diari · Resep dan Makanan

Eksperimen Pertama dengan Kerang

Ini postingan pertama saya tentang masakan. Saya tidak pandai memasak, tapi saya bilang, saya suka memasak. Saya suka makan enak, apalagi jika itu masakan saya sendiri.

Kali ini saya menulis tentang Tumis Kerang. Tadinya saya sempat bingung mau memasak apa. Beruntungnya tinggal di komplek padat penduduk adalah banyak emak-emak rempong yang siap ikut campur dalam hidup kita, termasuk dalam memilih menu makanan. Emak Unah, sebut saja begitu, mengusulkan saya membeli kerang ketika asik mengerumuni tukang sayur keliling.

“Belum pernah masak kerang, Mak,” kata saya.

“Gampang atuh, Da. Ditumis aja,” jawab Mak Unah.

Well, pertama kali saya makan kerang adalah ketika ibu guru saya, Bu Rini membawa kerang ke sekolah. Dia menawari saya dan rasanya yummy. Lalu saya membeli kerang di warteg, juga yummy. Tapi saya sadar tidak semua orang bisa memasak kerang dengan baik. Pernah suatu ketika saya makan kerang yang disajikan dalam porsi besar. Rasanya bikin nggak tahan. Seperti bau lumpur, seperti tidak dibersihkan, ah entahlah.

Nah, jadi saya memang penyuka kerang, tapi di kepala saya kerang adalah bahan masakan yang susah dimasak. Saya pun membeli satu plastik seharga Rp 8.000. Murah banget. Harganya hanya setengah dari jantung ayam dengan jumlah yang sama. Fine, inilah saat pertama saya mengolah kerang dari awal.

Membersihkan 

Ini pertama kalinya saya memegang kerang mentah. Cangkangnya sudah dibersihkan. Saya ambil satu kerang, saya perhatikan ada hitam-hitam seperti serabut di bagian perutnya. Karena bentuknya menyerupai kotoran, saya pun menariknya untuk dibuang. Namun, sebagian dagingnya ternyata ikut terangkat. Saya pun bingung mana yang harus dibersihkan.

Ketika membersihkan bagian itu, saya tak sengaja merobek isi perutnya. Ada lagi bagian hitam di sisi kanan dan kirinya, lagi-lagi seperti kotoran. Saya coba menghilangkannya namun perutnya menjadi agak terburai saking lembut kulitnya. Saya bingung lagi, apa benar itu kotoran?

Setelah tanya sana-sini, iya kedua bagian itu adalah kotoran yang harus dibuang. Jadi saya mengucurkan air perlahan lalu membersihkan kedua bagian itu di kerang satu per satu. Lama dan bikin nggak tahan. Saya sempat berhenti dulu memesan dan minum jus, lalu berhenti lagi mengecek handphone, lalu baru saya lanjutkan.

Nah, setelah semua selesai, sekarang giliran memasak.

Memasak

Di luar enak atau tidaknya, hal pertama yang paling saya takutkan adalah kerang itu bau lumpur atau amis. Sempat terpikir untuk merebus dulu dengan bawah dan garam seperti ketika memasak ayam, atau memberi perasan jeruk. Tapi semua saya urungkan.

Saya akhirnya mencucinya beberapa kali untuk memastikan kerang telah bersih. Setelah itu saya merebus air hingga mendidih, memasukkan kerang, menunggu sekitar 15 menit, lalu selesai. Kerang sudah direbus. Baunya masih amis.

Saya lalu menggorengnya. Menggorengnya dengan minyak baru dan api sedang. Bisa hingga matang kering atau setengah matang, sesuai selera. Kalau matang kering tentu hasilnya akan terasa lebih crunchy, kalau setengah matang hasilnya akan lebih juicy.

Nah, sembari menunggu kerang goreng matang, siapkan bumbu tumis yang saaangat sederhana. Nih:

3 siung bawah putih diiris tipis

3 siung bawah merah diiris tipis

3 buah cabe merah kriting diiris tipis

Setelah kerang digoreng, siapkan sedikit minyak untuk menumis. Masukkan bahan-bahan di atas dan goreng sebentar hingga harum. Masukkan kerang goreng dan tumis sebentar. Tambahkan air agar bumbu meresap, masukkan garam dan gula secukupnya. Tumis sampai air kering dan bumbu meresap. Nah, siap disantap deh.

Simpulan saya sebagai pecinta kerang, kerang itu pada dasarnya sudah enak (apalagi karena saya memang suka kerang). Intinya adalah menghilangkan bau amisnya. Kalau bau amis itu sudah hilang, baik dengan direbus maupun digoreng, dimasak apapun akan lebih yummy.

Inti kedua adalah membersihkannya. Berhubung kerang itu kecil-kecil dan jumlahnya banyak, perlu ketelatenan dan kesabaran tersendiri untuk membersihkannya. Dan berhubung kotorannya banyak, pastikan benar-benar bersih ya. Jujur setelah membersihkan kerang sendiri jadi agak parno untuk beli kerang di luar, kebayang kalau nggak bersih, kotoran-kotoran kecilnya masih menyatu, hahaha… Stop stop itu hanya over-parno saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s