jurnalistik

Soal Alat Liputan (2): Alat Mencatat

Nah, masih soal alat liputan, kemarin kita sudah membahas tentang alat rekam baik yang konvensional maupun modern, yang khusus alat rekam maupun yang smartphone. Apalagi yang perlu kita siapkan kalau liputan? Masih banyak. Yang pasti persiapan diri #ehhh

Di tulisan ini saya akan membahas soal catatan. Fungsi catatan hampir sama dengan rekaman, untuk membantu ingatan dan menjadi barang bukti (barbuk). Menurut saya, catatan itu less autentic karena kadang kita mencatat tidak sepenuhnya sama dengan ucapan narasumber. Kita tidak mendapatkan gambaran mimik wajah, nada bicara, dan sebagainya. Nah kalau rekaman suara, kita bisa mendengar nada bicara. Kalau rekaman video kita bisa melihat mimik wajah. Biar apa? Untuk mendukung interpretasi dari pernyataan yang dikeluarkan.

Catatan yang saya maksud di sini adalah catatan tangan atau ketikan kita sendiri ya, bukan data yang diberikan narasumber dalam bentuk tulisan. Nah, catatan ini ada macam-macam. Ada yang mencatat detail perkataan, ada yang mencatat poin-poin saja, ada juga mencatat detail perkataan inti.

Orang dulu notabene diberi kemampuan mencatat tingkat dewa. Mereka biasanya menggunakan teknik menulis cepat yang disebut stenografi. Bentuk tulisannya hanya garis-garis saja. Ada pakem-pakem untuk membuat tulisan yang sudah singkat itu menjadi lebih singkat lagi, misalnya huruf tertentu akan dihilangkan ketika bertemu huruf lain. Kalau dengan steno, saya yakin deh wartawan dulu bisa mencatat detail perkataan narasumber walau dengan tulisan tangan.

Nah wartawan sekarang banyak yang tidak bisa steno, contohnya saya, hehe. Saya pernah diajari stenografi tapi sampai sekarang belum bisa. Dulu belum bisa, sekarang lupa, hehehe.. Keahlian orang zaman sekarang itu mengetik. Karena itu banyak wartawan memilik metode ketik cepet alias tikpet, seperti pernah saya tulis sebelumnya.

Ada yang bisa tikpet kuenceng, sehingga bisa mencatat detail perkataan. Ada juga yang tikpetnya agak lama, sehingga mencatat detail perkataan inti. Ada juga yang tikpetnya berantakan sehingga banyak yang disingkat atau pernyataan yang hilang (biasanya karena kurang konsentrasi atau narasumber bicara terlalu cepat). Dalam mencatat perlu kehati-hatian untuk mendapatkan detail yang benar. Perlu konsentrasi sehingga bisa mencatat dengan benar. Perlu pendengaran yang tajam juga agar tidak banyak tertinggal.

Dengan apa biasanya kita mencatat? Di zaman serba digital banyak wartawan pilih memanfaatkan smartphone. Mencatat dengan smartphone perlu kehati-hatian, terutama dalam memilih aplikasi dan keypad. Jika menggunakan keypad digital, berdasarkan pengalaman saya, layar yang agak lebar penting agar keypad tidak terlalu rapat dan jari tidak terkesan kegedean. Kalau kondisi ini terjadi, kadang ketikan jadi salah-salah. Selain itu, aplikasi catatan juga penting. Ada aplikasi catatan yang memakan memori dan energi. Kalau kita mengetik dengan aplikasi seperti ini, baterai smartphone akan cepat habis.

Banyak wartawan susah lepas dari Blackberry walaupun gadget ini mahal (jika dibandingkan dengan spek yang ditawarkan) dan hardwarenya rapuh. (((rapuh))). Kenapa? Ini zaman serba cepat. Selain mengetik cepat, wartawan juga perlu mengirim berita dengan cepat. Smartphone satu ini masih menguasai kedua fungsi di atas. Beberapa hp lain dengan keypad fisik qwerty kurang bagus performa koneksi internetnya. Saya termasuk yang masih menyukai keypad fisik qwerty. Beberapa teman merasa nyaman dengan keypad digital dari Android.

Pilihan alat mengetik lain adalah tablet. Kelebihan tablet adalah menggabungkan laptop dan smartphone. Bentuknya yang cenderung lebih kecil dari laptop menjadikannya lebih portable, apalagi kalau mengingat pekerjaan yang mobilitasnya tinggi. Membawa laptop ke mana-mana bikin punggung dan bahu pegel juga. Nggak kebayang videografer dan fotografer yang nenteng kamera dan laptop ke mana-mana.

Ada satu lagi yang menentukan alat mencatat yang perlu dibawa, yaitu kondisi liputan. Ketika di jalan atau tempat umum, kadang orang tidak nyaman dengan adanya alat rekam atau buku catatan. Yah, kalau masih bisa diingat-ingat, cukup mengandalkan ingatan. Kalau di pasar, misal ada data tertentu yang perlu dicatat, notebook bisa dijadikan alternatif. Pada kondisi doorstop, kita butuh alat yang bisa dipegang. Hp dan smartphone bisa dijadikan pilihan. Kalau di acara seminar yang memungkinkan kita duduk di kursi dan ada meja, kita bisa menggunakan smartphone, buku catatan, atau tablet. Nah, kalau di acara besar yang ada press roomnya, kita bisa bawa laptop dan semua alat lengkap.

Laptop seperti apa? Kalau saya suka yang layarnya lebar karena lebih nyaman untuk mata. Tapi kalau untuk dibawa-bawa tentu layar kecil lebih ringan. Buku catatan yang seperti apa? Saya lebih suka memakai buku catatan yang kecil, tapi tidak terlalu kecil sekali. Ukuran A5 buat saya sudah terlalu besar. lebih enak lagi kalau notebook itu bisa digenggam, sehingga kita bisa mencatat sembari berdiri.

Apakah kalau sudah mencatat tidak perlu merekam?

Seperti saya tulis sebelumnya, bagusnya sih mencatat dan merekam. Semakin banyak sumber yang bisa pakai. Kelemahan mencatat ada pada kelengkapannya, terutama ketika kita kurang bisa mengimbangi kecepatan bicara narasumber. Nah, kelemahan merekam adalah kita harus memutar ulang dan mendengarkan kembali. Sepertinya simpel, tapi kadang membosankan dan bikin ngantuk, hehe. Nah kalau kita merekam sembari mencatat, kita bisa menggabungkan keduanya.

Kalau tidak punya alat rekam apa cukup mencatat?

Wartawan-wartawan senior banyak yang hanya berbekal buku catatan. Sebagai alat bantu ini sudah cukup. Tapi kalau mau lebih valid, pakailah alat rekam.

Nah sekian dulu tulisan saya yang rada sok tahu, hehe. Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s