diari

Karena Hidup Hanya Butuh Disenyumin

Saya sedang patah hati. (Lagi-lagi) patah hati. Menurut saya ini momen paling tidak penting dalam hidup, tapi toh saya harus berulang kali mengalami. Bukan, bukan tidak penting karena orang yang membuat saya patah hati itu tidak penting. Tentu saja orang itu penting, karenanya dia bisa membuat saya patah hati. Tapi momen ini benar-benar sangat tidak penting, karena itu saya harus segera membuangnya jauh-jauh.

Tapi susah. Toh setegar apapun saya masih menangis juga. Masih merengek juga. Masih menye-menye juga.

Tapi tidak apa-apa. Saya belajar untuk memaklumi banyak hal dalam hidup. Saya pernah jadi perfeksionis akut. Pernah terlalu keras pada diri sendiri hingga tidak sadar sama saja menzolimi diri sendiri. Saya pernah begitu tidak bersahabat dan tidak bisa memaafkan diri sendiri.

Lalu saya pernah berusaha berdamai dengan diri sendiri. Saya harus berusaha sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik, tapi saya maklum ketika saya pernah gagal. Saya harus berusaha menjadi baik bagi orang lain tapi saya maklum ketika satu dua kali saya mengecewakan. Saya berusaha menjaga prinsip dan idealism, tapi saya maklum ketika kondisi mengharuskan saya bersikap lebih fleksibel. Banyak pemakluman lain yang akhirnya membuat saya bisa pelan-pelan berdamai dengan diri sendiri.

Yah, akhirnya setelah proses cukup panjang saya menyadari bahwa hidup itu seringkali hanya butuh disenyumin. Walau suatu ketika kita butuh menangis, lalu di saat yang lain kita butuh tertawa, pada akhirnya hidup itu hanya butuh disenyumin. Seberapapun hidup sangat membahagiakan, lalu berubah jadi sangat menyedihkan, ketika semua sudah berlalu akan ada masa untuk mengingat kembali dan tersenyum.

Toh dengan menangis saja masalah tidak akan pernah selesai. Toh kita harus berhenti menangis dan menjalani hidup seperti sedia kala. Toh hidup harus tetap dilanjutkan. Toh mengakhiri hidup tidak berarti permasalahan selesai begitu saja, kita justru meninggalkan masalah pada orang-orang yang masih hidup. Maka hidup hanya perlu dijalani dan disenyumi.

Di suatu masa dalam hidup, saya pernah begitu membanggakan Ayah saya, menganggap dia satu-satunya superhero yang hidup di dunia. Lalu Tuhan menunjukkan bahwa Ayah saya hanyalah manusia biasa yang kadang bisa salah dan lupa. Saya pernah begitu membenci dia dan –sebagai anak kecil, berharap diberikan Ayah yang lain, yang tidak seperti dia. Di mata saya ketika itu, dia punya power yang tidak bisa saya tembus, dia menuntut saya begitu keras, dia ingin saya selalu sempurna, dan dia begitu garang luar biasa. Ketika saya dewasa, saya melihat dia terkadang adalah lelaki lemah penuh kasih sayang yang terkadang butuh didengarkan, butuh diperhatikan, butuh ditemani, bahkan sekali dua butuh dinasehati.

Dalam satu kesempatan saya pernah melihat Ayah jatuh begitu pasrah. Tersungkur begitu saja sembari terisak-isak tak berdaya. Hancur? Iya. Ayah saya, the only man at my home, adalah salah satu kebanggaan kami yang tidak boleh dicolek pride-nya sedikitpun. Ketika ia jatuh tak berdaya, seakan seisi rumah dengan segala penopangnya hampir-hampir tidak bisa dijaga lagi.

Tapi kami kuat. Kami hanya butuh menangis sebentar. Kami hanya butuh memaklumi dan memaafkan kesalahan masing-masing barang sejenak. Kesalahan diri sendiri dan kesalahan orang lain. Toh  semua berlalu juga. Toh semua tidak sehancur yang kami bayangkan. Toh kami masih punya banyak momen untuk tertawa setelah lelah berduka.

Lalu saya diberi kesempatan menyaksikan banyak cerita lain di keluarga yang lain. Hidup ini seakan hanya menunggu giliran. Kalau dulu saya pernah berteriak-teriak dalam hati, protes kepada Tuhan kenapa di usia saya yang masih terlalu muda saya harus mengalami hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya… Ternyata saya hanya diberi kesempatan lebih awal.

Saya yakin bukan saya seorang yang pernah terlintas berpikir, hidup saya paling susah. Cobaan saya terlalu berat. Ketika menghadapi suatu masalah, kebanyakan kita hanya terpaku pada masalah itu sembari berpikir bagaimana mencari jalan keluar. Kita lupa membantu orang lain, memikirkan masalah orang lain. Bagaimana mungkin bisa, kita sendiri saja sedang terbelit oleh masalah.

Tapi lagi-lagi kita perlu berdamai dengan diri sendiri. Ada suatu titik di mana kita perlu keluar dari masalah yang kita hadapi. Ada suatu titik ketika kita perlu melihat masalah itu dari luar. Di situ kita akan menyadari bahwa kita hanya satu dari sekian banyak orang yang mengalami kasus yang sama. Banyak yang bisa bertahan maka kita pun harus bisa. Kalau kita memandang permasalahan itu lebih jauh lagi, kita pun akan menyadari bahwa banyak orang mengalami masalah yang jauh lebih berat lagi.

Terkadang hal yang membosankan terjadi ketika masalah yang sama berulang lagi. Nasehat almarhum Uje sekalipun bahwa hidup ini ujian tidak mempan. Bahwa dalam menghadapi ujian sekolah saja kita akan diuji terus sampai lulus, buat saya tetap tidak relevan. Kenapa? Karena Tuhan Maha Baik, dia Maha Penyayang. Dia tidak mungkin ingin memberikan kesusahan. Maka kesusahan sejatinya bukan sebuah ujian. Kesusahan adalah cara kita memaknai suatu kejadian.

Balik lagi, hidup itu hanya butuh disenyumin. Termasuk ketika ada cinta bertandang hanya sehari, seminggu, sebulan, setahun… Kalau kita sakit hati, katakanlah. Kalau kita merasa disepelekan, ungkapkanlah. Kalau kita ingin menangis, menangislah. Kita tidak perlu berpura-pura tegar.  Setelah itu berbahagialah. Berbahagialah entah karena apapun. Mungkin karena kita diberi jeda waktu untuk berpikir dan kembali lagi. Atau kita diberitahu belum saatnya untuk memahami percintaan yang terlalu sepele namun rumit. Atau kita diajak merenungi kembali target-target yang jauh lebih penting.

Entah karena apapun, berbahagialah, bersyukurlah. Bahkan jika kita terpaksa menangis lagi setelah tampaknya kita sudah baik-baik saja, menangislah. Setelah itu semua akan benar-benar baik-baik saja. Hidup akan kembali seperti semula. Nanti akan ada waktunya semua hanya butuh disenyumin. Hanya butuh disenyumin. Seperti kamu, seperti banyak kisah di masa lalu yang saat ini hanya butuh aku senyumin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s