Bandung Punya Cerita (2): Rafting Situ Cileunca

Dinginnya Kabupaten Bandung dengan pohon-pohon menjulang dan udara yang sangat segar membuat saya ingin menapakkan kaki lebih banyak di kota ini. Oleh karena itu, saya tak menolak ketika secara mendadak diajak ke kota Pasundan bersama teman-teman.

Hari itu saya sudah bersiap tidur ketika seorang teman mengirimkan pesan Whatsapp. “Handa, kita mau rafting ke Pengalengan. Kita berangkat besok pagi jam 6. Kamu mau ikut nggak?”

Saya segera mengirim pesan ke redaktur dan asisten redaktur pelaksana (asredpel) yang biasa memberi tugas liputan. Intinya saya menanyakan apakah besok diperkirakan aka nada liputan, kalau tidak saya minta izin jalan-jalan. Tak lupa saya minta seorang teman reporter untuk memback-up kalau ada liputan dadakan.

Here we go! Kira-kira jam 06.00 WIB kita rencanakan berangkat ke Pengalengan naik mobil kantor. Sekitar lima orang sudah berkumpul. Karena beberapa orang terlambat, kami baru berangkat sekitar pukul 08.00 WIB. Total ada delapan orang dalam mobil yang kami tumpangi. Di sepanjang jalan, teman-teman saya berkelakar. Suasana mobil ramai sekali.

Kami beruntung karena bisa berangkat hari Jum’at, sehingga terhindar dari macet. Sampai di Pengalengan kami berhenti di sebuah masjid dan membiarkan para cowok beribadah Jum’at dengan khusyuk. Di dekat masjid ada kolam ikan dan perkebunan teh. Suasana masih agak panas.

Karena tak sempat sarapan dan hanya nyemil-nyemil di jalan, kami memutuskan mencari tempat makan. Cukup sulit mencari tempat makan di sepanjang jalan kecil yang sepi itu. Kami akhirnya berhenti ketika melihat penjual bakso. Karena meja yang disediakan tidak mampu menampung kami yang datang berdelapan, kami pun masuk ke dalam rumah. Rumahnya kecil, mungil, dan bersih. Lantainya berpapan kayu sehingga terasa dingin. Yang paling asik, kami bisa makan bakso sembari melihat hamparan sawah dan kebuh teh yang luas, serta bukit-bukit yang tampak dari belakang rumah itu. Ya ampuuunn, saya suka sekali view semacam ini.

Perut sudah terisi, walau hanya dengan bakso. Kami melanjutkan perjalanan dengan perasaan suka cita. Bahagia sekali keluar dari Jakarta dan merasakan tempat yang masih sangat alami seperti ini.

Kami sampai di Situ Cileunca. Selain seorang petugas (saya lupa namanya) yang sudah dikontak sejak dari Jakarta, hujan juga menyambut kedatangan kami. Petugas itu, guide, atau apapun istilahnya, mengarahkan kami ke sebuah bangunan mirip kedai. Di bangunan tersebut ada beberapa meja, cermin, 6 kamar mandi, sebuah meja dengan termos dan minuman instan, dan plastik besar.

Mengingat hujan yang rontok, kami bertanya apakah memungkinkan untuk rafting dalam kondisi seperti ini? Guide memastikan kondisi aman untuk rafting dan tinggal menunggu kesiapan kami. Kami pun mulai berganti baju di kamar mandi yang telah disediakan dan bersiap rafting.

Oya, biaya rafting di sini Rp 150 ribu, sudah termasuk tiket masuk. Kalau di pintu masuk diminta beli tiket, sebut saja nama guidenya. Hahaha… Jarak rafting yang kami tempuh hanya 5 km dengan waktu tempuh sekitar 1-1,5 jam. Fasilitas yang kami dapatkan antara lain boat atau kapal pelampung untuk rafting dengan kapasitas 6 orang, seorang pemandu, pelampung, dayung, dan topi. Standard lah. Dengan biaya itu, kami tidak mendapatkan fasilitas dokumentasi. Jadi, kami melakukan negosiasi untuk meminta tambahan fasilitas. Untuk tambahan dokumentasi, masing-masing kami harus membayar Rp 20 ribu lagi. Jadi total yang kami bayar per orang Rp 170 ribu. Karena jaraknya dekat, tidak ada fasilitas cemilan atau minuman.

Ini akan menjadi pengalaman rafting saya yang kedua. Kalau dibandingkan pertama kali saya rafting di Sungai Serayu, Banjarnegara, fasilitas yang diberikan sangat kurang. Ketika itu saya gratisan sih, soalnya saya datang dalam rangka liputan acara jalan-jalan komunitas sebuah korporasi. Dengan biaya sekitar Rp 160 ribu per orang, waktu itu kami mendapatkan fasilitas rafting 14 km dengan waktu tempuh sekitar 3-3,5 jam. Fasilitas rafting lengkap. Di tengah jalan, kami mendapatkan tambahan kelapa muda dan gorengan gratis. Di tengah perjalanan, hujan turun sehingga kami basah kuyup. Nah, tanpa terduga di akhir perjalanan kami sudah disediakan wedang sere sebagai penghangat.

Nah, kalau dibandingkan dengan di Cileunca saya merasa perjalanan kali ini tak lebih seru daripada di Serayu. Apalagi, salah satu keseruan yang saya rasakan ketika rafting di Serayu adalah bermain dayung menghadapi jeram-jeram yang besar. Di Situ Cileunca, karena kami bersembilan (ada tambahan satu orang lagi dari kantor biro Bandung yang langsung datang ke lokasi), kami dibagi dalam dua boat. Hanya dua orang saja yang boleh memegang dayung. Yaaahhh…

Awalnya, kami diajak melewati Situ Cileunca yang tenang. Suasananya romantis. Bayangkan, saya dan seorang teman perempuan duduk di bagian belakang. Di depan, dua orang teman cowok kami mendayung. Di belakang, seorang instruktur siap menjaga kami. Hasyah lebai, hahaha…

Lihat contekan dulu. Situ Cileunca ada 1.550 mdpl dengan luas sekitar 1.400 hektare. Danau yang sunyi dan dikelilingi banyak pohon ini dibangun tahun 1918 untuk memenuhi kebutuhan pengairan warga setempat. Tempat ini juga berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Kedalaman situ ini menurut contekan saya, sekitar 17 meter. Kalau kata instruktur sih 20 meter.

Di tempat yang tenang ini, seperti biasa sebelum rafting, kami diajari beberapa intruksi umum. Dayung ke depan, dayung ke belakang, geser/pindah kanan, geser/pindah kiri, goyang-goyang, dan boom. Perlu dijelaskan? Baiklah. Dayung ke depan artinya rafter yang memegang dayung harus menggerakkan dayungnya dari depan ke belakang, sehingga perahu atau boat akan berjalan maju. Dayung ke belakang, ya sebaliknya. Geser/pindah kanan artinya semua rafter yang ada di sisi kiri harus bergeser ke sisi kanan. Geser/pindah ke kiri juga sebaliknya. Nah, goyang-goyang ini instruksi yang paling disenangi. Artinya semua peserta diminta menggoyang-goyangkan badannya. Ini biasanya dilakukan ketika perahu nyangkut di bebatuan. Nah, boom, artinya semua peserta harus mengambil posisi jongkok di dalam kapal. Ini biasanya diucapkan mendekati jeram yang tinggi.

Selesai mendapat instruksi kami menuju ke pinggir situ mendekati bendungan Cileunca. Di sana kami turun dan berfoto sebentar. Para instruktur mengangkat boat dan membawanya ke seberang jalan, kemudian menuruni anak tangga menuju sungai kecil. Iya sungainya kecil tapi arusnya deras.

Perkiraan saya di awal, petualangan ini tidak akan lebih seru dari rafting di Serayu. Kami jarang mendayung, sungainya kecil, dan tidak ada kelapa muda. Namun, perkiraan saya tidak sepenuhnya benar. Walau kecil, jeram di sungai ini lebih banyak dan lebih tinggi. Kami jarang sekali mendayung, hanya mengikuti arus. Jeram terdalam setinggi dua meter. Sangat menyenangkan. Kami berfoto, tertawa, saling ciprat-cipratan air, dan tentu menikmati sungai yang sangat bening.

Di akhir pool rafting, kami memasuki area yang agak tenang. Seperti biasa, instruktur usil menceburkan kami ke sungai. Kami pun mengambang menikmati air sungai laksana kolam. Gak gelem mentas (Nggak mau berhenti) kata orang Jawa. Seperti sayang sekali mau naik menjejak pinggiran sungai. Rasanya saya ingin sejam berendam di sana.

Tapi petualangan telah usai. Kami pun mentas. “Gitu doang? Gitu doang? Kurang nih,” kata saya kepada beberapa instruktur. Memang nyandu. Sejam rasanya sangat kurang. We want more! Tapi sudahlah, kami pilih mengalah daripada bayar harus lagi, hahaha.. Kami masuk ke angkot ompreng yang telah disediakan. Jalur kembali ke Situ Cileunca jelek sekali. Kami bergoyang ke sana-kemari. Tapi itu bukan masalah. Sembari menikmati goyangan angkot ompreng, mata kami dimanjakan dengan perkebunan teh yang luas. Ahhh, pengin turun dan foto-foto narsis.

Kami kembali ke Situ Cileunca, menikmati kopi instant hangat, melihat-lihat hasil jepretan kawan. Kami bergantian mandi dan berganti pakaian. Tak lupa kami berfoto-foto narsis. Rafting kali ini ajib! Bandung is so much addictive, lol…

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s