PMS

Pre-menstruation syndrome atau sindrom pra-menstruasi itu seperti apa sih? Tenang, tulisan ini tidak akan membicarakan secara detail tentang apa itu menstruasi dan bagaimana PMS. Saya hanya akan sharing pengalaman tentang PMS. Sharing pengalaman tentang PMS ya, bukan bagaimana mengatasi PMS. Kalau soal itu saya nggak tahu, sumprit!

I get my first period when I was 13 yo. Rasanya gimana? Biasa saja. Soalnya ketika di TPA kita sudah mendapatkan pelajaran tentang apa itu menstruasi, termasuk lamanya masa menstruasi. Film-film zaman dulu juga cukup mendidik. Saya ingat belajar tentang menstruasi dari salah satu episode Keluarga Cemara.

Nah, yang bikin akhirnya ‘pecah’ nangis waktu itu adalah pernyataan emak saya. Setahu saya, dari materi CCA waktu TPA, menstruasi paling sebentar itu satu hari dan paling lama terjadi selama 15 hari. But my mom said it should be only 7 days. If it is more than 7 days, it is abnormal. Setelah hari ke tujuh, menstruasi saya berhenti. Saya lega dan ketika itu saya sholat. But suddenly, in the mid of my pray, I got my period (again). It hasn’t stopped. I think something bad happened to me. Mungkin semacam pendarahan, mungkin saya punya kelainan, saya tidak tahu kapan akan berhenti, dan itu menakutkan.

How does my Dad respond to it? Beliau merasa aneh dan..marah, menggerutu, entah apa istilah yang tepat. Bagi Ayah saya, yang punya istri dan tiga anak perempuan lainnya, seorang perempuan seharusnya tidak takut menghadapi yang demikian itu. Karena yang demikian itu adalah fitrah, sudah pasti terjadi pada setiap perempuan. Ya, begitulah teori seorang pria. Seberapa pun banyaknya yang diketahui tentang menstruasi dan PMS, they never know exactly how it feels. Dan itu bisa diterima karena mereka tidak pernah merasakan darah tiba-tiba keluar dalam jumlah banyak, itu belum pernah terjadi sebelumnya, dalam kondisi tidak sakit. Menyeramkan kan? Yuhuu..

Saya baru kalem kembali ketika kakak pertama saya yang seperti dewi baik hati mengingatkan, “Kamu kan kemarin ikut CCA. Kan udah dijelaskan kalau normalnya maksimal itu 15 hari.”

Di awal-awal masa menstruasi, ketika masih SMP, satu-satunya masalah yang saya hadapi menjelang ‘dapet’ hanya sakit perut. Sakit perut melilit dua hari sebelum menstruasi, dan berlanjut hingga 3 hari setelahnya. Sekitar lima hari lah. Rasanya mirip sakit maag. Kembung dan melilit, perut rasanya membuncit. Itu saja.

Itu saja rasanya sudah menyiksa. Tapi ketika saya kelas 3 SMP, seorang teman pingsan karena PMS. Kram perut katanya. Dan itu terjadi hampir setiap kali dia menstruasi. Wow… Saya jadi merasa harus bersyukur.

Ketika SMK, saya memasuki sekolah yang didominasi oleh kaum hawa. Kami jadi sering mendapatkan wejangan khusus perempuan dari para guru, misalnya bagaimana perkara tetek bengek perkamarmandian yang harus diperhatikan perempuan, perkara menstruasi, hamil, melahirkan, dan sebagainya.

Nah, suatu hari, salah satu guru SMK menceritakan, “Saya kalau PMS sekarang ini sudah nggak sakit. Masalahnya cuma satu, emosi. Saya sulit mengontrol emosi kalau lagi PMS. Sampai sekarang.”

Usia si ibu ketika itu saya perkirakan sudah di atas 40 tahun. Buat saya aneh, seorang ibu di atas 40 tahun masih sulit mengatur emosinya. Dalam hati saya mikir, ada ya orang kaya gitu karena PMS? Saya lagi-lagi harus bersyukur tidak merasakan yang seperti itu.

Ketika kelas 3 SMK, saya merasakan gejala PMS yang saya alami mulai berubah. Saya tidak lagi merasakan sakit perut hingga berhari-hari. Hanya sekitar tiga hari saja. Suatu hari, di kelas, saya becanda dengan seorang teman. Teman ini menyebut tentang orang tua. Saya, dengan songongnya menunjuk ke mukanya dengan jari telunjuk, dan bilang, “Heh, kamu kalau becanda nggak usah bawa-bawa orang tua ya.”

Teman saya terlihat bingung namun mencoba tertawa. “Kamu kenapa e, Han?”

Di detik itu juga saya sendiri bingung. Kalau dibahasakan secara orang Jakarta sekarang, mungkin dalam hati saya sudah bilang, “Heh, selow meen..lu kenapa sih? Biasa aja dong.”

Iya. Saya kenapa sih? Gitu kira-kira dalam hati saya bilang. Baru saya menyadari bahwa hari itu saya sedang ‘dapet’, dan saya mulai mengalami apa yang guru saya rasakan. Ada emosi yang tiba-tiba muncul, kadang tanpa disadari.

Ketika kuliah, gejala ini masih berlangsung dan cenderung merutin. Gimana ya rasanya? Saya tidak lagi merasakan sakit ketika PMS. Rasanya biasa saja. Tidak ada lagi rasa perih melilit seperti dulu. Yang ada hanya emosi-emosi tidak jelas yang sulit dikendalikan.

Permasalahannya adalah, masa emosi tidak jelas ini muncul sekitar sepekan sampai dua pekan sebelum menstruasi. Jadi kalau total sebulan itu ada empat pekan, maka dua pekannya adalah masa emosi tidak jelas dan sepekan lainnya adalah masa menstruasi. Masa yang benar-benar normal hanya sepekan. Repot kan? Saya sendiri tidak tahu bagaimana mengatasinya.

Dalam kondisi tidak PMS, saya bisa sangat selow. Saya bisa menunggu orang berjam-jam dengan santai dan tetap tersenyum ketika orang itu datang. Ketika orang lain tersulut emosinya, saya bisa mengingatkan orang itu untuk bersabar. Tapi dalam masa PMS, saya bisa meladeni perdebatan tidak penting sekalipun. Gawat!

Suatu hari, my ex, mungkin karena lelah menghadapi kelabilan emosi saya, akhirnya berkata dengan sabarnya, “Saya tahu kamu PMS, tapi kamu kan sudah dewasa. Kamu sudah menghadapi itu bertahun-tahun. Seharusnya kamu sudah bisa mengendalikannya.”

I tried to, im still trying to, until now. Tapi setelah bertahun-tahun saya sadar, menghadapi PMS berbeda dengan belajar berkomunikasi. Saya bisa belajar berkomunikasi, belajar terbuka dengan orang lain. Mengendalikan emosi ketika dalam kondisi normal juga bisa dipelajari. Tapi untuk menata emosi (ketika PMS), ada masa yang benar-benar di luar kendali. Gejala PMS juga berubah seiring dengan usia dan berbeda dari satu orang dengan orang lainnya.

Saya tidak tahu apakah emosi itu muncul sepenuhnya karena peningkatan hormon, sehingga kesannya sulit dikendalikan. Yang saya rasakan, akhir-akhir ini, saya tahu ketika saya sudah mulai sering marah atau tersinggung untuk hal-hal sepele yang tidak rasional, artinya satu atau dua pekan berikutnya saya akan ‘dapet’.

Tapi, walaupun sadar, itu kadang tidak membantu sama sekali. Saya masih akan mudah marah dan tersinggung. Ketika rasa tidak nyaman itu muncul, it seems that my blood rises to my head and my brain, I stopped thinking, I stopped trying to understand the situation.  Ibaratnya, ketika terjadi masalah dalam kondisi normal, pikiran yang muncul adalah yang positif. Dalam kondisi PMS, pikiran yang muncul pertama kali adalah pikiran positif, lalu ditumpuk dengan pikiran negatif, lalu ditumpuk lagi dengan berbagai rasa tidak nyaman dan akhirnya pikiran negatif itu yang menang.

Rasa tidak nyaman yang saya maksud, bahwa orang PMS itu kondisinya memang bikin emosi. Kadang, ketika PMS saya merasakan pinggang dan panggul saya pegel. Rasanya seperti nenek-nenek boyoken. Produksi keringat meningkat, rasanya lebih pekat, dan sepertinya lebih bau (entah hanya perasaan saya atau memang begitu). Badan terasa lebih cepat lelah. Ibaratnya, dalam kondisi biasa kita dapat bekerja seharian dan tetap bugar, tapi dalam kondisi PMS kita tidak melakukan apapun, hanya tidur seharian, dan rasanya seperti bekerja seharian tanpa henti. Lelah dan butuh duduk, tidur, istirahat.

Mungkin itu juga yang memicu emosi. Tahu kan rasanya ketika seseorang kelelahan, kepanasan, keringetan, pegel-pegel? Dalam kondisi normal, ketika pegel-pegel saya bisa pergi renang. Efeknya sama seperti pijat karena seluruh tubuh jadi bergerak. Tapi saya tidak bisa renang ketika PMS. Ketika PMS kita juga kering secara spiritual. Jadi jangan coba colek kalau nggak mau kena semprot. Ya, seperti itu, kata Syahrini.

Nah, sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana mengatasi ini. Hal paling sederhana yang saya lakukan, dan mungkin juga dilakukan beberapa perempuan seusia saya adalah memberi tahu orang di sekitar bahwa I got my period, I will be a little more sensitive or maybe very sensitive, I can be very emotional, so please be ware and be patient. Jangan ambil hati ketika saya tiba-tiba marah nggak jelas, ketika kemarahan saya lebih emosional dari biasanya, dan jangan membuat hal-hal yang sekiranya akan memancing kemarahan saya.

It worked well on my ex yang urat marahnya mungkin sudah putus. Dia akan menganggap seakan-akan tidak terjadi apa-apa, seakan-akan saya tidak pernah mengucapkan apa-apa, dan akhirnya bilang, “Saya sudah hafal sama kamu. Ya kamu bisanya marah-marah aja. Tapi marahnya kamu ya cuma segitu-segitu aja. Saya nggak mau ambil hati. Lagian abis itu udah, selesai, ya udah baik lagi.”

Sampai sekarang, saya masih merasa harus bersyukur. Walaupun PMS yang aneh ini membuat emosi saya labil hampir setiap bulan, tapi saya tidak harus merasakan sakit ‘lebai’ seperti yang dialami banyak perempuan lain di luar sana. Saya tidak harus merasakan kram perut seperti teman SMP saya, tidak harus mengonsumsi obat-obat tertentu atau jamu-jamuan instant untuk mengurangi rasa sakit di perut, tidak harus minum-minuman bersoda untuk membuat menstruasi lebih lancar, dan sebagainya. Saya juga tidak harus dibawa ke rumah sakit dengan sirine karena pingsan mendadak dan hampir kejang, mati rasa di setengah badan ketika menstruasi seperti teman KKN saya.

Ya, saya dan beberapa perempuan lainnya cuma perlu lebih bersyukur atas PMS yang berwarna ini.

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s