Soal Alat Liputan: Voice Recorder

Saya pernah bilang di salah satu tulisan, saya akan menulis tentang alat liputan. Kita mulai dengan pertanyaan, alat apa saja yang perlu disiapkan kalau kita mau liputan? Di tulisan ini saya akan sedikit membedah berdasarkan pengalaman yang masih cetek, tentang alat liputan dari yang lengkap, yang ribet, yang simpel, sampai yang minimalis.

Waktu pelatihan dulu, saya sempat diberi materi tentang peliputan. Bahwa liputan itu ada tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan paska liputan. Menyediakan alat-alat termasuk dalam persiapan liputan. Alatnya apa saja sih?

Salah satu pejabat kantor, Kang Elba bilang, alat liputan paling penting adalah otak kita. Otak mengatur semua sistem di dalam tubuh mulai dari bergerak, berpikir, sampai yang tak kalah penting: mengingat. Banyak orang berpikir kalau liputan, kita harus membawa alat perekam. Sebenarnya, bisa iya bisa juga tidak.

Alat rekam berfungsi membantu kita mengingat poin-poin atau detail hasil wawancara. Ada tipe-tipe liputan yang membuat alat rekam sangat penting, misalnya ketika bicara tentang banyak data dan angka. Kadang, narasumber akan bicara dengan sangat cepat, “Target pertumbuhan bisnis kita tahun ini 15%, pertumbuhan kredit 17%, jumlah nasabah kita sekitar 20 juta. Nilai transaksi sekian, jumlah transaksi sekian, bla bla bla…”

Rasanya pengin teriak yiiihaaa yang keras dan panjang banget kalau berhadapan dengan situasi seperti ini. Itulah yang terjadi. Seringkali kita akan meliput sesuatu yang bukan bidang kita dan menemui banyak istilah teknis. Di situ alat rekam menjadi sangat penting.

Situasi lain misalnya, kita harus menghadapi narasumber yang bicaranya cepat. Biasanya para wartawan akan menggunakan jurus ketik cepet (tikpet). Nah kalau narasumber bicaranya super cepat, kadang kita akan tertinggal beberapa poin. Selain bertanya pada teman, rekaman bisa sangat membantu. Rekaman juga sangat berfungsi ketika tulisan itu tidak diburu waktu. Misal kita bekerja di majalah bulanan atau dua mingguan, masih ada waktu untuk mengolah tulisan, kita bisa tuh pakai rekaman untuk mendapatkan informasi lebih lengkap dan valid.

Kalau kita bekerja di media online, rekaman kadang less functional karena kekuatan utama ada di ketik cepet. Sudah jadi pengetahuan umum kalau kekuatan media online ada di kecepatan. Kalau bisa waktu acara berlangsung waktu itulah tulisan muncul. Nah, tidak ada waktu bersantai-santai mendengar rekaman sekaligus membuat transkrip. Cara tercepat adalah mengetik sesuai kata narasumber, lalu langsung membuat beritanya.

Selain membantu ingatan, fungsi alat rekam  atau voice recorder yang lebih utama adalah sebagai barang bukti (barbuk). Pekerjaan jurnalis itu rentan dengan proses hukum. Ketika menulis, kita bicara atas nama perusahaan. Kita tidak berbicara tentang diri kita atau perusahaan tempat kita bekerja. Kita bicara tentang suatu kejadian, suatu peristiwa, suatu tempat, sesuatu di luar diri kita. Ada orang-orang, ada berbagai kepentingan di sana. Salah tulis bisa berujung penjara, kekerasan fisik, atau maut. Hm, tidak selalu salah tulis. Kadang yang kita tulis benar pun bisa berujung ke situ juga.

Ada kejadian yang sering diceritakan di kantor saya soal ini. Ketika itu, ada penangkapan bandar narkoba. Pihak kepolisian telah menyebut nama tersangka, sehingga para wartawan pun menulis nama si tersangka. Si tersangka akhirnya menjadi terdakwa dan di penjara. Beberapa tahun kemudian ketika keluar dari penjara, ia mengajukan tuntutan karena para wartawan dianggap menyalahi aturan, menulis namanya ketika pihak kepolisian tidak menyebut namanya. Beberapa media nasional dengan para reporternya pun harus menghadapi kasus hukum. Banyak kongkalikong di sana sehingga bukti-bukti bisa dikaburkan. Nah, mereka terselamatkan karena ada yang masih menyimpan press release, yang di dalamnya ada nama tersangka. Dalam kasus ini ada press release. Nah, tidak semua liputan ada press release. Kadang kita hanya menemui narasumber di sela acara dan melakukan wawancara, andalannya tentu alat rekam atau catatan.

Next step, kita membahas tentang jenis alat rekam. Apa saja yang bisa digunakan untuk merekam? Zaman di pers kampus saya masih ingat sempat menggunakan alat rekam konvensional. Bentuknya kotak, ukurannya gede, ada mini kaset yang harus diganti setiap kualitasnya sudah memburuk. Beberapa tahun setelahnya mulai bermunculan alat rekam digital yang terus berkembang hingga sekarang.

Pada praktiknya, saya sudah jarang menemui alat rekam dengan mini kaset. Seorang teman pernah dipinjami recorder semacam ini, tapi jarang sekali. Di lapangan, banyak wartawan memanfaatkan smartphone atau alat rekam digital.

Ada peristiwa mengesalkan pernah saya alami ketika awal liputan. Sebelum menjadi reporter, saya jarang menggunakan fitur rekaman di hp. Bisa dibilang tidak pernah saya utak-atik. Nah, ada satu fitur yang mengatur rekaman berhenti ketika layar hp padam. Itu yang jadi bencana.

Ketika itu, saya pertama kali doorstop di Gedung MPR-DPR-DPD dengan narasumber Gubernur BI. Dia bicara panjang lebar, saya merekam dengan hp. Ketika selesai, hanya 1 menit terekam. Gedheg. Jadi, kalau merekam dengan hp perlu hati-hati dengan pengaturan ini. Ini bisa diakali dengan terus menggerak-gerakan jari di layar agar hp tetap menyala, atau mengubah pengaturan.

Yang perlu diperhatikan kedua, adalah kapasitas memori. Data rekaman biasanya memakan beberapa megabite. Pastikan memori aman.

Apalagi ya? Oya, alat rekam bukan satu-satunya sumber. Cara paling aman adalah merekam sambil tikpet atau sambil mencatat. Selain lebih cepat juga memudahkan transkrip karena tidak harus mendengar dari awal. Ada jenis smartphone tertentu yang memungkinkan multi-tasking. Jadi, selama merekam kita bisa sekaligus mengetik. Ada juga yang multi taskingnya tidak mencakup fungsi ini. jadi, ketika keluar dari layar alat perekam, fungsi rekaman pun mati. Kalau kita pilih merekam dengan smartphone, fungsi ini mungkin perlu dipertimbangkan.

Alat rekam lain adalah, digital voice recorder. Di bagian ini, Sony adalah merk sejuta umat. Harga alat rekam sony macam-macam dari yang Rp 400 ribuan sampai Rp 1 jutaan. Kelebihan alat rekam ini, lebih ramping enak dipegang. Hasil rekaman juga seringkali lebih jernih. Ada memori tersendiri juga, jadi tidak memakan memori hp.

Kelemahannya apa ya? Buat saya yang pelupa, bodinya yang kecil suka bikin alat ini kelupaan -_-

Untuk sementara itu saja pembahasan tentang alat rekam. Tadinya saya mau membahas tentang semua alat liputan dalam satu tulisan, tapi soal alat rekam saja sudah lumayan panjang. Lain waktu saya akan membahas tentang alat liputan yang lain. Notion saya untuk tulisan ini tentu saja, secanggih apapun alat liputan yang dimiliki, senjata utama adalah ingatan, anugrah Tuhan yang luar biasa 🙂

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s