jurnalistik

Liputan: Antara Pers Kampus dan Realita

Zaman kuliah dulu, yang namanya liputan di benak saya adalah menemui Dekan, pejabat fakultas, pengurus ormawa atau mahasiswa, lalu wawancara dan membuat tulisan. Kadang saya juga datang ke suatu acara.

Beberapa tahun setelahnya, saya mendaftar di media profesional (maksud saya sudah bukan di pers mahasiswa lagi). Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh tim redaksi ketika itu adalah, “Saya tahu kamu sudah punya pengalaman di dunia jurnalistik kampus. Tapi dunia jurnalistik kampus dengan kenyataannya di lapangan kan berbeda,” kata salah satu di antaranya.

“Sangat berbeda,” kata yang lain.

“Apakah kamu siap?”

Dulu, ketika menjawab pertanyaan itu, tentu saja saya bilang saya siap. Saya katakan bahwa saya tahu resiko menjadi jurnalis dan saya siap menghadapinya (padahal tidak yakin sepenuhnya hahaha). Dalam hati, saya penasaran yang dimaksud berbeda, bahkan sangat berbeda itu seperti apa?

Ketika akhirnya diterima dan menjalani liputan, saya akhirnya sedikit tahu bedanya. Sedikit ya, karena saya juga baru setahun menjalani pekerjaan ini. Di kampus yang notabene ruang lingkupnya kecil, apalagi hanya di fakultas, ruang untuk bertemu menjadi lebih banyak. Apalagi semuanya masih menjadi akademisi. Maka, wawancara via telpon sebisa mungkin dihindari. Dihindari, bukan haram. Untuk kondisi-kondisi tertentu tentu saja hal ini masih bisa di tempuh.

Sementara, di dunia jurnalistik sebenarnya, ruang lingkup yang ada sangat luas. Dalam sehari kita bisa diminta untuk menghubungi lebih dari 10 orang atau datang ke lebih dari dua acara. Karena itu, wawancara by phone adalah hal yang sangat wajar.

Apakah wawancara by phone itu sopan? Menurut saya, tergantung. Dari sisi jangkauan, kalau Anda bisa menjangkau narasumber dalam waktu singkat, kenapa harus wawancara by phone? Dengan bertemu langsung, narasumber akan lebih mengenali kita dan pembicaraan dapat berkembang tidak hanya pada satu titik yang kita rencanakan. Nah, jika narasumber sulit dijangkau, entah karena jarak atau waktu atau tumpukan tugas masing-masing, wawancara by phone menjadi sesuatu yang wajar. Tokoh-tokoh yang sudah biasa bertemu wartawan akan sangat biasa mendapati telpon dari orang yang belum dikenal dan mengaku sebagai wartawan. Bahkan, ketika kita langsung menodong dengan pertanyaan, ia biasanya akan langsung menjawab.

Sopan atau tidak juga terkait dengan banyak hal, misalnya pertanyaan yang diajukan dan bahasa yang digunakan. Ini sih aturan umum tidak hanya dalam wawancara by phone, tapi juga wawancara secara umum. Kalau pertanyaan kita cenderung menuduh, memojokkan, menempatkan narasumber pada posisi bersalah, tentu namanya tidak sopan karena kita menunjukkan keberpihakan. Apalagi kalau status seseorang masih terduga, kemudian kita beri perlakukan sebagai tersangka.

Selain wawancara by phone, perbedaan lain yang ditemui ketika liputan pers umum adalah seringnya doorstop. Ini banyak terjadi ketika kita bekerja menjadi wartawan berita, terutama harian. Kalau kita bekerja di Majalah, terkadang kita akan lebih banyak melakukan wawancara eksklusif.

Apa itu doorstop? Jujur, awal masuk di perusahaan pers saya tidak tahu apa itu doorstop. Tapi ya dikira-kira saja, door = pintu. stop = berhenti. Berhenti/memberhentikan di pintu, alias menghadang. Suasananya persis yang tampak di tivi-tivi. Para wartawan memberhentikan narasumber dan mengerumuninya, melakukan wawancara bersama-sama. Doorstop memang biasa dilakukan di pintu masuk atau keluar. Ketika narasumber baru datang misalnya, ia akan langsung dikerumuni wartawan dan diberondong berbagai pertanyaan. Begitu juga ketika acara telah selesai. Tak jarang wawancara dilakukan sambil berjalan, hingga narasumber masuk ke mobil. Bukan tidak mungkin juga narasumber meminta kita masuk ke mobil dan melakukan wawancara di tengah perjalanan.

Apalagi ya yang berbeda? Banyak sih tapi mendadak hilang (apa sih). Skip-skip. Salah satu hal yang berbeda dalam dunia pers kampus dan realita adalah materi yang harus kita pelajari. Terutama ketika bekerja di media harian yang menyangkut berbagai bidang, apalagi kalau perusahaan tidak menerapkan spesifikasi bidang untuk wartawan, kita harus berjuang untuk memahami materi di berbagai desk. Dalam sebulan, Anda bisa saja berganti desk dua kali. Ini pernah saya dan beberapa teman alami ketika bulan puasa tahun lalu.

Ketika itu, saya ditempatkan di divisi online. Beritanya bebas sih, tergantung perintah redaktur. Kadang saya me-running berita politik nasional, sosial, internasional, gaya hidup, dan sebagainya. Dua minggu kemudian, memasuki bulan Ramadhan, saya “dipinjam” untuk membantu di desk agama. Di sini saya disuguhi Sirah Nabawiyah dan sebagian kumpulan hadits. Tugasnya sederhana, hanya menyarikan materi dari buku-buku yang ada dan menuliskannya dalam cerita. Saya juga mendapat tugas lebih ringan untuk membuat cerita nabi dan sahabat, yang segmennya anak-anak. Namun, beban moralnya luar biasa apalagi terkait dengan firman Tuhan dan sabda Rasul.

Ada juga seorang teman yang setelah di desk hukum ditempatkan di ekonomi, setelah politik lalu olahraga, dan sebagainya. Yah, siap-siap saja. “Rolling” can be like a roller coaster. It can be a fun news, but it can be full of tears. Hahaha, mulai lebai.

Narasumber yang berbeda, lingkungan yang berbeda, ruang lingkup tugas yang berbeda juga memaksa kita melakukan persiapan yang berbeda dengan alat yang mungkin berbeda. Nah, untuk persiapan dan alat, nanti akan saya tuliskan di artikel selanjutnya. Hanya berbagi, bukan menggurui. Hanya cerita, bukan teori. Tabik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s