liputan · opini · sosial

What Happen to Parents and Adults Nowadays?

Saya baru selesai membaca berita tentang Angelina yang sudah beredar beberapa hari ini. Gadis kecil dari Bali ini dikabarkan hilang ketika bermain di halaman rumah ibu angkatnya. Keluarga membuat sebuah fanpage di Facebook, mengumumkan hilangnya bocah ini. Fanpage ini juga aktif mengabarkan keterlibatan berbagai pihak untuk mencari si gadis.

Belakangan diketahui Angelina ditemukan telah meninggal. Jasadnya terkubur di kandang ayam, di dalam rumah ibu angkatnya. Fanpage yang awalnya mendapat simpati banyak pihak berbalik menarik cibiran. Keluarga angkat ini dituduh membunuh Angelina dan menebarkan drama melalui media sosial.

What happen to parents nowadays?

Beberapa waktu lalu jagad berita dihebohkan oleh dosen universitas Islam di Bogor yang menyiksa anaknya. Ia dan istrinya diketahui mengonsumsi narkoba. Kegiatan ini, menurut seorang teman pengacara yang tinggal satu komplek dengannya, juga dilakukan di depan sang anak.

Dua kasus ini membawa saya kembali pada memori yang sudah-sudah. Yang semakin membuat pertanyaan saya terngiang di kepala.

Di awal-awal liputan, saya menemukan sebuah yayasan sosial secara tidak sengaja. Awalnya saya hanya berjalan mencari lokasi pemulung di sekitar kali Ciliwung. Informasi ini saya dapatkan setelah mengembangkan data sebelumnya tentang pkl, pasar, terminal…betapa kompleks masalah di satu tempat ini.

Saya menemui seorang lelaki muda di sana, sedang menata batu akik. Ketika itu batu akik belum booming, namun ia sudah memprediksi tidak lama lagi batu akik akan kembali digemari. Sebenarnya saya sudah agak desperate. Hari sudah hampir petang dan saya belum mendapatkan berita yang “nampol”. Saya tidak tahu kali Ciliwung yang dimaksud tepatnya di mana, namun kata orang masih jauh. Saya ngobrol di yayasan itu.

Ruangannya kecil, hanya terdiri dari tiga kotak. Saya diperkenalkan dengan Kiki, seorang anak berusia 14 tahun. Kiki sebatang kara, namun kini mendapatkan keluarga di tempat itu. Ia ditemukan oleh pengurus yayasan yang setiap malam selalu ‘berpatroli’ di sekitar stasiun, mencari gelandangan untuk diberi makan dan diajak datang ke yayasan. Di yayasan itu ia belajar membaca, mengaji, dan banyak lagi.

Di usianya yang keempat belas, masa hidupnya lebih kekinian dibanding saya. Namun ia tidak bisa membaca. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan jelas, seperti antara malu, takut, khawatir, merasa rendah diri..

Saya tidak tega mengajukan pertanyaan lebih lanjut, tapi saya harus bertanya sembari menahan ludah di leher yang seakan mencekik. Kiki nakal ketika kecil. Entah nakal, kreatif, atau apa istilahnya. Ia pergi dari rumah naik kereta hingga Surabaya dan tak tahu jalan kembali, yang kemudian membuatnya hidup di jalanan. Ketika dewasa, ia ke Jakarta. Ia pernah mencoba mencari orang tuanya. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan entah dari mana, ia dulu tinggal di sekitar Pasar Minggu. Ia datangi rumahnya, namun keluarganya telah pindah entah ke mana. Ia hidup sebatang kara jadinya.

Kami kembali bercerita. Ucil, salah satu pengurus yayasan itu menceritakan seabrek kegiatan yang mereka lakukan. Di sela ceritanya, ia menyebut sebuah nama. Seorang anak yang nasibnya sama seperti Kiki, hidup sebatang kara. Bedanya, anak itu telah berpulang ke rumah Tuhan.

Disodomi kakek tua, kata Ucil. Saya lagi-lagi tercekat. Beberapa bulan sebelumnya saya hanya seorang pembaca berita yang mengklak-klik link tentang sodomi pada anak-anak gelandangan. Kini saya mendengarnya sendiri. Anak itu mati disodomi. Orang-orang bukan tidak tahu, namun tidak ada yang berani melapor.

Sepulang dari yayasan itu, saya tak bisa menahan air mata bahkan ketika masih di atas angkot. Saya merutuk-rutuk, meminta diri untuk lebih bersyukur. (Sampai di sini tiba-tiba saya tidak tahu harus menulis apa)

Sekitar setengah tahun lalu, saya kembali harus berhadapan dengan kasus anak. Ini pertama kalinya saya liputan pelecehan seksual pada anak langsung. Saya bertemu orang tua dan melihat anaknya.

Di sebuah gang kecil, di antara rumah yang berhimpit-himpit, 9 anak dicabuli oleh seorang tukang ojek. Kami datang atas informasi KPAI. Sementara KPAI melakukan mediasi, kami duduk di sebuah warung. Warung itu ternyata milik salah seorang ibu korban, sebut saja Bunga.

Kulitnya putih, rambutnya sepundak, ibu itu masih muda. Ia mengatakan anaknya masih kelas 1 SD. Tukang ojek itu tinggal di kontrakan yang sama dengan bunga. Sebelumnya, tersangka tinggal di kontrakan lain di kampung yang sama. Di tempat itu, ia sering membawa masuk ABG yang kemudian dipamerkan sebagai pacar. Di situ mereka bergumul. Setelah pindah, ia sering memanggil Mawar, anak Bunga ke kamar dan mengajak ‘nonton film’. Di sana Mawar dicabuli.

Bunga adalah satu dari dua ibu korban yang berani memvisumkan anaknya. Di mata saya ia sangat tegar. Ia menceritakan apa yang terjadi pada anaknya, masih dengan senyum, meski sesekali berkaca-kaca. Sebelum bercerita ia sempat menolak sembari berkata, “Nanti saya emosi trus nangis lagi,” kata dia.

Hasil visum mengatakan alat kelamin Mawar, yang masih berusia 7 tahun sudah rusak. Saya tidak tahu yang dimaksud rusak itu separah apa, tapi saya lagi-lagi tercekat. Bunga yang di mata saya sangat tegar mulai tampak berkaca-kaca. Sembari melayani pesanan kami, ia terus bercerita.

Setelah peristiwa itu, Bunga sempat memarahi anaknya. Ia kalap dan sempat memukuli Mawar. Ia memaksa Mawar mengakui apa saja yang sudah dilakukan tersangka.

Si tersangka sempat diadili oleh warga setelah ketahuan mencabuli tidak hanya satu anak. Ia diusir dari kampung dan dikabarkan lari ke Bogor.

Mawar, kata Bunga justru menjadi lebih rajin berangkat sekolah dan mengaji setelah peristiwa itu. Ia lebih bersemangat. Suatu hari Mawar pulang dan bercerita, “Mama, tadi di sekolah ibu-ibu pada ngomongin aku sama Mama,” kata dia.

Sejak itu emosi Mawar menjadi labil dan suka melawan.  Malu, begitu kata Bunga. Ibu-ibu membicarakan anak semata wayangnya yang tak lagi perawan. Ia sendiri dicemooh karena menceritakan ‘aib’ yang terjadi pada anaknya ke mana-mana, ke media. Bunga hanya pasrah. Malu, tapi mau bagaimana lagi? Hanya dengan bicara dan bukti visum pelaku yang telah menghancurkan sebagian masa depan anaknya bisa ditangkap dan diadili.

Melihat hasil visum kedua tetangganya, orang tua yang lain tidak berani melakukan hal serupa. “Kalau tahu begini mungkin saya juga tidak mau Mawar divisum. Lebih baik saya tidak tahu daripada saya harus mengetahui kenyataan seperti ini,” kata Bunga.

Busuknya lagi, mereka mengaku dimintai uang Rp 1,5 juta ketika melapor ke polisi. Seorang teman berbisik, polisi tidak semangat menangani kasus seperti ini karena tidak ada uangnya.

Ketika kami mengklarifikasi informasi ini kepada polisi, pejabat kepolisian yang ketika itu menjabat di dua satuan, reskrim dan PA mengatakan (tentu saja) itu tidak benar. Menurutnya, polisi hanya menginformasikan bahwa biasa visum itu Rp 1,5 juta. Polisi tidak bisa melakukan visum sendiri sehingga visum hanya dapat dilakukan di rumah sakit. Masuk akal sekali, saya pun memilih netral dan menulis sesuai pernyataan masing-masing pihak.

Kedongkolan mulai muncul ketika petinggi polisi yang biasanya melakukan konferensi pers tiba. Kami menanyakan perihal kasus tersebut, kemudian ia bertanya kepada bawahannya, siapa yang menangani? “Saya, Pak.” kata dia.

What? Laporan sudah masuk semua dari sembilan orang tua dan si pejabat belum memberikan laporan ke petinggi? Padahal biasanya ia rajin sekali melaporkan setiap progress, apalagi tahu hari itu akan ada rilis. Saya mau tidak mau membenarkan pernyataan teman saya, polisi dalam kasus itu terkesan tidak terlalu bersemangat (entah apa istilah yang tepat) menyelesaikan kasus ini. Terlepas dari perkara uang, kesibukan, atau hal lain saya tidak tahu. “Laporan sudah masuk. Segera akan kita tangani,” kata si petinggi setelah mendapat laporan saat itu.

Saya hampir pulang ketika melihat segerombolan tukang ojek di ujung gang. Dari obrolan dengan mereka, diketahui tersangka seringkali ‘main’ ke lokalisasi. Ia menyewa gadis-gadis ABG dan membawa ke kontrakan. Pembicaraanya di lokasi tak jauh-jauh dari hal cabul, sampai beberapa teman mengaku muak. Tak hanya pamer, seorang temannya mengaku pernah ‘ditraktir’.

Mereka umumnya tak menyangka tersangka tega ‘memperkosa’ anak-anak, sebab ia diketahui sudah punya tiga anak. Ah, sudah gila.

Beberapa pekan lalu, seorang teman membagikan video mesum anak-anak. Pelakunya masih berusia lima atau tujuh tahun (lupa). Video itu bukan satu-satunya yang beredar. Dilihat dari sudut pengambilan gambar dan suara di dalamnya, video itu jelas diambil oleh orang dewasa. Anak-anak itu diajari, diarahkan, direkam, dan mereka yang masih polos tertawa-tawa tanpa tahu apa yang mereka lakukan.

What happen to parents and adults nowadays? What will the kids be in the future? What can we do to stop this?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s