islam · liputan · opini · Uncategorized

Emosi yang Produktif

Saya seorang yang emosional dan “kadang” emosi yang keluar tidak produktif. Jadi sebenarnya saya agak malu juga menulis tentang ini. Tapi pengalaman liputan beberapa waktu yang lalu agak menarik untuk dikenang.

Malam itu saya mendapat kiriman agenda dari redaktur untuk meliput acara dukungan untuk Syam, di salah satu masjid besar milik instansi pemerintah. Saya berangkat pagi-pagi karena ingin menghindari macet. Suasana masih sepi. Di lantai bawah, dekat tempat wudhu, ternyata panitia telah menyediakan tempat untuk konferensi pers. Sepertinya acara ini akan ramai dan diliput banyak media. Tapi kursi yang disediakan sedikit.

“Ini banyak Mbak, biasanya juga aku kalau liputan kursinya nggak sampai segini,” ujar salah satu wartawan yang baru saya temui hari itu.

Banyak ya?

Saat konferensi pers tiba. Beberapa pembicara telah datang. Dimulailah konferensi pers sembari menunggu pembicara yang lain hadir. Ustadz pertama mulai berbicara dengan nada berapi-api. Keluar kata-kata kejam, keji, laknat, seorang wartawan di sebelah saya berkali-kali mengucapkan subhanallah, astaghfirullah…

Saya baru sadar, hanya ada dua wartawan dari media mainstream di situ. Sekitar 10 lainnya adalah wartawan dari media nonmainstream (nggak enak nyebut alirannya)? Hm, Beberapa nama baru saya dengar.

Suasana liputan berbeda sekali dengan yang umum saya hadapi. Umumnya, ketika pembicara telah berbicara, semua wartawan akan tenang, sibuk dengan catatan mereka masing-masing entah dengan pena, notebook, maupun handphone. Tidak begitu kejadiannya kali ini.

Tepat ketika narasumber mulai berbicara, hanya satu orang (dua dengan saya) yang menaruh rekaman. Tidak ada yang mencatat. Hampir semua sibuk memotret. Umumnya, wartawan atau fotografer yang ingin memotret tidak akan berdiri terlalu lama. Hanya beberapa detik saja untuk memberikan kesempatan yang lain ikut memotret. Kali ini tidak. Mereka berdiri begitu lama, hingga saya kehilangan mood untuk memotret. Sudah, minta panitia saja, batin saya. (Daripada tidak bisa memperhatikan konten pembicaraan karena menunggu untuk memotret)

Waktu ‘tabligh akbar’ telah dimulai. Dalam bayangan saya, tabligh akbar akan diisi dengan pengajian yang meneduhkan. Mungkin ditambah doa-doa untuk penduduk Suriah dan Palestina yang menyayat hati, orang-orang menangis sembari berdoa. Mungkin ditambah dengan penggalangan dana. Mungkin juga ada penjualan merchandise yang hasilnya akan didonasikan ke sana. Intinya semua program akan menuju ke sana dan semua dilakukan dalam suasana yang khusyu’.

Memang, semua kegiatan itu ada. Namun saya agak terganggu dengan isi ‘ceramah’ yang diberikan. Mereka menyebutnya orasi. Benar-benar orasi. Saya merasa masjid itu mendadak seperti Bundaran HI atau Monas ketika ada demo. Suara Ustadznya menggelegar memanaskan hati.

Sebagian orang di sebelah saya menangis. Ucapan Allahu Akbar terdengar berkali-kali diteriakkan dengan lantang. Saya juga pengin menangis, tapi lebih karena miris. Saya merasa tidak seharusnya masjid digunakan sebagai tempat membakar emosi seperti ini.

Saya juga tidak merasa ucapan Allahu Akbar yang diteriakkan lantang itu kemudian memberikan arti lebih. Apakah dengan teriakan itu kemudian mereka memahami kebesaran Tuhan? Kita ibarat sedang berdiri di atas kuda hendak berperang, tapi nyatanya kita terpekur di sebuah masjid. Mengapa kalimat itu tidak diresapkan dalam hati?

Saya menyebut ini kegiatan membakar emosi. Orasi yang diberikan lebih banyak muatan emosinya ketimbang pencerahan (menurut saya). Dipenuhi kutukan, kebencian, rasa dendam. Saya tidak tahan ingin pulang, jika tidak ingat saya sedang dalam tugas. Toh saya sudah mendapatkan press rilis. Saya merasa tidak perlu menuliskan panjang-panjang tentang acara ini karena hati saya tidak berada bersama mereka.  Tapi toh saya ikuti hingga selesai, demi tugas. Demi ingin melihat seperti apa kegiatan ini akan berlangsung.

Di antara empat sesi yang ada, hanya ada satu sesi yang menurut saya  menarik, disajikan oleh mantan artis Peggy Melati Sukma. Saya sebut namanya, karena menurut saya dia yang sejak konferensi pers mampu memberikan gambaran imbang dan mencerahkan. Ia memberikan foto-foto, menunjukkan apa yang telah ia lakukan di Gaza, memberikan pemahaman kepada mereka yang hadir tentang kondisi terbaru Gaza dan Suriah, serta bantuan apa yang mereka butuhkan. Dalam salah satu foto, ia menunjukkan gambar anak-anak Palestina yang menuliskan nama Peggy di pinggir pantai. Buat saya, tanpa banyak bicara gambar itu mampu menunjukkan betapa bahagianya mereka menerima uluran tangan atau sekadar doa dan support moral dari kita.

Seperti itulah yang seharusnya ditunjukkan. Tidak sekadar emosi, tapi gambaran tentang kondisi dan pemahaman tentang konflik yang terjadi. Emosi hanya membakar, membikin panas hati, menimbulkan kebencian, menumpulkan perasaan. Ketika ini bertumpuk-tumpuk, orang jadi malas berpikir karena sudah dilalap emosi.

Ketika sampai di kantor, saya mendiskusikan hal ini dengan redaktur ketika ia meminta saya membuat tulisan.

“Tadi tu acara apa yah? Aku nggak ngerti deh. Katanya tabligh akbar tapi pakai orasi gitu.”

*tersenyum, melihat selintas, lalu balik mantengin komputer. “Ya memang orasi.”

“Tapi kan itu masjid kenapa dibuat orasi kaya orang demo gitu? Kenapa nggak bikin acara kaya gitu di lapangan? Kaya kurang tepat dan cuma bikin emosi.”

“Lha tujuannya kan memang untuk membangkitkan emosi.”

“Iya.. Tapi emosinya menurutku nggak produktif. Cuma membakar emosi tok. Trus apa? Pada nangis memang, tapi aku nggak tahu mereka nangis karena apa. Sekadar benci, sekadar emosi, empati, atau mereka bener-bener tahu apa yang terjadi.”

“Ya udah nggak usah ditulis deh, kamu tulis ini aja.”

Kadang saya membaca tulisan yang seliweran di beranda fb, menuduh media mainstream tidak peduli pada berita-berita yang berbau Islam. Bukan, menurut saya ini bukan masalah Islam atau bukan, Timur Tengah atau bukan. Buatlah acara yang bagus, mencerahkan, mencerdaskan, bermanfaat, produktif.. tanpa diundang dan tanpa dibayar pun media akan datang. Tabik!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s