diari · fasilitas umum · liputan

Pengalaman Pertama Naik Go-Jek

Ini hari pertama saya mencoba transportasi umum alternatif, Go-Jek. Saya dua kali naik Go-Jek dari Pedjaten Barat menuju Kantor PBNU di Kramat Sentiong, Jakarta, dan sebaliknya.  Walau sudah mendownload aplikasi Go-jek beberapa pekan lalu, baru hari ini saya benar-benar menggunakannya.

Pertama kali menggunakan aplikasi Go-Jek, saya agak bingung. Dalam kondisi belum log in, saya masukkan data tempat asal dan tempat tujuan. Setelah itu, saya diminta memasukkan data berupa nama, email, no. telpon, dan sebagainya. Saya harus menunggu kode verifikasi untuk log in terlebih dahulu. Nah, proses ini agak lama. Saya sempat mengira koneksi internet hp saya buruk, sehingga sempat mengulang proses dan memasukkan no. hp yang lain. Tetap tidak masuk kodenya, padahal saya sudah harus segera cuz ke tempat tujuan.

Akhirnya, saya ulangi proses pendaftaran untuk ketiga kalinya dan memutuskan untuk menunggu sampai kode masuk. Setelah kode masuk, saya pikir proses booking sudah selesai, karena tadi saya sudah memasukkan data tempat asal dan tempat tujuan.

Sesuatu yang lucu terjadi. Tak sampai satu menit, beberapa driver Go-Jek mondar-mandir di jalan dekat tempat saya menunggu. Yang lain lewat begitu saja, ada satu driver yang berhenti di sebuah gang dan tampak bingung mencari info. Saya pun mendekatinya.

“Pak, dari Go-Jek ya?” kata saya dengan ‘polosnya’.

Intinya saya mendekati driver Go-Jek yang salah karena bingung bagaimana saya bisa tahu, itu lo driver buat kamu. Nah, driver-driver ini bakal cuek, karena mereka sudah punya orang yang mau dijemput. Mereka tidak srobat-srobot. Geli kan, udik kan saya jadinya…hiks.

Saya kembali ke tempat awal menunggu, bolak-balik menjajal aplikasinya dan baru sadar order/booking saya yang tadi blm terproses. Yang terproses baru pendaftarannya. Saya akhirnya mengulang proses booking dan..tring! booking tercatat. Simpel sekali ternyata dan super cepat.

Tak sampai satu menit, ada sebuah notifikasi masuk, memberitahukan bahwa saya sudah mendapatkan driver. Si driver sedang menuju ke tempat saya. Namanya Abdul Syakur. Proses selanjutnya, sebuah notifikasi masuk lagi. Katanya driver sudah sampai di sekitar saya. Kalau saya kesulitan menemukannya, saya bisa menelpon. Saya mencoba telpon tapi tidak diangkat. Mungkin dia masih di jalan.

Tak sampai 5 menit datang seorang driver Go-Jek. Dia langsung tahu, dan saya langsung tahu. Kami bagaikan jodoh yang akhirnya bertemu (apasih). Dia memberikan sebuah masker dan pengatur rambut (mirip bandana), lalu menanyakan ke mana tujuan saya (mungkin konfirmasi ulang, soalnya saya sudah menuliskan di orderan saya). Driver itu memberikan helm, dan kami pun cuzzz menuju Kramat Sentiong.

Oh ya, jarak dari Pedjaten ke Kramat Sentiong lumayan jauh. Kalau naik taksi, saya perkirakan bisa mencapai..hmm.. mungkin Rp 50-75 ribu atau lebih. Nah selama Ramadhan (sebenarnya sudah sejak sebelum Ramadhan juga) ada promo Go-Jek ke mana-mana Rp 10 ribu. Murah banget ya? Rada nggak tega sih, jadi sempat kepikir buat ngasih lebih. Tapi, bukan soal ngasih nggak ngasih atau amal nggak amal. Saya jadi keinget sama gratifikasi, amplop, dan semacamnya. Kebiasaan sederhana, yang dari kita mungkin tujuannya baik, bisa jadi mengakar menjadi sistem, habit, kultur yang nggak baik. Kalaupun ingin mendorong kesejahteraan para driver Go-Jek dan sejenisnya, it must be started from the Go-Jek. Perusahaan yang harus ngasih sehingga para driver nggak ngobyek atau main belakang. Nggak cuma di Gojek sih, di perusahaan manapun kayanya baiknya begitu.

Nah, saya akhirnya sampai ke tempat tujuan dengan aman. Pak Abdul membonceng saya dengan lancar, tidak terburu-buru dan saya merasa nyaman. Setelah dia pergi, muncul notifikasi untuk memberikan penilaian kepada driver. Bentuknya bintang skala lima. Saya langsung memberi 5 bintang dan menuliskan komentar berupa ucapan terimakasih karena sudah mengantar sampai tujuan dengan selamat.

Nah, setelah acara di PBNUselesai, saya kembali menggunakan Go-Jek. Tak lama setelah order, saya mendapat telepon dari nomor asing. Ternyata ini driver Go-Jek yang mau menjemput saya. Sangat cepat responnya dan dia tidak segan menelpon saya duluan. Tak lama driver datang dan memberikan helm pada saya. “Maaf ya, Mbak maskernya habis,” kata dia.

Saya pun naik ke atas motor gede driver Go-Jek tadi tanpa ada pikiran apa-apa. sekitar 100 meter dari lokasi awal penjemputan, jalanan agak macet. Agak-macet, bukan macet-banget. Driver ini sepertinya tidak sabar, dia akhirnya melanggar pembatas jalan berupa corong oranye yang sengaja ditaruh di pinggir jalan (apa ya itu namanya). Saya masih tidak ada feeling apa-apa. Suasana memang sangat panas, apalagi ini bulan puasa. Mungkin dia ingin cepat sampai, atau dia sedang kejar setoran, pikir saya.

Saya mulai agak tidak nyaman ketika tanpa sengaja driver Go-Jek berperawakan besar ini ‘menyenggol’ bagian belakang motor lain. Ketidaknyamanan ini bertambah ketika dia masuk ke jalur busway. Saya nggak suka banget bagian ini, karena biasanya kalau saya berkendara sendiri, saya akan mencoba sebaik mungkin untuk tidak masuk jalur busway. Dua kali masuk jalur busway, bahkan sempat kami berada di antara dua busway, saya langsung terpikir tentang penilaian driver tadi. Go-Jek perlu tahu, dan perlu mereview kinerja driver mereka. Nilai yang terpikir pertama kali adalah 3, karena pelanggaran marka, nyenggol motor lain, dan 2 kali masuk jalur busway. Tak lama kemudian kami sampai ke perempatan. Driver ini melanggar lampu merah. Nilainya saya turunkan lagi menjadi dua. Tak sampai di situ, dia masih melanggar satu kali lagi. Yang bikin saya deg-degan juga, ketika kami melewati rel kereta api, dia tidak berhenti walau tanda kereta api akan lewat sudah berbunyi.

Beruntung saya masih bisa sampai dengan selamat. Setelah memastikan driver menjauh, saya memberikan penilaian satu bintang. “Terima kasih sudah mengantarkan saya dengan selamat. Tapi maaf baru bisa kasih penilaian satu bintang karena Pak Y sempat 2 kali masuk jalur busway, 2 kali melanggar lampu merah, dan sempat menyenggol bagian belakang motor lain. Safe ride ya, Pak J” tulis saya.

Sejauh ini, itu tadi dua pengalaman saya. Yang satu baik, dan satu buruk.

Buat saya pribadi, ide membentuk Go-Jek sangat bermanfaat buat orang-orang seperti saya. Seperti saya, yang dalam pekerjaan sehari-hari sering mobile ke sana-ke mari tapi tidak punya kemampuan tawar-menawar yang baik dengan para tukang ojek pangkalan.

Sebelum ada Go-Jek, bisa dipastikan saya selalu membayar lebih dari Rp 15 ribu tiap kali naik ojek. Rp 15 ribu itu jaraknya sama dengan dari Halte Polda ke Pacific Place. Seorang supir taksi pernah berseloroh ke saya, kalau naik ojek nggak pinter nawar, bisa dikibulin. Naik ojek jadi sama kaya naik taksi. Saya pernah mencoba membuktikan, dan taraaa…betul sekali. Dengan jarak yang sama, naik ojek ketika itu saya kena Rp 20 ribu, sementara ketika naik taksi kena Rp 22 ribu.

Nah, dengan sistem yang sudah baik ini, Go-Jek harusnya dapat melengkapi layanan dengan menyediakan driver yang baik pula. Minimal, yang taat aturan lalu lintas (mereka pake jaket berlogo Go-Jek  yang keliatan banget kan kalau masuk jalur busway lo). Selain menjaga penumpang, menjaga orang lain, itu juga menjaga keselamatan driver sendiri.

Saya cuma bisa berharap, dengan keberadaan driver Go-Jek yang sangat bermanfaat, mereka bisa mendapatkan fasilitas yang mendukung mereka jadi driver (atau rider) yang profesional, mendapatkan penghasilan dan pendidikan yang mencukupi untuk menjadi driver yang baik. Well,,, done! That’s all my review untuk pengalaman hari ini. Thanks to Go-Jek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s