islam · opini

Ubah Perspektif dan Rasakan Hasilnya

Pekan lalu saya mampir ke kantor salah seorang teman. Saya ingin meliput kegiatan pengajian di kantor itu. Lewat teman, saya bertemu dengan ketua komunitas Muslim di sana. Karena katanya ‘ada beberapa hal yang harus disampaikan’, saya pun membuat janji temu terlebih dahulu sebelum hari-H liputan.

Di awal pertemuan itu, dia mulai bercerita, “Begini kondisi kantor kami. Perusahaan kami memang besar. Tapi mungkin Mbak Handa juga sudah tahu, kantor ini kan milik Yahudi. Produk-produk yang dijual juga produk Yahudi. Kebijakan-kebijakan yang dibuat pun umumnya pro Yahudi. Kami memang ada kajian setiap pekan. Jadi pengajian-pengajian seperti itu tidak dilarang. Tapi kalau masalah publikasi memang ketat sekali.”

“Ketatnya seperti apa, Mas?”

Muncullah serangkaian cerita. Konon, dulu komunitas Muslim di kantor ini sempat berkembang dengan baik. Mereka punya kerjasama sangat baik dengan salah satu majalah yang (menurut saya) cukup keras. Mereka mempunyai banyak slot untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan mereka.

Suatu hari, pihak kantor mengetahui kerjasama ini dan memberikan surat peringatan kepada si Mas. Intinya dia ditegur karena pencantuman nama perusahaan di majalah tersebut.

Cerita mulai berjalan agak aneh. Si Mas mengatakan, perusahaan mereka sangat ketat dalam perkara pencantuman nama perusahaan. Mereka dilarang memasang nama kantor pada biodata media sosial.

Untuk mengakali ini, si Mas bilang, mereka masih bisa bekerjasama dengan beberapa lembaga filantropi dengan membuat nama komunitas dan ikon tersendiri. Nama perusahaan benar-benar disamarkan.

“Jadi kalau saya mau menulis tentang kajian nanti, saya harus menuliskan seperti apa?” tanya saya.

“Biasanya kami minta ditulis Keluarga Muslim ABCD.”

“Tapi ABCD kan nama perusahaan juga? Nggak papa?”

“Kalau itu nggak papa. Yang penting jangan menyebut PT EFGH.”

“OK. Tapi gini mas, dalam penulisan umumnya kan kalau ada singkatan, kami harus menuliskan dulu singkatan itu terdiri dari kata apa saja. Otomatis kan akan keluar juga nama itu?”

“Gitu ya? Berarti mungkin gini mbak, kalau pencantuman nama itu sebenarnya harus melalui korkom. Jadi kalau nanti saya hubungkan ke korkom dulu bagaimana?”

Saya sepakat. Sebenarnya saya malas berurusan dengan humas kantor. Masalahnya bukan apa-apa, beberapa kantor terkadang punya birokrasi yang cukup ribet sehingga kami butuh waktu lama hanya untuk proses approval. Padahal kami bekerja dengan deadline. Tapi, saya sepakat.

Dia tampak masih bingung mencari alasan agar bisa mendapatkan approval. Saya membaca ada ketakutan dan kekhawatiran dalam kata-katanya. Tapi saya merasa tidak ada yang salah dengan meliput kegiatan kajian di kantor, jadi saya lanjut saja.

Si Mas memang menceritakan, perusahaan ini sempat punya kebijakan yang nggak pro dengan Muslim. Dia pernah masuk dalam tim perekrutan karyawan. Dia bilang, dengan kualifikasi yang sama, pasti nonmuslim yang lebih diutamakan. Masalah jilbab juga, walaupun tidak dilarang, namun perusahaan tidak mendukung.

“Tapi saya beruntung karena di divisi saya itu hampir semuanya berjilbab. Hanya satu yang nggak berjilbab, itu juga karena dia nonmuslim.”

Saya tidak menyangsikan adanya praktik-praktik yang tidak pro-Muslim, terutama sebelum masa reformasi. Zaman dulu saya sering mendengar ada larangan berjilbab untuk karyawan nonmuslim. Dan orang berjilbab kadang suka dicurigai, katanya.

Tapi ada sesuatu yang janggal menurut saya. Pertama, di perusahaan yang dikuasai nonmuslim, adalah hal yang wajar mereka mengutamakan untuk menerima karyawan nonmuslim. Ini juga terjadi di kantor-kantor Muslim. Kantor yang berbau agama Islam, pasti akan berusaha memagari agar karyawannya Muslim. Maka kalau memang kantor itu didominasi kekuatan nonmuslim, itu wajar terjadi.

Lalu soal jilbab, maaf saja, sepanjang saya memasuki kantor itu, saya menemukan satpam berjilbab. Teman saya juga berjilbab. Ditambah dia bilang, satu divisi tempat dia bekerja hampir semua perempuannya pakai jilbab. sepertinya kantor itu wajar saja.

Saya mengira, ada sesuatu yang salah dipahami oleh si Mas di depan saya itu. Kesalahan persepsi barangkali. Ada phobia. Ada kecurigaan. Ada counter dari dalam dirinya dalam melihat perusahaan tempat ia bekerja. Ini terlihat sekali waktu dia bilang, “Kami sudah memutuskan, kami akan melawan.”

Ketidakberesan itu semakin kuat saya rasakan ketika dia menceritakan, kantor itu mengawasi siapa saja yang akan mengisi ceramah. Isi ceramah juga hendaknya bersifat universal. Namun, dia kadang diam-diam mengakali dengan mempersingkat CV penceramah. Dia bangga pernah satu kali berhasil memasukkan narasumber dari kelompok F*I.

Saya paham masalahnya.

Saya mencoba masuk pelan-pelan. Menurut saya, barangkali ini bukan tentang publikasinya. Majalah yang dulu bekerjasama dengan dia adalah majalah kelompok Islam garis keras. Dia berafiliasi pada satu kelompok tertentu. Bagi sesama Muslim saja, ini bisa menjadi masalah, apalagi bagi ‘kantor Yahudi’.

Kebijakan untuk melarang karyawan memasang nama perusahaan di akun media sosial sebenarnya juga sesuatu yang wajar. Perspektifnya seperti ini. perusahaan tidak mau kecolongan dipermalukan atau mendapat masalah karena ulah pribadi karyawan. Saya sendiri merasa, kalau bisa dalam mengeluarkan statemen-statemen saya tidak mencantumkan nama kantor. Karena itu, saya dulu sempat menuliskan nama perusahaan di profil fb saya, namun sekarang saya hapus. Ketika saya berkomentar tentang apapun, saya berbicara sebagai H, bukan karyawan dari perusahaan saya.

Saya punya satu akun lagi dan di situ saya mencantumkan nama perusahaan. Akun ini saya pakai untuk urusan kerjaan, untuk mencari tahu agenda, untuk menjalin hubungan dengan narasumber, dan sebagainya. Di akun ini saya mencoba untuk tidak mengeluarkan opini yang bisa membuat buruk citra perusahaan.

Tentang pengaturan pemateri dan materi kajian, ini menurut saya juga wajar. Perusahaan itu adalah perusahaan umum, bukan perusahaan bernuansa Muslim. Maka iklim yang diharapkan juga iklim yang tanpa embel-embel agama. Ini urusan bisnis. Ini tidak hanya terjadi di kantor itu saja, dan bukan karena Islam.

Di salah satu perusahaan yang pernah saya tangani bersama tim, saya melihat perusahaan itu sangat terbuka dan mendukung kegiatan keagamaan. Kantornya punya masjid yang sangat bagus dan luas, dengan karpet yang tebal dan selalu bersih, mukena tidak pernah kotor, ada Alquran, dan sebagainya. Kantor ini punya lembaga zakat sendiri dengan total dana dihimpun hingga puluhan miliar. Bahkan, pembenahan kerohanian (baik Islam maupun agama lain) masuk dalam satu dari tiga pilar yang diyakini membawa kesuksesan perusahaan.

Namun, perusahaan ini juga memberikan filter dalam urusan pengurusan masjid, pemateri, dan materi yang diberikan. Dia bahkan menandatangani MoU khusus dengan salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas Islam), agar ormas ini membantu memberikan rekomendasi dalam urusan-urusan agama. Termasuk rekomendasi penceramah dan tempat untuk menyalurkan bantuan.

Upaya ini penting untuk menjaga iklim di kantor. Selain itu, ini juga bisa menjaga kantor dari berbagai isu yang bisa mengancam stabilitas, misal masuknya paham-paham tertentu. Justru buat saya, ini adalah salah satu bentuk kepedulian kantor terhadap kegiatan agama di kantornya.

Saya mengatakan, media saya cukup moderat dan universal. Kami mewadahi semua ormas atau kelompok yang ada, tidak memasukkan kelompok yang terlalu kiri atau terlalu kanan. kami di tengah-tengah. Nama media ini juga dikenal secara nasional, diakui tidak hanya oleh Muslim tapi juga nonmuslim. Kami tidak berafiliasi pada satu kelompok tertentu. Karena itu sebenarnya kami aman.

Perusahaan mendapatkan kepentingan dengan adanya publikasi ini. Ini semacam pengumuman dari kantor yang bersangkutan bahwa perusahaan mewadahi dan memenuhi kebutuhan ruhani karyawan. Ini menimbulkan simpati bagi pelanggan dari kalangan Muslim. Ini juga membawa kabar baik dalam proses perekrutan karyawan. Artinya, calon pegawai yang Muslim tidak perlu khawatir dengan urusan agama.

“Oh gitu, jadi mungkin nanti saya sampaikan seperti itu aja ya, Mbak Handa. Bahwa media ini sifatnya universal.”

“Iya.”

Perbincangan selesai. Saya tinggal menunggu kabar. Sekitar seminggu kemudian, dia menghubungi saya lagi. Dia bilang, Alhamdulillah perusahaan memberikan izin penuh bagi saya untuk melakukan peliputan, pencantuman nama, dan pendokumentasian kegiatan pengajian kantor.

Kan, mana mungkin ditolak wong kantor diuntungkan.

Buat saya ini perkara perspektif karyawan, perspektif sebagian aktivis Muslim. Sudah muncul counter untuk menolak segala jenis yang berbau Yahudi. Muncul kecurigaan dan kegelisahan, sehingga ini terkadang menyebabkan kita tidak bisa berpikir objektif.

Kita mengecam Islamophobia yang terjadi di luar negeri, tapi kita sendiri secara tidak sadar mulai mengarah pada pemikiran atau tindakan yang sama.

Kalau kita mau positive thinking dan berpikir objektif, saya pikir sebenarnya kasus-kasus seperti yang dikhawatirkan si Mas ini terjadi tapi peluangnya kecil. Yang ada adalah ketidaksepahaman, ketidakmampuan mengomunikasikan, dan sejenisnya. Karena tidak terjadi komunikasi yang baik, timbul kecurigaan, kewaspadaan, bahkan kebencian seperti yang sudah saya sebutkan.

Coba pikir, kantor itu adalah perusahaan multinasional. Setiap tahun dia merekrut karyawan unggulan. Mereka yang bisa bekerja di situ adalah karyawan-karyawan pilihan. Apa jadinya jika karyawan itu mendapat perlakuan tidak adil? Tentu akan terjadi perlawanan.

Tapi ternyata perlawanan tidak ada. Artinya bisa jadi mereka tidak mampu atau tidak mau melawan, tapi bisa juga berarti pemikiran kita yang salah. salah persepsi. Salah dalam menangkap perspektif perusahaan.

Akhir kata, saya tidak pernah bosan untuk mengatakan ayo rombak pemikiran. Jangan buat mental blocking yang tidak perlu. Jangan pupuk rasa curiga dan kebencian. Ayo buat dunia ini menjadi tempat aman untuk kita hidup. Jangan penuhi dengan kebencian dan kecurigaan. Saling komunikasi, saling memahami, saling mengenal akan membuat perspektif kita lebih kaya dan lebih baik lagi.

Satu lagi, jika Anda memutuskan untuk menjadi pengikut pemahaman garis keras, Anda merasa apa yang Anda inginkan tidak dapat diperoleh di perusahaan Yahudi, maka jangan bekerja di kantor Yahudi. Bekerjalah di organisasi atau perusahaan berbau Islam yang akan memenuhi kebutuhan Anda dengan baik. Saya pikir itu lebih baik dan lebih menyehatkan.

*tulisan ini pernah saya unggah dengan format yang berbeda dan cenderung lebih kasar. Soalnya kejadiannya waktu itu masih anget dan saya agak gemes dengan si Mas. Tulisan ini saya tulis dan bahasakan kembali dengan lebih adem

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s