak papa pakai tanda kurung. Buat saya ini bukan “biar kelihatan pintar.” Kadang memang ada kata-kata yang tidak ada istilah tepatnya. Akan lebih indah lagi kalau si penerjemah berjuang mencari kata yang sepadan. Tapi ya, nggak bohong kadang penerjemah juga dikejar deadline tah?

 

Kedua, dicari padanan yang paling mendekati dalam bahasa Indonesia. tujuannya agar lebih mudah dipahami, lebih enak dirasa-rasa dengan cita rasa Indonesia. Ya di satu sisi bagus. tapi dalam pelaksanaannya kadang ndak bagus. Misal asuransi kesehatan njuk diterjemahkan jadi BPJS, kan nggak lucu. Atau wombat, binatang khas Australia trus disebut marsupial. Padahal marsupial khas Australia kan banyak, dan wombat cuma salah satunya. Ketika dipertahanankan, kadang, hanya dengan kata ‘wombat’ saja kita tahu seting cerita itu ada di Australia. Ya semacam itu lah.

 

Ketiga, bisa dijelaskan dengan deskripsi. Misal spork. Tidak ada kata yang tepat untuk menggantikan kata spork. Tapi bahasa Indonesia mengenal kata sendok dan garpu. Ya udah dijelasin aja kalau spork itu gabungan sendok dan garpu. Atau alat makan yang satu ujungnya sendok, ujung lainnya garpu. Atau kita bikin singkatan juga jadi serpu. Wkkwkwkw. Kata lain, misalnya kebelet. Kita nggak punya kata plek dalam bahasa Inggris yang artinya kebelet. Tapi “aku kebelet” bisa dijelaskan dengan “I wanted to pee,” “I need to pee,” “I neet to go to the bathroom,” dan lain-lain. kalau kebelet kawin? Lain lagi.

 

Nah, Uda Gita sempat bilang, kalau ada kalimat yang panjang, banyak koma, kalau perlu dipertahankan ya dipertahankan. Trus setiap bahasa punya kata yang mudah, sedang, berat, jangan karena kita ingin tulisan itu mudah dipahami lalu kita memakai kata yang mudah, padahal naskah aslinya kata itu berat.

 

Iya, itu soal feel tadi. Makanya aku koreksi di awal bahwa masalahnya bukan soal panjang pendeknya. Terkadang bentuk panjang itu perlu dipertahankan. Tapi ketika itu mengganggu flow atau proses pemahaman, memotong kalimat bukan suatu yang haram. Soal diksi juga sudah dibahas tadi. Kenapa banyak karya sastra kehilangan ‘rasa’, dan setelah ditelaah ternyata kata-kata canggihnya diterjemahkan menjadi kata tidak canggih? Kurasa itu bukan karena penerjemah ingin membuatnya mudah dipahami, tapi lebih pada kemampuan si penerjemah dalam menemukan kata yang sepadan.

 

Soal bagus atau tidak karya sastra kutulis lain waktu kalau ingat :p

 

Hukuman Mesum

Sekitar tahun 2014, seorang teman bercerita padaku tentang sepasang remaja yang ketahuan berhubungan seksual di tempat umum. Malam hari, mereka asyik memuaskan hasrat di tengah semak-semak, di sebuah kawasan wisata. 

Apes, mereka ketahuan oleh  warga yang sedang ronda. Mereka diminta telanjang, berhubungan seksual, lalu direkam oleh orang-orang itu. 

Ekspresi pertama saya, kaget. Saya mungkin terlambat mengetahui cerita gila semacam ini. Masyarakat seperti apa yang ada di sekitar kita? Itu yang saya pikirkan selanjutnya. 

Iya, masyarakat seperti apa? Mereka menggerebek ‘pasangan tak resmi’ yang melakukan hubungan seksual. Tapi mereka melakukan pemerkosaan terhadap keduanya dengan memaksa mereka berhubungan dan menjadi tontonan. Mereka semakin gila dengan merekamnya. 

Sebagian masyarakat mungkin akan berpendapat itu konsekuensi, hukuman moral, cara membuat jera, dan sebagainya. Tidak, itu hanya bentuk kegilaan lain. 

Apakah karena seseorang bersalah, orang lain boleh melakukan kesalahan juga? Apakah karena kamu dipukul kamu harus memukul? Karena saudara kamu dibunuh, lalu kamu berhak membunuh? 

Jika ya, kapan rantai kekerasan, pencabulan, pembunuhan, dan berbagai kejahatan lain akan berhenti? 

Masih segar cerita ketika seorang remaja dihukum, diarak telanjang. Ia malu hingga mencoba bunuh diri. Ada juga pelaku kejahatan yang diminta membuka pakaian hingga tinggal celana dalam berbentuk segitiga, dipajang didepan orang, difoto, dan disebarkan. 

Sebagian masyarakat yang sangat moralis beranggapan bahwa pemenuhan kebutuhan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan standard mereka tidak bisa diterima. Jika ada yang melakukan zina, maka 40 rumah di samping kanan-kiri akan ikut menanggung dosanya. Karenanya, mereka merasa punya tanggung jawab sangat besar untuk menghilangkan praktik semacam ini. 

Pihak lain berpikir kebutuhan dan pemenuhan seksual adalah ranah pribadi. Karenanya masalah seksual tak seharusnya masuk ranah hukum. Misalnya, chat seks habib rizieq dan firza husein seharusnya tak dimasukkan ranah hukum, begitu pula kasus yang sudah lama antara ariel peterpan dan luna maya. 

Tentu ada pengecualian. Itu bisa dibawa ke ranah hukum ketika ada unsur pemaksaan atau pemerkosaan, kekerasan, hubungan seks dengan anak di bawah umur, dustribusi konten porno, dan sebagainya. 

Bagi saya, keduanya tidak menjadi masalah. Kaum moralis seharusnya memgetahui batasan mereka. Misalnya untuk tetap menerapkan praduga tak bersalah, menghormati hak asasi mereka, tetap memperlakukan sebagai manusia, melakukan cara-cara yang baik, melakukan pembinaan, dan sebagainya. Kelompok lainnya seharusnya pun mempertimbangkan dampak dari aktivitas ranah pribadi ini terhadap masyarakat luas. 

Saya rasa cukup susah kita menyuburkan ironi yang selama ini terjadi. Tak ada ruang bagi kaum moralis, jika dengannya mereka merasa boleh melakukan tindakan atau hukuman amoralis kepada kelompok yang mereka anggap amoralis. 

Saya lagi-lagi teringat nasihat Pramoedya Ananta Toer. Sepertinya, kalimat ini sangat ampuh dalam banyak hal. “Adillah sejak dalam pikiran, apabila perbuatan.”

Gencar lalu Menghilang

Saya sebenarnya tidak pernah kaget dengan orang seperti ini. Ia datang tiba-tiba, mengontak Anda dengan menggebu-gebu, lalu menghilang begitu saja. Orang tipe ini begitu mudah ditebak dari awalnya. 

Saya tidak tahu apa motivasi orang-orang seperti ini ketika mengontak saya. Bagi saya, pertemanan adalah hal baik. Saya mungkin terlalu “gampangan”-nya. Saya katakan ini dengan jelas dalam tulisan ini. 

Saya akan menerima ajakan lelaki yang menurut saya (menurut saya, artinya pertimbangan pribadi saya) baik. Baik menurut intuisi saya, tidak berbahaya, tidak punya niat buruk selain berteman atau menjalin hubungan jenis lain yang tujuannya juga baik. 

Saya akan pergi makan walau hanya berdua. Saya tidak masalah nonton film berdua. Saya tidak masalah jalan-jalan berdua. Sebut saya gampangan, kalau persepsi Anda mengatakan begitu. Tapi saya punya pemikiran lain. 

Bagi saya, pertemuan semacam itu sama dengan ketika saya bertemu berdua dengan teman perempuan. Saya tidak membedakan itu. Dan sejauh ini saya mampu “menjaga diri”. 

Sebut saya gampangan, karena saya gampang diajak ke mana-mana oleh pria mana saja. Tapi sekali Anda melanggar batas privasi saya, you will end. You will loose my respect. 

Walau saya menyebutnya kencan ketika bercanda, nonton berdua bukanlah “kencan intim”. Makan berdua bukan “intimate dinner”. 

Saya senang membangun ikatan pertemanan yang kuat, yang bagi saya bisa terbangun ketika kita ngobrol dalam kelompok kecil. Berdua, bertiga, berempat. Sesederhana itu saya memandang pertemuan-pertemuan dengan beberapa teman pria. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Saya bertemu mereka berdua, berteman dengan baik, bahkan ketika mereka telah menikah kami masih menjadi teman baik. 

Saya tidak tahu apa yang membuat mereka kecewa, sehingga sebagian teman pria yang awalnya gencar menghubungi tiba-tiba menghilang. Is it because of me? Is it because of any other things? 

Saya tidak mau pusing memikirkan hal semacam ini. Bagi saya, itu menunjukkan siapa mereka, bukan saya. 

Saya selalu punya intuisi terhadap orang-orang seperti ini. Saat mereka tampak begitu bitchy talking to me, saya membiarkan mereka bicara sepuasnya. Saya biarkan mereka menghubungi saya, mengajak saya pergi, saya biarkan mereka menunjukkan diri mereka. 

Saya berusaha berpikir positif bahwa intuisi saya salah. Bahwa sejauh mereka tidak pernah berbuat jahat pada saya, saya harus menempatkan mereka pada posisi netral, bahkan baik. Bahwa mereka tidak sealai ucapannya yang manis berbunga-bunga. Mereka adalah pribadi yang baik dan tulus. 

Sebagian besar pikiran positif saya salah. Minimal, intuisi bahwa dalam tahap tertentu mereka akan pergi begitu saja, sering sekali benar. 

Saya tidak tahu mengapa sebagian orang memilih terus dekat dengan saya. Mengapa sebagian memutuskan pergi. Saya lebih senang membiarkan mereka yang ingin membersamai saya tetap di sana dan yang tidak ingin saya biarkan. 

Saya tidak punya sesuatu yang cukup menarik untuk memaksa orang tetap bersama saya. Tapi saya yakin, saya adalah pribadi pilihan Tuhan yang ia ciptakan unik, seperti halnya orang lain. Tuhan tidak akan membiarkan saya sendiri. Dan mereka yang akan tetap bersama saya tentu telah menemukan sendiri sebabnya. 

Saya tidak merasa kehilangan. Saya kadang merasa membuang waktu berteman dengan orang-orang yang hanya mampir. Tapi katanya, setiap pertemuan itu tidak pernah sia-sia. Kadang saya memilih membuang sama sekali mereka yang tiba-tiba berubah sikapnya entah karena apa. 

Saya tidak ingin pusing. Hidup saya juga bukan ladang politik. Untuk menjadi dekat dengan saya, siapapun tak perlu bermain tarik ulur. Bertemanlah dengan jujur, tulus, tanpa permainan, tanpa perlu taktik. Saya memilih berteman dengan sedikit teman yang akan keep hanging on my life amd my mind, wherever they go. I do appreciate good friends. 

Pengalaman Mengurus KTP-el Hilang dan Surat Keterangan Pengganti

Seperti diminta Mbak Desy Indriana di status Facebook saya, hari ini saya tulis prosedur mengurus KTP-el yang hilang dan surat keterangan (suket) pengganti. Semoga bermanfaat untuk teman-teman di wilayah Depok, Sleman. 

Seperti disebutkan di berbagai artikel media online, syarat mengurus KTP-el yang hilang dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) sangat sederhana. Hanya perlu surat kehilangan dari Polsek dan fotokopi KK. Keduanya dibawa ke Kantor Kecamatan, lalu kecamatan akan meneruskan ke Disdukcapil. 
Nah, blanko KTP-el yang habis ternyata memberi dampak pada banyak hal. Pencetakan KTP-el jadi lebih lambat dan pengurusannya cenderung lebih ribet. Selama KTP-el belum jadi, kita diberi surat pengganti KTP-el sementara yang berlaku untuk enam bulan. 
Begini praktiknya. Pertama, mintalah surat keterangan kehilangan KTP-el ke Polsek. Saya mengurus di Jakarta. Syaratnya, bawa saja kartu identitas lain, misalnya SIM. Prosesnya cepat (kalau lama karena antri). Gratis.
Kedua, Mintalah surat keterangan penggantian KTP-el dari Ketua RT. Surat ini harus ditandatangani oleh Ketua RT, Ketua RW, dan Kepala Pedukuhan. Gratis juga. Tapi kadang ada yang menyediakan kotak amal sukarela. Biasanya dialokasikan untuk kas kampung atau pembangunan masjid. 
Ketiga, Setelah tanda tangan lengkap, ambil blanko permohonan KTP-el di Kecamatan (Saya nggak tahu apakah tersedia di Kelurahan. Saya mendapatkan ini di kecamatan, karena sebelum ke kelurahan saya sudah bolak-balik ke kecamatan 2x). Isi blanko, lalu mintakan tanda tangan ke kelurahan. 
Di kelurahan, prosedurnya tidak ribet. Kumpulkan saja semua syarat, yaitu fotokopi KK, surat pengantar dari RT/RW/Dukuh, surat kehilangan dari polsek, dan blanko permohonan KTP-el (2 blanko dari kecamatan tadi). Surat permohonan KTP-el akan ditandatangani, sementara surat pengantar akan disimpan oleh kelurahan. Berkas yang lain dikembalikan.
Keempat, bawa semua berkas tadi ke kecamatan. Datang pagi-pagi biar nggak antri banyak (karena Anda perlu antri 2x hahaha). Ambil antrian, lalu serahkan semua berkas. Semua berkas tadi akan disimpan, kecuali lembar permohonan KTP-el. Itu akan dikembalikan ke kita sebagai bukti pengambilan. KTP-el saya dijadwalkan bisa diambil pada 12 Januari 2018. 
Nah, kalau mau mendapatkan surat keterangan pengganti KTP-el. Surat ini harus difotokopi beserta lampiran fotokopi KK dan 2 lembar foto ukuran 4×6. Inilah kenapa kita (atau saya) harus mengantri 2x, karena perlu memfotokopi surat permohonan KTP-el. 
Nah, setelah berkas yang kedua ini diserahkan, kita akan diberi selembar bukti pengambilan suket. Suket saya dijadwalkan bisa diambil dalam 7 hari (15 Mei 2018). 
Kenapa lama? Begini. Suket diterbitkan oleh kecamatan, lalu kecamatan akan memintakan ttd Kepala Disdukcapil, baru dibawa kembali ke kecamatan untuk diserahkan pada kita. 
Karena sudah mendesak, saya minta kecamatan untuk mencetak suket. Saya bawa sendiri ke disdukcapil. Di disdukcapil, berkas ini diterima, lalu saya diberi bukti pengambilan. Saya bisa mengambil surat ini di hari berikutnya (9 Mei 2018). Hari berikutnya, saya ambil. Selesai. 
Semua proses di kecamatan dan disdukcapil gratis. Di kecamatan kita hanya diminta memberi sumbangan PMI sebesar Rp 3.000. 
Not simple at all. Tapi paling tidak, kalau sudah tahu prosedur di atas, kita tidak bolak-balik tanpa kejelasan. Itu menguras tenaga, waktu, dan emosi. Banyak bersabar karena ini salah satu ujian dalam kehidupan. 😂
Jangan lupa dukung KPK mengungkap kasus korupsi KTP-el karena kita tahu segala keribetan ini sumbernya dari mana. 😉 

Buku non-Sastra April Abjad N-Z

Pemesanan via WA 089619000106

SMS/TELP 082213159585

———————————-

N. Riantiarno, Maaf. Maaf. Maaf, Politik Cinta Dasamuka, Cerita Sandiwara, Jakarta: GPU, Maret 2005, 138 hlm, 30.000

N. Syam.H, Bulembangbu, Kisah Pahit Seorang Tahanan G30S, Jakarta: Cipta Pustaka, 2009, vii+262hlm, 45.000

Nadjamuddin Ramly & Hery Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Muhammadiyah, Pemikiran dan Kiprah, Jakarta: Best Media,  Juni 2010, 332 hlm, 35.000

Nanang Suryadi, Penyair Midas, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Indie Book Corner, 168hlm,40.000

Nance Guilmartin, simpan kepalamu biarkan hatimu yang bicara (perbincangan yang menyembuhkan), Yogyakarta: Baca, 2005, 395hlm, 50,000 

Nanda Ekarini, Super Stylish, Yogyakarta: Diwan, 2005. 34.000

Naning Pranoto, dkk., Antologi Cerpen Indonesia-Malaysia, kumcer, Kuala Lumpur: ITBM & YOI, 2013, xxviii+320 hlm, 13,5 x 18,5 cm, 75,000

Naning Pranoto, MA, Dra., Her Story, Sejarah Perjalanan Payudara, mengungkap Sisi Terang-Sisi Gelap Permata Perempuan, Yogyakarta: Kanisius, 2010, 57 hlm, 18 cm, 20.000

Narudin, Matahari Hitam Belinda, Cerpen, Yogyakarta: Garuda Waca, 2014, 101 hlm, 32.000

Narudin,. Aku Dan Tuhan, dan Sepilihan Sajak Lain,  Yogyakarta: Garudhawaca, Okt 2013, 13×19 cm, 52 hlm, Rp 35.000

Nasir Abbas, Membongkar Jamaah Islamiyah, Pengakuan Mantan Ketua Jamaah Islamiyah, jakarta: Abdika Press, Sept 2009, 332hlm, 60.000

Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-qur’an, Yogyakarta: IRCiSoD, 2016, 400 hlm, Rp 125.000

Nasrul Hamdani, Komunitas Cina di Medan, Dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930-1960,Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2013, xxxvi+227hlm, 60.000

Nawal El Saadawi, Jatuhnya Sang Imam, novel, Jakarta: YOI, 2003, 11×17 cm, 160 hlm, 38.000

Nawal El Saadawi, Memoar Seorang Dokter Perempuan, Jakarta: YOI, 11x17cm, 126 hlm. 35.000

Nawal El Saadawi,Matinya Seorang Mantan Menteri, Jakarta: YOI, 2005, 11×17 cm, 134 hlm, 25.000

Nawal el Saadawi. Perjalananku Mengelilingi Dunia. Buku Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2006. 13,5×18,5 cm; 305 hlm. Rp 45.000

Nawal El-Saadawi, Love in the Kingdom of Oil, Novel, Jakarta: Obor, 2012, iv+252 hlm, 45.000

Nawal El-Saadawi, Love in The Kingdom of Oil, novel, Jakarta: YOI, 2012, 251 hlm, 45.000

Neil Douglas-Klotz (Saadi Shakur Cristhti), Terapi Asmaul Husna untuk Zaman Kita, Jakarta: Serambi, 2010, 455 hlm, 50.000

Neni Muhidin, Selfie: Sewindu Catatan dari Palu, Palu: Nemu, Feb 2015, 330 hlm, 70.000

Nersalya Renata, Lima Gambar di Langit-langit Kamar, Sepilihan Puisi, Yogyakarta: AKAR Indonesia, Jan 2015, 88 hlm, 40.000

Nezar Patria & Andi Arief, Antonio Gramsci, Negara & Hegemoni, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, 209 hlm, 45,000

Ngurah Parsua, 99 Puisiku, Bali: Lesiba, 2008, xvi+131hlm, 20.000

Ngurah Parsua, Air Mengalir, Kumpulan Puisi, Denpasar: Cakra Press, mei 2014, xiv+112 hlm, 35,000

Ngurah Parsua, Angin Malam, Himpunan Cerpen, Bali: Lesiba, 2008, viii+306hlm, 25.000

Ngurah Parsua, Bunga Sunyi (seratus puisi untuk Tuhan), Bali: Lesiba, 2009, xviii+103hlm, 20.000

Ngurah Parsua, Hakikat Manusia dan Kehidupan, esai, Bali: Lesiba, 2010, viii+120hlm, 20.000

Ngurah Parsua, Manusia Perkasa, puisi, Bali: Lesiba, 2007, vi+167hlm, 20.000

Ngurah Parsua, Puisi Tuhan (kumpulan cerita), Bali: Lesiba, 2013, iv+148hlm, 30.000

Ngurah Parsua, Sebuah Pohon di Lereng Bukit, kumcer, Bali: Lesiba, 2007, vi+200hlm, 20.000

Ngurah Parsua, Sembilu dalam Taman, novel, Yogyakarta: Frame Publishing, 2014, xii+335hlm, 50,000

NH. Atmoko, Gelas-gelas Retak, Novel, Bandung: Ultimus, 2014, 264 hlm, 65.000

Ni Komang Ariani, Bukan Permaisuri, Jakarta: Kompas, 2012, xviii+138hlm, 35.000

Ni Wayan Sumitri, Tradisi Lisan Vera: Jendela Bahasa, Sastra, dan Budaya Etnik Rongga, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2016, 242 hlm. 75.000

Nicholas Abercrombie. Kamus Sosiologi. Buku Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xvi+710 hlm. Rp 145.000

Niduparas Erlang, Penanggung Tiga Butir lada Hitam di Dalam Pasir, segenggam cerita,  Serang: Berjaya Buku, Okt 2015, xxxiv+161 hlm, 11×17 cm, 49.000

Niels Mulder, Di Jawa: Petualangan Seorang Antropolog, Yogyakarta: Kanisius, 2007, 287 hlm, 45.000

Niels Mulder, Wacana Publik Indonesia (Kata Mereka tentang Diri Mereka), Yogyakarta: Kanisius, 2007, 329hlm, 45,000

Nietzsche, Lahirnya Tragedi, Yogyakarta: Narasi, 2015, 212 hlm, 55.000

Nietzsche, Sabda Zarathustra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 497 hlm. Rp 90.000

Nietzsche, Zarathustra, Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2015, 438 hlm, 100.000

Nikolai Gogol, Jiwa-jiwa Mati, novel, Jakarta: YOI, 2013, iv+550 hlm, 13x18cm, 85.000

Ninie Susanti, dkk, Patirthan, Masa Lalu dan Masa Kini, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2013, x+163hlm, 40,000

Nirwan Dewanto, Satu Setengah Mata-Mata, esai sastra dan seni rupa, Yogyakarta: Penerbit OAK, 2016, 312 hlm, 13,5×20,5 cm, 99.000

Nissa Rengganis, Manuskrip Sepi, puisi, Yogyakarta: Gambang Buku Budaya, 2015, vi+85hlm,35.000

Nizar Abazhah, Dr, Sekolah Cinta Rasulullah, Jakarta: Zaman, 2010, 463 hlm, 50.000

Nizar Abazhah, Dr., Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah, Jakarta: Zaman, 2009, 220 hlm, 30.000

Nizar Qabbani, Yarusalem, Setiap Aku Menciummu, Puisi, Yogyakarta: Akar Indonesia, 2016, xxii+96hlm, 39.000

NN, George Albert Smith, Ajaran-Ajaran Presiden Gereja, Penerbit: Gereja Yesus Kristus, 2010,xlv+306 hlm, 40.000

NN, Kumpulan Kisah Dong Zhou (Selected Stories of Eastern Zhou Dynasty) 1, legenda-grafis, dua bahasa, Jakarta: Suara Harapan Bangsa,2010, 392hlm, 35,000

NN, Lorenzo Snow, Ajaran-Ajaran Presiden Gereja, Penerbit: Gereja Yesus Kristus, 2010,xv+342 hlm, 40.000

Noorca M. Massardi, Straw, A Psycho-Thriller Novel, Jakarta: Kaki Langit Kencana, 2014, iv+262hlm, 50.000

Noorhaidi Hasan, Islam Politik di Dunia Kontemporer, Yogyakarta: Suka Press, 2012, xxi+214hlm,56.000

Nooryan Bahari,M.Sn., Dr., Kritik Seni. Teori, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. viii+198 hlm. Rp 36.000

Norhayati Ab. Rahman, Free Hearty, Kajian Perempuan Malaysia-Indonesia dalam Sastra, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2016, 396 hlm. 100.000

Norman Joshua Soelias, PESINDO, Pemuda Sosialis Indonesia 1945-1950, Tangerang: Marjin Kiri, 2016, 144 hlm, 50.000

Nova Riyanti Yusuf, Impramine, novel, Jakarta: GPU, Maret 2004, 159 hlm, 21 cm, 25.000

Nova Riyanti Yusuf, Stranger Than Fiction, Cerita dari Kamar Jaga Malam, Jakarta: GPU, April 2008, 100 hlm, 20 cm, 25.000

Novieta Christina, Gnomon, Novel, Yogyakarta: Orakel, 2005. 20.000

Nugroho Hariadi, Paratroops, Pasukan Penyergap Dari Udara, Yogya: Mata Padi Pressindo, Sept 2011, viii+124 hlm, 15,5×23 cm , 35.000

Nugroho Suksmanto & Triyanto Triwikromo, Anak Mencari Tuhan, Pertempuran Rahasia, Puisi, Jakarta: GPU, 2010, 87 hlm, 50,000

Nugroho Suksmanto, Impian Perawan , Cerita-cerita, Jakarta: GPU, Nov 2008, 121 hlm, 20cm, 20.000

Nugroho Suksmanto, Impian Perawan, Kumpulan Cerpen, Jakarta: GPU, April 2009, vii+121 hlm, 20,000

Nunca Mas, Laporan Final Conadep: Argentina Pasca Junta Militer (1976-1983), Jakarta: PEC, 2007, 502 hlm, 59.000

Nunung Desi Puspitasari, Pulung, Kumpulan Cerpen, Yogyakarta: Amarta Book, 2016, 170 hlm, 55.000

Nur Imam Subono, Erich Fromm, Psikologi Sosal Materialis yang Humanis, Jakarta: Kepik Ungu & LabSosio-UI,176 hlm,14×21 cm, 30.000

Nur Iswantara, Drama, Teori dan Praktik Seni Peran, Yogyakarta: Media Kreativa, Juni 2016, viii+234 hlm, 15,5×23 cm, 70.000

Nur Iswantara, M. Hum, Dr., Kritik Seni, Seni Kritik, Yogyakarta: Gigih Pustaka Mandiri, 2016, 80.000

Nur Sayyid Santoso. Negara Marxis dan Revolusi Proletariat. Buku Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xl+1005 hlm. Rp 195.000

Nur Wahida Idris, Mata Air Akar Pohon, Puisi, Yogyakarta: [SIC]. 21.000

Nuran Wibisono, Dunia Iskandar: Tembakau, Humanisme, Kepemimpinan, Jakarta: Indonesia Berdikari, Mei 2013, x+180 hlm, 15×23 cm, 37,000

Nurdiana, Jelita Senandung Hidup, Kumpulan Puisi,Bandung: Ultimus, 2008, xviii+182hlm, 30.000

Nurdiana, Pelita Keajaiban Dunia, Kumpulan Puisi Nurdiana Jilid 2, Bandung: Ultimus, 2010, xx+144hlm, 30.000

Nurfuadi, M.Pd.I.,Dr.H.Suwito Ns(.ed)., Profesionalisme Guru, Purwokerto: STAIN Press + Buku Litera, Juni 2012, x+192 hlm, 15,5×23,5 cm, 60.000 

Nurhadi Simihorok, Hasriadi Ary, Desa Butuh Energi Alternatif, Sekarang!, Yogyakarta: Inssist Press, xviii+122 hlm, 13×19 cm, 30,000

Nurhayat Arif Permana, Stanza Lara, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: ladang Pustaka, 2011, 20.000

Nurhikmah, Satu Dekade Rumpun Terasing, Narasi Identitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Yogyakarta: Penerbit Makar, 2016, 172 hlm, 65.000

Nurudin (Ed.), Komunikasi Budaya, Pariwisata dan Religi, Yogyakarta: Buku Litera+ ASPiKom, Jan 2014, 312 hlm, 23,5cm, 70.000

Nurul Hanafi, Piknik, Sebuah Novel, Yogyakarta: Interlude, 2015, 192 hlm, 40.000

Nurul Ibad, Ms., Pusparatri, Gairah Tarian Perempuan Kembang, Yogyakarta: Pustaka Sastra, 2011, x+220hlm, 50.000

Nuryana Asmaudi SA, Doa Bulan untuk Pungguk, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Akar Indonesia 2016, xxiv+160 hlm, 40.000

Nusya Kuswantin, Lasmi, novel, Jakarta: Kakilangit Kencana, 2009, viii+232hlm, 11,5x19cm. 42.000

Nyiayu Hesty Susanti, Harum Hujan Bulan November, Bandar Lampung: Indepth Publishing, 2015, 169 hlm, 60.000

Nyoman Kutha Ratna, Prof Dr., Paradigma Sosiologi Sastra, teori, Yogayakrta: Pustaka Pelajara.Rp 55.000

Nyoman Kutha Ratna, Prof. Dr., Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, xi+480 hlm, 88,000

Nyoman Kutha Ratna,SU, Prof Dr., Estetika Sastra dan Budaya. Teori Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011. xii+497 hlm. Rp 70.000

Nyoman Kutha Ratna,SU, Prof Dr., Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Buku Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xv+540 hlm. Rp 95.000

Nyoman Kutha Ratna,SU, Prof Dr., Sastra dan Cultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. viii+642 hlm. Rp 115.000

Nyoman Kutha Ratna,SU, Prof Dr., Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Teori Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xii+407 hlm. Rp 80.000

Nyoman Kutha Ratna,SU, Prof, Dr., Postkolonialisme Indonesia, Relevansi Sastra. Kajian sastra,. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2008. xii+497 hlm. Rp 90.000

Nyoman Kutha Ratna,SU., Prof Dr., Antropologi Sastra Peranan Unsur-Unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Teori Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xiv+530 hlm. Rp 95.000

Nyoman S. Pendit, Nyepi: Kebangkitan, Toleransi dan Kerukunan, Jakarta: Gramedia, 2001, ix+230 hlm, 25.000

O. Henry, Cinta Yang Hilang, Kumpulan cerpen, Jakarta: Serambi, 2011, 116 hlm, 30.000

Ode Barta Ananda, Emas Sebesar Kuda, kumcer, Yogyakarta: Akar Indonesia. 23.000

Okky Madasari,Entrok, Novel, Jakarta: Gramedia, 2010, 284 hlm., 45.000.

Okot p’Bitek, Afrika Yang Resah, Novel, Jakarta: Obor, 2010, xxvi+185 hlm, 48.000

Okta Pinanjaya, Waskito Giri S., Muslihat Kapitalis Global, Selingkuh Industri Farmasi dengan Perusahaan Rokok AS, Jakarta: Indonesia Berdikasi, 2012, xiv+198 hlm, 16×23 hlm, 35,000

Oman Fathurahman, Filologi Indonesia, Teori dan Metode, Jakarta: Kaki Langit Kencana, 2015, xii+180 hlm, 45.000

Osa Kurniawan Ilham, Proklamasi Sebuah Rekonstruksi, Yogyakarta: Mata Padi, 2013, xx+342 hlm, xx+342 hlm, 70,000

Oscar Wilde, Rumah Delima, Kumpulan Dongeng, Yogyakarta: Kakatua, 2016, 152 hlm. 44.000

P. Franz Pfister, CSsR, Alfonsus de Liguori 1696-1787 (pujangga gereja-calon penghuni neraka?), Yogyakarta: Kanisius, 2006, 184hlm, 20,000

P. Sareng Orinbao, Ensiklopedi Mini, Bahasa dan Budaya SIKKA-KROWE, Flores: Offset Arnoldus Ende, 2003, 511hlm, 80,000

P. Worsley, Kakawin Sumamasantaka, Karya Monaguna, Kajian Sebuah Puisi Epik Jawa Kuno, Jakarta: YOI, 60,000

P.D. James, An Unsuitable Job for Woman, novel, Yogyakarta: Jalasutra, 2010, viii+352 hlm, 12×19 cm, 45.000

Pamusuk Eneste (Ed), Proses Kreatif Jilid 2: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, Jakarta : KPG, 2009, xii+240 hlm, 14×21 cm, 45.000

Parakitri T. Simbolon, Cucu Wisnusarman, Jakarta: Nalar, 2005, xiv+266 hlm, 40.000.

Pardi Suratno & Heniy Astiyanto, Gusti Ora Sare, 90 Mutiara Nilai Kearifan Budaya Jawa, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2009, 55.000

Paul Davies. Membaca Pikiran Tuhan, Buku Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xviii+402 hlm. Rp 70.000

Paul Gallico. Manxmouse, Novel, Jakarta: MKF, 2011, 227 hlm, 30.000

Paul Ricoeur, Teori Interpretasi: Memahami Teks, Penafsiran, dan Metodologinya, Yogyakarta: IRCiSoD, 2012, 244 hlm, Rp 40.000

Paul Rout, Fransiskus dan Bonaventura, tokoh pemikir Kristen, Yogyakarta: Kanisius, 2005, 102hlm, 20,000

Paul Stenning, Biografi Lengkap Guns N Roses: Band yang Dilupakan Waktu, Yogyakarta: Ayyana, 55.000

Paulo Freire, Politik Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, xxxvi+351 hlm, 70.000

Pauolo Freire, Sekolah: Kapitalisme yang Licik, Yogyakarta: IRCiSoD, 2016, 256 hlm, Rp 53.000

Pawoto, Ph.D., Komunikasi Politik, Media Massa dan Kampanye Pemilihan, Yogyakarta: Jalasutra, xii+328 hlm, 80.000

Penyair (muda) Yogyakarya-Jember, Agonia, Antologi Puisi Jember-Jogja Yogyakarta: Indie Book Corner & Tikungan Indonesia, 2012, xii+160 hlm. 30.000

Perry Anderson, Asal-usul Postmodernitas, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008, x+260 hlm, 45,000

Peter Beilharz. Teori-Teori Sosial. Buku Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xxxi+403 hlm. Rp 100.000

Peter Burke, Sejarah Dan Teori Sosial, Edisi Kedua, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2015, xx+326 hlm, 21 cm 90.000 

Peter Connolly, Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta: IrciSod, Mei 2016, 388 hlm, 21cm, 100.000

Peter Dantovski, Setan Merah, Muslihat Internationale Tan Malaka, Yogyakarta: Indie Book Corner, 2012, xiv+ 491 hlm, 65.000

Peter Levine, Nietzsche: Potret Besar Sang Filsuf, Yogyakarta: IRCiSoD, 2013, 420 hlm, Rp 50.000

Peter Vardy, Kierkegaard, tokoh pemikir Kristen, Yogyakarta: Kanisius, 2005, 114hlm, 25,000

Petrik Manasi, Thomas Najoan, Si Raja Pelarian dalam Pembuangan, Bandung: Ultimus, 2013, 84 hlm, 35.000

Petrik Matanasi, Untung dan Cakrabirawa dalam G 30 S, Temanggung: Kendi, 2016, 220 hlm, 60.000

Philip Sington, The Einstein Girl, Di Balik Kisah Cinta Sang Ilmuwan, Jakarta: Serambi, 2010, 524 hlm, 60.000

Picoiyer, Terbanglah ke Mana Cinta Membawamu, novel, Jakarta: Serambi, 2015, 567 hlm, 40.000

Pierre Teilhard de Chardin, Gejala Manusia, Seri Buku Ilmiah, Jakarta: Hasta Mitra, 2004, 340 hlm, 40.000

Pinkggirlgowild, Age Airlangga, Racky Rachman, Rindu Dendam, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Nov 2012, 25.000

Pinto Anugrah, Esha Tegar Putra, Lakon Orang Ranah, Tiga Naskah Drama, Padang: LKR, 2013, v+141hlm, 30,000

Pip Jones, Liza Bradbury, Shaun Le Boutillier, Pengantar Teori-teori Sosial, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2016, 350 hlm. 95.000

Pip Jones. Pengantar Teori-Teori Sosial. Buku Sosial. Jakarta: YOI, 2010, 306 hlm. Rp 140.000

Plato, Republik, Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2015, 486 hlm, 100.000

Potret, Anak Cerdas, Uang Jajan Danu, Majalah Anak-anak edisi 6/Tahun I/2004, Aceh: Center for community Development and Education, 42hlm, 11,000

Potret, Media Perempuan Kritis dan Cerdas, Gerakan Feminisme Indonesia, Bisakah menekan Fundamentalisme?, Edisi 73 Tahun XI/2014, Aceh: CCDE, 70hlm, 18,000

Pradipto Nirwandhono, Yang Ter(di)lupakan (kaum indo dan benih nasionalisme Indonesia), Yogyakarta: Djaman Baroe, 2011, 222hlm, 25.000

Pramoedya Ananta Toer, Mangir, Drama, Jakarta: KPG, Okt 2015, xlix+114 hlm, 45.000

Primo Levi, Bertahan Hidup di Auschwitz, novel, Yogyarta: Jalasutra, 2009, 272 hlm, 12x19cm. 40.000

Pringadi Abdi Surya, Olyrinson, Sunlie Thomas Alexander, Wayan Sunarta, dkk., Kain Batik Ibu, Kumcer Juara Lomba Tulis Cerpen Asuransi Bumiputera, Jakarta: Koekoesan, 2010, 164 hlm, 12x19cm. 39.000

Priyanto Wibowo, Antara Mao dan Liu Shaogi, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2005, xiii+86hlm, 22,500

Priyanto Wibowo, Perubahan Sosial Cina Tahap Pertama: Mao dan Pedesaan (1949-1959), Jakarta: WWS, 2008, x+258hlm, 42.000

Prof Dr A Sarjan MA, Fikih Zakat dalam kajian normatif, kontektual, dan kontemporer, Yogyakarta: Prudent Media, 140hlm, 20,000

Prof. Dr, Widodo, S.H,M.H., Memerangi Cybercrime, Yogyakarta: Aswaja Pressindo,2013, xii+216 hlm, 15,5x 23 cm, 56.000

Prof. Dr. Amirul Hadi, MA, Aceh, Sejarah, Budaya, dan Tradisi, Jakarta: YOI, 2010, xviii+320hlm,80.000

Prof. Dr. Daldiyono & M. Mustafid, S.Fil, Globe Al-Qur’an, Yogyakarta, Pustaka Ifada, 2015, lxxxii+564 hlm, 15×24 cm, 130.000

Prof. Dr. H. Faisal Ismail, M.A., Islam, Doktrin, dan Isu-isu Kontemporer, Kajian, Yogyakarta: IRCiSoD, 416 hlm, 80.000

Prof. Dr. Irwan Abdullah, Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, 276hlm, 50,000

Prof. Dr. M. Dien Madjid, Catatan Pinggir Sejarah Aceh (Perdagangan, Diplomasi, dan Perjuangan), Jakarta: Yayaysan Obor Indonesia, xiv+430hlm, 85.000

Prof. Dr. Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang: 1979, 640 hlm, 70,000

Prof. Dr. Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit), Yogyakarta: Lkis, 2005, x+276hlm,50.000

Prof. Dr.Sabarti Akhadiah, M.K, Filsafat ilmu Lanjutan, Jakarta: Kencana,2011, 13,5×20,5cm, xiv+254 hlm, 47.000

Prof. H.M. Daud Ali, S.H, dkk, Islam Untuk Disiplin Ilmu Hukum, Sosial dan Politik, Jakarta: Bulan Bintang, 1988, 139hlm, 25,000

Prof. Kong Yuanzhi, Cheng Ho, Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2015, xliv+229 hlm,14,5×21,5 cm, 115.000

Prof. Umar Asasuddin, Din-i-ilahi (Kontroversi Keberagamaan Sultan Akbar Agung (India 1560-1605)), Yogyakarta: Ittaqa Press, 1994, xix+151hlm, 25,000

Purwadmadi, Wayang dan Lain-lain, Antologi Puisi, Yogyakarta: Interlude, 2014, xvi+176 hlm, 38.000

Purwanto, M. Pd., Dr., Statistika untuk Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, xiii+282 hlm, 55.000

Purwanto. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Buku Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xv+321 hlm. Rp 50.000

Puskhin, Gogol, Tolstoy Dkk, Antologi Cerpen Rusia, Yogyakarta: Narasi, 2016, 326 hlm, 85.000

Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, (cover baru), Sleman: Buku Mojok, Feb 2016, 68.000

Puthut EA, Dkk,. Espedisi Cengkeh, Makassar: Ininnawa & Layar Nusa, Nov 2013, xxiii+275 hlm,16x24cm, 98.000

Puthut Ea, Dua Tangisan Pada Satu Malam, Kumpulan Cerpen, Yogyakarta: EA Books, Oktober 2016, 180 hlm, 2016, 59.000

Puthut EA, Isyarat Cinta yang Keras Kepala, Yogyakarta: EA Books, Maret 2016, vi+182 hlm, 59.000

Puthut EA, Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa, Yogyakarta: EA Books, 2016, xiv+109 hlm, 75.000

Puthut EA, Kupu-Kupu Bersayap Gelap, Yogyakarta: Buku Mojok, Feb 2016,167 hlm, 48.000

Puthut EA, Mengantar dari Luar, esai, Yogyakarta: EA Books, 2014, xvi+534hlm, 90,000

Puthut EA, Nurhady Sirimorok (Ed), Wan Oji Sudah Pindah Rumah, Tulisan Mengenang Fauzi Abdullah, Yogyakarta: Insist Press, 2010. 20.000

Puthut EA, Para Bajingan yang Menyenangkan, novel, Yogyakarta: Mojok, 2016, vi+178 hlm, 48.000

Puthut EA, Sarapan Pagi Penuh Dusta, kumcer, Yogyakarta: EA Books, 2015, x+146 hlm, 50.000

Puthut EA, Sebuah Kitab yang Tak Suci, kumcer, Yogyakarta: EA Books, 2015, 2016, xiv+102 hlm, 50.000

Puthut EA, Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, Yogyakarta: Buku Mojok, Feb 2016, 178 hlm, 48.000

Putu Anggawati Sautelet, Panji Pangeran Kodok, Jakarta: Hasta Mitra, 2006, 159 hlm, 35.000

Putu Fajar Arcana, Gandamayu, Novel, Jakarta: Kompas, 2012, xviii+190hlm,40.000

Putu Oka Sukanta (ed.), Cahaya Mata Sang Pewaris, Kisah Nyata Anak-Cucu Korban Tragedi ’65, 2016, 422 hlm, 70.000

Putu Oka Sukanta, Above the Day Below the Night, novel, Bandung: Ultimus, 2010, 69hlm, 20.000

Putu Oka Sukanta, Wounded Longing, Short Story Collection, Bandung: Ultimus, 2010, 144 hlm, 25.000

Putu Satria Kusuma, Cupak Tanah, Enam Naskah Drama, Singaraja: Mahima Institut Indonesia, Okt 2015, vii+213 hlm, 21 cm, 70.000

Putu Wijaya, Sang Teroris Mental, Pertanggungjawaban Proses Kreatif, Jakarta: YOI, 2001, 35,000

R. Cecep Eka Permana, Gambar Tangan Gua-gua Prasejarah, Pangkep-Maros-Sulawesi Selatan, Jakarta: WWS, 2014, xviii+317hlm, 65,000

R. Cecep Eka Permana, Kesetaraan Gender dalam Adat Inti Jagad Baduy, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2005, vii+81hlm, 22,500

R. Kurris, SJ, Sang Jago Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2006, 226hlm, 25,000

R.A Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis tot Licht), Yogyakarta: Narasi, 2011, 512hlm, 100,000

R.A. Kartini, Emansipasi, Surat-surat kepada Bangsanya 1899-1904 (Door Duisternis Tot Licht), Yogyakarta: Jalasutra, 2014, xxvii+578hlm, 125,000

R.E. Hartanto, Endorphin, Kumpulan Cerita dan Rupa, Yogyakarta: Mojok, 2016, 58.000

Rabindranath Tagore, Yang Hidup dan (yang) Mati, Cerita-cerita Pendek Terpilih, Yogya: Diva Press, 2014, 384 hlm, 60.000

Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi, Yogyakarta: Gadja Mada University Press, 2014, 350hlm,70.000

Rachmat Djoko Pradopo, Prinsip-Prinsip Kritik Sastra, Yogyakarta: UGM Press, Okt 2011, v+ 224 hlm, Rp 45.000

Rachmat Djoko Pradopo, Prof Dr., Beberapa Teori Sastra. Teori Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rp 60,000

Radhar Panca Dahana, Agama dalam Kearifan Bahari, Jakarta: Balesastra Pustaka, 2015, xviii+234 hlm, 45.000

Radhar Panca Dahana, Diyan Bijac, Widyartha Hastjarja, Mat Jagung: Kabut Manusia, komik, Jakarta: Nalar, 2009, xvi+144 hlm, 25.000

Radhar Panca Dahana, Lalu Aku, Sekumpulan Puisi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011, 109hlm,30.000

Raedu Basha, Matapangara, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Ganding Pustaka, 2014, 68 hlm, 40.000

Ragdi F. Daye, Sunlie Thomas Alexander, dkk, The Regala 204 B, kumcer, Kudus: Gapura Media, 2006, 116hlm,25.000

Rahmat Jabaril (Editor), Selamatkan Bosscha!, Yogyakarta: Resist Book, 2007, xxvi+164 hlm, 30.000

Rahmat Jabaril, Patah, Kumpulan Puisi, Bandung: Ultimus, 2008, xx+120hlm, 25.000

Rahmat Jabaril, Terusir, Kumpulan Cerpen, Bandung: Ultimus, 2008, 134 hlm, 20.000

Ralph Schoenman, Di Balik Sejarah Zionis, Yogyakarta: Mata Padi Pressindo, 2013, xxxii+222 hlm, 40,000

Rama Wirawan. Perang, novel. Yogyakarta: Jalasutra. 26.000

Ramayda Akmal (Penerj: Chris Woodrich), Jatisaba, Kindling from The Green Tree, Novel, Yogyakarta: Gress Publishing, 246 hlm, 2016, 50.000

Ramayda Akmal dkk, Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu, Antologi Puisi, Yogyakarta: Interlude, 2015, vi+86hlm, 30.000

Rasjidi, Prof. Dr. H.M., dkk., Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, 1988, xv+204 hlm, 25,000

Rasyid Asba, Kopra Makassar Perebutan Pusat dan Daerah, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007, 330 hlm. 60.000

Ratih Baiduri, Masjid Raya Al Ma’shun Medan: Tinjauan Arsitektural dan Ornamental, Medan: Casa Mesra Publisher, xxxii+214hlm, 50,000

Ratih Kumala, Bastian dan Jamur Ajaib, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014, 124hlm,40.000

Ratna Ayu Budhiarti, Magma, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Gambang Buku Budaya, 2017, 87 hlm, 40.000

Ratna Indraswari Ibrahim, 1998, Sebuah Novel, Jakarta: Gramedia, 2012, 322 hlm, 45.000

Ratna Sarumpaet (Kolaborasi: Ahmad Yulden Erwin), Titik Terang Sidang Rakyat Dimulai, Tangerang: Marjin Kiri, 2013, 88 hlm, 21.000

Ratna Sarumpaet, Kobaran Cintaku, Maluku Baku Bae, Jakarta: Noura Books, 2014, 428 hlm, 14×21 cm, Rp 79.000

Ratna Sarumpaet, Maluku Kobaran Cintaku, Novel, Depok: Komodo Books, 2010, 512hlm, 90.000

Raudal Tanjung Banua, Api Bawah Tanah, kumpulan Puisi, Yogyakarta: Akar Indonesia, Okt 2013, xvi+160 hlm, 40,000

Rayni N. Massardi, Langit Terbuka, Jakarta: Kaki Langit Kencana, 2014, x+130hlm, 30.000

Ready Susanto, Sepucuk Pesan Ungu, Dua Kumpulan Sajak, Bandung: Kiblat. 18.500

Ready Susanto, Surat-Surat Dari Kota, Dua Kumpulan Sajak. Bandung: Kiblat. 18.500

Rei Kimura. Awa Maru-The Titanic of Japan. Buku Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2009. 14,5×21 cm; 184 hlm. Rp 40.000

Reimar Schefold, Aku dan Orang Sakuddei, Menjaga Rimba Mentawai, Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2014, xx+372 hlm, 15×23 cm, Rp 70.000

Remy Sylado, Namaku Mata Hari, novel, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010, 560hlm, 80.000

Rendra, Ballada Orang-orang Tercinta, puisi, Bandung: Pustaka Jaya, 2013, 48 hlm, 20,000

Rendra, Empat Kumpulan Sajak, Jakarta: Pustaka Jaya, Bakti Budaya Djarum Foundation, 2016, 167 hlm, 48.000

Rene Descartes, Diskursus dan Metode, Mencari Kebenaran dalam ilmu-ilmu Pengetahuan, Yogyakarta IRCiSoD, Jan 2015,132 hlm, 14×20 cm, 30.000

Retor A.W. Kaligis, Marhaen dan Wong Cilik, Tangerang: Marjin Kiri, 2014, 369 hlm, 78.000

Revo Arka Giri Soekatno, Kidung Tantri Kediri, Kajian Filologis Sebuah Teks dalam Bahasa Jawa, Jakarta: YOI, 2013, 334hlm,65.000

Rex Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno (ideologi dan politik 1959-1965), hard cover, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011, xix+613 hlm, 120,000

Reza A.A. Wattimena, Melampaui Negara Hukum Klasik, Locke-Rousseau-Habermas, Yogyakarta: Kanisius 2007, xx+218 hlm, 30.000

Ria N. Badaria, Writer vs Editor, novel, Jakarta: KPG, 2011, 32 hlm, 40.000

Rianto Adi, Sosiologi Hukum, Kajian Hukum secara Sosiologis, Jakarta: YOI, 2012, 60.000

Ricardo Marbun, dkk., Travel ‘n Love, 15 Cerpen Terbaik Pemenang Lomba Menulis Cerpen Padmatour, Sidoarjo: Padma Herlambang Nusantara, 2015, xvi+212hlm, 50.000s 

Richard Dawkins, Pertunjukan Paling Agung Di Bumi, Bukti-Bukti Bagi Evolusi, Depok: Banana, 2015, viii+538hlm, 140.000

Richard Jenkins, Membaca Pikiran Pierre Bourdieu, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2013, vi+298 hlm, 45,000

Ricky Martono (Pen.), Petualangan Sinbad, Yogyakarta: Pinus Publisher, 2010, 162hlm,25.000

Ridjaluddin Shar, Maharaja Diraja Adityawarman, Novel, Jakarta: Themis Books, 2013, xii+708 hlm, 90.000

Ridwan al-Makassary, Damai Papua, Damai Indonesia, Papua: Kemenag Papua, 2015, xxxiv+282 hlm, 70.000

Ridwan Hardiansyah, Sedikit Cerita Punk dari Bandar Lampung, penelitian gaya hidup, Yogyakarta: IBC. 25.000

Ridwan Hutagalung (Peny.), Pernik KAA 2015, Serba-serbi Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika, Bandung: Ultimus, 2016, 222 hlm, 65.000

Ridwan Hutagalung (Penyunting), Rasia Bandung, Bandung: Ultimus, 2016, 296 hlm, 85.000

Rieke Diah Pitaloka, Ups!, puisi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005, vi+113 hlm, 30.000

Riki Dhamparan Putra, Mencari Kubur Baridin, puisi, Yogyakarta: Akar Indonesia, Sept 2014, x+138 hlm, 40,000

Rina Ratih, M. Hum, Dr., Teori dan Aplikasi Semiotik Michael Riffaterre, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016, xvi+240 hlm, 47.000

Rini Darmastuti, Mindfullness dalam Komunikasi Antar Budaya, Yogyakarta: Buku Litera, Feb 2013, xx+296 hlm, 15,5x 23,5 cm, 48.000

Riris K Toha-Sarumpaet. Membaca Sapardi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2010. 14,5×21 cm; 328 hlm. Rp 78.000

Riris K Toha-Sarumpaet. Rona Budaya, Festchrift untuk sapardi Djoko Damono. Jakarta: YOI. 2010. 14,5×21 cm; 380 hlm. Rp 95.000

Riris K. Toha Sarumpaet, Krisis Budaya?, Jakarta: Obor, 2016, xvi+352 hlm, 95.000

Risda Nur Widia, Bunga-Bunga Kesunyian, Yogyakarta: Gambang Buku Budaya, 2015, vi+156hlm,35.000

Risda Nur Widia, Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault, Kumpulan Cerpen, Yogyakarta: Basabasi, 2016, 216 hlm, 55.000

Risda Yuwanto, Tulah, Roman Kesetiaan Istri Berlatar Belakang Peristiwa ’65, Yogyakarta: Jalasutra, 2008, 264 hlm,  36.000

Rita Thievon Mullin, Houdini, The Master of Escape, Surabaya: Liris, 2007, viii+182 hlm, 20.000

Rizal Mallarangeng, Pers Orde Baru, Tinjauan Isi Kompas dan Suara Karya, Jakarta: KPG, 2010, 155 hlm, 30.000

Rob Shield, Virtual, Sebuah pengantar Koperehensif,  cultural studie, Yogyakarta: Jalasutra, 2011. 53.000

Robert Alley, Last Tango in Paris, Sebuah Novel, Jakarta: Serambi, 2011, 255 hlm, 35,000

Robert Hardawiryana, S.J, Dialog Umat Kristiani Dengan Umat Pluri-Agama/-Kepercayaan di Nusantara, Yogyakarta: Kanisius, 2005, 199hlm, 20.000

Robert Harris, Pompeii, novel, Jakarta: GPU, Sept 2009, 392 hlm, 50.000

Robert Jackson, Georg Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Teori dan Pendekatan,  Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013, xviii+381 hlm,  125,000

Robert Stanton, Teori Fiksi Robert Stanton, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012, xii+185 hlm, 45,000

Robert Whiting, Tokyo Underworld, Kisah Hidup Seorang Gengster Amerika di Jepang, Jakarta: Serambi, 2010, 497 hlm, 40.000

Roger Scruton, Kamus Politik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014, xii+1017 hlm, 210,000

Rohani & Hingawati Setio, Panduan Praktik Keperawatan: Komunikasi, Yogyakarta: Citra Aji Parama, 2013, iv+116 hlm, 15,000

Rohani Budi Prihatin, Banjir Jakarta, Warisan Alam dan Upaya Pengendalian, Yogyakarta: Insist Press, 2013, xii+93 hlm, 13×19 cm, 30,000

Rohani Shidiq, M.Pd., Gus Dur Penggerak Dinamisasi Pendidikan Pesantren, Yogya: Istana Publishing, Juli 2015, xxiv+220 hlm, 14×21 cm, 65.000

Rohmat,M.Ag.,M.Pd., Kepemimpinan Pendidikan, Konsep dan Aplikasi, Purwokerto: STAIN Press + Buku Litera, Des 2010, 180 hlm, 14×21 cm, 35.000

Roland Barthes, Petualangan Semiologi, kajian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xi+454 hlm. Rp 90.000

Romi Zarman, Agama Ketujuh, Sebuah Prosa, Pekanbaru: Tjatatan Indonesia, Feb 2016, 5o hlm, 11x18cm, 30.000

Roney Fithra, Penjara Dendam, Kumpulan Cerpen, Yogyakarta: Pondok Mas Publishing, 2012, viii + 130 hlm, 14x20cm, 25.000

Rosa Widyawan, Pelayanan Referensi Berawal Dari Senyuman, Bandung: Bahtera Ilmu, 2012, 194hlm,43.500

Rosihan Anwar, Belahan Jiwa, Memoar Kasih Sayang Percintaan Rosihan Anwar dan Zuraida Sanawi,Jakarta: Kompas, 2011, xxxiv+234hlm,40.000

Rosihan Anwar, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 1, Jakarta: Kompas, 2010, x+318hlm, 45.000

 Rosihan Anwar, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 2, Jakarta: Kompas, 2009, viii+348hlm, 40.000

Rosihan Anwar, Sejarah Kecil, Petite Histoire, Jilid 4, Indonesia, Jakarta: Kompas, 2010, 282 hlm. 40.000

Ross E. Dunn, Petualangan Ibnu Battuta, Seorang Musafir Muslim Abad-14, Jakarta: YOI, 2011, xxxviii+402 hlm, 98.000

Rowena Chapman dan Jonathan Rutherford (editor), Male Order, Menguak Maskunitas, Yogyakarta: Jalasutra, 2014, 353 hlm, 133.000

Rr. Triwurjani, Situs-situs Megalitik di DAS Sekampung, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2011, xvi+179hlm, 42,000

Rr. Triwurjani,dkk, Tradisi Megalitik di Lima Puluh Koto,Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2013, xii+198hlm, 48,000

Ruhlelana, Fiksi-Fiksi Benang Merah ( dalam 4 Genre ), Samantha School Publishing + Kendi Aksara, 252 hlm, 12,5×17,6 cm, 80.000

rumahlebah #4, ruangpuisi, jurnal puisi, Yogyakarta: Frame Publishing, 2017, 196 hlm, 50.000

rumahlebah ruangpuisi #1. Jurnal puisi, Yogyakarta: FramePublishing & Komunitas Rumahlebah. 25.000

rumahlebah ruangpuisi #3 Oto-Puisi, jurnal puisi, Yogyakarta: Rumahlebah & FramePublishing, 2012, 250 hlm. 40.000

Rusdhianti Wuryaningrum, Teori dan Praktik Keterampilan Menyimak Bahasa Indonesia, Yogyakarta: Gress Publishing, 2013, viii+140hlm, 50.000

Rusdi Mathari, Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, Kisah Sufi dari Madura, Yogyakarta: Mojok, 2016, 226 hlm, 60.000

Rusdiyanto, S.I.P., Dkk., Kepemimpinan dan Gerakan Kaum Muda, Yogyakarta: Kibar Press, xiv+94 hlm, 15.000

Rusli Marzuki Saria, One By One, Line By Line, Selected Poems and Essay on Monologue, Inggirs-Indonesia, Padang: Kabarita, 2014, xxxiii+330 hlm, 75,000

Ryan Sugiarto, Psikologi Raos, Saintifikasi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram, Yogyakarta: Pustaka Ifada, 2015, l+226 hlm, 100.000

Ryotaro Shiba, The Last Shogun, Novel, Jakarta: Kantera, 2010, 346 hlm, 45.000

Ryszard Kapuscinski, The Other, esai antropologis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012, 102 hlm, 25,000

S. Abdul Karim Mashad (penyunting), Sang Pujangga, 70 Tahun Polemik Kebudayaan Menyonsong Satu Abad STA, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, xcii+555 hlm, 85,000

S. Arimba, Obituari Rindu, Segugus Puisi, Yogyakarta: Intan Cendikia, 2013, xx+72 hlm, 20.000

S. Arimba, Onrust, Ziarah Cinta, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Interlude, 2016, xxiv+68 hlm, 13,5×20 cm, 30.000

S. Jai, Tirai, sebuah novel, Yogyakarta: Garudhawaca,Nov 2014, 14×20 cm, 240 hlm, Rp 70.000

S. Maroeba, Nareswari Karenina, Sebuah Novel Pencerahan Diri,  Yogya: Mata Pena, Okt 2009, xii+640 hlm, 13×20,5 cm, 110.000

S. Metron Masdison, Kisah Anak Muda, Kumpulam Dua Naskah Drama, Padang: Ranah Teater, 2013, ix+172hlm, 30,000

Sabiq Carebesth, Memoar Kehilangan, puisi, Jakarta: koekoesan, 2012, xxiv+90hlm, 14x21cm. 35.000

Sadjiman Ebdi Sanyoto, Nirmana Elemen-elemen Seni dan Desain, Yogyakarta: Jalasutra, 2010, xiv+274hlm, 125,000

Saeful Anwar, Persada Studi Klub – Dalam Arena Sastra Indonesia, Yogya: UGM Press, Mei 2015, ix+89 hlm,  Rp 40.000

Saiful Hadi El-Sutha, Muhammad, Jejak-Jejak Keagungan dan Teladan Abadi “Sang Nabi Akhir Zaman”, Jakarta: Penerbit @sa-Prima, 2013, 270hlm, 50.000

Saiful Totona, Miskin itu Menjual: Representasi Kemiskinan sebagai Komodifikasi Tontonan, Yogyakarta: Resist Book, 2010, xxviii+242hlm, 45,000

Sal Murgiyanto, Tradisi dan Inovasi Beberapa Masalah Tari di Indonesia, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2004, vii+154hlm, 27,500

Salvatore Simarmata, Media & Politik, Sikap Pers terhadap Pemerintahan Koalisi di Indonesia, Jakarta: YOI, Agt 2014, xxvi+258 hlm, 68,000

Sam Haidy, Nocturnal Journal, puisi, Yogyakarta: Indie Book Corner, Sept 2014, 12x17cm, 58 hlm, 35.000

Samuel Beckett, Menunggu Godot, Naskah, Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promothea, 2016, 14x20cm, xviii+266 hlm, 50.000

Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban, Yogyakarta: Qalam, 2016, 653 hlm, 100.000

Samuel Waileruny, Membongkar Konspirasi di Balik Konflik Maluku, Edisi Revisi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011, xxxvi+264hlm, 60.000

Sandy Firly, Lampau, Novel, Jakarta: Gagas Media, 2013, 346 hlm, 13x19cm, 30.000

Sangeeta ray, Gayatri Chakravorty, Spivak: Sang Liyan, Denpasar: Bali Media, 2014, vii+208 hlm, 55,000

Sanoesi Pane, Sandhyakala Ning Majapahit, Bandung: Pustaka Jaya, 2013, 81 hlm, 20.000

Sapardi Djoko Damono, Maman S. Mahayana, Taufiq Ismail, Hamsad Rangkuti, Sutardji Calzoum Bachri, dkk., Abdul Kadir Ibrahim, Penyair Cakrawala Sastra Indonesia, esai tentang Puisi Abdul Kadir Ibrahim. 40.000

Sapardi Djoko Damono, Mohamad Saleeh Rahamad (Peny), Kumpulan Puisi Perempuan Indonesia-Malaysia, Jakarta: YOI dan ITBM, 2014, 135hlm,75.000

Sapardi Djoko Darmono, Suti, Jakarta: Kompas, Feb 2016, 192 hlm, 13x19cm, 49.000

Saparinah Sadli, Berbeda tetapi Setara, Pemikiran tentang Kajian perempuan, Jakarta: Kompas, 40.000

Sapto Raharjo, Mendaki Samudera Bunyi, Yogyakarta: Misty, xxiv+176hlm, 25,000

Sarah Irving, Leila Khaled, Kisah Pejuang Perempuan Palestina, Tangerang: Marjin Kiri, 2016, 198 hlm, 52.000

Sarkawi B. Husein, Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960),Jakarta: Lippi, 2010, xxxv+205hlm,60.000

Sartika Dian Nuraini, Sounds of Psyche, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Garudhawaca, 2013, 126 hlm, 30.000

Satyanegara, DR. M.D., Ilmu Bedah Saraf, Edisi Kedua, Jakarta: Pantja Simpati, 1980, xi+360 hlm, 25.000

Saut Situmorang, Khotbah Hari Minggu, Sleman: EA Books, Jan 2016, 12×18 cm, viii+82 hlm, 37.000

Sayed Kashua, Tarian Cinta, Dancing Arabs, Novel,Jakarta: Serambi, 2008, 295hlm, 30.000

Selu Margaretha Kushendrawati, Hiperrealitas dan Ruang Publik (sebuah analisis kultural studies), Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2011, xiii+243hlm, 50.000

Seno Gumira Ajidarma, Kisah Mata, Fotografi antara Dua Subjek, Yogyakarta: Galang Press, 2016, 162 hlm. 105.000

Seno Gumira Ajidarma, Negeri Kabut, kumcer, Jakarta: Grasindo, 2016, 59.000

Seno Gumira Ajidarma, Negeri Senja, novel, Jakarta: KPG, 2016, 60.000

Seno Gumira Ajidarma, Wisanggeni Sang Buronan, Novel, Yogyakarta: Laksana, Diva Press, 2016, 108 hlm, 50.000

Septiawan Santana K. Jurnalisme Investigasi. Buku Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2009. 14,5×21 cm; 430 hlm. Rp 85.000

Seri Buku TEMPO : Orang Kiri Indonesia, Njoto – Peniup Saksofon di Tengah Prahara, Jakarta: KPG, 2010, xiv+108 hlm, 40.000

Seri Buku TEMPO : Tokoh Militer, Sarwo Edhie dan Misteri 1965, Jakarta: KPG, Mar 2015, xiii+114 hlm, 40.000

Seri Buku Tempo, Kartosoewirjo, Mimpi Negara Islam, Jakarta: KPG, 2011, xi+145 hlm, 40.000

Seyyed Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam (Ibnu Sina, Suhrawardi, Ibnu ‘Arabi), Yogyakarta: IRCiSoD, 2014, 243 hlm, Rp 45.000

Shaummil Hadi, Third Debate dan Kritik Positivisme Ilmu Hubungan Internasinal, social-politik, Yogyakarta: Jalasutra, 2008, 355 hlm, 15×21 cm. 63.000

Shofwan Al Banna Choiruzzad, Asean di Persimpangan Sejarah, Politik Global, Demokrasi, & Integrasi Ekonomi,Jakarta: YOI, 2014, xii+144hlm,55.000

Sholeh Gisymar, Hamidah, Ketika Cinta Bersujud, Novel, Yogyakarta: Idola Qta, Januari 2009, 163 hlm, 25.000

Sholeh Gisymar, Jasmine, novel, Yogyakarta: Navila, 2004. 25. 000

Siau Tiong Djin, Renungan Seorang Patriot Indonesia Siauw Giok Tjhan, Jakarta: Lembaga Kajian Sinergi Indonesia, 2010, 536 hlm, 95.000

Siau Tiong Djin, Siauw Giok Tjhan Orang Indonesia 100 Tahun, Jakarta: PT Interact Corpindo, 2014, 457 hlm, 95.000

Siau Tiong Djin, Sumbangsih Siauw Giok Tjhan dan BAPERKI dalam Sejarah Indonesia, Jakarta: Lembaga Kajian Sinergi Indonesia, 2012, 192 hlm, 35.000

Siauw Tiong Djin, Siauw Giok Tjhan dalam Pembangunan Nasion Indonesia, Jakarta: Lembaga Kajian Sinergi Indonesia, 2010, 464 hlm, 85.000

Sides Sudyarto DS, Salat Lebaran di Kamp Konsentrasi, Novel, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006, 212 hlm, 25,000

Sidi Gazalba, Ilmu, Filsafat dan Islam, tentang Manusia dan Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1978, x+185 hlm, 30,000

Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Buku Kedua, Pengantar kepada Teori Pengetahuan, Jakarta: Bulan Bintang, 1991, v+174 hlm, 25,000

Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Buku Ketiga, Pengantar kepada Metafisika, Jakarta: Bulan Bintang, 1996, xxiii+191 hlm, 30,000

Sigit Susanto, Kesetrum Cinta, Kisah Jenaka Pria Jawa Menikah Dengan Perempuan Swiss, Yogyakarta: Mojok, 2016, xx+264 hlm, 13x20cm, 77.000

Sigit Susanto, Menyusuri Lorong-lorong Dunia, Kumpulan Catatan Perjalanan, Yogyakarta, Insist, 2012, xxxiv+370 hlm, 60,000

Sigit Susanto, Puthut EA (penyunting), Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, Jilid 3, Catatan Perjalanan, Yogya: Insist Press, 2012, 308 hlm, 45.000

Sigmund Freud, The Interpretation of Dreams (Tafsir Mimpi), Yogyakarta: Indoliterasi, 2015, 714 hlm, Rp 130.000

Sigmund Freud. Pengantar Umum Psikoanalisis. Buku Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xii+707 hlm. Rp 120.000

Sihar Ramses Simatupang, Bulan Lebam di Tepian Toba, Jakarta: Kaki Langit Kencana, 2009, iv+256hlm, 40.000

Simon Sebag Montefiore, Jerusalem The Biography, Jakarta: Pustaka Alvabet, Jan 2015, lviii+828 hlm, 15x 23 cm, 169.000

Simone De Beauvoir, Second Sex, Fakta dan Mitos, Yogyakarta: Narasi+Pustaka Promethea, 2016, xxxii+392 hlm, 16x24cm, 85.000

Simone De Beauvoir, Second Sex: Kehidupan Perempuan, Yogyakarta: Narasi, 2015, 691 hlm, 125.000

Sir Arthur Conan Doyle Sherlock Holmes, Yes I’m a Sherlockian, Yogyakarta: Indoliterasi,2014, viii+740 hlm, 15×24 cm, 169.000

Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Dan Enam Napoleon,Yogya: IndoLiterasi, 2015, vi+240 hlm, 11×17 cm, 35.000

Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes – Misteri Benang Merah dan Misteri Empat Tanda, Best Novel  2 in 1, Yogyakarta:Indoliterasi, 2014,  iv+392 hlm, 12×19,5cm, 49.000

Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes, 19 Petualangan Terbaik, Yogyakarta: Bangkit, 2012, viii+668 hlm, 12,5×19,5 cm, 75.000

Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes, A Collection Edition & The Collector’s Edition of Complete Best Novels (2in1), Yogyakarta: Indoliterasi, 2014, 300.000

Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes, A Collector’s Edition, Yogyakarta: Indoliterasi, 2014, viii+957 hlm, 199.000

Sir Arthur Conan Doyle, The Adventures of Sherlock Holmes, volume 1, Yogyakarta: Indoliterasi, 2014,  iv+344 hlm, 13x19cm, 55.000

Sir Arthur Conan Doyle, The Adventures of Sherlock Holmes, volume 2, Yogyakarta: Indoliterasi, 2014,  iv+289 hlm, 13x19cm, 50.000

Sir Arthur Conan Doyle, The Adventures of Sherlock Holmes, volume 4, Yogyakarta: Indoliterasi, 2014,  iv+360 hlm, 13x19cm, 55.000

Sir Arthur Conan Doyle, The Man from Archangel and Other Tales of Adventure, 15 Cerita Pilihan, Jakarta: Bukune, 2012, iv+336 hlm, 47,500

Siswantoro, Metode Penelitian Sastra: Analisis Struktur Puisi, Teori Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, xvi+312 hlm. Rp 65.000

Siti Rokhmi Lestari, S. S., Eva Dwi Kurniawan, S. S., Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Edukasi Pustaka, 2011, xiv+140 hlm, 25,000

Sitok Srengenge, Ereignis dan Cinta yang Keras Kepala, Puisi, Yogyakarta: Katakita, 2015, 75.000

Sitok Srengenge, On Nothing, Selected Poems, puisi dwi bahasa, HC, Jakarta: Katakita, 2005. 348 hlm, 15×23 cm. 100.000

Sitor Situmorang, Dalam Sajak, Jakarta: Pustaka Jaya, Bakti Budaya Djarum Foundation,2016, 71hlm, 14,5x21cm, 20.000

Siwwo Sarwono, Ayam Kampus, Kisah Mahasiswi yang Terlibat Layanan Seks Berbayar, Yogyakarta: Manggar Pustaka, Juni 2015, 118 hlm, 14,5×20,5 cm, 38.000

Siwwo Sarwono, Sang Gerilyawan Cinta, Bantul: Penerbit Laela, 2014, 476 hlm, 58.000

Slamet Riyadi, Tradisi Kehidupan Sastra di Kesultanan Yogyakarta, Yogyakarta: Gama Media, 2002, xxiv+312hlm, 45,000

SN. Ratmana, Sedimen Senja, novel, Jakarta: Buku Kompas, 2006, xxiv+192 hlm, 35.000.

Sobih Adnan, Lamar, puisi, Jakarta: Wedatama Widya Sastra & buku pop, 2013, ix+69hlm, 25.000

Sobron Aidit, Potret Diri dan Keluarga, Kumcer,Bandung: Ultimus, 2015, xii+172hlm, 45.000

Soe Hok Gie, Di Bawah Lentera Merah, Yogyakarta: MataAngin, 2016, 122 hlm. 75.000

Soebagijo I.N. (peny), Dua Cerita dari Negeri Slavia, Jakarta: Kompas, 2013, 214 hlm. 30.000

Soebijono, A.S.S. Tambunan, Hidayat Mukmin, Roekmini Koesoemo Astoeti, Dwifungsi ABRI,Perkembangan dan Peranannya dalam Kehidupan Politik di Indonesia, Yogyakarta: UGM Press, 1992, ix+220 hlm, 20.000

Soekarno, Ir., Membangun Dunia Baru, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2013, 98 hlm, Rp 20.000

Soeprijadi Tomodihardjo, Cucu Tukang Perang, Antologi Cerpen, Yogyakarta: Akar Indonesia. 30.000

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Revisi, Depok: Raja Grafindo Persada, 2014, xiv+410hlm,97.000

Soetandyo Wignjosoebroto., Sejarah & Budaya Demokrasi, Manusia Berstatus Warga dalam Kehidupan Bernegara Bangsa, Malang: Program Sekolah Demokrasi + Averroes, Nov 2013, 93 hlm, 25.000

Soetomo. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. Buku Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xii+416 hlm. Rp 80.000

Soewarsono, dkk., Jejak Kebangsaan, Kaum Nasionalis di Manokwari dan Boven Digul, Jakarta: YOI, 2013, 241 hlm, 85.000

Sofie Dewayani, Mantra Maira, cerpen, Yogyakarta: Jalasutra, 2010. 20. 000

Sohail H. Hashmi (Ed.), Etika Politik Islam, Civil Society, Pluralisme, dan Konflik, Pondok Indah: Icip, 2005, xxi+306 hlm, 25,000

Sonar Manihuruk, Badai Pasti Datang, Sebuah Novel, Yogyakarta: IBC. 37.000

Soni Farid Maulana, Mengukur Sisa Hujan, Sajak-sajak 2007-2010, Bandung: Ultimus, 2010, 84 hlm, 30.000

Soorjo Sani S, Pada Tepi Hari Itu, puisi, Jakarta: Wedatama Widya Sastra& buku pop, 2005, vi+50hlm, 8,000

Sophokles, Oidipus Sang Raja, naksah-prosa liris, Bandung: Pustaka Jaya, 2009, 148 hlm, 35,000

Spain Rodriguez, Che, Biografi Grafis, Jakarta: KPG, 2008, 108 hlm, 30.000

Sri Mulyani, Sastra Paddhati: Merajut Ilmu Humaniora, Yogyakarta: Penerbit USD, 2013, 207 hlm, Rp 55.000

Sri Mulyaningsih, Pengantar Geologi Lingkungan, Yogyakarta: Panduan, 2010, xii+352 hlm, 70.000

Sri Mulyati, Saparinah Sadli, dkk, Gus Dur di Mata Perempuan, Yogyakarta, Penerbit Gading, 2015, 14,5×21 cm, xxx+296 hlm, 80.000

Sri Nurani Kartikasari, dkk.., Ekologi Papua, Jakarta: YOI, 15×23 cm, 1.046 hlm, 135.000

Sri Ratna Saktimulya, Katalog Naskah-naskah Perpustakaan Pura Pakualaman, Jakarta: YOI, 2005, 70.000

St. Sularto, Syukur Tiada Akhir (jejak langkah Jakoeb Oetama), Jakarta: Kompas, 2011, xii+660hlm, 70,000

Stefan Titscher, dkk., Metode Analisis Teks dan Wacana, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, xvi+466 hlm, 95.000

Stefani Hid, Katzenjammer, Cerita tentang Aya dan Henning, Sebuah Novel, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2012, 216 hlm, 30.000

Stefanny Irawan, Tidak Ada Kelinci di Bulan !, Kumcer, Jakarta: GPU, Maret 2006, 119 hlm, 21cm, 25.000

Stephanie Iriana, Derita Cinta Tak Terbalas: Proses Pencarian Makna Hidup, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra, 2005, xxiv+164 hlm, 30.000

Stephen E Ambrose. D-Day 6 Juni 1944: Puncak Pertempuran Perang Dunia II, Jakarta: YOI, 2009, 800 hlm. Rp 150.000

Stephen Palmquis, Dr., Pohon Filsafat, karya ilmiah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, 558 hlm, 105,000

Stephen Plant, Simone Weil, tokoh pemikir Kristen, Yogyakarta: Kanisius, 2005, 100hlm, 20,000

Stephen Ullmann, Pengantar Semantik, teori sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, ix+336 hlm. Rp 65.000

Stephen W. Hawking, Teori Segala Sesuatu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2007, xiii+149 hlm, 35.000

Stephen, E. Ambrose, Tentara Sukarela Citizen Soldiers, Jakarta: YOI, 2014, xxii+652 hlm, 90.000

Steve Shagan, Vendetta, Novel, Planet Buku, 2008, 455 hlm, 45.000

Su Tong, Raise The Red Lantern, Persaingan Para Istri, Jakarta: Serambi, 2011, 133 hlm, 25.000

Sudarmoko ( Editor),. Rusli Marzuki Saria, Parewa Sastra Sumatera Barat, Sebuah Kado Budaya,Padang: Ruang Kerja Budaya (RKB),  April 2016, xii+172 hlm, 13,5×20 cm, 55.000

Sudarmoko, Roman Pergaoelan, Yogyakarta: Insist, 2007, xvi+189, 30.000.

Suetonius, Dua Belas Kaisar, Catatan Terlengkap tentang Kejayan dan Kekejaman Kaisar Romawi, Jakarta: Elex Media Computindo, 2012, lxix+512 hlm, 70.000 

Sugihastuti dan Suharto, Kritik Sastra Feminis, Teori Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xv+350 hlm. Rp 60.000

Sugihastuti, Editor Bahasa, teori sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xiii+290 hlm. Rp 45.000

Sugihastuti, Gender dan inferioritas perempuan, Praktik Kritik Sastra Feminis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, 351hlm, 57.000

Sugihastuti, MS, Dra., Bahasa Laporan Penelitian. Buku Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xii+515 hlm.Rp 40.000

Sugihastuti. Rona Bahasa dan Sastra Indonesia,Tanggapan penutur dan Pembacanya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Rp 40.000

Sugihastuti. Teori dan Apresiasi Sastra. Teori Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xvii+177 hlm. Rp 40.000

Suhardi, Sintaksis, Yogyakarta: UNY Press, 2013, 227 hlm, 42.000

Suharsimi Arikunto, Prof. Dr., Penilaian & penelitian Bidang Bimbingan dan Konseling, Yogyakarta: Aditya Media, 2011, vii+254 hlm, 47,000

Suharyoto Sastrosuwignyo, Metanusantara, Novel, Yogyakarta: Frame Publishing, 2016, 448 hlm, 64.000

Sukatman, Mitos Jawa dan Aktivitas Politik Indonesia, Yogyakarta: Gress Publishing, 2013, viii+170hlm,40.000

Sukono, dkk., Dan Toch Maar, Apa Boleh Buat, Maju Terus!, Jakarta: Kompas, 2009, xx+552hlm,50.000

Sulistyo-Basuki, Metode Penelitian, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2010, xi+304hlm, 60.000

Sulistyowati Irianto (ed), Otonomi Perguruan Tinggi Suatu Keniscayaan, Jakarta: YOI, 2012, 95.000

Sumarsono M Ed. Prof Dr, Sosiolinguistik, Teori, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. xvi+377 hlm. Rp 60.000

Sumbo Tinarbuko, Dekave, Desain Komunikasi Visual, Penanda Zaman Masyakarat Global, Yogyakarta: Caps, 2015, viii+264 hlm, 78.000

Suminto A Sayuti, Bangsal Sri Manganti, puisi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013, 89hlm, 30,000

Suminto A. Sayuti, Berkenalan dengan Puisi, Yogyakarta: Gama Media, 2010, xvi+404hlm, 65,000

Suminto A. Sayuti, Dr., Semerbak Sajak, Ulasan, Yogyakarta: Gama Media, 2000, x+186 hlm, 40.000

Sunardian, Anonim, My Hero, Yogyakarta: Galang Press, 2004. 20.000

Sunaryono Basuki Ks, Love in Bali, Yogyakarta: Jenius Publisher, 2012, 282hlm, 25,000

Sunaryono Basuki Ks., Antara Jimbaran dan Lovina, Kumpulan Cerpen, Denpasar: Cakra Press, 2011, vi+158 hlm, 25.000

Sungging Raga, Reruntuhan Musim Dingin, Cerita-cerita Pilihan, Yogyakarta: Diva Press, 2016, 204 hlm, 50.000

Sungging Raga, Sarelgaz Dan Cerita-Cerita Lainnya, Yogyakarta: Indie Book Corner, 2014, 144hlm, 50.000

Sunlie Thomas Alexander, Istri Muda Dewa Dapur, Kumcer, Yogyakarta: Ladang Pustaka & Terusan Tua, 2012, 156 hlm, 40.000

Sunlie Thomas Alexander, Sisik Ular Tangga, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Halindo, 2015, 114 hlm, 35.000

Sunoto, Tragedi Cinta di Tlatah Kediri, Novel, Malang: Pelangi Sastra, 2016, 107 hlm, 40.000

Suparto Brata, Tak Ada Nasi Lain, novel, Jakarta: Kompas, 2013, 548 hlm. 80.000

Supratikno Raharjo dkk, Kota Banten Lama Mengelola Warisan untuk Masa Depan, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2011, xii+262hlm, 55.000

Supriyo Priyanto, Pendidikan Kewarganegaraan, Semarang: Fasindo, 2013, 338hlm, 40,000

Suradi, SS., Grand Old Man of The Republic, Haji Agus Salim dan Konflik Politik Sarekat Islam, Yogyakarta: Mata Padi Pressindo, Juni 2014, xxx+168 hlm, 14×21 cm, 45.000

Surah, Medan Sastra Indonesia Edisi 5 (Mei-Juni 2014), Bintaro: Komunitas Surah Sastra Indonesia, 50hlm, 15,000

Suraya Murcitaningrum, Pengantar Metodologi Penelitian Ekonomi Islam, Yogyakarta: Prudent Media, 2013, 104hlm, 20,000

Suryadi Radjab, Dampak Pengendalian Tembakau terhadap Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Sakti & Clos, mei 2013, xx+261 hlm, 37,000

Suryanto Suryokusumo (ed), Konsep Sistem Pertahanan Nonmiliter, Jakarta: Obor, xvi+330 hlm, 95.000

Suryo Sukendro, Fifa 100, 125 Legenda Terbesar Sepak Bola Dunia, Yogyakarta: Gelar, 2010, viii+312 hlm, 30.000

Susan Finden, Casper, Si Kucing Lucu Penumpang Bus, Jakarta: Serambi, 2010, viii+300 hlm, 35.000

Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Penyair Besar Antara Dua Zaman Dan Uraian Nyanyi Sunyi, Jakarta: Dian Rakyat, 1996, vi+54hlm, 20.000

Sutan Takdir Alisjahbana, Lagu Pemacu Ombak, Kumpulan Sajak, Jakarta: Dian Rakyat, 1996, 36 hlm, 20.000

Sutan Takdir Alisjahbana, Perempuan di Persimpangan Zaman, Kumpulan Sajak, Jakarta: Dian Rakyat, 2010, 44hlm,20.000

Sutan Takdir Alisjahbana, Sajak-sajak dan Renungan, Jakarta: Dian Rakyat, 2004, vi+40 hlm, 23.000

Sutarjo Adisusilo, J.R, Filsafat Sejarah Spekulatif: Suatu Pengantar, Yogyakarta: Penerbit USD, 2014, 297 hlm, Rp 98.000

Sutikno W.S, Nyanyian Dalam Kelam, Bandung: Ultimus, 2010, xx+68hlm, 20.000

Sutiono, Benturan Budaya Islam: Puritan & Sinkretis, Jakarta: Kompas, 45.000

Sutirman Eka Ardhana, Malioboro 2067, Sepilihan Puisi-puisi Tentang Yogya, Yogyakarta: Interlude, April 2016, vi+54 hlm, 21cm, Rp 35.000

Sutirman Eka Ardhana, Sang Pramuria, Novel, Yogyakarta: Hanindita, 2005, vi+202 hlm, 30.000

Sutrisno Emry (editor), Anak Muda Bertutur Gus Dur, Kumpulan Tulisan Siswa, Jakarta: Generasi Muda Penggemar Guru Bangsa, Des 2015, xvi+195 hlm, 21 cm, 49.000

Sutrisno Emry, Rumah Mangun Berpagar Piring, Yogyakarta: Penerbit Generasi Muda Penggemar Romo Mangun, 2016, 142 hlm, Rp 45.000

Suwardi Endraswara, Seksologi Jawa, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2013, xiii+184hlm, 45.000

SY. Datuk R.A., Derita Sepahit Empedu, Kehidupan Eks-Tapol 65 di Alam Minangkabau, Bandung: Ultimus, 2015, 183 hlm, 55.000

Syafiq Hasyim, Bebas dari Patriarkhisme Islam (HC),  Jakarta: KataKita, 2010, 442 hlm, 90,000

Syaiful Alim, Kidung Cinta Pohon Kurma, Novel, Jakarta: Kata Kita, 2010, 374 hlm, 60.000

Syaiful Halim, Postkomodifikasi Media, Yogyakarta: Jalasutra, 2013, xx+316hlm, 80,000

Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan, Fiqih Shalat, Hukum-hukum Seputar Shalat, Yogyakarta: Mumtaz, 2011, viii+175 hlm, 20.000

Syaikh Fadhlallah Haeri, Jenjang-jenjang Sufisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, xvi+216 hlm, 45.000

Syamsu Indra Usman, Bisikan Malaikat, antologi puisi, Yogyakarta: Gress Publishing, 2012, xvi+100 hlm, 25,000

Syamsu-l Arifyn Munawwir, Islam Indonesia: Di mata Santri, Pasuruan: Pustaka Sidogiri, 2012, 296hlm, 30,000

Syarkawi Manap, Di Pengasingan, Sebuah Kumpulan Cerita Pendek, Bandung: Ultimus, 2007, xiv+254hlm, 35.000

Syarkawi Manap, Kisah Perjalanan, Bandung: Ultimus, 2009, xvi+304hlm, 50.000

Syarkawi Manap, Mengenang Gubuk Reyot dan Cerita-Cerita Lainnya, Bandung: Ultimus, 2013, x+142hlm, 35.000

Syarwani Rahab, S.S., MSI., Multilingual, Tata Bahasa Arab-Inggris-Indonesia, Integrasi-Interkoneksi, Yogyakarta: kaukaba, 2013, xviii+920 hlm, 250,000

Syeikh Abdul Syu’aib, Menjiwai Qur’an, Yogyakarta: Mumtaz, 2012, vii+160 hlm, 20.000

Syekh Abdullah al Jahary, Taubat, Yogyakarta: Mumtaz, 2012, viii+248 hlm, 20.000

Syekh Ahmad Ibn ‘Abd Al-Rahman, Aku Ridha Allah Tuhanku, Yogyakarta: Mumtaz, 2012, xiv+377 hlm, 25.000

Syekh Fattaah, Gubahan Pecinta (A Travel Guide),Syair Berbagai Bahasa, Bonus CD Debu, Jakarta: Serambi, 2007297 hlm, 50.000

Syekh Nizami Ganjavi, Layla Majnun, Jogjakarta: Senja, April 2014, 299 hlm, 45.000

Sylvia Walby, Teorisasi Patriarki, Yogyakarta: Jalasutra, 2014, xx+ 364, 125.000

T.E. Behrend, dkk., Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3A, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta: YOI, 1997, 50.000

T.E. Behrend, dkk., Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3B, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta: YOI, 1997, 50.000

T.E. Behrend, Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta: YOI, 1998, xxvii+653 hlm, 60.000

T.O. Ihromi (Editor), Pokok-pokok Antropologi Budaya, Jakarta: YOI, 2013, xxvi+228 hlm, 60,000

Tan Lioe Ie, Ciam Si, Puisi-puisi Ramalan, Penerbit Buku Arti,  Juli 2015, 45 hlm, 40.000

Tan Malaka, Aksi Massa, Yogyakarta: Narasi, 2013, 148hlm, 40,000

Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara, HC, Yogyakarta: Narasi, 2008, 560hlm, 110,000

Tan Malaka, Gerpolek, Gerilya-Politik-Ekonomi, Yogyakarta: Narasi, 2011, 140hlm, 40,000

Tan Malaka, Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika, Yogyakarta: Narasi, 2014, 568hlm,90,000

Tandi Skober, Pelacur, Politik, Dan He He He, novel, Jakarta: Kaki Langit Kencana, 2009, vi+558hlm, 85.000

Tane Andrea Hadiyantono (ed.), Film Horor dan Roman Indonesia: Sebuah Kajian, Yogyakarta: Buku Litera, 2012, xx+324hlm,60.000

Tariq Muhammad al-Suwaydan, Dr, Rahasia Terindah Haji &Umrah, Jakarta: Zaman, 2008, 242 hlm, 60.000

Tatiana Lukman, Pelangi, Bandung: Ultimus, 2010, x+178hlm, 35.000

Taufik Abdullah dkk (editor), Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional,Bagian III, Berakhir dan Bermula, Jakarta: YOI, 2013, xxxiv+472hlm, 125,000

Taufik Abdullah, Dkk.(editor), Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional, Bagian I: Rekonstruksi dalam Perdebatan, Jakarta: YOI, 2012, xii+474 hlm, 95,000

Taufik Abdullah, Dkk.(editor), Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional, Bagian II: Konflik Lokal, Jakarta: YOI, 2012, xxx+516 hlm, 110,000

Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, Jakarta: Alvabet, 2013, 484 hlm, 75.000

Taufik Hidayat (Opik), Isi Otakku, Kumpulan Puisi Opik, Bandung: Ultimus, 2010, 92 hlm, 25.000

Taufiq Ismail, Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya, 2013, 80hlm, 20,000

Teater Satu, Di Balik Terang  Cahaya, Catatan Proses Aktor Teater Satu, Lampung: Pustaka Labrak, 2016, 329 hlm, 75.000

Teater Satu, Orang-orang Setia, Kumpulan Naskah Drama, Lampung: Pustaka Labrak, 2016, 235 hlm., 60.000

Teguh Dewangga, dkk., Lidah Ungu Bercabang Dua yang Membuat Mereka Menjadi Cangkang Abu, Antologi Cerpen, Malang: Pelangi Sastra, 2016, 143 hlm, 55.000

Tengsoe Tjahjono, Felix Mencuci Piring, Kumpulan Puisi, Malang: Pelangi Sastra, 2016, 76 hlm, 30.000

Tengsoe Tjahjono, Meditasi Kimchi, Kumpulan Puisi, Malang: Pelangi Sastra, 2016, 107 hlm, 40.000

Th.Sumartana, Tuhan & Agama- Dalam Pergulatan Batin Kartini, Yogyakarta: Gading publishing, 2013, 19×13 cm, xxviii+133 hlm, 40.000

Thariq Al Qaththan, Variasi Bacaan Shalat, ternyata Bacaan Shalat Itu Tak Hanya Satu!, Yogyakarta: Mumtaz, 2012, x+122 hlm, x+122 hlm, 20.000

Theodorus Erang, Walking With the Beatles, Yogyakarta: Amazing, 2014, vi+150hlm, 20.000

Thomas Hidya Tjaya, Enigma Wajah Orang lain, Menggali Pemikiran Emmanuel Levinas, Jakarta: KPG,2012, 172 hlm, 13x19cm, 30.000

Thomas K dan I. Ibrahim, Senjata-Senjata Yang Mengubah Dunia, Yogya: Mata Padi Pressindo, 2015, xvi+194 hlm, 15,5×23 cm, 45.000

Thomas Stamford Raffles, The History of Java, Yogyakarta: Narasi, 2014, 19x26hlm, xxxvi+904hlm, 200,000

Thomas Sunaryo, M. Si., Dr., Kretek Pusaka Nusantara, Sakti & Clos, Mei 2013, viii+166 hlm, 33,000

Thung Ju Landan M. ‘Azzam Manan (Penyunting), Nasionalisme dan Ketahanan Budaya di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011, xii+168hlm, 40.000

Tia Setiadi (Penerj.), Biografi Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karya, Yogyakarta: Interlude, 2007, 202 hlm, 39.000

Tia Setiadi, Tangan Yang Lain, Sepilihan Sajak, Yogyakrta: Diva Press, Mei 2016, 116 hlm, 20 cm, 40.000

Tikah Kumala, Tisu Basah Samilah, Sehimpun Cerita Pendek, Yogyakarta: I;Boekoe, 2016, 108 hlm, 14×21 cm, Rp 40.000

Tim Penulis FSR ISI Yogyakarta, Irama Visual: Dari Toekang Reklame Sampai Komunikator Visual, Yogyakarta: Jalasutra, 2007, xxxi+220hlm, 50,000

Tim Sanggar Batik barcode, Batik, Mengenal Batik dan Cara Mudah Membuat Batik, Yogyakarta: KataBuku, 39.000

Timur Sinar Suprabana, Kesiur Dari Timur, Puisi, 2012, Jakarta: Katakita. 142 hlm, 14 x 21 cm. 60.000

Timur Vermes, Hitler Bangkit Lagi, novel, Jakarta: Alvabet, 2014, 444 hlm, 62.500

Tineke Hellwig, Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007, xii+122hlm, 30.000

Tinuk R. Yampolsky, Candik Ala 1965, Novel, Jakarta: Katakita. 35.000

Tirto Suwondo M,Hum, Studi Sastra (konsep dasar teori dan penerapannya pada karya sastra), Yogyakarta: Gama Media, 2011, xii+260hlm, 40,000

Tirto Suwondo, Membaca Sastra Membaca Kehidupan, Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2011, xii+170hlm, 45,000

Tirto Suwondo, Suara-Suara yang Terbungkam (olenka dalam perspektif dialog), Yogyakarta: Gama Media, 2001, xxii+354hlm, 40,000

Titiek Kartika, Perempuan Lokal Vs Tambang Pasir Besi Global, Jakarta: YOI, Agt 2014, xxiv+304 hlm, 70,000

Tjahjono Widarmanto, Masa Depan Sastra, Mosaik Telaah dan Pengajaran Sastra, Sidoarjo: SatuKata book@rt Publisher, 2013, 170 hlm, 

Tjahjono Widarmanto, Mata Air di Karang Rindu, Kumpulan Puisi, Sidoarjo: SatuKata book@rt Publisher, 2013, 44 hlm, 35.000

Tod Jones, Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia, Kebijakan Budaya Selama Abad ke 20 hingga Reformasi,  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2015, xvi+356 hlm,  16×24 cm, 90.000

Toeti Heraty, Calon Arang, Kisah Perempuan Korban Patriarki, Prosa Lirik, Inggris-Indonesia, Jakarta: YOI, 2012, 23×23 cm, 470 hlm, 95,000

Toha Mohtar, Pulang, Jakarta: Pustaka Jaya, Bakti Budaya Djarum Foundation, 2016, 98 hlm, 14,5x21cm, 30.000

Tomi Wibisono & Soni Triantoro, Questioning Everything! Kreativitas di Dunia Yang Tidak Baik-baik Saja, Yogya: Warning Books + Insist Press, Maret 2016, xx+358 hlm, 65.000

Ton Dietz, Pengakuan Hak Atas Sumberdaya Alam, Kontur Geografi Lingkungan Politik, Yogyakarta: Insist Press, 2005, xx+181 hlm, 15×21 cm, 25,000

Toni Lesmana, Kepala-Kepala di Pekarangan, Kumcer, Yogyakarta: Gambang, vi+148hlm,36.000

Toni Lesmana, Tamasya Cikaracak, Sepilihan Sajak, Yogyakarta: Basabasi, 2016, 100 hlm, 40.000

Tony Thawites, Lloyd Davis, Warwick Mules, Introducing Cultural and Media Studies Sebuah Pendekatan Semiotik, Yogyakarta: Jalasutra, 2009, xx+364 hlm, 15×21. 85.000

Totok Suhardiyanto, Jalan Bahasa (pelajaran praktis tata bahasa-bahasa Indonesia) jilid I, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2005, xii+137hlm, 30.000

Tri Astoto Kodarie, Hujan meminang badai, kumpulan puisi, Yogyakarta: Akar Indonesia. 20.000

Tri Wibowo BS, Divine Madness, Sketsa Biografi Sastrawan Gila, Jakarta: Kaki Langit Kencana, 2009, xl+260hlm, 35.000

Tri Wibowo, Gunung Makrifat, memoar Pencari Tuhan, Jakarta: Kakilangit Kencana, 2009, vi+290hlm, 35.000

Trisno S. Sutanto, Meretas Horison Dialog: Catatan dari Empat Daerah, Medan: Madia, 2001, xi+147 hlm, 25.000

Triyanto Triwikromo, Jungkir Balik Jagat Jawa, Esai, Yogyakarta: IRCiSoD, 2016, 244 hlm, 65.000

Triyanto Triwikromo, Surga Sunsang, Buku Cerita, Jakarta: Gramedia, Maret 2004, vii+144 hlm, 40,000

Tsabit Azinar Ahmad, Sejarah Kontroversial di Indonesia, Jakarta: YOI, 2016, xviii+262 hlm, 75.000

Tulus Widjanarko, Malam, dengan Sebuah Tanda, puisi, Jakarta: Wedatama Widya Sastra & buku pop, 2008, ix+76hlm, 15.000

Tzen Po Ta, Mao Tze Tung: Peralihan dari Demokrasi ke Sosialisme, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2000, 88 hlm, Rp 20.000

Ugo Untoro, Cerita Pendek Sekali, Yogyakarta: Penerbit Nyala, 2017, 105 hlm, 50.000

Ulfatin Ch., Rajawali Satu Sayap, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Interlude, 2014, 62 hlm, 29.000

Umar Sulaiman al-Asyqar, Dr., “Ensiklopedia” Kiamat, dari Sakaratulmaut hingga Surga-Neraka, Jakarta: Zaman, 2011, 710 hlm, 80.000

Umberto Eco & Kardinal Martini, Dua Khotbah dari Imam: Risalah Pertentangan, Jakarta: Jalasutra, 103 hlm, 30.000

Umberto Eco, Lima Serpihan Moral, Yogyakarta: Octopus, 2016, 170 hlm, 65.000

Untung Yuwono, Gerbang Sastra Indonesia Klasik, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2007, viii+120hlm, 25,000

Untung Yuwono, Jalan Bahasa (pelajaran praktis tata bahasa-bahasa Indonesia) jilid III, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2008, xii+103hlm, 27.000

Uswatun Khasanah SPi, Katak Ingin jadi Lembu, Yogyakarta: Zahida Pustaka, 2013, 162hlm, 20,000

Utuy Tatang Santani, Menuju Kamar Durhaka, Kumcer, Jakarta: Pustaka Jaya, 2002, 220 hlm, 30,000

Utuy Tatang Sontani, Awal dan Mira, Drama Satu Babak, Bandung: Pustaka Jaya, 2014, 48 hlm, 17,000

Utuy Tatang Sontani, Bunga Rumah Makan, Sandiwara Satu Babak, Bandung: Pustaka Jaya, 2014, 48 hlm, 17,000

Utuy Tatang Sontani, Selamat Jalan Anak Kufur, Dua Buah Drama, Bandung: Pustaka Jaya, 2014, 72 hlm, 20,000

Utuy Tatang Sontani, Si Kabayan, Komedi Satu Babak, naskah, Bandung: Pustaka Jaya, 2014, 15,000

V. Sudiati dan A. Widyamartaya, Kreatif Berbahasa Menuju Keterampilan Pragmatik, Yogyakarta: Kanisius, 2008, 98hlm, 25.000

Veven SP. Wardhana, Budaya Massa, Agama, Wanita, Risalah Budaya, Jakarta: KPG, Juni 2013, xvi+229 hlm, 13,5×20 cm, 60.000

Veven Sp. Wardhana, Dari Mana Datangnya Mata, kumcer, Jakarta: GPU, 2004, 140 hlm,. 30.000

Veven SP. Wardhana, Panggil Aku Pheng Hwa, 20 Cerita Pendek, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, Juni 2013, xiv+252 hlm, 13,5×20 cm, 50.000

Veven Sp. Wardhana, Perempuan yang Gagal Jadi Kelelawar, 9 Cerita Pendek, Jakarta: KPG, 2013, xx+123 hlm, 35.000

Vicki Myron dan Bret Witter, Dewey: Kucing Perpustakaan Kota Kecil yang bikin Dunia Jatuh Hati, Jakarta: Serambi, 2015, 392 hlm, Rp 35.000

Vicky Myron & Bret Witter. Dewey Datang Lagi, Cerita, Jakarta: Serambi, 2012, 519 hlm, 55.000

Victor M. Fic. Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi. Buku Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2005. 16×24 cm; 496 hlm. Rp 125.000

Vikas Swarup, Teka-teki Cinta Sang Pramusaji (Slumdog Millionaire) Sebuah Novel, Jakarta: Serambi, 2008, 458 hlm, 40.000

Vissia Ita Yulianto, Pesona Barat, Analisis Kritis-Historis tentang Kesadaran Warna Kulit di Indonesia, Yogyakarta: Jalasutra, 2007, 168 hlm, 15×21 cm, 35.000

Voltaire, Candide, Yogyakarta: Penerbit Oak, 2016, 262 hlm, 77.000

Voltaire, Zadig, Novel, Yogyakarta: OAK, 2015, 130 hlm, 58.000

W.Hofsteede, Pembangunan Masyarakat, Kumpulan Karangan, Yogyakarta: UGM Press, 1991, v+132 hlm, Rp 15.000

Wacana, Jurnal Ilmu Sosial Transformatif edisi 25 tahun XIII 2011, Rekonfigurasi Pengelolaan Hutan Jawa, Yogyakarta: Insist Press, 131 hlm, 22,500

Wacana, Jurnal Ilmu Sosial Transformatif edisi 27 tahun XIV 2012, Lahan gambut dan Perubahan Iklim: Distorsi Sains, Politik, dan Kebijakan, Yogyakarta: Insist Press, 116 hlm, 22,500

Wahyana Giri MC, Lelaki Pengabar Duka, Kumcer, Yogyakarta: Interlude, 152hlm,35.000

Walang Gustiyala, Katarsis Hitam Putih, Jakarta: Kakilangit Kencana, 2014, x+346hlm, 70.000

Wangari Maathai, Gerakan Sabuk Hijau, Tangerang: Marjin Kiri, 2012, 136 hlm, 38.000

Wanny Rahardjo Wahyudi, Tembikar Upacara di Candi-candi Jawa Tengah Abad ke-8-10, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2012, 18+262hlm, 55,000

Wasisto Surjodiningrat, P.J Sudarjana, Adhi Susanto, Tone Measurements of Outsanding Javanese Gamelans in Yogyakarta and Surakarta, Yogya: UGM Press, 1972, vii+56 hlm, Rp 15.000

Wawan Kurn, Persinggahan Perangai Sepi, Sehimpun Puisi, Yogyakarta: Garudhawaca, nov 2013, 13×19 cm, 112 hlm, Rp 37.000

Wayan Jengki Sunarta, Magening, novel, Jakarta: Kakilangit Kencana, 2015, vi+164hlm, 37.000

Wayan Sunarta, Perempuan yang Mengawini Keris, kumpulan cerpen, Yogyakarta: Jalasutra, 2011, xiv+152 hlm, 30,000

Widi Nugrahani, Ida Ernawati, Dua & Ranai Mara, antologi dua penyair perempuan, Yogyakarta: Gress Publishing, 2011, xii+70 hlm, 15,000

Wihambuko Tiaswening Maharsi, Dunia Simon, Kumpulan Cerpen, Yogyakarta: Tan Kinira, 2014, 114 hlm, 55.000

Wilfrid McGreal, Peter Vardy (Ed),. Yohanes Salib, Seri Tokoh Kristen, Yogyakarta: Kanisius, 2001, 92 hlm, 21 cm, 20.000

Wiliam Gibson, Neuromancer, sains fiction, Yogyakarta: Jalasutra, 2010, xii+448 hlm, 13×20 cm. 65.000

Will Burton, Andrew Beck, Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi, Yogyakarta: Jalasutra, 2010, xx+220 hlm, 14×21 cm, 40.000

William Briner, MD, Program Olahraga: Alergi, Panduan untuk Mengelolah Olahraga dan Medikasi untuk Mengatasi Gejala, Yogyakarta: Citra Aji Parama, 2012, ix+189 hlm, 20,000

William Faulkner, The Sound And The Fury, Novel, Jakarta: Serambi, 2014, 435hlm,49.000

William Golding, Penguasa Lalat, novel, Yogyakarta: Pustaka Baca, 2011,vii+312 hlm, 50.000

William James, The Varieties Of Religious Experience, Yogyakarta: IRCiSoD, 2015, 508 hlm, Rp 85.000

William Marsden, F.R.S, Sejarah Sumatera, The History of Sumatera, Buku Sejarah, Yogyakarta: Indoliterasi, 2016, 714 hlm, 150.000

William O’Neill, Ideologi-Ideologi Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, xlv+752 hlm, 130,000

William Peter Blatty, The Exorcist, novel, Jakarta: Serambi, 2013, 447 hlm, 45.000

William Shakespeare, Romeo & Julia, Naskah, Bandung: Pustaka Jaya, 2009, 208 hlm, 40,000

Williem van der Molen. Kritik Teks Jawa: Sebuah Pemandangan Umum dan Pendekatan Baru yang diterapkan Kepada Kunjarakarna. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2011,  x+392 hlm. Rp 85.000

Wilson Nadeak (penerj.), Bagaimana Menjadi penulis yang Sukses, Bandung: Sunar Baru Algensindo, 2006, 134 hlm, 20,000

Wilson Nadeak, Tentang Sastra, Jakarta: Sinar Baru Algensindo, 126 hlm, 25.000

Windoro Adi, Batavia 1740, Menyisir Jejak Betawi, Jakarta: GPU, 2010, v+477 hlm, 100.000

Wisnu Brata, Tembakau atau Mati, Kesaksian, Kegelisahan, dan Harapan Seorang Petani Tembakau, Serial Tokoh Muda, Jakarta: Jakarta Berdikari, Agustus 2012, 18,5×26,5 cm,viii+138 hlm, 35,000

Wisnu Nugroho, Rachmat Witoelar dan Perubahan Iklim, Jakarta: Kompas, 35.000

Wisnu Prasetya Utomo, Suara Pers, Suara Siapa? Yogyakarta: Pindai, 2016, xvi+205 hlm, 58.000

Wisran Hadi, Imam, Jakarta: Pustaka Firdaus, Feb 2012, 248 hlm, 40.000

Wolfgang dan Heike (Hohlbein), Dongeng Negeri Bulan, Novel, Jakarta: Feliz Books, 2011, 436hlm, 58.000

Y Sari Jatmiko, Pendidikan Multikultural yang Berkeadilan Sosial, Yogyakarta: Dinamika Edukasi Dasar, 2006, 260hlm, 35,000

Y. Sari Jatmiko (ed.), Menjadi Manusiawi, The Daily Wisdom of Mangunwijaya, Yogyakarta: Dinamika Edukasi Dasar, 2004, 236hlm, 25,000

Yanu Endar Prasetyo, Mengenal Tradisi Bangsa, Yogyakarta: Ilmu, 2010, 146hlm, 35,000

Yanusa Nugroho, Setubuh Seribu Mawar, Kumpulan Cerpen, Jakarta: Kompas, 2013, 250 hlm. 40.000

Yasunari Kawabata, Cerita-cerita Telapak Tangan, Kumpulan Cerpen, Yogyakarta: Diva Press, 2016, 332 hlm, 70.000

Yasunari Kawabata, Daun-daun Bambu, Yogyakarta: EA Books, 2015, 154 hlm, 50.000

Yasunari Kawabata, Deru Gunung, Gelora Cinta Usia Senja, Yogya: Senja+Serambi, 376 hlm, 70.000

Yasunari Kawabata, Seribu Bangau, Novel, Yogyakarta: Gading Publishing, 2015, 145 hlm, 50.000

Yazid R. Passandre, Lumpur, Buku Pertama Dari Trilogi Tanah dan Cinta, Novel, Yogyakarta: Tonggak, Nov 2011, 13×21 cm, 470 hlm, 58.000

Yeni Ahmadi, Ringkasan Materi: Bahasa dan Sastra Indonesia, untuk SMP-SMA-Mahasiswa & Umum, Solo: Kekata Publisher, Nov 2015, viii+139 hlm, 40.000

Yesmil Anwar & Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, Jakarta: PT.Grasindo, Agustus 2015, viii+248 hlm, 22 cm, 35.000

Yetti A. KA., Satu Hari Bukan di Hari Minggu, kumpulan cerpen, Yogyakarta: Gress Publishing, 2011, 13×21 cm, x+140 hlm, 30,000

Yetti A.KA, Penjual Bunga Bersyal merah, dan cerita lainnya, Yogyakarta: Diva Press, Juni 2016, 224 hlm, 14x20cm, 60.000

Yetti A.KA, Seharusnya Kami Sudah Tidur Malam Itu, Kumpulan Cerpen, Yogyakarta: Basa Basi, 2016, 172 hlm, 50.000

 Yoandinas, Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia, HC, KNPK, Mei 2014, 203 hlm, 58,000

Yoki Rakaryan Sukarjaputra, Auman Terakhir Macan Tamil, Perang Sipil Srilanka 1976 – 2009, Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2011, xxviii+204 hlm, 14×21 cm, 30.000

Yopi Setia Umbara, Mengukur Jalan, Mengulur Waktu, Kumpulan puisi, Yogyakarta: Gambang Buku Budaya, Des 2015, viii+61 hlm, 13×19 cm, 35.000

Yoseph Tugio Taher, Riau Berdarah (VVVBRKisah Perjalanan Hidupku), Jakarta: Hasta Mitra, 2006, 273 hlm, 45.000

Youssef Ziedan, Azazil: Godaan Raja Iblis, Jakxarta: Serambi, 2015, 596 hlm, Rp 50.000

Yuda Benharry Tangkilisan, Penerbangan Perintis di Indonesia, Jakarta: Penaku, Juni 2015, 14×20 cm, viii+ 256 hlm, 60.000

Yudhi Herwibowo, Mata Air Air Mata Kumari, Solo: BukuKatta, 2010, 140hlm, 25,000

Yukio Mishima, Bocah Lelaki yang Menulis Puisi, kumcer, Yogyakarta: EA Books, 2016, xix+242 hlm, 55.000

Yukio Mishima, Pelaut yang Ternoda, Yogyakarta: EA Books, 2016, 246 hlm, 66.000

Yuliandre Darwis, Ph.D, Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau (1859-1945), Jakarta: GPU, 2013, 210 hlm, 21 cm, 40.000

Yulinis, Ulu Ambek, Relasi Kuasa Atas Tari Tradisional Minangkabau, Yogyakarta: Media Kreativa, 2015, xxx+280hlm,40.000

Yunasril Ali, Dr., Buku Induk Rahasia dan Makna Ibadah, Jakarta: Zaman, 2011, 540 hlm, 90.000

Yus Badudu, Buku dan Pengarang, Ringkasan, Analisis, Biografi Buku Balai Pustaka, Bandung: Khazanah Bahari, 2008, vii+156 hlm, 30,000

Yusi Avianti Pareamon, Zen Hae, dkk., Raja Limbung, Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia, Yogyakarta: Sawit Watch, Tempo Institut, ADS, Insist Press, 2012, xiv+244 hlm, 16×24 cm, 40,000

Yusi Avianto Pareanom, Persahabatan Sepanjang Musim, Friendship For All Seasons, Kementrian Kebudayaan Dan Pariwisata Republik Indonesia, 2015, xiv+134hlm, 50.000

Yusmar Yusuf, Melayu Juwita (Renjis Riau Sebingkai Perisa),Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2006, xv+327hlm, 46,000

Yusmar Yusuf, Melayu, Langit dan Kimia Darat, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, September 2015, ix+199 hlm, 14x 20 cm, 50.000

Yusran Darmawan, Muh. Mu’min F (Ed.), Negeri Seribu Benteng, Lima Abad Dinamika di Kota Baubau, Bau-bau: Respect, 2012, 359 hlm, 40.000

Zaghlul Raghib al-Najjar, Prof. Dr., Buku Induk Mukjizat Ilmiah Hadis Nabi (HC), Jakarta: Zaman, 2010, 448 hlm, 70.000

Zaim Rofiqi, Matinya Seorang Atheis, kumcer, Jakarta: Koekoesan, 2011, 163 hlm, 14x21cm. 38.000

Zaim Rofiqi, Seperti Mencintaimu, Depok: Q Publisher, 2014, 108hlm, 50,000

Zarra Zettira ZR, Prahara Asmara, Buku Kedua, Novel, Indonesia: PT. Andal Krida Nusantara, 2009, 254 hlm, 30,000

Zarra Zettira ZR, Prahara Asmara, Buku Pertama, Novel, Indonesia: PT. Andal Krida Nusantara, 2009, 236 hlm, 30,000

Zeffry Alkatiri, Post Kolonial & Wisata Sejarah dalam Sajak, Ciputat: Padasan, 2012, xvi+192 hlm, 45.000

Zelfeni Wimra, Air Tulang Ibu, koleksi Poem, Padang: Pusakata Publishing, April 2012,102 hlm, 14×20 cm, 40.000

Zelfeni Wimra, Yang Menunggu Dengan Payung, Kumcer, Jakarta: Gramedia, 2013, 148 hlm, 30.000

Zen RS, Simulakra Sepakbola, Yogyakarta: Indie Book Corner, 2016, 14×21 cm, 262 hlm, 70.000

Zev Zanzad, Elle Eleanor, Novel, Jakarta: Kaki Langit Kencana, 2009, vi+456hlm, 65.000

Zoe Ferraris, Mencari Nouf, Novel, Jakarta: Alvabet, 2014, 480 hlm, 67.500 

Zuhairi Misrawi, Madinah, Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW, Jakarta: Kompas, 2009, xxiv+488hlm,45.000

Zuhairi Misrawi, Mekkah, Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim, Jakarta: Kompas Media Nusantara, Aug 2009, xvii+374 hlm, 14×21 cm, 45.000

Zulfa Fahmy, Cerita Nabi-nabi, Serumpun Puisi, Yogyakarta: Ganding, 2016, 72 hlm, 35.000

Zulkifli Songyanan, Kartu Pos dari Banda Naira, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Gambang Buku Budaya, 167 hlm, 40.000