Uncategorized

Perbincangan tentang Syiah

Hari ini saya ‘main’ ke salah satu pesantren. Saya bertemu dengan salah seorang ustaz. Awalnya saya ingin menyebut nama pesantren dan ustaznya, tapi untuk menjaga privasi, saya putuskan untuk menyebutnya ustaz saja. Beliau salah satu pengajar di PP tersebut, yang kini sedang menempuh pendidikan doktoral di salah satu universitas Islam di Malaysia. Beliau di ponpes itu menjabat sebagai kepala biro urusan hubungan internasional.

 

Awalnya saya datang untuk liputan. Saya sekalian tanya-tanya tentang majelis taklim yang dikelola oleh para ustaz, sebagai referensi bahan liputan selanjutnya. Oya, ini sebuah ponpes besar Jakarta. Punya berapa belas cabang di seluruh Indonesia. Beberapa mantan santrinya kini jadi pengelola pesantren besar yang dan penulis buku untuk golongan-golongan kanan. Pesantren ini mendapat bantuan dari Arab, Qatar, Yordania, dan negara-negara yang disukai oleh golongan kanan. Ini merupakan salah satu ponpes terpercaya lah ya.

 

Nah, kembali ke perbincangan saya dengan Ustaz. Ustaz bercerita tentang forum kajian isu kontemporer di salah satu penerbit di Jakarta. Beliau sering mengisi materi di sana. Terakhir dia membahas tentang perkembangan berbagai paham Islam di Indonesia, salah satunya Syiah. Soal ini memang sedang booming, entah bagaimana ceritanya.

 

Saya gatel juga tanya soal syiah, mumpung ketemu dan suasananya agak santai. Kalau wawancara lewat telpon kan biasanya terbatas hanya pada pokok bahasan untuk ditulis aja. Saya mengawali dengan pertanyaan yang sangat umum.

 

Bagaimana pandangan beliau tentang Syiah?

 

Masalah utamanya adalah Syiah berbeda secara prinsip dalam beberapa hal, dengan paham yang umumnya dianut orang Indonesia. Umat Islam (sunni) di Indonesia sangat menghormati para sahabat dan keturunannya. Namun bagi orang Syiah, para sahabat (selain Ali RA) tidak bisa diteladani. Mereka dihina, bahkan dilaknat.

 

Memang jika kita mengkaji sejarah Islam, kita akan melihat bahwa para sahabat adalah manusia biasa. Wajar jika mereka melakukan kesalahan. Bahkan, Rasulullah SAW pun pernah salah. Namun, Rasulullah SAW sendiri mengajarkan umatnya untuk mencintai para sahabat dan tabiin.

 

Di sini ada satu perbedaan yang saaangat mendasar antara sunni dengan syiah, yaitu soal panutan. Bagi satu pihak, para sahabat dijadikan panutan, sementara di pihak lain orang-orang pilihan ini dihina dan dilaknat. Di sini yang menjadikan kedua paham ini tidak pernah bisa bertemu.

 

Banyak orang menganggap (dan mengampanyekan) bahwa Syiah bukan bagian dari umat Islam. Apa benar?

 

Kalau melihat dari perbedaan yang ada, sangat terlihat bahwa paham Syiah itu memang sesat. Alasannya sudah dipaparkan di atas. Tapi mereka masih Muslim. Mereka masih meyakini Allah SWT sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul-Nya. Mereka juga mengucapkan syahadat.

 

Bukankah syahadat mereka berbeda?

 

Sama. Mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Asyhadu anla illaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar Rasululullah. Sama yang diucapkan.

Yang jadi masalah adalah penambahan di belakang itu. Ini yang sesat, tapi dasarnya dua kalimat syahadat itu masih sama. Selama mereka masih meyakini dua itu, mereka masih Islam. Cuma masalahnya mereka memusuhi para sahabat ini.

 

Rukun iman yang mereka yakini kan berbeda. Apakah itu tidak menjadikan mereka keluar dari Islam?

Itu masalahnya. Embel-embel itu yang harus diluruskan. Itu yang kemudian menimbulkan perbedaan paham, kemudian membuat jadi bid’ah-bid’ah dari situ.

 

Jadi itu bid’ah ya, Taz? Artinya kalau mereka itu ‘sekadar’ sesat tapi masih Islam, kewajiban kita bukan mengeluarkan atau mengusir mereka, tapi meluruskan sisi-sisi yang sesat itu?

Betul sekali. Masalahnya bisa tidak mereka diluruskan? Sulit sekali, karena kan sudah 1.000 tahun lebih pun tidak bisa hilang. Salah satu yang ingin dicapai oleh penganut Syiah itu kekuatan politik dan kekuasaan. Yang bahaya, ketika ini tidak terwujud, yang akan terjadi adalah cara-cara kekerasan. Itu sudah terjadi di berbagai negara, termasuk di Suriah sekarang. Makanya kita juga harus mempersiapkan diri. Bisa saja ini terjadi di Indonesia.

Beberapa teman bertanya ke saya tentang Syiah. Saya (tentu saja) tidak berani menjawab karena saya tidak punya kapasitas. Prinsipnya katakan tidak tahu jika tidak tahu.  

Yang penting sekarang itu kita perkuat diri. Kita pahami betul agama kita, sehingga kalau ada sesuatu yang keluar dari jalan yang seharusnya kita akan tahu. Soal itu (Syiah) masih perlu banyak belajar (bahkan beliau saja merasa masih perlu banyak mengkaji). Ini masih perlu terus dikaji, dicari terus. Ketika mereka mengatakan Syiah sekarang ini sudah berbeda dengan yang dulu. Ulama-ulama Syiah sekarang tidak menghina para sahabat, kitabnya sama, dll. Kita harus mengkaji, ulama yang mana yang bilang? Siapa yang menghormati para sahabat? Apa benar ada yang begitu? Kalau benar kan tidak semua. Trus bagaimana dengan perbedaan-perbedaan yang lain?

Bagaimana dengan beberapa ulama yang dianggap punya paham Syiah?

Ulamanya siapa?

 

Misalnya yang sering disebut Pak QS atau Pak SAS?

Kita lihat saja dari karya-karyanya. Beliau kan menulis apakah sunni-syiah bisa bersatu. Banyak sekali bantahannya yang mengatakan tidak bisa. Sampai kapanpun tidak akan bisa bersatu, karena yang satu mencintai para sahabat yang satu membenci. Bagaimana bisa bersatu?

 

Pak, kan tidak ada pernyataan dari yang bersangkutan bahwa beliau Syiah. Ini cuma khusnuzon saya saja. Dalam biografinya dia menulis ingin mengambil yang tengah-tengah. Jadi saya pikir, mungkin dia tidak meyakini paham itu. Jadi dia merasa bukan Sunni atau Syiah, tapi dia ingin memberikan pandangan atau pemikiran dia sebagai orang luar, secara objektif. Gimana pak?

 

Bisa jadi seperti itu. Bisa jadi dia ingin melihat dari sisi-sisi yang sama dari keduanya, seperti yang tadi sudah disebutkan. Yang sama apa saja, yang bisa disatukan apa saja? Tapi juga perlu dibahas lebih lanjut, bagaimana umat harus menyikapi perbedaan yang ada? Apakah kalau berbeda bisa bertemu? Apakah dengan perbedaan itu kita bisa hidup berdampingan dengan mereka? Atau kita memang bisa hidup berdampingan dengan mereka dalam perkara dunia saja, dalam muamalah. Tapi dalam perkara akidah, terkait hal-hal yang berbeda tadi saya pikir tidak akan bisa disatukan.

***

Itu tadi sedikit sari perbincangan antara saya dengan Ustaz. Saya bilang sari, karena itu bukan transkrip. Saya tidak merekam perbincangan kami karena ini memang hanya obrolan ringan.

 

Yang menjadi catatan, baik perbincangan maupun tulisan ini tidak saya tulis dengan tendensi tertentu. Saya belum pernah berinteraksi langsung dengan orang Syiah sehingga saya menahan diri untuk tidak memberikan dakwaan kepada mereka, terkait apakah mereka Muslim atau bukan. Menurut saya itu hak prerogatif Allah. Sama seperti halnya ketika saya mengaku Muslim tapi masih banyak dosa yang saya perbuat. Entah dosa besar atau dosa kecil semacam tidak mampu menahan marah, masih bergosip, lupa tabayun, dll. Apakah saya masih dianggap Muslim oleh Allah, apakah saya masih dikasihi oleh Dia, saya tidak pernah tahu.

 

Kenapa saya tertarik menuliskan perbincangan ini? Pertama, saya ingin diri saya sendiri maupun orang yang membaca tulisan ini lebih kritis dan lebih adil. Lebih kritis artinya begini. Jikalau kita mengatakan orang Syiah itu sesat, kita tahu di mana letak kesesatannya. Tahu di sini bukan hanya sekadar tahu. Dengan membaca satu artikel, kita hanya tahu satu persepsi. Kita membaca 10 artikel dari satu sudut pandang, artinya kita tahu 10 pemikiran dengan satu sudut pandang. Yang baik menurut saya, kita punya banyak referensi dari kedua atau ketiga sisi, baru kita menjadi kaya akan pemahaman.

 

Kedua, saya ingin mengajak diri sendiri dan orang yang membaca tulisan ini untuk lebih kritis dan adil. Kritis dan adil ini satu paket menurut saya. Ketika berbicara dengan seorang Syiah, misalnya, ketika kita mau mengatakan pemikiran dia sesat, kita harus tahu betul pemikiran yang mana yang sesat. Jangan membabi buta. Kalau ada 10 benda (pemikiran), cacat 7, masih ada 3 yang tidak cacat. Harus tetap dipandang seperti itu, bukan cacat 1 rusak semua.

 

Ketika ada orang yang mendukung Syiah, kita juga perlu bertindak adil. Apakah mereka mendukung pemikirannya, atau mendukung orangnya. Ini dua hal yang berbeda.

 

Mendukung pemikiran saja sudah macem-macem bentuknya. Pertama, apakah dia mendukung karena dia juga meyakini? Misal dia juga meyakini para sahabat layak dilaknat. Itu jelas dukungan.

 

Kedua, dia mendukung karena dia telah mengetahui pertimbangan dari masing-masing pihak dan dia merasa keduanya benar (tapi dia sendiri mengambil sikap berbeda). Ini sebenarnya bukan dukungan tapi tampak seperti dukungan. Bingung? Misalnya gini, sebagian pihak meyakini rokok itu haram, sehingga orang tidak boleh mengonsumsi rokok sama sekali. Sebagian lagi mengatakan ini makruh, jadi merokok boleh tapi lebih baik ditinggalkan. Nah, saya meyakini bahwa merokok itu tidak baik jadi saya tidak merokok, tapi saya menghormati kedua pemikiran itu beserta alasan dan dalil masing-masing. Ketika ada orang merokok saya tidak mengatakan dia berdosa, karena dia punya keyakinan sendiri. Tapi bukan berarti saya mendukung tindakannya merokok. Paham? Atau tambah bingung? Hehe..

 

Bedanya mendukung pemikiran dengan mendukung orang? Mendukung orang itu, simpel contohnya. Saya punya tetangga Nasrani. Saya punya pemikiran yang sangat berbeda dengan dia dalam akidah. Saya menentang akidahnya dan tidak mungkin meyakini keyakinan dia. Tapi saya tidak membenci dia, bahkan mendukung orangnya. Ketika dia punya prestasi, saya mensupport dia, saya ikut terpacu untuk membuat prestasi yang sama atau lebih. Ketika dia disakiti, saya akan marah. Beda kan?

 

Kenapa saya terkesan mendukung Syiah? Saya tidak pernah mendukung Syiah karena seperti yang tadi saya bilang. Saya ini tidak tahu apa-apa tentang mereka, tidak pernah berinteraksi langsung, jadi saya menghindari memberikan penilaian terhadap mereka. Saya pernah membaca sekian artikel tentang Syiah dan beberapa paham lain. Pernah mengaji bersama anak-anak Tarbiyah, pernah mengikuti kajian Salafy bersama orang-orang yang bercadar beberapa kali. Saya pernah memenuhi laptop saya dengan artikel-artikel muslimah.or.id atau tanya jawab manhaj salaf. Saya pernah membaca buku karya hasan al banna, fathi yakan, sampai syaikh al-utsaimin atau Muhammad bin abdul wahab.

 

Artinya apa? Saya pernah berpikiran sama seperti mereka yang bertanya pada saya, hehe. Tapi yang jadi masalah, saya miris ketika beberapa orang menjadi beringas baik dalam pemikiran maupun tindakan. Beringas dalam pemikiran itu seperti apa? Seperti yang saya tanyakan tadi, misal ada ulama yang membahas tentang suatu paham yang bertentangan dengan paham kita, kita langsung menghakimi bahwa ulama itu pasti juga menganut paham itu. atau minimal mendukung. Kan belum tentu. Bisa jadi iya. Bisa jadi tidak.

 

Dan seperti halnya para sahabat yang tetap harus dihormati ketika mereka melakukan kesalahan, para ulama juga begitu. Jangan karena kita tidak sependapat lalu kita mengatai goblok, sesat, otaknya di dengkul (ini banyak bertebaran di sosmed kan?). Saya selalu mengingatkan diri, salah satu tanda kiamat adalah orang-orang meninggalkan para ulama dan menjadikan orang yang tidak memiliki ilmu (di bidang yang seharusnya) sebagai panduan. Makanya kadang saya berpikir, apakah ini bukan gawean pihak tertentu yang memang ingin menggembosi kelompok-kelompok Muslim?

 

Kenapa? Yang dicurigai, difitnah, dikafirkan, disyiahkan, dibilang nggak bener.. ini adalah orang-orang yang awalnya menjadi panutan dan punya basis masa yang besar. Mereka dulunya dianggap pakar. Nggak cuma orang NU tapi juga Muhammadiyah dan kelompok-kelompok lain. Mizan yang sering kena isu Syiah itu dulunya penerbit besar dengan buku-buku yang konsepnya baru dan berbau Islam. Republika, salah satu korbannya, hahaha… adalah media nasional yang banyak mewadahi kepentingan umat Muslim. Saya nggak tahu apakah mereka bener Syiah atau tidak, tapi ya itu tadi, saya curiga ini cara untuk menggembosi tiap kelompok Muslim yang ingin berkembang.

 

Balik ke soal beringas. Beringat lagi, misalnya ketika melihat nonmuslim memberikan bantuan kemanusiaan kita langsung bilang itu kristenisasi. Ya nggak gitu juga. Kalau mereka misalnya memberikan bantuan kok pakai jilbab trus di dalamnya pakai salib, itu perlu dicurigai. Itu kelakuan nggak jelas. Mereka memberikan kitab Injil kepada orang Muslim, itu perlu kita ingatkan. Tapi kalau sekadar memberikan bantuan, kemudian memberikan nasihat berdasar agama yang mereka yakini, ya nggak papa. Karena mereka juga sedang mengamalkan ajaran mereka. Dalam agama mereka juga ada ajaran untuk berbagi. Mereka juga diajari untuk melakukan syiar agama, seperti halnya kita kadang pengin ngasih nasihat kepada orang nonmuslim dengan apa yang kita yakini dalam agama kita.

 

Beringas lagi contohnya apa? Kita mendengar ada berita tentang orang nonmuslim ngasih bantuan kok pakai jilbab dan di dalamnya ada salib. Lalu kita langsung mengecap mereka misionaris. Kita langsung menyebarkan. Kita langsung melaknat. Kita langsung menghina, menggeneralisasi, dll. Ini sering banget terjadi. Ya kan nggak gitu juga. Kita perlu tahu itu infonya dari siapa? Orang itu bisa dipercaya atau tidak? Orang itu melihat langsung atau tidak? Apakah kita melihat langsung atau tidak, dll.

 

Saya pernah salah, membagikan link lowongan pekerjaan. Niatnya baik lo, saya ingin memberitahukan kepada teman-teman, siapa tahu ada yang membutuhkan. Tapi saya tidak mengecek dulu, karena males, karena menurut saya itu toh kabar baik. toh di situ ada cp, mereka bisa menghubungi sendiri.

 

Belakangan saya sadar, saya perlu sangat hati-hati, bahkan dalam urusan seperti itu. ketika saya mendapatkan info beasiswa untuk orang miskin misalnya, saya usahakan mengontak cpnya terlebih dahulu untuk sekadar memastikan kebenaran informasi. Kalau benar baru di-share agar kabar hoax itu tidak terus menyebar. Kalau dalam hal kebaikan saja kita perlu seperti itu, apalagi dalam hal yang bisa menimbulkan efek buruk.

 

Beringas dalam perilaku seperti apa? Apabila pemikiran terus berkembang, jatuh pada orang yang salah, ini bisa berbahaya. Contohnya apa? Kita tidak sepakat dengan pendapat orang, lalu kita pukul orang itu. ini banyak kejadian. Kita berselisih sama orang, lalu kita bunuh. Yang kaya gini awalnya, salah satunya, menurut saya, karena orang tidak mampu bersikap kritis dan tidak bisa bertindak adil. Di luar dari segala tekanan dan masalah yang dia hadapi.

 

Itu aja, sepertinya sudah terlalu panjang. Saya berharap tulisan ini bisa menjadikan saya selalu ingat untuk tidak gegabah. Begitu juga orang lain. Mulai dari diri sendiri, lalu nyetrum ke orang–orang di sekitar, makin luas dan makin luas. Saya hanya berharap dunia ini damai dan nyaman untuk hidup keponakan-keponakan dan keturunan saya ketika sudah besar. Paling tidak mereka tidak perlu menghadapi kecurigaan dan ketakutan seperti yang sebagian kita rasakan sekarang. Saya membayangkan, dulu ketika masih anak-anak saya mengaji tanpa rasa takut. Sekarang, ketika mau mengaji, saya perlu betul-betul memperhatikan dari kelompok mana, ustaznya siapa, isi materinya bagaimana, baru bisa menentukan apakah pengajian itu ‘aman’ atau tidak. Saya tidak ingin mereka (anak-anak) itu harus mengalami yang semacam ini.

 

Tak tambahi sedikit, enaknya saya di kantor sekarang.. (ini bukan iklan, dan nggak ngomongin soal kesejahteraan, cuma kebetulan saja saya kerjanya di sini dan semoga bisa menjadi gambaran kenapa saya menuliskan ini). Enaknya saya di kantor ini adalah saya berada di tengah-tengah. Kaya yang dibilang QS. Dia memilih di MUI karena di tempat itu dia bisa ada di tengah-tengah. Tidak NU, tidak Muhammadiyah, tidak Persis, tidak salah satu dari afiliasi lainnya. Saya juga begitu. Tiap pekan ada laporan utama yang dibahas oleh para tokoh, saya akan mengusahakan mengambil perwakilan masing-masing kelompok. Saya merasakan perbedaan pendapat masing-masing dan semuanya bisa saya terima. Kemarin saya meliput pameran pendidikan dari asosiasi sekolah sunnah, isinya cowok2 bercelana congklang dan mbak-mbak yang pake cadar. Sehari sebelumnya saya liputan diskusi buku tentang tasawuf. Kontras ya. Dua kelompok yang sangat bertentangan, tapi buat saya bisa mengetahui pemikiran masing-masing itu indah.

 

Yang membuat saya senang adalah liputan tentang kelompok-kelompok atau komunitas-komunitas yang punya karya. Misalnya, sebuah lembaga punya program menyekolahkan anak yatim dan mencukupi kebutuhan mereka mulai dari yang dasar, pendidikan, sampai rekreasi. Ada sekolah yang memberikan pendidikan gratis dengan kualitas bagus, untuk orang-orang miskin, yang lulusannya sekarang sudah pada jadi sarjana bahkan kuliah di luar negeri. Aku sendiri belum bisa berbuat apa-apa kecuali menulis dan mengabarkan. Tp aku merasa yang seperti ini jauh lebih bermanfaat dan mungkin pahalanya lebih gede daripada yang sibuk gembor-gembor menyalah-nyalahkan kelompok lain atau sibuk dengan pemikiran apakah si a kafir atau tidak. Bukan berarti nggak penting ya, karena itu perkara akidah. You know what I mean lah yaa..

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s