opini · sosial

Bunuh Diri yang Menjamur

Saya termenung ketika suatu hari membaca berita. Seorang petinggi di perusahaan properti multinasional bunuh diri. Tidak diketahui dengan jelas ada masalah apa sehingga orang yang tentu saja berpendidikan tinggi ini mengakhiri hidupnya.

Kata orang hidup itu sederhana. Yang sulit hanya konsep-konsep yang muncul dari interpretasi orang tentang hidup yang sebenarnya sederhana itu. Suatu hari seorang kakak kelas ketika SD yang rumahnya hanya berjarak dua kampung dikabarkan mencoba bunuh diri. Sebabnya biasa saja, perempuan yang ketika itu masih SMA ini patah hati ditinggal pacar. Bunuh dirinya gagal, dia masuk rumah sakit.

Saya yang ketika itu masih SMK agak nyinyir. Gitu aja bunuh diri, cupet banget pemikirannya. Apa dia tidak memikirkan bahwa masih banyak orang yang mencintai dan mengharapkan kebaikan dan kesuksesannya? Orang tua misalnya. Semua orang tua pasti sudah gadang-gadang pengin melihat hasil dia mendidik anak. Lha kok ini cuma gara-gara putus cinta lalu bunuh diri. Apa tidak hancur hati orang tuanya karena merasa gagal mendidik anak?

Kabar bunuh diri semakin mendekat. Kali ini tetangga kampung sebelah juga bunuh diri, masih SMP kelas tiga. Kabar ini heboh hingga masuk berita online lokal. Ada satu kasus lagi yang semakin dekat. Kali ini ayah dari teman saya juga bunuh diri. Entah apa sebabnya, entah bagaimana ceritanya, bunuh diri menjadi seperti cendawan di musim hujan. Terakhir artis terkenal Robbin Williams pun dikabarkan bunuh diri.

Tempo menulis pada 2014, angka bunuh diri di Indonesia sangat tinggi, setara dengan Jepang. Di dunia, kedua negara ini duduk di posisi yang sama pada urutan kesembilan. Perkiraan angka bunuh diri di Indonesia mencapai 50 ribu dari 220 juta total penduduk Indonesia. Walau posisi sama, alasan orang bunuh diri di Jepang dan di Indonesia sangat berbeda.

Di Jepang, orang umumnya bunuh diri karena malu atas tindakan tidak terpuji atau hasil usaha yang tidak baik. Pejabat yang ketahuan korupsi misalnya, akan memilih bunuh diri. Ada juga budaya harakiri yang menyuburkan hal ini. Di Indonesia, alasan bunuh diri lebih karena faktor sosial dan ekonomi. Ada juga budaya di Wonosari, Yogyakarta yang membuat warga percaya ketika ada cahaya dari langit yang disebut pulung, mereka mendapat berkah untuk melakukan bunuh diri. Budaya ini disebut pulung gantung.

Bunuh diri seringkali menimpa anak-anak dan remaja, seperti kasus yang terjadi di dekat tempat tinggal saya. pelakunya masih SMP dan SMA. Alasan orang bunuh diri kadang sangat sederhana. Karena patah hati, karena keinginannya tidak terpenuhi (tas, gadget, dan sebagainya), dibully karena gendut, cacat, dan sebagainya. Kita, seperti saya waktu SMK, mungkin nyinyir mengetahui alasan-alasan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya ilmu dan pengalaman hidup, saya mulai mengerti tentang satu hal. Faktor lingkungan, gen bawaan, pola asuh orang tua, tingkat pendidikan, pertemanan dan banyak faktor lain mempengaruhi tumbuh kembang fisik dan mental seseorang. Kita tidak bisa memaksakan standard yang kita miliki pada orang lain. Sulit memang menerima alasan-alasan remeh-temeh membuat orang mengakhiri hidupnya. But it did happen!

Selain budaya, lingkungan, dan faktor-faktor lainnya, ada juga satu faktor lain yang dinilai ikut menyuburkan praktik bunuh diri, yaitu pemberitaan media. Dalam satu paparan di Kementrian Kesehatan (Kemenkes) dikatakan bahwa media punya andil dalam membuat bunuh diri menjadi gethok tular. Misalnya, pemberitaan yang mengulas detail cara bunuh diri seperti mengajari orang bagaimana cara bunuh diri yang benar, yang cepat menyebabkan kematian. Selain itu, bahasa “optimistis” dalam memberitakan kasus bunuh diri juga berpengaruh, misalnya ketika menuliskan “Pelaku sukses melakukan bunuh diri.”

Faktor geografis, seperti gedung-gedung dan mall-mall yang menyediakan ruang kosong yang tinggi dan luas juga menyuburkan praktik bunuh diri. Oleh karena itu, kata seorang pejabat Kemenkes, securiti mall juga perlu dilatih untuk mengenali orang-orang yang potensial akan melakukan bunuh diri serta melakukan tindakan pencegahan.

Dari berbagai kasus, Kemenkes menemukan ciri yang sama dari para pelaku bunuh diri. Mereka umumnya introvert, suka memendam perasaan, atau tidak punya ruang untuk menceritakan kegundahan. Punya teman sharing menjadi hal yang penting untuk terhindar dari praktik bunuh diri. Keluarga yang hangat dan menyediakan ruang berdiskusi satu sama lain juga menjadi faktor penting. Dan, jangan menyepelekan cerita. Seperti yang saya tuliskan tadi, kemampuan orang dalam menghadapi dinamika hidup tidak sama. Bisa jadi apapun yang kita anggap remeh-temeh ternyata menjadi masalah pelik bagi orang lain.

Nah, untuk diri sendiri, yuk mulai sharing. Banyak-banyaklah bercerita dan menuangkan segala kegundahan hati kepada orang lain, baik secara lisan atau tulisan. Lumayanlah untuk self-relief. Semoga kita selalu dikaruniai hati yang tenang dan senantiasa dimudahkan segala urusan ya. Ciao… J

Advertisements

One thought on “Bunuh Diri yang Menjamur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s