opini · sosial · Uncategorized

Amarilys dan Taman-taman Rp 1,6 miliar

Sekitar seminggu lalu, itu pertama kalinya saya melihat satu berita tentang taman indah yang berisi bunga Amarylis di Wonosari. Katanya bunga ini hanya mekar satu tahun sekali dan hanya berlangsung satu hingga dua pekan. Saya cuma agak kagum dan berpikir, “Keren, memang bagus, pengin ke sana. Tapi posisi di Jakarta nggak mungkin bisa lihat juga.”

Informasi itu lewat begitu saja. Sehari hingga tiga hari kemudian, berita tentang taman bunga yang apik itu semakin menyebar. Saya jadi mbatin, “Asal jangan dirusak aja.”

Tak perlu waktu lama, beredar foto taman yang sudah terinjak-injak. Ini langsung jadi viral. Komentar-komentar pedas berhamburan. Sayangnya, di-bully netizen sejagad Indonesia maya tak juga mengetuk hati para pelaku.

Pelakunya juga dengan enteng mengunggah foto dan bilang “Masalah? Suka-suka gue”. Ada lagi yang mengatakan sudah membayar Rp 5.000 dan itu seakan jadi akad sah untuk menginjak-injak taman di pekarangan milik orang.

Duh dek, mungkin Jogja yang kadang panas mekakat itu masih terasa dingin. Masih banyak pohon yang menawarkan angin sepoi-sepoi, dan masih banyak sawah. Padahal beberapa kota sudah mulai craving for garden. Kelaparan, ngebet, kebelet pengin punya taman.

Selain sebagai obat stres, taman juga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan udara yang lebih sehat. Istilah sok diplomatisnya, sebagai ruang terbuka hijau. Biar nggak panas banget kotanya.

Ini memang tidak terlalu saya pahami ketika masih di Jogja. Setelah pindah ke Jakarta, saya baru merasakan. Kota yang semakin padat, semua sudutnya ditanami bangunan, menyisakan sedikit sekali ruang untuk bunga-bunga dan pohon-pohonan.

Saya jadi lebih bisa menghayati betapa seneng pol sampai pengin njenggirat ketika ketemu hutan kota. Jangan bayangkan hutan kota itu sama luasnya seperti hutan pinus yang ada di dekat Kebun Buah Mangunan. Yang namanya hutan kota di sini kadang luasnya hanya satu pekarangan. Ada juga yang luasnya satu kebonan (agak lebih gede lah). Hutan kota itu kalau di Jogja ya sebangsa taman (kota) saja.

Salah satu kota punya program untuk memperluas RTH agar bisa mencapai 30% dari total luas lahan. Ada 16 titik taman akan dibangun dan diperbaiki. Anggarannya bikin ngeces, Rp 1,6 miliar untuk satu lokal. Dikali 16, total menjadi Rp 25,6 miliar. Padahal, kalau menurut asumsi Pak Presiden, untuk membangun satu bendungan butuh Rp 1 miliar. Padahal, Rp 1,1 miliar itu sudah bisa untuk menyelenggarakan lomba hafalan Qur’an se-Indonesia, dengan hadiah umrah untuk belasan pemenang.

Jangan bayangkan taman Rp 1,6 miliar itu hasilnya sama dengan taman-taman baru yang dibuat walikota Bandung atau Surabaya. Memang ada taman yang luas dan bisa dipakai untuk ngisis keluarga, ada jogging track, kursi taman dan lampu-lampu. Ada juga taman yang hanya nyempil di antara pertigaan. Ruang lowong di tengah-tengah itu diuruk dengan tanah merah, diberi rumput, ditanami pohon-pohon, dibuat pagar, diberi plakat nama. Sudah.

Jalur hijau yang sempat saya lihat bagus sih. Lumayan panjang, lalu ada rumput-rumputan, ada kursi-kursi untuk sekadar melepas lelah. Ada juga yang hanya berupa pohon-pohon.

Apa yang terjadi pada taman Rp 1,6 miliar itu? Tak lama setelah dibuat, datang puluhan PKL mangkal di situ. Mereka jualan di situ. Orang berhenti dan makan-minum di situ. Rumput-rumput terinjak dan menjadi botak di sana-sini.

Pemerintah juga seperti sekadar membuat, lalu abai merawat. Bunga-bunga dibiarkan kering dan akhirnya mati. Rp 1,6 miliar menguap. Tahun depan, sudah bisa ditebak. Mereka akan mengajukan lagi Rp 1,6 miliar. Atau karena harga barang-barang naik, anggaran bisa ditingkatnya menjadi Rp 2 miliar atau Rp 2,5 miliar.

Untuk bisa memahami kenapa kamu di-bully hanya karena berfoto selfie sambil tiduran di atas bunga-bunga, mungkin kamu harus merasakan barang sebulan-dua bulan di kota tercinta ini. Ngemall tiap hari, ngluruk ke Depok hanya untuk jogging asoi di UI, melewati macet hanya untuk menikmati panasnya neduh di Monas, bayar beberapa kali cuma untuk menikmati ademnya Ragunan. Kamu juga perlu mencoba nyuri-nyuri waktu, diem merefleksi diri di tengah kondisi macet-cet, dan menghabiskan beberapa ratus ribu hanya untuk nggrudug Bandung dan Bogor, demi mendapatkan wisata alam sesungguhnya. Atau kamu perlu menanam bunga sebanyak-banyaknya dan memanggil saja untuk merusaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s