diari

Dunia Sempit

Pertengahan Maret 2014 saya hengkang ke Jakarta. Agak galau sih karena ini pertama kalinya saya merantau sendirian. Seliar-liarnya saya muter-muter Jogja (tapi tetap nggak apal-apal juga), juga adalah anak rumahan yang jarang ke luar kota.

Tapi, bumi Tuhan yang maha luas ini rupanya cukup sempit juga. Di Jakarta, beberapa kali saya secara tidak sengaja bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya sudah saya kenal, dengan cara yang tak terduga.

Ceritanya waktu itu saya baru lulus. Saya ditawari bekerja oleh direktur internal sebuah LSM di Jogja. Saya belum mengiyakan, masih mikir-mikir, karena saya juga sedang menjalani tes di tempat saya bekerja sekarang. Tiba-tiba saya diminta hadir di salah satu pelatihan mewakili LSM tersebut, bersama penanggung jawab program yang katanya bakal jadi atasan saya.

Jadilah saya datang ke acara tersebut. Tapi saya agak dilema karena saya telah memasuki tahap dua seleksi di kantor saya sekarang. Akhirnya, di hari kedua pelatihan, saya bicara dan meminta pertimbangan penanggung jawab program ini. Katanya, nggak usah bilang dulu ke mas dir, tes dulu aja. Nanti kalau lolos, baru bilang. Nahloh, aku diajarin gitu loh, hihi…

Ketika akhirnya diterima, penanggung jawab program ini bilang, dia punya teman di kantor baru saya. Dia memberikan kontak orang itu agar saya tidak merasa sendiri ketika pertama kali bekerja di Jakarta. Saya pun mengontak orang ini. Rasanya saya tidak asing dengan namanya. Kami akhirnya bertemu dan nonton sepakbola bareng. (Ceritanya ketika awal masuk kantor ini saya punya prinsip harus bisa menguasai pengetahuan di segala bidang walaupun sedikit-sedikit. Jadilah saya ikut nobar dan meminta dia menjelaskan tentang dunia persepakbolaan).

Selesai nonton akhirnya saya mengecek kebenaran feeling saya. “Kayanya kok kita pernah kenalan ya?”

Dia lalu mengecek facebooknya. Benar, kami pernah berkenalan via facebook sekitar empat tahun sebelum pertemuan hari itu. Dia, katanya, sering melihat saya di LSM yang saya sebut di awal tadi. Lalu dia meng-add saya di Facebook. Saya yang melihat kami punya banyak mutual friend akhirnya menerima pertemanan dan kami pun saling berkenalan.

Agak-agak mengejutkan. Kami akhirnya dipertemukan di situ (ecieh).

Nah, sewaktu SMK, saya juga berkenalan dengan salah seorang mahasiswa al azhar, cairo via media sosial. Bisa dibilang orang ini teman diskusi maya saya. Dia lulus dari Kairo, menikah, lalu kami lama tidak pernah kontak. Suatu hari saya melihat dalam profil facebooknya, ternyata dia juga bekerja sekantor dengan saya. Namun, selama itu kami tidak pernah kontak. Beberapa bulan lalu akhirnya kami satu desk. Yuhuu… dunia lagi-lagi sempit.

Nah, lagi nih. Suatu hari saya ditugaskan meliput demonstrasi menunggu keputusan MK paskapilpres 2014. Puluhan ribu orang dari kubu Pbw (you-know-who) memenuhi Bundaran HI sampai Monas. Di antara puluhan ribu orang itu, di kondisi yang panas ngenthang-ngenthang, tiba-tiba terdengar dua letusan. Suasana agak memanas. Saya melihat seorang mirip wartawan, lalu akhirnya menyapa. (Sesama wartawan di lapangan seperti saudara, jadi kalau tahu itu wartawan kadang kami bisa saling bertanya tanpa berkenalan).

“Sumbernya dari mana sih?”

“Dari sana kayanya. Tapi katanya gas air mata.”

“Mau lihat?”

“Mau ke sana?”

“Ya udah ayo.”

Kami jalan bersama ke sumber suara (dan tidak ketemu), tapi akhirnya kami tahu itu gas air mata yang (tidak sengaja) terjatuh, terbuka, menimbulkan suara letusan, lalu memancing emosi dan menimbulkan keributan.

Kami kembali ke posisi semula dan baru berkenalan. Ternyata kami sama-sama dari Jogja. Ternyata sama-sama anak Persma. Ternyata dia dari Ekon. Oh, ok, fine. Dunia memang sempit. Bahkan di antara puluhan ribu orang, Tuhan punya cara mempertemukan orang.

Selanjutnya, saya ditugaskan ke Kepulauan Seribu. Waktu itu ada liputan dari YLKI. Hanya ada tiga media di sana. Saya, dua orang lagi dari Gatra dan Kompas.com.  Awalnya kami tidak saling mengenal. Sampai di lokasi, di tengah acara, kami akhirnya saling berkenalan. Karena Kepulauan Seribu itu sangat indah, sayang kalau tidak jalan-jalan sekalian. Kami diberi waktu jalan-jalan selama 1,5 jam. Kami wawancara dan sempat berfoto bertiga.

Saya mengunggah salah satu foto kami di medsos, lalu Tommy, teman saya berkomentar. Sama si Afwan Fathul Barry (sambil menge-tag anak itu). Anak persma bersatu tak bisa dikalahkan, kata Tommy. Yaelah, anak situ-situ juga ternyata.

Lagi, saya ditugaskan meliput acara dari salah satu lembaga pemerintah yang namanya ribet (hehe). Di tengah liputan, saya mencari salah seorang senior saya yang katanya sedang sholat di mushola. Dalam perjalanan itu saya berpapasan dengan seorang perempuan. Pandangan mata yang hanya beberapa detik itu menggambarkan seolah si cewek kenal dengan saya, tapi karena saya lupa, saya pun berlalu begitu saja. Dia juga.

Kami bertemu lagi di tempat wudhu. Dia menyapa saya. Ternyata, dia adalah anak yang seharusnya lolos seleksi bersama di kantor ini. Kami sempat bertemu, ngobrol, dan makan bareng, setelah itu dia memutuskan tidak menerima tawaran di kantor saya karena aturan tidak boleh menikah selama satu tahun. Kami tidak pernah kontak lagi setelah pertemuan di kantor biro Jogja hari itu. Dia mendaftar di salah satu program di lembaga tempat saya liputan. Dan dia bertemu dengan saya, hihi…

Lagi, teman kantor yang saya ceritakan di awal akhirnya resign dan pindah ke Australia menemani istrinya yang sedang studi di sana. Kami masih kontak via Facebook. Suatu hari, dia saling berkirim pesan dengan salah satu teman saya di persma. Saya berpikir darimana mereka saling kenal? Ternyata anak persma ini juga sedang di Aussie. Suatu hari saya iseng mengomentari percakapan mereka berdua. Teman saya juga bertanya bagaimana kami saling kenal. Yah, bisa dong. Tuhan punya kuasa mempertemukan.

Lalu teman di Aussie itu iseng bilang ke saya, “Kamu mau nggak aku kenalin sama anak UGM? Dia sekarang kerja di sini situ.”

“Siapa namanya?”

“Namanya Agus (samaran)”

Saya sebenarnya tidak suka dikenal-kenalkan dengan orang yang tidak saya kenal. Tapi mendengar namanya saya jadi ingin tahu apakah orang itu sama dengan yang saya kenal?

“Nama lengkapnya siapa?”

“Agus Hadi. (samaran)”

“Agus Mulyo Hadi? (samaran)”

“Hooh kuwi”

Ahelah, lagi-lagi dunia sempit. Orang yang dimaksud teman saya adalah kakak kelas beda kampus yang sudah saya kenal sejak SMK. Kami dulu bergabung dalam satu organisasi kepenulisan. Saya masuk kategori SMA/SMK/MA, sementara dia masuk kategori mahasiswa. Kami sempat beberapa kali ngobrol, lalu kami tidak pernah kontak selama…mungkin hampir 10 tahun.

Nah, cerita yang terakhir, saya liputan di salah satu acara lembaga philantrophy. Acara digelar di salah satu rumah makan di bilangan Cikini. Saya tidak kenal satu pun wartawan di sana, lalu saya mendekati meja dengan satu orang wanita. Dia tersenyum, saya juga. Kami berkenalan sekilas.

Tak lama, seorang laki-laki ke meja kami dan langsung menyalami saya. Kami berkenalan lagi. Si cewek dengan orang ini sudah saling kenal.

“Mana si Ucok?”

“Masih di bawah.”

“Ngapain sih? Belum selesai dia ngerokoknya?”

“Udah, tapi lagi deketin cewek tuh.”

“Hahaha, dasar.”

“Hahaha, tadi kan udah selesai ya ngerokoknya. Trus ada cewek nanya korek. Gw bilang, kece tuh. Eh padahal udah mau naik, dia nggak jadi, nyalain rokok lagi. Dideketin, udah dapet namanya aja.”

“Hahaha, dasar grecep emang tu anak.”

“Gua yakin dah bentar lagi pasti udah dapat nomornya.”

Taraaa, tak sampai 10 menit, datanglah si cowok genit yang mereka ceritakan, duduk di antara kami. Dia langsung jadi bahan bully. Benar saja, cowok itu sudah dapat nomor cewek yang dimaksud. Saya yang belum kenal dengan mereka cuma bisa ikut ketawa-ketawa.

“Mbaknya, anak media R ya?”

Nahloh dia tahu. “Iya. Masnya dari mana?”

“Saya dari media D. Saya punya kenalan di sana, namanya X.”

“Lhah itu aku.”

“Kita udah pernah ketemu dong.”

“Hah? Ketemu di mana emang?” *sambil mengingat-ingat semua kemungkinan cowok yang pernah ditemui di tempat liputan, nggak ada.

“Dulu aku kan pernah daftar media R juga, kalau nggak salah kita seangkatan.”

*mengingat-ingat cowok seangkatan yang mukanya seperti dia, tidak ada. “Emang masnya namanya siapa?”

“Ucok.”

“Oooalaaahh kamu.”

Iya, kami pernah seleksi bersama, sama-sama diterima, sama-sama bertemu di Jakarta. Lalu dia mendadak tidak melanjutkan pelatihan karena mendapat panggilan proyek dari UGM. Kami cepat berkenalan dan saling akrab, termasuk dengan dua orang yang sudah duluan berkenalan dengan saya. kami bertukar nomor dan akhirnya membentuk grup baru untuk saling bertukar informasi liputan.

“Eh tadi siapa nama kamu?” tanyaku ketika mau menyimpan nomor cewek yang saya temui pertama kali.

“Lukita.”

Kaya pernah dengar nama Lukita di salah satu grup yang ada di hp. Ah tapi orang dengan nama Lukita kan banyak, jadi saya skip tentang itu. Eh, ternyata benar dia adalah lukita yang ada di salah satu grup. Kami baru bertemu setelah liputan hari itu.

See, dunia sempit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s