parenting

Membawa Anak dalam Perjalanan

Ini catatan saya sepanjang perjalanan Yogyakarta-Jakarta dengan kereta ekonomi kemarin. Sedikit belajar parenting walaupun saya belum punya anak.

Ceritanya, saya mendapat tempat duduk berhadap-hadapan dengan komposisi tiga-tiga. Satu kursi untuk tiga orang. Ketika saya datang, sudah ada seorang perempuan muda berjilbab yang tampak cuek melihat ke luar jendela. Ada juga satu keluarga, terdiri dari orang tua dan dua anak kecil. Satu anak duduk diam di dekat jendela, sementara yang lain terus berontak ingin berlari sepanjang lorong. Perempuan di dekat jendela tampak terganggu. Saya juga bersiap menghadapi rasa tidak nyaman serupa.

Dari ngobrol sekilas dengan sang ibu, ternyata si anak berontak ini punya gangguan keterlambatan bicara. Ia tidak menyebut secara spesifik jenis gangguannya apa.

Si anak tampak tak mau diam. Sebentar berontak, sebentar membaik, sebentar kemudian menangis. Ketika menangis, si ibu menciumi anak itu sambil mengucapkan kata-kata sayang, lalu si anak kembali tenang.

Sepanjang perjalanan saya merasa tidak nyaman dengan polah tingkah anak ini. Dia terus berpindah dari satu kursi ke kursi lain, meminta sang kakak bertukar posisi. Tentu saja ini membuat si kakak cemburu dan tidak terima. Orang tuanya tampak tak ingin membuat keributan, sehingga cenderung menuruti keinginan anak-anak mereka, sementara si kakak seringkali mengalah walau tidak terima.

Oh iya, awalnya saya kira anak dengan gangguan bicara itu laki-laki. Setelah saya amati, ada bekas lubang anting di telinganya. Anak ini perempuan, berusia lima tahun, belum bisa bicara dan belum sekolah. Selain wajah dan potongan rambutnya yang seperti laki-laki, anak ini diberi nama Hanafi. Entah kenapa orang tuanya memberi nama itu.

Selain berpindah-pindah tempat, Hanafi duduk dan berdiri di kursi tanpa melepas sepatu. Kadang sepatunya mampir ke celana atau tas saya. Orang tuanya kadang kewalahan menuruti atau melarang si anak. Daripada bête, sesekali saya ikut turun tangan menangani Hanafi. Daripada membuat penumpang lain tidak nyaman dan saya sendiri jadi tidak bisa menikmati perjalanan.

Ini pengamatan saya tentang Hanafi. Seperti kebanyakan anak dengan kebutuhan khusus, Hanafi cenderung dipandang sebagai ‘pembuat masalah’. Beberapa kali orang tuanya menyebut Hanafi nakal, walaupun saya tahu mereka sangat menyayangi Hanafi. Ini tampak dari cara si ibu memperlakukan Hanafi penuh kasih sayang ketika sang anak menangis.

Menurut saya, Hanafi sebenarnya tidak sedang membuat masalah. Dia juga tidak nakal. Seperti umumnya anak berkebutuhan khusus, ia mempunyai daya fokus (attention span) lebih pendek daripada anak-anak lain. Ini membuat dia cepat bosan. Tak heran, hanya beberapa menit setelah bermain telepon selular milik ayahnya, Hanafi sudah ‘rewel’ lagi.

Hanafi tampak sangat aktif dan suka ‘berakting’. Ketika memegang ponsel, ia tampak berpura-pura menelpon, lalu berfoto selfi. Ibunya bilang, Hanafi tidak suka belajar. “Kalau menonton sinetron betah banget, Mbak.”

Hanafi membutuhkan beragam aktivitas. Hal itu yang menurut saya tidak dipersiapkan oleh kedua orang tuanya. Ketika memutuskan membawa anak dalam perjalanan jauh (perjalanan kemarin sembilan jam), anak tidak hanya membutuhkan makanan, minuman, dan baju hangat. Sedikit mainan atau aktivitas perlu dipersiapkan.

Ketika dia merengek dan mencoba berlari ke lorong misalnya, orang tuanya hanya fokus pada keinginan Hanafi berlari. Akhirnya, respon yang diberikan adalah mencegah dan melarang. Padahal, seharusnya orang tuanya dapat mengalihkan perhatian. Orang tua yang menjadi driver. Saya mencoba peruntungan dengan mengajak Hanafi ngobrol. Saya ajak dia berhitung dengan jari-jari. Ayahnya bilang, Hanafi tidak suka diajari. Ia seakan yakin Hanafi tidak mempan dengan ajakan seperti itu.

Yang terjadi pada Hanafi justru sebaliknya. Walau ia tidak bisa menirukan saya bicara (karena dia memang belum bisa), ia menunjukkan perhatian. Ia berusaha meniru gerakan tangan saya, walau belum bisa. Ia juga menyentuh tangan saya untuk merasakan ‘1 jari’, ‘2 jari’, dan seterusnya. Ia lalu duduk di sebelah saya sambil sesekali menempel manja.

Belajar berhitung tidak berlangsung lama. Hanafi terlihat bosan. Ia lalu mencari kegiatan lain. Kadang ia duduk dengan orang tuanya, kadang meminta keluar. Ketika ia ‘berontak’  dan mulai ‘ribut’ lagi, saya sempat mengeluarkan kertas dan pulpen. Saya ajak Hanafi membuat lingkaran. Ia tampak menekuni sekali kegiatan ini. Ia bertahan dengan kegiatan ini cukup lama. Hal lain yang menurut saya perlu dilakukan orang tua Hanafi adalah mengajak dia mengobrol dan bercerita sebanyak-banyaknya.

Dari cerita perjalanan semalam, saya sedikit belajar tentang parenting, terutama ketika memutuskan membawa anak dalam perjalanan. Pertama, pahami karakter anak. Kebiasaan apa yang kemungkinan akan mengganggu si anak atau mengganggu orang lain selama perjalanan. Misalnya, apakah anak termasuk aktif dan tidak mau diam? Apakah anak akan terus merasa lapar? Apakah anak suka berteriak-teriak? Berikan pesan kepada anak sebelum melakukan perjalanan. Walaupun anak akan tetap berisik atau berkeliaran, sudah dari sononya anak ditakdirkan senang membuat bangga orang tuanya. Jadi anak pasti akan berusaha sedikit mengerem kebiasaannya. Berikan penghargaan ketika anak tampak berusaha melakukan pesan orang tuanya.

Dengan mengetahui karakter anak, orang tua juga bisa mempersiapkan segala antisipasinya. Misalnya anak sangat aktif dan tidak bisa diam, siapkan berbagai aktivitas. Selipkan buku bacaan, kartu mainan, kertas kosong dan alat tulis, atau barang-barang yang simpel dan tidak merepotkan sebagai mainan.

Kedua, jadikan perjalanan sebagai ajang belajar. Ajarkan anak tentang tatakrama dalam perjalanan, bagaimana harus bersikap kepada orang lain, kenalkan hal-hal baru yang ia temui di jalan, dan sebagainya.

Ketiga, jangan fokus pada kesalahan anak, lalu terjebak mengatai anak nakal. Terkadang orang tua yang kurang bisa memahami keinginan anak atau kurang kreatif dalam mengambil hati atau perhatian mereka.

Keempat, kreatif. Segala sesuatu dalam perjalanan adalah hal baru. Orang tua dapat memperkenalkan banyak hal pada anak dengan cara kreatif.

Bagi kita-kita yang bukan orang tua dari anak yang bersangkutan, maklum adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Walaupun kesal celananya dicap-cap sepatu, bajunya dicoret, terkena ‘ences’, dan sebagainya, sabar saja dan berusaha menikmati perjalanan. Hehe..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s