Jangan Nginep di Kos Khusus Cewek

Suatu hari saya ngobrol dengan salah satu teman laki-laki. Dia menanyakan tempat tinggal saya di Jakarta. Ketika saya menjelaskan, dia bertanya lebih detail lagi. Dia tahu nama ibu kos saya, bahkan tahu setiap sudut di kos itu. Bahkan dia tahu tempat sejuk dengan pemandangan kurang menyegarkan di bagian atas kos kami.
Entah becanda atau sungguhan, dia mengatakan dulu sering menginap di kos itu karena punya teman di sana. Lalu, terjadi lah percakapan di bawah ini:
Dia: Nginep itu kan nggak mesti ngapa-ngapain, Mbak Han.
Saya: Iya sih. Aku juga nggak ngira kamu ngapa-ngapain. Kalau kamu ngapa-ngapain pun itu bukan urusanku juga. Tapi… em.. em..
Dia: Nggak etis ya?
Saya: Hm.. ya mungkin semacam itu.
Begini. Permasalahannya bukan sekadar akan ngapa-ngapain atau tidak. Saya tidak terlalu peduli dengan apa yang akan dilakukan teman saya atau pria manapun di kamar ketika dia menginap di kos seorang perempuan. Setiap orang punya tanggung jawab masing-masing atas diri dan perbuatannya. Selama itu tidak mengganggu privasi saya, it’s ok. Your life your rule and you take your own risk.
Tapi, saya memilih kos khusus perempuan di antara kos-kos campur yang ada di Jakarta, salah satunya untuk tetap memiliki privasi seperti di rumah sendiri. Di kos-kos khusus perempuan itu sebagian besar adalah perempuan berjilbab yang kadang butuh privasi untuk membuka jilbabnya ketika di kos. Jakarta itu panas. Kami butuh merasakan tempat tinggal kami nyaman seperti rumah sendiri.
Kebebasan itu kadang terganggu dengan adanya anggota kos yang merasa punya hak membawa pria masuk ke kos (atau ke kamar) dan adanya pria-pria yang tidak memiliki kepekaan untuk memahami hal seperti ini. Sebenarnya kami (atau minimal saya) cukup pengertian untuk menerima satu atau dua pria masuk ke ruang tamu atau kamar sekalipun, dalam waktu yang tidak lama. Tapi jika itu terjadi berjam-jam, hampir setiap hari, bahkan menginap, I’m sorry but you take a little part of my freedom, hey men..! Sebenarnya hanya itu masalahnya jika ada pria yang mau berbaik hati untuk memahami.

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s