Membuat Nyaman Diri Sendiri

Bekerja sebagai wartawan memaksa kita untuk berinteraksi dengan orang lain sebanyak mungkin. Kita juga dipaksa memasuki lingkungan yang seringkali tidak sesuai dengan karakter atau minat pribadi. Wajar jika seringkali kita harus merasa tidak nyaman baik dengan orang, tempat, maupun situasi yang kita hadapi.

Sebagian orang yang cenderung extrovert akan lebih mudah menghadapi situasi ini. Saya sendiri pada dasarnya seorang dengan kepribadian introvert. Perlu kedekatan dan rasa nyaman tersendiri untuk bisa benar-benar bisa menyatu dengan kondisi di sekitar.

Beberapa contoh suasana yang kadang membuat saya tidak nyaman, misalnya ketika menghadapi suasana sangat formal. Contohnya riilnya ketika harus meliput acara serah terima jabatan yang hanya dihadiri oleh pejabat tingkat atas suatu perusahaan. Mereka akan berpakaian sangat resmi dengan balutan jas atau batik dan berbincang dengan etika bisnis yang kental. Rasa segan, males (kadang saya merasa terlalu banyak basa-basi dalam situasi seperti itu), dan sebagainya berbaur menjadi satu.

Contoh lainnya adalah ketika harus berbincang dengan pejabat setingkat kasat. Seorang kasat yang saya temui ketika itu sangat terbuka, namun tak lepas mengatakan “Kalau soal itu kita tidak bisa ungkap, karena terkait dengan aturan bla bla bla…”Pejabat lain cenderung becanda sembari mengelak-elak. Suasana ini menjadi tidak nyaman ketika saya baru pertama kalinya menginjakkan kantor polisi selain urusan tilang dan mengurus pajak kendaraan.

Contoh lainnya? Misalnya ketika saya harus duduk di antara beberapa waria yang sedang ‘bekerja’ menjajakan diri. Saya punya rasa hormat tersendiri kepada waria atas pilihan hidup mereka. Tapi berada di antara mereka ketika sedang bekerja, melihat tingkah mereka, membuat saya (dan mungkin juga Anda) canggung.

Contoh lain lagi yang baru tadi saya alami adalah menonton futsal. Saya datang sendirian, di dalam ada hampir 100 pria bermain dan menonton pertandingan. Tidak ada seorang pun yang saya kenal. Setelah beberapa menit berada di dalam, saya melihat beberapa perempuan juga ada di dalam. Bedanya, mereka umumnya sudah punya kenalan entah suami, pacar, atau rekan kerja, saya tidak.

Banyak sekali situasi awkward yang harus dihadapi seorang wartawan, apalagi jika pada dasarnya dia seorang introvert. Solusi termudah adalah berubah menjadi seorang ekstrovert. Namun, kondisi ini tidak selalu mudah. Kondisi-kondisi baru akan selalu ditemui dan membuat kita harus keluar dari comfort zone.

Hal mendasar yang perlu dipahami mungkin bisa saya berikan contoh di bawah ini:

  1. Pastikan kita mengetahui konteks acara dan siapa yang datang. Bila kita benar-benar belum mendapatkan informasi, amati. Kita juga bisa bertanya kepada panitia atau peserta yang hadir. Ini sekaligus membantu kita ‘mencari kawan’ dalam situasi serba baru.
  2. Pastikan kita tahu narasumber yang akan kita temui. Orang atau orang-orang inilah sumber dari segala informasi yang kita perlukan.
  3. Temui sumber dan lakukan wawancara.
  4. Ambil foto jika perlu.
  5. Tugas selesai. Selebihnya adalah bumbu-bumbu liputan, misalnya mengikuti seminar acara sampai selesai (mungkin kita menghadiri seminar yang dapat menambah pengetahuan kita), mencoba produk atau layanan yang ditawarkan di acara tersebut, kenalan dengan orang baru, makan-makan, dan sebagainya.

Salah satu unsur penting dari upaya membuat nyaman diri sendiri adalah menghilangkan penghalang yang membuat kita merasa canggung. Ini bisa dilakukan dengan –menurut hemat saya- melebur atau memisahkan diri. Teknik melebur biasanya saya pakai ketika lingkungan itu memungkinkan kita untuk terlibat, misalnya ikut menjadi peserta, menjadi bagian dari panitia, dsb. Sementara, teknik memisahkan diri biasanya saya pakai ketika saya sulit terlibat dalam situasi yang ada. Saya akan membuat diri sendiri nyaman dengan berbagai cara, misalnya menganggap orang-orang di sekitar saya tidak ada (seakan hanya ada saya dan narasumber, atau dalam konteks pertandingan saya seakan menonton acara itu sendirian), menganggap semua orang juga sibuk dengan urusan masing-masing, begitu juga saya, dsb.

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s