Untung atau Rugi?

Naik angkutan umum ke mana-mana memang seru. Banyak sekali pengalaman seru mengenai angkutan umum ketika saya di Jakarta. Salah satunya saya alami dua beberapa hari lalu. Ini tentang e-money, angkutan umum, keberuntungan, atau mungkin rugi bandar.

Jadi, saya seringkali ayem karena e-money di dompet saya. Hari itu saya punya dua buah e-money. Satu berisi sekitar Rp 30 ribu, satu lagi berisi Rp 200 ribu. Kurang ayem apa coba? Untuk pergi liputan, minimal saya punya e-money untuk membayar biaya Transjakarta. Untuk keperluan-keperluan lain juga bisa.

Hari itu saya mendapat tugas liputan yang agak mendadak. Sebenarnya masih ada waktu untuk mempersiapkan diri agak santai, namun pesan whatsapp (WA) dari redaktur agak mengganggu saya. Saya masih sibuk membalas WA ketika sudah di halte.

Untuk sampai di tempat liputan, daerah Cikini, Jakarta Pusat, saya hanya bisa naik angkutan umum Kopaja. Seingat saya, Kopaja P20 berhenti tepat di depan Taman Ismail Marzuki (TIM). Beberapa angkutan telah berlalu, akhirnya tiba juga Kopaja yang saya tunggu. Saya sempat ragu, sebab bus ini bernomor A20, bukan P20. Saya pun bertanya apakah bus itu lewat TIM?

“Iya ke TIM, ayo naik,” kata kernet.

Saya pun dengan sigap naik dan sempat hampir terjatuh di dada seorang penumpang lelaki karena pengemudi langsung saja tancap gas. Skip-skip lupakan dada lelaki. Lupakan juga soal Kopaja yang suka ngebut dan ngerem seenaknya.

Setelah pintu tertutup, saya segera mengambil dompet saya. Deg! Saya baru ingat uang cash terakhir saya sudah habis untuk belanja buah di pasar. Saya memang tidak terbiasa membawa uang cash dalam jumlah banyak. Selain tidak aman, saya membatasi membawa Rp 20 ribu – Rp 200 ribu saja agar tidak terlalu boros. Semakin banyak uang di dompet, wanita semakin gelap mata untuk mampir ke sana-kemari.

Saya agak was-was mengingat hal itu. Dan benar saja, setelah saya cek, tidak ada selembar uang pun di dalam dompet saya. “Pak, maaf ni. Uang cash saya ternyata habis,” kata saya. Malu sih, apalagi banyak penumpang lain. Tapi mau bagaimana lagi coba? Teledor ya, he-eh.

“Terus gimana?” kata kernet.

“Saya turun aja ya, Pak?” kata saya.

“Nggak usah, nggak papa,” kata kernet.

Oh…My God. Baik sekali kan bapak kernet ini? Dia melirihkan suaranya ketika mengatakan, “Nggak papa.” Mungkin ia takut terdengar pengemudi dan ia tidak sepakat. Penumpang di sebelah saya sempat melirik sinis. Ya, saya terima karena saya toh memang salah hari itu.

Di sepanjang jalan, saya tak henti-henti menahan haru. Jujur saja kadang saya negative thinking dengan supir Kopaja, sebab suka ugal-ugalan. Begitu juga kernetnya yang seringkali memaksakan penumpang demi mengejar setoran. Pernah sampai ada penumpang yang pingsan di dalam bus karena saking penuhnya.

Uang enam ribu bukan jumlah kecil bagi kernet, tapi dia merelakan. Saya berkali-kali berdoa dalam hati agar Tuhan memberikan rizki yang banyak dan membalas jasa kernet itu. Tak lupa saya doakan keluarganya sehat dan bahagia mendapati seorang kepala rumah tangga yang baik seperti ini.

Tak hanya menggratiskan biaya angkot saya, ia juga memberitahu saya ketika hendak turun. Mungkin ia tahu saya belum hafal letak persis TIM. Ketika turun, ia memberitahu agar saya menyeberang dan naik angkot lagi agar dapat berhenti tepat di depan TIM. Saya pun sadar A20 tidak langsung lewat tepat di depan TIM. Saya tetap harus naik P20.

Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB, sementara undangan pertunjukan ketoprak yang akan saya liput untuk pukul 18.45 WIB. Saya agak kalang kabut. Seseorang memberitahu saya letak TIM masih jauh kalau saya berjalan kaki. Angkot P20 sudah lewat ketika saya bertanya pada orang tadi.

Saya pun menyeberang jalan dan memilih untuk naik taksi. Sebelumnya saya mencari ATM dan mengambil uang Rp 100 ribu. Jadi, hanya selembar Rp 100 ribu saja yang saya punya di dompet ketika itu.

Tak butuh waktu lama, saya sudah sampai di depan Graha Bhakti Budaya TIM. Ketika hendak membayar, pengemudi meminta uang kecil pada saya. “Nggak ada, Pak. Cuma ada seratusan,” kata saya.

“Aduh saya nggak ada kembalian neng,” kata pengemudi taksi sembari mengeluarkan semua uang yang ada di sakunya. “Cuma ada Rp 78 ribu,” kata dia.

Saya tak punya waktu lama untuk menukar uang. Saya terlanjur terlambat, pikir saya. Akhirnya, saya ‘terpaksa dan akhirnya ikhlas’ menerima kembalian Rp 78 ribu dengan argo menunjukkan hanya Rp 7.500. “Maaf ya, Neng,” kata pengemudi.

Tidak apa, Pak. Mungkin sudah rizki Bapak. Tadi saya juga mendapat rizki bertemu kernet baik hati. Agak geli, Tuhan mengatur cerita hari itu begitu unik. Saya pun masuk ke tempat pertunjukkan sembari tersenyum-senyum simpul mengingat kejadian kebetulan hari itu. Beruntung, pertunjukkan baru saja dimulai. Saya belum terlambat.

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s