Suatu Siang bersama Lelaki Hidung Belang

Tulisan ini akan jadi perpaduan lengkap curahan hati dan cerita liputan. Peristiwa yang saya ceritakan di sini terjadi berbulan-bulan lalu. Ceritanya, saya ditempatkan di Jakarta Pusat. Ibarat orang jalan, saya masih tertatih-tatih karena tidak ada motor dan tidak tahu arah (utara, selatan, barat, timur). Tahu arah, buat saya yang sejak kecil tinggal di Yogyakarta sangat penting untuk mendapatkan gambaran “peta” lokasi di otak. But it’s not work in Jakarta.

Derita ini, nah mulai lebai kan, ditambah lagi dengan tidak ada kendaraan selain busway dan angkot-angkot untuk menjelajahi Jakarta Pusat ketika itu. Dari dalam busway, arah jalan hanya lurus dan belok. Ini semakin menyulitkan saya menghafal tempat. Alhasil, berbulan-bulan saya masih terus mencari-cari, masih bingung di lokasi ini.

Suatu hari, saya liputan ke Monumen Nasional a.k.a Monas. Siang bolong di Monas panasnya minta ampun. Belum lagi, saya harus berjalan kesana-kemari melihat-lihat lokasi, mencari orang untuk diwawancara. Capek dong? Iya capek.

Saya keluar dari parkiran IRTI Monas. Ini tempat relokasi para pedagang kaki lima di Monas. Ya, pedagang kaki lima di Monas memang masalah pelik di lokasi ini. Sekuriti yang tugasnya mengamankan lokasi justru takut dengan para pedagang yang mayoritas orang Madura. Bukan rasis, berdasarkan keterangan sekuriti, yang saya rasa-rasa, memang pengaruh ras ini yang membuat mereka bergidik. Mereka pernah diancam akan dihadang (dan tentu dicelakai) jika tak membiarkan para PKL masuk. Mereka masuk melalui pagar-pagar dengan cara merusak, bahkan mereka membuat kartu anggota sendiri. Ini keterangan pejabat berwenang di Monas.

Versi pedagang, tentu saja mereka hanya butuh hidup dari berjualan. Mereka orang-orang daerah yang datang ke ibukota tanpa keterampilan dan berharap bisa mengumpulkan pundi-pundi dari para wisatawan. Seorang teman pernah mewawancara pedagang kopi yang biasa berjualan dengan sepeda. Tahu omsetnya? Rp 20 juta per bulan. Ini informasi dari salah satu pelaku lo ya. Tentu ini tidak bisa menggambarkan kondisi seluruh pedagang kopi (dan minuman).

Nah, sudah saya bilang saya lelah (halah). Saking panasnya, dan tentu saja saya butuh mengistirahatkan kaki yang setiap hari berjalan hingga betis membengkak (membesar maksudnya), saya memutuskan duduk di salah kursi di pinggir jalan. Kalau saja, pikir saya dalam hati, ada seorang fotografer baik hati mau memotret saya, hasilnya pasti bagus (maksudnya secara fotografis ya). Ada kursi klasik di trotoar yang cukup lebar. Perencanaan tempat ini sebenarnya lumayan bagus. Cuma ya, perawatan, pemanfaatan sesuai fungsi seringkali jadi masalah fasilitas umum di mana-mana.

Di seberang jalan sana, agak ke pinggir, para anggota Front Pembela Islam (FPI) seperti biasa demo di depan balaikota DKI Jakarta. Mereka getol sekali demo setiap hari Jum’at untuk melengserkan Ahok. Ah ada cerita menarik juga soal demo ini. Saya ceritakan lain waktu. Tak lama kemudian, serombongan pasukan lain lewat. Mereka menuju kantor Kemenaker (kalau tidak salah ingat). Siapa mereka yang juga getol demo rutin? Yap… orang-orang dari serikat pekerja.

Saya jadi ingat kata salah satu pejabat kantor, Kang Maman. “Jakarta Pusat itu unik. Ada lebih dari 400 demo setiap bulan,” kata dia.

Iya. Kalau mau belajar tentang liputan demo, di sini tempatnya. Pusat segala gedung dan kantor penting.

Balik lagi ke pinggir jalan, ke sebuah kursi taman di trotoar pinggir parkiran IRTI Monas. Saya duduk di sana menikmati semilir angin di tengah suasana yang puanas, kalau kata orang Jawa panas ngenthang-enthang. Tak sampai lima menit, sebuah motor lewat. Bukan sebuah sebenarnya, banyak kendaraan lalu lalang di situ, tapi motor ini dan pengemudinya punya cerita.

Motor itu sudah hampir berlalu, namun pengemudinya mengerem tiba-tiba. Dia menengok ke arah saya. Saya bingung dong? Saya celingukan ke kanan, ke kiri. Tak ada orang lain di sekitar saya yang bisa dipandang. Baru saja sadar kalau orang tidak saya kenal ini melihat ke arah saya, si pengemudi memutar motor menaiki trotoar dan memarkir di dekat kursi yang saya duduki.  Mungkin mau nanya tempat, pikir saya.  Tapi kenapa pakai parkir motor di situ?

Tak sempat berpikir panjang, si lelaki yang saya perkirakan berumur 30-an tahun ini menyapa saya. Dia menanyakan saya sedang menunggu siapa. Saya bilang dong, saya nggak nunggu siapa-siapa. “Trus kenapa duduk sendirian di sini?” tanya dia.

Ngok! Feeling saya langsung bekerja. Ini kayanya cowok hidung belang. Trus? Kenapa dia nyapa saya? Saya dekil, nggak dandan, keringetan (ya iya abis jalan panas-panasan), tidak ada tampang-tampang (maaf) Pekerja Seks Komersial yang suka mangkal di pinggir jalan. Damn! Salah milih tempat duduk.

Tapi dasar saya iseng. Saya tengok kanan kiri. Beberapa meter di dekat saya, ada sebuah mobil dinas Satpol PP dan beberapa petugas duduk-duduk di sana. Saya (agak) aman, pikir saya. Kalau ni cowok macam-macam, saya tinggal langsung teriak atau dengan elegan mendekati Pol PP untuk cari aman. Ini alasan pertama saya tetap duduk di situ.

Kedua, saya merasa perempuan baik-baik. Kursi ini disediakan untuk orang-orang seperti saya yang kelelahan, bukan tempat PSK mangkal. So, saya sudah duduk di tempat yang benar. Kalau orang tidak mau duduk di situ karena takut disangka PSK, sama saja kita secara tidak langsung membiarkan hal yang tidak lazim menjadi umum dong?

Ketiga, saya penasaran bagaimana interaksi laki-laki hidung belang dan PSK. Saya pernah ditugasi ke suatu tempat untuk mencari PSK dan… damn, saya gagal. Saya belum pernah lihat wujud PSK di dunia nyata, jadi saya tidak yakin apakah yang saya lihat PSK atau bukan. Btw, sekarang saya sudah tahu. Hahaha..

Dengan most powerful thinking bahwa kursi itu hak orang-orang yang ingin duduk melepas lelah setelah berjalan jauh, bukan untuk transaksi esek-esek, saya keukeuh duduk. Si cowok hidung belang itu duduk di samping saya, bingung mencari bahan pembicaraan.

Dia tanya di mana saya tinggal. Saya asal sebut saja, Kebayoran. Dia tanya lagi, penasaran katanya, kenapa saya duduk di situ sendirian. Katanya aneh ada cewek duduk sendirian di tempat itu. Saya mulai kesal, “Apa yang aneh? Kursi ini kan memang untuk duduk. Saya baru aja jalan jauh, capek, trus saya duduk di sini. Nggak aneh kan?”

Dia lalu mulai mengurangi kegenitannya yang terlalu kelihatan. Dia tanya, saya mahasiswa ya? Iya kata saya. Dia tanya ini-itu yang saya jawab asal-asalan. Saya mulai tertarik ketika dia bercerita tentang pekerjaannya. Awalnya sih saya tanya kenapa dia nggak kerja, malah duduk membersamai saya sambil bicara ngelantur kesana-kemari.

Dia cerita, dia kerja di sebuah perusahaan, tapi sekarang sedang vakum karena bosnya terlibat masalah dan sedang menjalani proses hukum. Perusahaan apa, tanya saya.  Dia mendekatkan mukanya ke wajah saya dan bilang, “Perusahaan cintaku padamu.”

AAAARGH! Di kepala saya sudah ada adegan komik dimana saya adalah pemeran utama. Saya menampar cowok genit itu dan menghajarnya sampai babak belur. Sigh, tapi itu hanya bayangan. Dengan super jutek saya memalingkan wajah. Saya tanya, memang apa pekerjaannya sampai harus berurusan dengan polisi?

Kata dia, tugasnya “membantu” para nasabah yang tidak bisa membuka rekening bank karena terhambat domisili. Zaman dulu kayanya, karena sekarang kan asal pakai e-KTP bisa buka rekening di mana saja. Nah, tugas dia melengkapi segala persyaratan, menulis data palsu, sampai meloloskan si klien untuk dapat rekening, termasuk menerima telepon dari bank yang menanyakan apakah nomor yang dimaksud adalah kantor yang tertulis di data calon nasabah. Intinya, pekerjaannya membohongi petugas bank.

Saya tanya, memang tidak takut dipenjara, kan pekerjaan itu beresiko. Dia mulai bilang, ya jangan didoain seperti itu. Lha saya tidak mendoakan. Saya bertanya, apakah tidak ada kekhawatiran sementara dia tahu resiko pekerjaan itu. Pertanyaan lain (yang masih di otak) tentu saja, apakah dia tidak punya keterampilan lain, dan sebagainya.

Dua orang lelaki, sepertinya karyawan kantor dekat-dekat lokasi saya duduk lewat. Mereka melihat saya. Asem, hei pandangan itu! Saya bukan PSK! Saya cuma bisa menggerutu dalam hati sambil berusaha tetap tampil santai di depan patkay di samping saya.

Saya lihat petugas satpol PP masih ada. Saya juga masih mengamati rombongan demo di seberang sana. Diam-diam saya mengirimkan sms ke seorang teman saya yang cowok dan punya kendaraan. Kebetulan dia sedang tidak liputan. Saya pun minta dia datang menjemput saya, sekaligus nantinya mengantar saya ke tempat liputan di Menteng yang agak susah angkotnya. Tak lupa saya menceritakan kondisi saya yang dihampiri cowok hidung belang. Mencak-mencak di sms, lol.

Sambil menunggu Edy datang, si cowok itu terus ngoceh. Saya masih melayani dengan cuek dan jutek, tapi si doi tak juga jengah dan menyerah. Dia minta nomor saya, tentu tidak saya beri. Dia tanya saya pulang naik apa? Sebelum dia menawarkan diri untuk mengantar (haha kegeeran banget), saya sedang menunggu teman saya datang.

Tak lama, sebuah mobil sempat berhenti sebentar di dekat kami. Dia tanya, itu temannya? Saya bilang bukan. Saya langsung kebayang dia membayangkan di dalam mobil itu ada cowok yang sudah “janjian” dengan saya. Asem.

Seperti minyak kayu putih di tengah rasa mual, teman saya datang me-nye-la-mat-kan saya dari obrolan tidak penting dengan lelaki hidung belang. Saya cepat-cepat menghampirinya dan langsung pergi. Bye-bye …

Saya pun lanjut ke posisi selanjutnya. Pulang dari liputan saya masih kesal. Bisa-bisanya saya dihampiri cowok hidung belang. But indeed, yang namanya prostitusi itu tidak mengenal profesi. Ada mahasiswi, PNS, artis bisa jadi PSK. Ada yang berjilbab atau menjadikan jilbab sebagai kedok. Intinya, di Jakarta dan di kota manapun seorang wanita perlu lebih waspada kalau pergi kemana-mana sendiri. Para pengumbar nafsu tidak peduli apakah kamu berjilbab atau tidak, berpakaian seksi atau tidak, tampak sangar atau tidak, nafsu itu nafsu. Anak-anak, bahkan nenek-nenek saja bisa diperkosa. Keep calm and be ware.

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

1 thought on “Suatu Siang bersama Lelaki Hidung Belang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s