Kalau kuhabiskan segala perhatianku untuk mengenangmu

Sepanjang jalan 

Dadaku terasa tertusuk-tusuk

Badanku hidup, tapi hatiku bisa lama-lama mati
Kau ingin aku melupakan

Kau juga perlahan melupakan

Kalau kuketuk pintumu dengan tanganku

Aku tak mampu

Kuketuk dengan palu

Sakitmu adalah lukaku

Akankah jika kuketuk itu dengan doa

Akan ada keajaiban 

Lalu kau mencintaiku sampai penghujung usia? 

Draft

Lelucon soal perempuan belum menikah itu memang sama sekali tidak lucu. Misalnya begini, seorang perempuan perangainya buruk. Lalu kebetulan dia sudah berumur dan belum menikah. Lalu dibilang, “Maklumlah, dia itu belum menikah. Kurang belaian. Bla bla bla.” 

Aduh cuy, yang dikatain bukan gue sih, tapi itu pemikiran kurang akal atau bagaimana? Logikanya begini, misal ada perempuan yang sudah menikah tapi perangainya buruk bagaimana? Apakah kita perlu secara khusus menyebutkan status pernikahannya dan memberikan label bahwa pernikahan dan belaian suami, kehadiran baby-baby lucu tidak membuat dia bahagia? Ndak to? Hihi…

Seorang kakak kelas (laki-laki), “Kalau pria semakin tua semakin laku. Kalau perempuan semakin tua semakin sedikit yang mau.” 

Sorry to say but, “Lihat-lihat juga lakinya bagaimana lah. Ya kali kalau dia om-om cerdas, tampan, berwibawa, kali aja banyak yang mau. Lha kalau lakinya (dalam hati: KAYA ELU) pemalas, diajak ngomong nggak nyambung, ya sapa mau.”

​Do we need to label a literary work as good or bad?

Mungkin salahku adalah, aku mendengar anak itu mengeluarkan begitu banyak judgement. Menilai karya ini begini begitu. Sebagian dengan penilaian bagus atau tidak. Sebagian menilai penulis A bagus atau tidak.

Yang pertama kutanyakan pada pakdhe hari itu, sebenarnya hanya untuk bahan pembicaraan ringan, mengapa kita perlu menjudge suatu karya itu bagus atau tidak? 
Sejak pertama kali berkenalan dengan karya sastra, aku tidak pernah mendengar senior-senior atau teman menghakimi suatu sastra bagus atau tidak. 
Kalaupun ada, itu hanya pendapat pribadi. Seniorku pernah bilang “49 Hari” karya Rabindranath Tagore itu bagus pakai banget, tapi ketika kubaca sampai akhir…aku kecewa sudah berekspektasi terlalu tinggi gara-gara kata-kata senior itu. Orang bilang Laskar Pelangi bagus, tapi aku mencoba membacanya beberapa kali dan tak pernah lewat dari Bab 1. Haruskah aku bilang buku itu bagus hanya karena orang-orang bilang buku itu bagus? Atau aku harus bilang buku itu jelek, padahal direkomendasikan di beberapa universitas? 
Jadi sebenarnya apa ukuran karya itu bagus dan tidak? Perlukah kita mengatakan suatu karya bagus, lalu semua orang harus membaca karya itu? Lalu kita bilang suatu karya jelek, lebih baik orang tidak membaca karya itu? 
Salah satu dosen kami pernah bilang, memang tidak ada benar dan salah dalam karya sastra. Tapi, kita bisa melihat nalar seseorang dari caranya menganalisa. Maka yang dipelajari adalah bagaimana kita mempertanggungjawabkan argumen kita. Jadi kritik sastra itu sering kali lebih menunjukkan kitanya, si pengkritik, bukan karyanya. Suatu karya kalau sudah dilepas ke publik, interpretasinya kembali ke publik. 
Karena itu kritik sastra jarang berakhir dengan judgment bagus atau tidaknya sebuah karya. Atau benar atau tidaknya. 
Pakdhe bilang, “itu karena ranahnya kritik sastra. Kita perlu memahami siapa yang dihadapi. Yang ini kan anak-anak yang tidak sedalam itu pemahamannya tentang sastra. Jadi perlu diberi petunjuk mana karya yang bagus dan yang tidak.”
Nooo… artinya kita sudah memosisikan diri sebagai yang lebih tahu dari ‘mereka’? Kritikus sastra tidak membicarakan soal bagus atau tidak, bukan karena mereka sudah paham mana yang bagus dan mana yang tidak. Tapi memang label bagus atau tidak bagus itu mungkin tidak perlu.
Dalam taraf belajar mencintai karya sastra, bahkan tidak perlu menunjuk karya sastra itu baik atau tidak, kecuali hanya sebagai opini. Pakdhe bilang karya Linda Christanty bagus, aku bilang tidak. Itu hanya pendapat pribadiku dari sisi bahasa (terutama karena Pakdhe menyandingkannya dengan SGA). Kita belum bicara soal tema, soal teknik menulis, dll.
Dan itu hanya dari satu karya yang Pakdhe tunjukkan. Karena itu aku berkali-kali bilang, jangan-jangan yang Pakdhe tunjukkan bukan karyanya yang ‘bagus’. 
Balik lagi dalam taraf belajar. Justru dalam taraf belajar dulu agak tabu untuk bicara bagus atau tidaknya karya. Kami hanya disuguhi beberapa cerpen, lalu kami diminta mengomparasikan karya yang satu dan yang lain. Kalau tidak salah, Hamsad Rangkuty dan Budi Dharma. 
Tanpa diskusi itu, mungkin aku hanya akan melihat “Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” sebagai karya yang menceritakan perselingkuhan dosen dan mahasiswa. Yo wis itu saja. 
Apa menariknya dua orang yang berselingkuh, duduk berdua menikmati kelapa muda? 
Tapi kami belajar lagi tentang bagaimana Hamsad Rangkuty membuat judul. Orang percaya judul itu harus pendek. Tapi ia membuat judul yang panjang dengan kata berulang. Katanya judul panjang membuat orang cepat lupa, tapi judul cerpen Hamsad Rangkuty justru nempel di kepala. 
Lalu kami belajar tentang cerita dalam cerita. Sebagian teman awalnya menganggap cerita sisipan yang ia taruh di awal itu sebagai yang utama. Mereka lupa bahwa cerita itu sejatinya hanya bercerita tentang perselingkuhan. Dan kami sepakat bahwa cerita sisipan itu lebih hidup daripada cerita aslinya. 
Ok ini bukan teknik yang baru, tapi ia menggunakan teknik itu dengan tepat, sehingga cerita perselingkuhan yang biasa-biasa saja bisa diramu menjadi kisah yang lebih hidup. Kita tidak bilang teknik menulis ini bagus, tapi teknik ini digunakan pada saat yang pas, pada cerpen yang tepat. 
Kita belajar tentang deskripsi suasana yang kuat. Ia menggambarkan pergolakan batin perempuan yang ingin bunuh diri itu. Betapa ia ingin membuang semua hal dari laki-laki yang membuatnya ingin bunuh diri, tapi ia tidak mampu. Karenanya ia membuang segala yang melekat pada dirinya, hingga membuang dirinya sendiri. 
Nggak cuma Hamsad Rangkuty yang punya deskripsi kuat, tentu saja. Tapi dari karya itu ternyata kita bisa belajar banyak mulai dari judul, teknik, deskripsi, dll. 
Dari situ kita jadi penasaran. Tidak perlu bilang karya itu bagus atau tidak, kita bisa menilai sendiri. Kadang yang tampak buruk di satu sisi, ternyata di sisi lain sangat bagus. 
Trus zaman dulu ada karya anak SMA. Dia menerbitkan bukunya sendiri. Aku lupa judulnya. Novel berbahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya nggak sempurna. Ceritanya biasa saja. Tapi aku nggak bisa bilang karya itu jelek. Di zaman itu tidak banyak penulis anak yang berani menulis novel berbahasa Inggris, lalu berani menerbitkannya. Entah di bawah penerbit ternama atau indie. I really appreciate that. Dan sangat tidak arif untuk membandingkannya dengan karya anak-anak yang berbahasa Indonesia. Atau karya berbahasa Inggris di luar negeri. Itu kaya membandingkan sesuatu yang bukan pada tempatnya dibandingkan.
Kalau aku pribadi merasa, sastra itu karya seni. Bagaimana menilai sebuah lukisan abstrak bagus? Kadang dia cuma coretan saja, tapi dibilang bagus. Kita bisa bilang bagus karena kita menafsirinya dengan indah-indah. Kadang karya sastra juga begitu. 
Apa bagusnya puisi “Tragedi Winka dan Sihka” kalau kita tidak paham cerita di belakangnya? Maka kalau menurutku, ketimbang memulai dengan bagus tidaknya, lebih nikmat memaknai karya itu. Bahkan setelah memaknai, kadang juga ndak perlu menyimpulkan bagus atau tidak. Kecuali hanya sebagai pendapat pribadi. Atau kita jadi juri, boleh lah. Tapi juri pun hanya memilih yang ‘lebih’ dibanding yang lain kan? 
Menilai suatu karya bagus atau tidak juga kurang arif karena karya seni itu kaya lautan yang dalam atau semesta yang luas. Kadang kita hanya menapakinya sepetak, yang berpetak-petak lagi tak tampak. Bagaimana kalau kita bilang karya itu jelek, sehingga orang nggak mau mengeksplor lagi? Padahal ketika dieksplor, mungkin dia bisa menyelami lebih dalam. Bukan berarti karena dia lebih muda, lebih belakangan masuk, lebih junior, kemampuannya menyelami karya tidak lebih bagus dari kita kan? 
Di sinilah sebuah karya seni tidak bisa dilihat seperti ilmu pasti. Setahuku, alat-alat yang ada, seperti berbagai pendekatan, bukan diciptakan untuk menilai karya sastra bagus atau tidak. Lebih untuk membantu kita memahaminya. 

Berdebat Soal Kalimat Panjang

Ada dua hal yang kami bicarakan malam itu. Pertama, tentang kalimat yang panjang, yang kemudian dikaitkan dengan karya terjemahan. Kedua, tentang perlu atau tidaknya melabeli sebuah karya sastra bagus atau tidak.

 

Aku seperti dibawa dalam kenangan sepuluh tahun lalu ketika masih duduk di ruang diskusi, menguliti karya sastra satu per satu. Tak banyak karya sastra kubaca. Bahkan hari ini semakin sedikit. Dan di titik ini aku merasa, membaca karya sastra itu sesederhana menyelesaikannya hingga kalimat terakhir. Nggak perlu ndakik-ndakik membahas secara struktural, psikologis, dan lain-lain. Bisa menyelesaikannya saja Alhamdulillah. Hahaha…

 

Balik ke diskusi, kedua tema itu itu awalnya dimulai dariku. Kok yo aku harus mulai mempermasalahkan itu? Mbuh…haha

 

Awalnya Uda Gita datang, duduk bersama kami yang tak jadi ke pantai. Dia membawa beberapa lembar naskah calon buku. Aku nyelonong meminjam lalu membacanya. Lha aku penasaran kok.

 

Aku masih ingat, kalimat panjang itu adalah kalimat kedua. Sekitar tiga baris lebih beberapa kata. Kalau beberapa kata ini dihitung, kalimat itu terdiri dari lima baris.

 

Pakdhe men-skak aku dengan mengatakan aku terpengaruh gaya bahasa jurnalistik. Apa yang kubaca dan kutulis tiap hari adalah produk jurnalistik. Karenanya, aku merasa kalimat itu harus pendek. Sebab, kalimat jelas, singkat, dan padat merupakan bagian pakem dari aturan bahasa jurnalistik.

 

Tidak, Pakdhe. Aku segera meralat kata-kataku. Ini bukan soal panjang dan pendek. Bagiku ini soal rasa, selera, dan ‘aliran’ (flow) dalam membaca. Makanya ketika aku mengkritik kalimat-kalimat sangat panjang yang kutemukan di tulisan itu, lalu oleh beberapa orang dikatakan tidak apa-apa kalimat itu panjang, aku diam.

 

Diamku dalam hal ini pertanda, “It’s ok. Ya sudah. Ndak papa. Ndak masalah. It is only a choice.”

 

Bagiku, yang kuyakini selama ini, kalimat-kalimat pendek lebih mudah dipahami. Ia memberikan aliran tersendiri dalam ritme membaca. Ia memberikan jeda, sehingga membaca tidak terasa berat. Ia memberikan kesempatan bagi otak untuk memilah gagasan-gagasan yang ada dalam satu kalimat, sehingga tidak tumpang tindih, tidak mengaburkan satu sama lain.

 

Ketika Pakdhe berkata, “Memangnya kenapa dengan kalimat panjang? Aku tidak masalah dengan kalimat panjang.”

 

Aku tidak punya argument lain. Ibaratnya kalau harus menjawab, aku akan bilang, “Ya sudah kalau Pakdhe nyaman membaca kalimat panjang. Aku tidak nyaman dengan kalimat sepanjang itu.”

 

Aku tidak bisa mengatakan, “Kalimat panjang itu membuat orang berpikir lebih berat.” 

 

Kenyataannya Pakdhe tidak berpikir begitu kan? Kalau aku mau mengatakan kebanyakan orang akan berpikir lebih berat ketika membaca kalimat panjang, aku harus membuktikan itu dengan survei atau penelitian yang lain. Aku ndak punya.

 

Bahkan kalaupun ada yang bisa membuktikannya dengan survei, aku tidak bisa menafikan bahwa ada orang-orang yang menyukai hal di luar yang mainstream. Dan setiap penerbit punya warna sendiri yang ingin dibawa, pembaca yang menjadi target, dan idealisme yang ingin dipegang atau dipertahankan.

 

Di situ letak ‘ndak masalah’-nya.  

 

Dan di situlah menariknya ilmu bahasa, budaya, sastra. Kita tidak perlu beradu pandang untuk menemukan satu kesepakatan. Ya mungkin dalam hal tertentu ada, tapi dalam banyak hal kita tidak perlu sepakat.

 

Kupikir semua sudah selesai ditelan meja kotak, kartu uno, bau bangkai, dan rasa kantuk malam itu. Kami pindah di bagian depan, di pojok Kafe Semesta.

 

Lalu Pakdhe mengajukan tema itu lagi. Kenapa kalau kalimat panjang? Aduh, kan aku tidak bilang harus panjang. Tapi buatku, tidak sepanjang itu juga.

 

Ini pengalamanku membaca kalimat panjang itu. Aku menikmati kalimat pertama. Ringan, enak dibaca, dan mudah dipahami. Lalu aku bergerak pada kalimat kedua. Awalnya masih enak dibaca, lalu aku bertemu koma, masih bisa dibaca, bertemu koma lagi, mulai hilang konsentrasi, lalu di akhir kalimat aku berhenti dengan pikiran, “Aku nggak paham. Dan aku malas membacanya untuk kedua kali. It takes my time.”

 

Tapi lagi-lagi, itu pengalamanku. Kalau Pakdhe dan orang lain punya pengalaman berbeda, kalau para pembaca lain pun begitu, it’s ok. Aku akan memilih buku lain yang nyaman buatku. Atau kalau memang isi buku itu sangat menarik untuk diketahui, aku akan mengalahkan kesulitan itu untuk membacanya.  

 

Nah pandangan bahwa aku terpengaruh oleh sisi jurnalistik itu bisa dibilang sebagai adhominem. Aku tidak bisa berbohong bahwa jiwa jurnalistikku akan memengaruhi beberapa aspek kehidupan. Misalnya, aku akan lebih skeptis, lebih banyak bertanya, dan sebagainya. Tapi tidak dalam semua hal aku njuk kaya wartawan -,-

 

Begini, beberapa alasan di awal sudah kusampaikan. Kenapa kalimat pendek? Bagiku dan bagi beberapa orang yang setipe denganku, kalimat pendek lebih mudah dipahami, lebih efektif, tidak melelahkan. Kalau bisa satu kalimat itu dibaca satu napas.

 

Apakah ini kaidah jurnalistik? Tidak juga. Zaman dahulu, tidak hanya kaidah jurnalistik yang mengajarkan kalimat singkat, padat, dan jelas. Dalam pelajaran bahasa Indonesia pun diajarkan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang mudah dipahami, singkat, padat, dan jelas.

 

Bagaimana dengan kalimat jurnalistik di masa ini? Jurnalisme sudah berkembang begitu jauh. Kita mengenal jurnalisme sastrawi yang bahasanya terkadang mendayu-dayu. Ada jurnalisme data yang bermain dengan tabel-tabel, diagram, dan sebagainya. Ada jurnalisme warga, yang bentuknya terkadang sangat bebas. Banyak lagi lah, aku juga belum khatam memelajarinya. Jadi ini bukan soal jurnalisme.

 

Nah, karena ini soal keterbacaan, aku menyimpulkan kemampuanku membaca tidak secanggih orang lain yang mampu membaca kalimat panjang. Jadi kalau ada orang yang nyaman dengan kalimat-kalimat panjang, it’s ok.

 

Mari bergeser pada bahasan 1a, yaitu kalimat panjang dalam karya terjemahan. Orang punya alasan masing-masing dalam menerjemah. Ini terkadang menentukan hasil terjemahan. Dan berbeda itu tidak apa. Mungkin ini yang harus berkali-kali kuucapkan pada diri sendiri dan pada orang lain. Tidak ada aturan saklek, termasuk dalam menerjemah.

 

Untuk karya yang dipublikasi, jumlah buku yang terjual mungkin akan menunjukkan seberapa buku itu mampu menarik. Walaupun, promosi, sampul/perwajahan, jenis kertas, dan lain-lain juga akan berpengaruh. Selain itu, feedback dari pembaca juga menentukan.

  

Dalam karya terjemahan, tujuan utama menerjemahkan suatu tulisan adalah untuk menyampaikan ide dan gagasan penulis aslinya. Kalau sebuah karya terjemahan tidak mampu menyampaikan gagasan penulisnya, untuk apa diterjemahkan? Itu seperti yang Mas Ahmad bilang. ‘Minimal’ sebuah karya terjemahan itu bisa dipahami saja, kita harus sudah mengapresiasi. Kalau tidak ada yang mau menerjemahkan karya orang dari bangsa lain, pengetahuan kita hanya akan berkutat di sini-sini saja.

 

Ada banyak karya yang dalam bahasa aslinya memiliki kalimat sangat panjang. Banyak koma dan banyak penjelasan dalam tanda penghubung –kaya gini. Buat saya, tak ulang lagi, bukan panjang pendeknya yang utama. Tapi keterbacaannya. Kemampuannya dipahami. Kalau dalam kalimat super panjang, seperti aslinya, ia menjadi sulit dipahami, kurasa tak ada salahnya diperpendek. Secara teknik, melakukan parafrase atau memecah kalimat menjadi beberapa bagian itu ‘legal’ kok. Selama tidak mengubah arti.

 

Jika dengan cara itu kalimat jadi lebih enak dibaca, lebih mudah dipahami, maknanya lebih mudah tersampaikan, ‘flow’nya lebih dapet, kenapa tidak? Maksud saya, memendekkan kalimat bukan sesuatu yang ‘haram’ dalam ilmu menerjemah. Dan dalam beberapa kasus yang pernah kualami, suatu kalimat yang saangat panjang kadang memang perlu dipecah.

 

Berbeda lagi dengan karya sastra. Saya termasuk yang tidak berani menerjemahkan karya sastra. Karena itu ketika Mas Olih bilang ada beberapa cerpen, saya cepat bilang NO. Menerjemahkan karya sastra butuh perjuangan lebih. ‘rasa’ sastra, taste of the masterpiece itu sulit dituangkan dalam karya terjemahan. Pandangan bahwa “minimal” sebuah karya terjemahan itu mudah dipahami menjadi agak-perlu-dikesampingkan.

 

Kenapa? Karena bahasa tak bisa dipisahkan dari pola masing-masing bahasa. Aduh apa istilahnya ya? Struktur, tenses (untuk bahasa Inggris), gender, kosakata, latar belakang budaya, bahkan mungkin sejarah bahasa itu sendiri. Itu menjadikan setiap bahasa punya cirri khas dan rasa tersendiri.

 

Belum lagi bicara soal karya sastra. Ia pun kental dengan latar belakang si penulis, tempat, waktu, dan sebagainya. Bagaimana mempertahankan semua unsur itu dalam karya terjemahan? Menurut saya, yang bisa dilakukan hanya mendekati. Sebagus-bagusnya karya terjemahan hanya mampu mendekati rasa karya aslinya. Tapi ia tak akan pernah menggantikan atau menyamainya.

 

Saya tidak bisa menyalahkan jika ada orang lebih memilih membaca karya terjemahan yang mudah dipahami daripada karya aslinya yang sulit dimengerti. Tergantung tujuan membacanya. Kalau tujuannya memahami, ya mending membaca terjemahannya. Apalagi kalau kemampuan kita memahami bahasa asing terbatas. Saya ndak ngerti bahasa Arab. Maka ketika redaktur saya mampu menjelaskan isi buku berbahasa Arab, saya senang sekali. Tapi rasa skeptis saya naik 75%. “Memang begitu, atau dia memahaminya begitu?”

 

Nah, kalau kita menginginkan feelnya, ingin menyelami pemikiran si penulisnya secara lebih dekat, atau dalam taraf tertentu ingin memahami karakter asli si penulis, ya kudu baca aslinya. You will never got it except you read the real masterpieces. Satu-satunya ya dari buku aslinya.

 

Menurut saya, cara terbaik menikmati karya terjemahan adalah memperlakukannya sebagai karya terpisah dari yang asli. Nah ini jadi pertanyaan lagi. hahaha. Maksud saya bukan tidak mengaitkan sama sekali dengan karya asli. Ibarat menonton film yang kisahnya diambil dari novel deh. Biar nggak mencak-mencak, perlakukan film itu seperti film yang terinspirasi dari novel. Sementara novelnya adalah novel yang mampu menginspirasi orang untuk membuat film. Bukan novel yang film atau film yang novel. Ya gitu lah pokoknya. Hahahah

 

Buku terjemahan juga gitu. Buku asli dan buku terjemahan adalah dua karya yang berbeda. Karenanya, walaupun kita sudah membaca buku Noam Choamsky yang terjemahan, di daftar pustaka kita tidak boleh memasukkan karya Noam Choamsky asli seakan-akan kita sudah membacanya. Yang dimasukkan ya nama penerbit terjemahannya kan?

 

Nah, ketika ngomong soal pola bahasa itu. Saya bingung mencari istilah yang tepat sih. Mungkin lebih tepatnya ‘rasa/feel’ kali ya, yang di dalamnya ada struktur, kosakata, tenses, kultur, dll. Ketika sedang membahas itu, tiba-tiba Pakdhe menyebut soal kata tertentu yang tidak ada dalam bahasa lain. Misalnya benda, hewan, bunga tertentu. Pakdhe mencontohkan kata “spork” yang merupakan gabungan spoon dan fork.

 

Sebenarnya itu pembahasan yang berbeda dari yang kumaksud. Tidak sepenuhnya berbeda sih. Kosakata dan pilihan kata atau diksi adalah bagian kecil yang membentuk rasa. Setahu saya, ada beberapa cara untuk menerjemahkan yang seperti ini. Misalnya, pertama, mempertahankan istilah itu dalam bentuk aslinya. Saya termasuk yang tidak masalah kalau orang mempertahankan kata asli dalam bahasa asing dengan tanda kurung. Dengan catatan, tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan makna aslinya. Atau dia tidak menemukan. Daripada dia mengganti dengan kata bahasa Indonesia yang asal-asalan, nggak pas, nggak papa pakai tanda kurung. Buat saya ini bukan “biar kelihatan pintar.” Kadang memang ada kata-kata yang tidak ada istilah tepatnya. Akan lebih indah lagi kalau si penerjemah berjuang mencari kata yang sepadan. Tapi ya, nggak bohong kadang penerjemah juga dikejar deadline tah?

 

Kedua, dicari padanan yang paling mendekati dalam bahasa Indonesia. tujuannya agar lebih mudah dipahami, lebih enak dirasa-rasa dengan cita rasa Indonesia. Ya di satu sisi bagus. tapi dalam pelaksanaannya kadang ndak bagus. Misal asuransi kesehatan njuk diterjemahkan jadi BPJS, kan nggak lucu. Atau wombat, binatang khas Australia trus disebut marsupial. Padahal marsupial khas Australia kan banyak, dan wombat cuma salah satunya. Ketika dipertahanankan, kadang, hanya dengan kata ‘wombat’ saja kita tahu seting cerita itu ada di Australia. Ya semacam itu lah.

 

Ketiga, bisa dijelaskan dengan deskripsi. Misal spork. Tidak ada kata yang tepat untuk menggantikan kata spork. Tapi bahasa Indonesia mengenal kata sendok dan garpu. Ya udah dijelasin aja kalau spork itu gabungan sendok dan garpu. Atau alat makan yang satu ujungnya sendok, ujung lainnya garpu. Atau kita bikin singkatan juga jadi serpu. Wkkwkwkw. Kata lain, misalnya kebelet. Kita nggak punya kata plek dalam bahasa Inggris yang artinya kebelet. Tapi “aku kebelet” bisa dijelaskan dengan “I wanted to pee,” “I need to pee,” “I neet to go to the bathroom,” dan lain-lain. kalau kebelet kawin? Lain lagi.

 

Nah, Uda Gita sempat bilang, kalau ada kalimat yang panjang, banyak koma, kalau perlu dipertahankan ya dipertahankan. Trus setiap bahasa punya kata yang mudah, sedang, berat, jangan karena kita ingin tulisan itu mudah dipahami lalu kita memakai kata yang mudah, padahal naskah aslinya kata itu berat.

 

Iya, itu soal feel tadi. Makanya aku koreksi di awal bahwa masalahnya bukan soal panjang pendeknya. Terkadang bentuk panjang itu perlu dipertahankan. Tapi ketika itu mengganggu flow atau proses pemahaman, memotong kalimat bukan suatu yang haram. Soal diksi juga sudah dibahas tadi. Kenapa banyak karya sastra kehilangan ‘rasa’, dan setelah ditelaah ternyata kata-kata canggihnya diterjemahkan menjadi kata tidak canggih? Kurasa itu bukan karena penerjemah ingin membuatnya mudah dipahami, tapi lebih pada kemampuan si penerjemah dalam menemukan kata yang sepadan.

 

Soal bagus atau tidak karya sastra kutulis lain waktu kalau ingat :p

 

Hukuman Mesum

Sekitar tahun 2014, seorang teman bercerita padaku tentang sepasang remaja yang ketahuan berhubungan seksual di tempat umum. Malam hari, mereka asyik memuaskan hasrat di tengah semak-semak, di sebuah kawasan wisata. 

Apes, mereka ketahuan oleh  warga yang sedang ronda. Mereka diminta telanjang, berhubungan seksual, lalu direkam oleh orang-orang itu. 

Ekspresi pertama saya, kaget. Saya mungkin terlambat mengetahui cerita gila semacam ini. Masyarakat seperti apa yang ada di sekitar kita? Itu yang saya pikirkan selanjutnya. 

Iya, masyarakat seperti apa? Mereka menggerebek ‘pasangan tak resmi’ yang melakukan hubungan seksual. Tapi mereka melakukan pemerkosaan terhadap keduanya dengan memaksa mereka berhubungan dan menjadi tontonan. Mereka semakin gila dengan merekamnya. 

Sebagian masyarakat mungkin akan berpendapat itu konsekuensi, hukuman moral, cara membuat jera, dan sebagainya. Tidak, itu hanya bentuk kegilaan lain. 

Apakah karena seseorang bersalah, orang lain boleh melakukan kesalahan juga? Apakah karena kamu dipukul kamu harus memukul? Karena saudara kamu dibunuh, lalu kamu berhak membunuh? 

Jika ya, kapan rantai kekerasan, pencabulan, pembunuhan, dan berbagai kejahatan lain akan berhenti? 

Masih segar cerita ketika seorang remaja dihukum, diarak telanjang. Ia malu hingga mencoba bunuh diri. Ada juga pelaku kejahatan yang diminta membuka pakaian hingga tinggal celana dalam berbentuk segitiga, dipajang didepan orang, difoto, dan disebarkan. 

Sebagian masyarakat yang sangat moralis beranggapan bahwa pemenuhan kebutuhan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan standard mereka tidak bisa diterima. Jika ada yang melakukan zina, maka 40 rumah di samping kanan-kiri akan ikut menanggung dosanya. Karenanya, mereka merasa punya tanggung jawab sangat besar untuk menghilangkan praktik semacam ini. 

Pihak lain berpikir kebutuhan dan pemenuhan seksual adalah ranah pribadi. Karenanya masalah seksual tak seharusnya masuk ranah hukum. Misalnya, chat seks habib rizieq dan firza husein seharusnya tak dimasukkan ranah hukum, begitu pula kasus yang sudah lama antara ariel peterpan dan luna maya. 

Tentu ada pengecualian. Itu bisa dibawa ke ranah hukum ketika ada unsur pemaksaan atau pemerkosaan, kekerasan, hubungan seks dengan anak di bawah umur, dustribusi konten porno, dan sebagainya. 

Bagi saya, keduanya tidak menjadi masalah. Kaum moralis seharusnya memgetahui batasan mereka. Misalnya untuk tetap menerapkan praduga tak bersalah, menghormati hak asasi mereka, tetap memperlakukan sebagai manusia, melakukan cara-cara yang baik, melakukan pembinaan, dan sebagainya. Kelompok lainnya seharusnya pun mempertimbangkan dampak dari aktivitas ranah pribadi ini terhadap masyarakat luas. 

Saya rasa cukup susah kita menyuburkan ironi yang selama ini terjadi. Tak ada ruang bagi kaum moralis, jika dengannya mereka merasa boleh melakukan tindakan atau hukuman amoralis kepada kelompok yang mereka anggap amoralis. 

Saya lagi-lagi teringat nasihat Pramoedya Ananta Toer. Sepertinya, kalimat ini sangat ampuh dalam banyak hal. “Adillah sejak dalam pikiran, apabila perbuatan.”

Gencar lalu Menghilang

Saya sebenarnya tidak pernah kaget dengan orang seperti ini. Ia datang tiba-tiba, mengontak Anda dengan menggebu-gebu, lalu menghilang begitu saja. Orang tipe ini begitu mudah ditebak dari awalnya. 

Saya tidak tahu apa motivasi orang-orang seperti ini ketika mengontak saya. Bagi saya, pertemanan adalah hal baik. Saya mungkin terlalu “gampangan”-nya. Saya katakan ini dengan jelas dalam tulisan ini. 

Saya akan menerima ajakan lelaki yang menurut saya (menurut saya, artinya pertimbangan pribadi saya) baik. Baik menurut intuisi saya, tidak berbahaya, tidak punya niat buruk selain berteman atau menjalin hubungan jenis lain yang tujuannya juga baik. 

Saya akan pergi makan walau hanya berdua. Saya tidak masalah nonton film berdua. Saya tidak masalah jalan-jalan berdua. Sebut saya gampangan, kalau persepsi Anda mengatakan begitu. Tapi saya punya pemikiran lain. 

Bagi saya, pertemuan semacam itu sama dengan ketika saya bertemu berdua dengan teman perempuan. Saya tidak membedakan itu. Dan sejauh ini saya mampu “menjaga diri”. 

Sebut saya gampangan, karena saya gampang diajak ke mana-mana oleh pria mana saja. Tapi sekali Anda melanggar batas privasi saya, you will end. You will loose my respect. 

Walau saya menyebutnya kencan ketika bercanda, nonton berdua bukanlah “kencan intim”. Makan berdua bukan “intimate dinner”. 

Saya senang membangun ikatan pertemanan yang kuat, yang bagi saya bisa terbangun ketika kita ngobrol dalam kelompok kecil. Berdua, bertiga, berempat. Sesederhana itu saya memandang pertemuan-pertemuan dengan beberapa teman pria. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Saya bertemu mereka berdua, berteman dengan baik, bahkan ketika mereka telah menikah kami masih menjadi teman baik. 

Saya tidak tahu apa yang membuat mereka kecewa, sehingga sebagian teman pria yang awalnya gencar menghubungi tiba-tiba menghilang. Is it because of me? Is it because of any other things? 

Saya tidak mau pusing memikirkan hal semacam ini. Bagi saya, itu menunjukkan siapa mereka, bukan saya. 

Saya selalu punya intuisi terhadap orang-orang seperti ini. Saat mereka tampak begitu bitchy talking to me, saya membiarkan mereka bicara sepuasnya. Saya biarkan mereka menghubungi saya, mengajak saya pergi, saya biarkan mereka menunjukkan diri mereka. 

Saya berusaha berpikir positif bahwa intuisi saya salah. Bahwa sejauh mereka tidak pernah berbuat jahat pada saya, saya harus menempatkan mereka pada posisi netral, bahkan baik. Bahwa mereka tidak sealai ucapannya yang manis berbunga-bunga. Mereka adalah pribadi yang baik dan tulus. 

Sebagian besar pikiran positif saya salah. Minimal, intuisi bahwa dalam tahap tertentu mereka akan pergi begitu saja, sering sekali benar. 

Saya tidak tahu mengapa sebagian orang memilih terus dekat dengan saya. Mengapa sebagian memutuskan pergi. Saya lebih senang membiarkan mereka yang ingin membersamai saya tetap di sana dan yang tidak ingin saya biarkan. 

Saya tidak punya sesuatu yang cukup menarik untuk memaksa orang tetap bersama saya. Tapi saya yakin, saya adalah pribadi pilihan Tuhan yang ia ciptakan unik, seperti halnya orang lain. Tuhan tidak akan membiarkan saya sendiri. Dan mereka yang akan tetap bersama saya tentu telah menemukan sendiri sebabnya. 

Saya tidak merasa kehilangan. Saya kadang merasa membuang waktu berteman dengan orang-orang yang hanya mampir. Tapi katanya, setiap pertemuan itu tidak pernah sia-sia. Kadang saya memilih membuang sama sekali mereka yang tiba-tiba berubah sikapnya entah karena apa. 

Saya tidak ingin pusing. Hidup saya juga bukan ladang politik. Untuk menjadi dekat dengan saya, siapapun tak perlu bermain tarik ulur. Bertemanlah dengan jujur, tulus, tanpa permainan, tanpa perlu taktik. Saya memilih berteman dengan sedikit teman yang akan keep hanging on my life amd my mind, wherever they go. I do appreciate good friends. 

Pengalaman Mengurus KTP-el Hilang dan Surat Keterangan Pengganti

Seperti diminta Mbak Desy Indriana di status Facebook saya, hari ini saya tulis prosedur mengurus KTP-el yang hilang dan surat keterangan (suket) pengganti. Semoga bermanfaat untuk teman-teman di wilayah Depok, Sleman. 

Seperti disebutkan di berbagai artikel media online, syarat mengurus KTP-el yang hilang dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) sangat sederhana. Hanya perlu surat kehilangan dari Polsek dan fotokopi KK. Keduanya dibawa ke Kantor Kecamatan, lalu kecamatan akan meneruskan ke Disdukcapil. 
Nah, blanko KTP-el yang habis ternyata memberi dampak pada banyak hal. Pencetakan KTP-el jadi lebih lambat dan pengurusannya cenderung lebih ribet. Selama KTP-el belum jadi, kita diberi surat pengganti KTP-el sementara yang berlaku untuk enam bulan. 
Begini praktiknya. Pertama, mintalah surat keterangan kehilangan KTP-el ke Polsek. Saya mengurus di Jakarta. Syaratnya, bawa saja kartu identitas lain, misalnya SIM. Prosesnya cepat (kalau lama karena antri). Gratis.
Kedua, Mintalah surat keterangan penggantian KTP-el dari Ketua RT. Surat ini harus ditandatangani oleh Ketua RT, Ketua RW, dan Kepala Pedukuhan. Gratis juga. Tapi kadang ada yang menyediakan kotak amal sukarela. Biasanya dialokasikan untuk kas kampung atau pembangunan masjid. 
Ketiga, Setelah tanda tangan lengkap, ambil blanko permohonan KTP-el di Kecamatan (Saya nggak tahu apakah tersedia di Kelurahan. Saya mendapatkan ini di kecamatan, karena sebelum ke kelurahan saya sudah bolak-balik ke kecamatan 2x). Isi blanko, lalu mintakan tanda tangan ke kelurahan. 
Di kelurahan, prosedurnya tidak ribet. Kumpulkan saja semua syarat, yaitu fotokopi KK, surat pengantar dari RT/RW/Dukuh, surat kehilangan dari polsek, dan blanko permohonan KTP-el (2 blanko dari kecamatan tadi). Surat permohonan KTP-el akan ditandatangani, sementara surat pengantar akan disimpan oleh kelurahan. Berkas yang lain dikembalikan.
Keempat, bawa semua berkas tadi ke kecamatan. Datang pagi-pagi biar nggak antri banyak (karena Anda perlu antri 2x hahaha). Ambil antrian, lalu serahkan semua berkas. Semua berkas tadi akan disimpan, kecuali lembar permohonan KTP-el. Itu akan dikembalikan ke kita sebagai bukti pengambilan. KTP-el saya dijadwalkan bisa diambil pada 12 Januari 2018. 
Nah, kalau mau mendapatkan surat keterangan pengganti KTP-el. Surat ini harus difotokopi beserta lampiran fotokopi KK dan 2 lembar foto ukuran 4×6. Inilah kenapa kita (atau saya) harus mengantri 2x, karena perlu memfotokopi surat permohonan KTP-el. 
Nah, setelah berkas yang kedua ini diserahkan, kita akan diberi selembar bukti pengambilan suket. Suket saya dijadwalkan bisa diambil dalam 7 hari (15 Mei 2018). 
Kenapa lama? Begini. Suket diterbitkan oleh kecamatan, lalu kecamatan akan memintakan ttd Kepala Disdukcapil, baru dibawa kembali ke kecamatan untuk diserahkan pada kita. 
Karena sudah mendesak, saya minta kecamatan untuk mencetak suket. Saya bawa sendiri ke disdukcapil. Di disdukcapil, berkas ini diterima, lalu saya diberi bukti pengambilan. Saya bisa mengambil surat ini di hari berikutnya (9 Mei 2018). Hari berikutnya, saya ambil. Selesai. 
Semua proses di kecamatan dan disdukcapil gratis. Di kecamatan kita hanya diminta memberi sumbangan PMI sebesar Rp 3.000. 
Not simple at all. Tapi paling tidak, kalau sudah tahu prosedur di atas, kita tidak bolak-balik tanpa kejelasan. Itu menguras tenaga, waktu, dan emosi. Banyak bersabar karena ini salah satu ujian dalam kehidupan. 😂
Jangan lupa dukung KPK mengungkap kasus korupsi KTP-el karena kita tahu segala keribetan ini sumbernya dari mana. 😉