artikel · ekonomi · perbankan · sejarah

Proses Penggabungan Bank BUMN menjadi Bank Mandiri

Penggabungan (merger) empat bank pemerintah, yaitu Bank Exim, Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, dan Bapindo  menjadi Bank Mandiri diawali dengan rencana restrukturisasi perbankan tahun 1998. Proses tersebut rencananya akan diumumkan 21 Agustus 1998. Salah satu keputusan penting yang diumumkan antara lain merger antara Bapindo dan Bank Bumi Daya (BBD).

Rencana restrukturisasi perbankan tersebut dilakukan sesuai Letter of Intent (L/I) yang disepakati Pemerintah Indonesia dengan Dana Moneter Internasional (IMF) hasil revisi tanggal 4 Agustus 1998. Pilihan kebijakannya adalah likuidasi, pembekuan operasi, penggabungan, atau penjualan saham.

Dalam L/I itu juga disebutkan akan dilakukan pengalihan tanggung jawab dan pengelolaan enam bank BUMN, yakni BNI, BTN, Bank Exim, BDN, Bapindo, dan BBD dari Kantor Meneg Pendayagunaan BUMN kepada Menkeu.

Penggabungan (merger) empat bank pemerintah, yaitu Bank Exim, Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, dan Bapindo  menjadi Bank Mandiri rencananya akan dilakukan 21 September. Namun, upaya sempat akan diundur hingga dua sampai tiga bulan masalah legal merger yang belum terselesaikan.

Rencana merger bank ini telah diumumkan lebih dari setahun sebelumnya. Skenario yang disiapkan sempat mengalami berbagai perubahan. Awalnya, dalam masa pemerintahan Presiden Soeharto, gabungan empat bank itu akan diberi nama Bank Catur dan dikonsolidasikan sekaligus. Rencana itu akhirnya dibatalkan dan menjadi Bank Mandiri. Strategi penggabungan pun diubah. Awalnya Bank Exim akan ditunjuk sebagai surviving bank atau bank leader bagi Bank Mandiri.

Keputusan ini mengundang kontroversi, terutama dari Bank BDN yang merasa kinerja mereka relatif lebih baik dari Bank Exim. Bank Exim disebut mengalami kerugian valas sekitar Rp 2 triliun lebih walaupun pemerintah sudah menyuntikkan dana sebesar Rp 20 triliun melalui Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang dikonversi menjadi modal. Mereka juga mempertanyakan kredibilitas Bank Exim yang dalam dua periode terakhir tidak menerbitkan neraca keuangan publikasi untuk edisi 31 Desember 1997 dan 31 Juni 1998.

Pemerintah akhirnya lagi-lagi batal menggunakan scenario ini. Keempat bank pemerintah itu akhirnya digabung dengan nama baru Bank Mandiri, tanpa ada dominasi salah satu bank. Alternatif ini dinilai memungkinkan penyelesaian masalah-masalah dengan para otoritas di berbagai negara secara lebih baik tanpa menimbulkan kesulitan bagi kantor cabang yang ada di luar negeri untuk menjalankan bisnisnya secara berkesinambungan.

Alternatif ini juga menjadi cara agar ada equal treatment (hak penyelesaian yang sama) terhadap empat bank yang bergabung. Dengan adanya equal treatment ini, keseluruhan jajaran keempat bank dapat sama-sama aktif dalam membangun kembali wadah yang baru, yaitu Bank Mandiri, sebagai bank yang patut diandalkan,

Akhir September 1998, Menkeu Bambang Subianto mengatakan penggabungan bank ini akan dilakukan pada awal Oktober. Bank ini akan mempunyai modal disetor Rp 4 triliun. Empat bank ini akan berstatus anak perusahaan. proses penggabungan ini akan didampingi Deutsche Bank sebagai konsultan.

Proses penggabungan ini rencananya akan selesai dalam dua tahun. Selama dua tahun tersebut, keempat bank pemerintah akan tetap beroperasi melayani semua nasabah dan menyelesaikan semua permasalahannya. Aset keempat bank pemerintah tersebut yang kualitasnya dinilai baik dan cukup baik, akan dipindahkan ke Bank Mandiri secara bertahap. Demikian pula kewajiban-kewajibannya, secara bertahap akan masuk menjadi kewajiban Bank Mandiri.

Kegiatan-kegiatan operasional yang dilakukan keempat bank akan secara bertahap diintegrasikan ke dalam Bank Mandiri. Dengan begitu, ada suatu periode transisi dimana empat bank yang semula adalah bank pemerintah itu masih beroperasi dan Bank Mandiri juga beroperasi. Setelah proses penggabungan itu tuntas, Bank Mandiri akan menjual sahamnya kepada masyarakat atau ”go public”.

Bank Mandiri akhirnya didirikan 2 Oktober 1998. Hambatan pertama yang dihadapi adalah pemilihan direktur utama dan komisaris bank yang akan mengkonsolidasikan empat bank tersebut. Awalnya Meneg Pendayagunaan BUMN Tanri Abeng menunjuk Moeljohardjoko sebagai direktur utama. Latar belakang dia yang bukan bankir memicu beberapa anggota DPR mengajukan protes karena ia dianggap kurang profesional. Mereka menilai ada pula conflict of interest mengingat ia juga merangkap sebagai Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta menjadi komisaris BUMN PT Surveyor Indonesia. Penentuan direksi dan komisaris ini bahkan diduga melibatkan adanya invisible hand.

Tanri langsung membantah dugaan ini. Khusus dirut, lanjut Tanri, sebenarnya ditetapkan dengan tidak memilih salah satu dari empat bank yang akan dikonsolidasikan agar tidak menimbulkan masalah. Keputusan ini juga telah dengan Tim Konsultasi yang dipimpin Menkowasbang/PAN Hartarto, dengan anggota Menkeu, Gubernur BI, Menperindag, dan Meneg Pendayagunaan BUMN.
Awal November 1998, Tanri kembali mengumumkan pergantian pimpinan Bank Mandiri. Bankir Kawakan Robby Djohan ditunjuk sebagai Direktur Utama, sementara Mar’ie Muhammad didaulat menjadi komisaris utama. Kehadiran Robby menggantikan Moeljohardjoko yang konon ingin lebih berkonsentrasi di Taspen.

Robby optimistis dapat membangun Bank Mandiri sebagai bank yang kokoh dan kuat di Indonesia. Untuk itu, ia mematok target agar proses merger empat bank dapat dilaksanakan Desember mendatang, sementara proses restrukturisasinya akan selesai September 1999.

Ia menolak penggunaan istilah ”hancur” terhadap kondisi bank-bank yang akan dimerger. Pasalnya, memburuknya kinerja bank-bank tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi Indonesia. Bank-bank tersebut juga terbukti mampu bertahan selama lebih dari 30 tahun.  ”Delapan puluh persen problem bank-bank itu adalah karena keadaan ekonomi yang memburuk, dua puluh persen lainnya disebabkan bank-bank itu terlalu ekspansif,” jelasnya.

Sebagai dirut yang baru, Robby menyusun skenario yang akan digunakan untuk memperbaiki bank-bank tersebut. Ia Robby mengatakan hanya ada satu resep, yaitu memperbaiki sumber daya manusia dan menjadikan mereka manusia-manusia yang efektif.

Latar belakang sebagai perusahaan negara menyebabkan karakter manusia di bank-bank ini menjadi birokrat, sebab banyak dikekang dan diatur. Hal yang banyak dikhawatirkan ketika itu yaitu rasionalisasi karyawan. Robby mengatakan, hal terpenting yang harus dilakukan saat ini adalah motivasi organisasi. Rasionalisasi karyawan merupakan pilihan terakhir apabila tidak ada jalan keluar lain yang dapat dilakukan. Robby dan Mar’ie juga minta diberi wewenang penuh untuk melakukan langkah-langkah konkret tanpa banyak campur tangan pihak lain.

Tanggal 15 Juli 1999, Robby mengumumkan bahwa Bank Mandiri siap beroperasi per 1 Agustus 1999. Bank ini dibantu beberapa konsultan internasional seperti Deutsche Bank sebagai penasehat keuangan, McKinsey & Company untuk rasionalisasi kantor cabang dan fungsi back office, Andersen consulting untuk urusan teknologi informasi, dan Hay Management untuk pemberdayaan SDM. Proses merger ini menelan biaya sebesar Rp 10 juta dolar AS dengan kurs saat itu. Bank Mandiri saat itu hanya membutuhkan 14.000 karyawan. Dari total 26 ribu karyawan bank legacy, hanya 6.000 orang yang telah disetujui menjadi karyawan Bank Mandiri, sehingga sisanya akan diseleksi.

Robby memaparkan, Bank Mandiri akan mengawali usahanya dengan neraca yang bersih (clean balance sheet) dan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 8,3 persen. Dengan demikian, maka Bank Mandiri akan menjadi bank baru dengan manajemen profesional dan bekerja secara independen. Pada neracanya, aset Bank Mandiri tercatat Rp 226 triliun. Aset produktif sebesar Rp 61 triliun dan Rp 137,6 triliun dalam bentuk obligasi, dengan bunga setara SBI. Total aset empat bank sebelum merger sebesar Rp 140 triliun.

Dengan bergabungnya keempat bank tersebut, jumlah outlet yang ada akan berkurang dari 740 menjadi 529. Sisanya akan ditutup karena dinilai tidak efisien dan menguntungkan. Sebagai langkah awal, lima kantor cabang percontohan dioperasikan. Kantor cabang ini akan menampilkan profil fisik Bank Mandiri dengan menggunakan sistem, teknologi, dan formulir Bank Mandiri yang selanjutnya akan diterapkan secara bertahap ke kantor-kantor cabang yang lain. Kelima kantor cabang itu adalah Bank Exim Plaza, Bappindo Jl Sudirman, BDN Pondok Indah, Bank Exim Mangga Dua, dan BBD Jl Sabang. Jumlah dana nasabah yang kini dipegang oleh Bank Mandiri saat itu berupa deposito sebesar Rp 140 triliun, tabungan Rp 9 triliun, dan giro sebesar Rp 19 triliun.

Sumber: Republika

Advertisements

One thought on “Proses Penggabungan Bank BUMN menjadi Bank Mandiri

  1. Walau sempat ragu dengan kinerja bank terlikuidasi namun Bank mandiri membuktikan sebagai bank terbesar dengan layanan yang baik, semoga makin meningkatkan layanan perbankan dan kemudahan bagi nasabah..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s