liputan · sosial

Pelecehan Tersembunyi

Beberapa tahun lalu, ketika jathilan masih ngetren di kampung-kampung, kasus pelecehan tersembunyi sebenarnya sudah sering terjadi. Lagi asik umpek-umpekan di sekitar pagar, tiba-tiba ada perempuan yang merasa digerayangi pahanya, pantatnya, merasa hampir dipeluk, dan sebagainya. Kasak-kusuk pun terjadi. Tak hanya satu orang yang mengalami pelecehan di satu tempat itu. Pelaku berpindah-pindah dari satu sudut ke sudut lain, dari paha satu wanita ke wanita lain. Tapi tak ada tindakan.

Sekadar bilang “Saya dilecehkan,” atau “Orang itu grepe-grepe saya,” atau semacamnya memang tidak mudah. Apalagi ketika kita sendiri tidak yakin sedang dilecehkan. Kita mungkin akan berpikir, mungkin pelaku tidak sengaja. Atau ketika kita yakin pun, kita membayangkan bagaimana si pelaku bakal ngeles dan akhirnya tidak jadi melapor.

Saya sendiri bukan contoh baik. Pernah suatu hari saya pulang liputan naik Transjakarta bersama seorang teman wartawan (laki-laki). Kondisi penuh sesak, namun teman saya itu mendapat tempat duduk. Ia lalu memberikan tempat duduknya pada saya.

Awalnya, teman ini sebut saja A berdiri tepat di depan saya. karena masuk penumpang baru, ia terpaksa bergeser agak menjauh. Yang berdiri di depan saya berganti seorang pria berumur sekitar belasan tahun. Beberapa menit dalam posisi seperti itu, lalu terjadi hal aneh yang tidak bisa saya ceritakan di sini (halah). Awalnya saya berpikir itu hanya ketidaksengajaan. Lama-lama, saya yakin itu bisa saja berlanjut jadi pelecehan. Saya mulai agak panik, hendak berdiri, namun kondisi yang penuh sesak menyulitkan saya. Saya memanggil A untuk menarik saya sehingga saya bisa berdiri. Saya pun berdiri dekat teman tersebut.

Mungkin merasa kondisi aneh, saya sudah duduk dan minta berdiri..atau karena melihat ekspresi wajah saya yang aneh (ya iyalah), A lalu bertanya “Kenapa, Nda?”

Saya bilang nggak papa. Tidak berapa lama, dia bertanya lagi kenapa saya tidak duduk saja.

Saya cuma bilang, “Nggak, nggak papa. Aku di sini aja,” lalu mengalihkan pembicaraan.

Yang saya rasakan waktu itu, malu, nggak yakin kalau itu pelecehan, tidak ingin ada keributan, dan berbagai hal campur aduk. Malu itu yang paling gede.

Peristiwa lain terjadi ketika saya liputan demo salah satu ormas Islam. Korbannya salah satu teman wartawati. Ini bukan soal ormas Islam atau bukan. ini tentang kasus pelecehan yang kebetulan terjadi ketika saya liputan demo ormas Islam.

Demo terjadi di Kebon Sirih, depan Gedung DPRD Jakarta, sudah berlangsung dari pagi hingga siang. Suasana panas terik. Massa agak memanas. Dari takbir dan tasbih, teriakan berubah menjadi makian-makian dan kata-kata kotor pun keluar. Di dalam gedung, beberapa habib sedang berdiskusi dengan anggota DPRD. Tak lama kemudian mereka keluar dan disambut oleh para demonstran.

Saya dalam posisi tidak menguntungkan karena berdiri agak jauh dari pintu keluar. Hal yang menyebalkan lagi, para jamaah ini senang sekali membersamai habibnya, sehingga ke manapun mereka pergi selalu dikuntit. Tidak hanya oleh orang-orang yang sudah ditunjuk sebagai petugas keamananan, tapi demonstran-demonstran umum juga senang menguntit mereka.

Dari kejauhan saya lihat teman-teman saya mulai berkerumun mengelilingi seorang habib. Saya pun merangsek mendekati mereka. Baru saja sampai, terdengar ada keributan. Saya pun bertanya-tanya ada apa.

“Bapak jangan bohong dong,” kata P, seorang teman wartawati sebuah media nasional terkemuka.

“Provokator ini,” kata salah seorang pria bersorban.

Polisi datang, kemudian semua bubar begitu saja.

Sejenak kami tak mempedulikan makian-makian yang terus berkumandang dari atas mobil, yang dilontarkan untuk Ahok. P, duduk dengan mata berkaca-kaca sembari bercerita. Di tengah kerumunan itu, ia merasakan sepasang  tangan melingkar di pinggangnya. Ketika menengok, ia melihat seorang habib yang namanya tak asing di telinga kami. Sekali lagi ini bukan soal ormas Islam atau soal Habib, ini soal pelecehan seksual yang bisa terjadi di mana saja, dengan korban dan pelaku siapa saja.

Tak seperti saya yang memilih diam karena malu, P langsung protes saat itu juga. Si habib bilang ia tidak berniat memeluk, hanya memegang pinggang karena ingin lewat.

Melihat ada keributan, para jamaah (demonstran) pun mendekat. Teman saya justru dituduh sebagai provokator yang ingin memanaskan suasana. “Saya dari *****! Orang itu mau melecehkan saya,” kata P sembari menahan tangis, menekankan nama media tempat ia bekerja, mungkin dengan harapan mereka tidak asal menuduh.

Polisi datang mendekat. Tak lama setelah mendengar penjelasan masing-masing pihak, polisi memilih jalan aman. Peristiwa itu dianggap hanya salah paham.

P meminta kami menulis berita tentang peristiwa tidak menyenangkan yang dialami. Bingung juga, saya sendiri merasa pecundang karena tidak ikut menulis dengan alasan (yang hanya saya katakana di hati) saya tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa.

Seorang teman dari media lokal mencoba menenangkan. Ia lalu bertanya, “P, saya tahu gimana perasaan kamu. Tapi saya mau memastikan, kamu yakin kalau itu tadi pelecehan? Soalnya kan kadang laki-laki tu sebenarnya nggak berniat melecehkan, tapi perempuan kan sensitif, jadi dikira melecehkan,” kata dia.

Mendengar itu, P tentu saja agak memanas, terlihat dari nada suaranya yang meninggi. “Nggak. Aku yakin, dia megang aku tu begini (sambil mempraktikkan tangan memeluk pinggangnya). Nggak mungkin kalau Cuma mau lewat. Terserah kalau kamu nggak percaya sama aku, ini pasti aku tulis, aku tahu pelakunya siapa,” kata dia.

See, sekadar untuk bilang bahwa saya dilecehkan itu tidak mudah. Perempuan-perempuan yang berani bilang pun menghadapi tantangan mulai dari pelaku yang ngeles, polisi yang cari aman, teman yang menyangsikan, dan sebagainya.

Dalam dua kasus ini saya bukan contoh yang baik. Tapi, membaca sebuah tulisan hari ini, saya berpikir kalau sampai terjadi lagi tak ada cara lain selain tidak tinggal diam.

Kita bisa melapor ke orang-orang sekitar, ke polisi, petugas keamanan, apapun yang bisa diupayakan. Tak memikirkan respon yang akan diterima, laporkan saja dulu, pastikan orang tahu apa yang terjadi. Minimal si pelaku tidak akan melanjutkan perbuatannya.

Kita, yang melihat orang lain dilecehkan dan tidak berani melapor juga perlu memberikan dukungan. Karena sekadar untuk berani bercerita saja tidak mudah. Petugas keamanan, polisi dan pihak yang berwenang juga perlu bergerak cepat. Seperti pada kasus di tempat jathilan atau di angkutan umum, pelaku biasanya berpindah-pindah dan mencari mangsa-mangsa baru.

So girls, and me, be aware and jangan tinggal diam!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s