Kenapa Mengkritik Islam?

Ada salah seorang doktor yang sering menulis kritik di facebook. Kritiknya kebanyakan ditujukan kepada penganut Islam. Beliau sendiri juga Muslim. Kalau dilihat dari argument-argumennya, ya selain dia adalah seorang doktor di bidang sains, dia juga terlihat punya dasar pengetahuan agama yang baik. Itu menurut saya. Kalau hanya dilihat selintas pemikirannya seperti orang liberal, tapi buat saya pemikirannya sudah melewati tahap itu. Dia punya pengalaman dengan yang kanan dan yang kiri, menurut saya.

Bapak ini sering menggunakan bahasa-bahasa satire. Orang yang tidak paham dengan bahasa satire yang digunakan akan menelan mentah-mentah. Yang namanya satire, kalau ditelan mentah-mentah ya mbalik. Jadi, mereka tidak memahami pesan mendasar yang disampaikan. Dengan modal ketidakpahaman itu, dia langsung berkomentar.

Komentar-komentar lucu itu di antaranya, misal bilang, “Anda Muslim?”

“Dasar doktor sesat.”

“Seharusnya Anda belajar lagi.”

“Anda ini pernah belajar agama atau tidak?”

Semacam ini lah kalimat-kalimatnya.

Nah, suatu hari ada kejadian lucu. Si Bapak menggunakan bahasa satire untuk menyindir kelompok-kelompok yang suka menghubungkan segala sesuatu dengan Syiah. Ibaratnya, cocoklogi. Si Bapak mengunggah satu foto angkutan umum jurusan Soetta-Bandung. Ada tulisan besar bunyinya SHIA, yang dalam bahasa Inggris artinya Syiah. Padahal itu singkatan dari Soekarno-Hatta International Airport.

Ada seorang komentator yang tidak paham satire langsung bilang, “Yang bener pak? Saya share!!”

Benar saja, dia pun membagikan postingan itu dengan embel-embel provokasi Syiah. Di-bully deh, masuk berita deh. Dan ternyata dia adalah dedengkot kelompok anti-Syiah.

Nah, tulisan ini tidak akan membahas soal Syiah, tapi soal komentar-komentar tadi. Anda Muslim? Kenapa dengan Islam Anda sangat kritis tapi dengan nonmuslim Anda diam saja? Kenapa Anda suka sekali menjelek-jelekkan Islam, bla bla bla…

Saya sendiri pernah ditegur seorang teman ketika menulis status tentang pandangan bahwa ‘nasionalisme itu memperlemah khilafah islamiyah’. Saya tentu tidak setuju.

Tapi sebenarnya saya spontan saja. Saya menganggap pemikiran itu sudah agak menyeleweng dan berpotensi makar, makanya saya komentari. Saya lupa bahwa khilafah islamiyah itu banyak diusung dan dikampanyekan orang-orang HTI. Jadilah teman saya yang HTI komentar, padahal saya sebenarnya malas berdebat.

Dia sempat menegur kenapa saya menjelek-jelekkan Islam? Sebagai seorang penulis saya seharusnya bersikap lebih objektif. Seperti saya bilang, saya malas berdebat, karena itu saya hanya menuliskan, “Dalam tulisan-tulisan saya yang dipublish di media, saya berusaha selalu objektif. Bahkan dalam tulisan itu pun saya juga objektif.”

Sudah, hanya itu. Saya tidak ingin berdebat tentang apa yang diyakini orang HTI. Buat saya mereka bebas meyakini prinsip-prinsipnya. Saya juga tidak mengunggah status itu untuk menyerang orang HTI. Jadi status itu tidak ada kaitannya dengan HTI. Saya ketika itu membahas tentang anggapan bahwa nasionalisme memperlemah khilafah Islamiyah. Itu saja.

Objektivitas itu kadang memang perkara subjektif. Bingung kan? Iya, manusia tidak akan benar-benar bisa sepenuhnya objektif. Dia tetap akan memandang sesuatu berdasarkan minatnya, pengalaman hidupnya, kapasitas pengetahuannya, dan sebagainya.

Teman saya mungkin berharap saya ‘objektif’, dalam arti saya tidak melihat masalah itu sebagai urusan Indonesia saja, urusan budaya Indonesia, dan nasionalisme Indonesia. Dia mungkin berharap saya lebih objektif untuk melihat itu dari kacamata yang lebih luas, untuk Islam, dan dunia (berdasarkan hukum Islam). Itu mungkin objektif dalam perspektif teman saya.

Bagi saya, dia tidak objektif karena melihat dunia ini hanya dari sudut pandang orang Muslim dan ajaran Islam saja. Dia melihat penerapan agama Islam hanya dapat dilakukan jika khilafah Islamiyah sudah terwujud. Pandangan ini juga sudah banyak mendapatkan bantahan.

Pertanyaan yang sama muncul dengan yang dihadapi si Bapak yang saya sebutkan di awal. Saya dibilang menjelek-jelekkan Islam. Bahkan dalam salah satu komentar ada yang menyebut kata JIL, walau saya tidak tahu apakah ditujukan pada saya atau bukan. Dia bertanya, kenapa saya tidak melakukan hal yang sama pada nonmuslim atau kelompok-kelompok yang jelas sesat?

Gimana ya? Saya sudah lelah bergelut untuk mengkritisi umat lain dan kelompok lain. Saya sudah pernah menjalani itu. Ada titik ketika saya sadar, ada yang salah. Ada yang salah dengan Umat Muslim sendiri yang mungkin tidak disadari. Ada yang salah dengan diri saya juga.

Ibaratnya saya dan tetangga sama-sama punya rumah rusak, wajar kan jika saya memilih memperbaiki rumah saya sendiri ketimbang rumah orang lain? Idealnya adalah kita sama-sama memperbaiki. Namun kalau bicara prioritas, tentu kita akan memprioritaskan rumah sendiri. Akan lebih indah lagi jika masing-masing keluarga sibuk memperbaiki rumah masing-masing sembari saling menyapa. Di waktu yang sama, rumah itu sama-sama sudah baik dan kokoh.

Jadi kalau ditanya mengapa mengkritisi (penganut) Islam? Karena agama saya Islam, ngapain mengkritik agama lain yang saya tidak pahami dan tidak yakini? Karena dengan melakukan kritik terhadap (penganut) Islam saya juga mengkritik diri saya sendiri. Karena hanya dengan kritik oleh diri kita sendiri, kita akan memperbaiki diri. Karena kita diajarkan untuk selalu melakukan introspeksi diri.

Lebih manjur mana jika kita diingatkan oleh sesama Muslim dengan diingatkan oleh penganut agama lain? Mungkin kalau kita dikritik oleh penganut agama lain, yang ada justru kita gontok-gontokan. Karena itu perlu adanya orang-orang yang mengkritik dari dalam. Tentu saja, seperti saya bilang tadi, kritik terhadap (penganut) Islam adalah kritik terhadap diri saya sendiri.

 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s