Bandung Punya Cerita (1): Cimanggu

Di usia saya yang sudah lebih dari seperempat abad, saya baru dua kali ke Bandung. Pergi ke Bandung selalu istimewa. Ini salah satu kota impian yang ingin saya kunjungi selain Lombok. Padahal saya belum tahu apa-apa soal Bandung, tapi sejak kecil saya ingin ke Bandung.

Pengalaman pertama saya menjejakkan kaki di Bandung, ketika perpisahan dua teman yang akan ditempatkan ke luar daerah (Makassar dan Medan). Kami berangkat sudah sore tanpa tujuan yang jelas. Awalnya mau ke Bogor, tapi tidak jadi karena takut macet. Sampai di jalan kami masih berdebat mau ke mana. Akhirnya kami putuskan ke Kabupaten Bandung saja (gitu sih mereka nyebutnya).

Kami cepat-cepat mengontak teman yang tugas di sana. Jam 7 malam kami sampai di alun-alun kabupaten Bandung. Banyak orang kumpul, seperti alun-alun Yogyakarta tapi lebih sepi. Ah beda sih, pokoknya kaya gitu lah. Di situ, kami menunggu Eko, teman dari kantor biro Bandung.

Kami beranjak ke kos Eko. Sampai jam 9, kami baru sampai di kosnya. Eko cerita, kos itu harganya sekitar Rp 450 ribu. Sama seperti kosku waktu pertama kali ke Jakarta. Aku beruntung dapat kamar dengan sekat. Jadi, dua ruangan untuk satu kamar. Ukurannya luas. Nah, teman sekosku dapat satu kamar saja, ukurannya setengah kamarku. Harganya sama. Saya termasuk beruntung kan? Tapi, Eko lebih beruntung lagi. Kalau saya bilang tempat Eko tinggal itu bukan kos, tapi kontrakan. Ada satu kamar untuk ruang tamu, dua kamar untuk tidur, dan kamar mandi. Cuma Rp 450 ribu (bandingkan dengan Jakarta)!

Kami masih menunggu satu teman lagi. Ziah Namanya. Karena kami dadakan, Ziah juga tidak ada persiapan. Dia baru saja pergi kencan dengan pacar barunya. Sambil menunggu Ziah, Eko dan seorang teman pergi membeli makanan. Entah siapa yang mengawali ide ini, kami makan di atas kertas pembungkus yang ditata memanjang. Sok-sokan makan rame-rame, tapi seru juga.  Setelah Ziah datang, kami cuz ke Cimanggu.

Sekitar jam 00.00 WIB kami sampai di Cimanggu. Cimanggu masuk wilayah kecamatan Rancabali, namun masih satu kesatuan dengan rangkaian tempat wisata di Ciwidey. Sebenarnya ini bukan tujuan utama kami. Ada satu tempat lagi yang katanya lebih bagus, tapi waktu kami ke sana tempat itu penuh. Kami pun beranjak ke Cimanggu. Luas areanya 154 hektare, ada di antara 1.225-1.350 mdpl. Cukup sampai di sini saja nyonteknya, haha.

Awalnya agak aneh. Saya pikir Bandung itu sejuk, ternyata di Cimanggu dinginnya luar biasa. Mungkin karena tengah malam ya. Jaket yang membungkus tidak bisa mengurangi dinginnya malam. Nah, di Cimanggu kami akan berendam air panas. Sebenarnya saya paling tidak suka mandi di tempat umum. Entah itu mandi di pantai atau berendam. Terakhir mandi di sungai kelas 6 SD, setelah itu tidak pernah. Malu, hehe..

Nah, antara ingin menikmati dingin dan air hangat alami yang tidak ada di Jakarta, jadi pengin ikut berendam. Tapi harapan sirna. Saya tidak menyangka di jam 00.00 ada tempat wisata yang padatnya luar biasa. Dua buah kolam yang ada peeenuh dengan orang berendam. Saya ciut, nggak jadi.

Beberapa teman perempuan juga urung berendam karena pakaian ganti yang dibawa terlalu tipis. Kami hanya ngobrol di saung sambil menanti teman-teman cowok yang berendam kaya kebo berkubang. Wkwkwk… Asli, cuma duduk saja dingin luar biasa.

Sekitar 2 jam berendam, kebo-kebo mulai kembali ke saung. Kami ngobrol kesana-kemari lalu beranjak kembali ke Jakarta. Nah, di Cimanggu ini pertama kalinya saya merasakan strawberry yang manis. Haha kampung banget ya >.<

Seminggu sebelumnya, seorang teman membawakan strawberry dari Ciwidey sembari menggombal, “Ini sengaja aku petik buat kamu lho, Nda.” Iyalah iyalah… -,- Manis juga, tapi kecil-kecil. Nah, strawberry yang di Cimanggu ukurannya lebih besar, hampir dua kalinya. Rasanya manis. Sebelum itu saya pikir strawberry itu kecut seperti yang dijual di supermarket. Lol…

Kami pulang, perjalanan ke Cimanggu selesai. Trip kami seharian hanya berakhir di Cimanggu beberapa jam. Hanya duduk di saung sembari ngobrol dengan teman yang bertugas di sana. Tapi entah kenapa, cuma beberapa jam saja rasanya sudah senang. Keluar dari Jakarta, menghindar dari mall dan kembali menghirup udara segar. Indah.

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s