Berangus Narkoba Sekarang Juga

Akhir-akhir ini, Indonesia dihangatkan oleh pro-kontra hukuman mati bagi para bandar dan pengedar narkoba.  Penolakan hukuman mati kebanyakan muncul dari para aktivis hak asasi manusia (HAM). Mereka melihat hukuman mati sebagai cara yang barbar, tak manusiawi dan melanggar HAM. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai salah satu pengambil keputusan dianggap telah mengambil alih kuasa Tuhan untuk mencabut nyawa manusia.

“Hukuman mati merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) karena tidak menghormati hak untuk hidup. Bahwa tidak seorang pun boleh mencabut nyawa orang lain, negara sekalipun,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Imparsial, Poengky Indarti seperti dikutip BBC.co.uk.

Poengky mengatakan, hukuman mati di Indonesia adalah peninggalan sistem hukum kolonial Belanda pada tahun 1918. Ini tak hanya bertentangan dengan HAM, namun juga sistem hukum modern. Dalam sistem hukum modern, penghukuman harus bersikap koreksional, untuk memperbaiki bukan untuk membalas dendam.

Langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeksekusi para terpidana narkoba dianggap mengada-ada. Cara ini bahkan dicurigai sebagai manuver pemerintah agar terlihat tegas dan bertanggung jawab di tengah sorotan kontroversi dan berbagai isu negatif yang tengah melanda.

Tekanan tak hanya datang dari para aktivis HAM dari dalam dan luar negeri. Pemerintah Australia, yang warganya kini telah dihukum mati, sempat memberikan penawaran dan tekanan terhadap Jokowi. Beberapa iming-iming menggiurkan sempat diajukan, misalnya penukaran tahanan narkoba asal Indonesia dengan duo Bali Nine serta penggantian biaya selama keduanya ditahan di Indonesia.

Tawaran ini tak serta merta menyurutkan niat Jokowi untuk memutus mata rantai peredaran narkoba di Indonesia. Hukuman mati tetap dilaksanakan. Ia terus menyuarakan darurat narkoba yang kini tengah melanda negeri ini.

 “Kondisinya menurut saya betul-betul sudah darurat. Bayangkan, setiap hari 50 generasi muda kita meninggal karena narkoba,” kata Jokowi saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Penanganan Ancaman Narkoba di Jakarta.

Jokowi mengatakan, Indonesia telah kehilangan 50 nyawa setiap hari disebabkan penyalahgunaan narkoba. Dalam setahun, 18.250 orang meninggal karena barang haram tersebut. Kehilangan ini tak hanya menjadi duka bagi keluarga dan kerabat korban, namun juga bagi bangsa Indonesia. Negara ini harus menanggung hilangnya puluhan ribu sumber daya manusia dan generasi penerus bangsa.

Dukungan dalam pemberantasan narkoba juga ditunjukkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Menjawab tudingan para aktivis HAM, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Komisaris Besar (Kombes) Sumirat Dwiyanto menegaskan penerapan hukuman mati bagi terdakwa kasus Narkoba, sudah sesuai dengan Undang-Undang No.35 tahun 2009 tentang narkotika. Dalam UU tersebut dikatakan bahwa hukuman maksimal bagi terpidana narkoba ialah hukuman mati.

Sumirat juga menegaskan bahwa hukuman seumur hidup tak cukup membuat para terpidana jera. Penjara justru menjadi tempat yang aman bagi para Bandar untuk mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji besi. Ia menambahkan, saat ini terpidana mati kasus narkotika yang tercatat BNN berjumlah 66 orang.

“BNN berharap, hukuman mati bisa membuat efek jera bagi para pengedar dan bandar narkoba serta pada masyarakat agar tidak terjerumus ke dalam lembah hitam narkoba,” ujarnya kepada Republika.
 
 Di sepanjang tahun 2015, BNN melaporkan telah lima kali memusnahkan narkoba hasil tangkapan dari para pengedar. Terakhir, 94.149,8 gram sabu dimusnahkan di Garbage Plant Angkasa Pura II, Bandar Soekarno Hatta. Dari Januari-Maret 2015, BNN sudah memusnahkan 2.541 kg ganja, 973,6 kg sabu, dan 1.490 butil pil ekstasi.

“Angka penyalahgunaan narkoba di sini sangat tinggi. Permintaan yang tinggi itu menjadi dorongan bagi pengedar untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia,” terang Deputi Bidang Pemberantasan BNN Dedi Fauzi Elhakim.

Kini, sekitar 4,2-4,5 juta jiwa penduduk Indonesia masih menjalani rehabilitasi narkoba. Jumlah ini tidak sedikit. Bahkan, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi memprediksi jumlah ini akan meningkat hingga 5,1 juta jiwa di tahun 2015. Ini belum termasuk 1,4 juta jiwa pengguna narkoba yang tidak dapat direhabilitasi dengan berbagai alasan. Melihat kenyataan ini, langkah penanggulangan narkoba terus dilakukan.

Sinergitas menjadi kunci pokok dalam menjawab tantangan pemberantasan narkoba. Kemenpora mendorong seluruh pihak, terutama pemuda menjadi garda terdepan dalam pemberantasan narkoba di Indonesia. Dalam kunjungannya ke Universitas Gadjah Mada (UGM) Maret lalu, Nahrawi menyampaikan harapannya agar kampus ini dapat menjadi pioner kampus bebas narkoba. Ia juga mendukung dilakukannya tes narkoba kepada seluruh mahasiswa, karyawan, dan jajaran akademika.
 
Di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Nahrawi juga menyampaikan pesan serupa. “Saya mengajak kampus IAIN Jember ini menjadi pelopor perubahan. Termasuk mendukung pemerintah terhadap hukuman mati kepada pengedar atau bandar narkoba dengan membuat fatwa atau apapun,” ajak Menpora. 

Komitmen pemerintah dalam memutus peredaran narkoba terus ditunjukkan. Dukungan masyarakat terus berdatangan, baik yang mendukung maupun menolak hukuman mati. Penolakan terhadap hukuman mati tak menyurutkan keberpihakan mereka terhadap pemberantasan narkoba di negara ini. Revolusi mental dalam melawan narkoba perlu terus diwujudkan, tak hanya oleh pemerintah, praktisi, akademisi, namun juga masyarakat secara umum yang paling rentan terhadap bahaya obat-obatan ini.

 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s