Apa yang Salah dengan IPK, Tingkat Kecantikan, Pekerjaan?

Teman saya sedang resah. Dia ingin menumpahkan keresahannya dalam tulisan, tapi katanya malas. Mungkin teman saya ini jenuh karena tiap hari pekerjaannya memang menulis. Mungkin dia sesekali ingin menuangkan keresahannya dalam bentuk lain seperti gambar, musik, atau yang lain. Maka saya lah yang didapuk menuliskan keresahannya di sini.

Tadi dia membagikan sebuah link berita dengan judul cukup menggelitik. Sulit cari kerja, sarjana pendidikan fisika dengan IPK 3,49 jual jamu keliling.

Sebenarnya bukan hanya satu saja sarjana S1 yang kesulitan mencari pekerjaan. Tahun 2013, ada 434.185 lulusan universitas menganggur. Tahun lalu ada 495.143 orang. Banyak dari mereka mungkin IPK-nya lebih dari 3,49.

IPK 3,49 sendiri, walau dalam berita itu katanya tergolong tinggi, menurut saya biasa-biasa saja. Padahal IPK saya tidak lebih tinggi dari itu (maaf buka aib). Tinggi atau tidaknya IPK seseorang tergantung dari cara pandang dan ekspektasi orang, tah? Mahasiswa yang punya ekspektasi lulus cumlaude mungkin melihat IPK 3,49 itu masih rendah, karena IPK minimum untuk bisa cumlaude kan 3,5. Buat mahasiswa nasakom (nasib satu koma), IPK 3,49 mungkin luar biasa. Yang pasti IPK 3,49 itu sangat memuaskan, kecuali bagi yang kurang puas.

Kalaupun IPK 3,49 dianggap tinggi, gagal meraih pekerjaan dengan modal IPK tinggi juga bukan hal baru. Lha daftar kerja itu nggak cuma butuh IPK tinggi, je. Kamu butuh kemampuan komunikasi yang baik untuk menjual dirimu. Apa yang bisa didapatkan perusahaan dengan mempekerjakan sarjana dengan IPK tinggi seperti kamu? Pengalaman kerja apa yang sudah kamu punya, yang menjadi bukti nyata bahwa kamu nantinya akan bisa melakukan pekerjaanmu dengan baik? Berapa gaji yang kamu harapkan? Apakah itu sesuai dengan kemampuan yang kamu tawarkan? Dan, apakah itu sesuai dengan kocek perusahaan?

Yang aneh tapi tidak aneh lagi adalah soal mahasiswa yang IPK-nya tinggi lalu jualan jamu. Apa salahnya mahasiswa IPK-nya tinggi lalu jualan jamu? Perusahaan jamu yang sekarang go-internasional dan memodali pendirian salah satu hotel baru di Yogyakarta itu kan dulunya juga diawali dari orang yang jualan jamu.

Mindsetnya orang ketika kuliah kadang memang aneh. Dulu saya selalu dinasehati, sekolah itu tempat belajar, menuntut ilmu. Ilmu ini bisa berguna atau tidak berguna ketika kamu bekerja, yang pasti itu akan berguna dalam hidup kamu. Kan katanya tidak ada ilmu yang sia-sia. Kalau zaman sekarang orang kuliah untuk mendapatkan pekerjaan mentereng, saya tidak tahu itu ajaran siapa. Mungkin dia harus membaca satu bab dalam buku Iqbal Aji Daryono, Out of the Truck Box soal akademisi dan pencari kerja di Ostrali.

“Aku kok bukannya simpati ya baca berita ini. Pertama, kayak ngerendahin gitu soalnya kalau IPK tinggi tu ga layak kalau jadi wirausaha. Kedua, komen si narasumber di awal artikel dia bilang, nilainya tinggi tapi yang ketrima kerja yang pake duit atau orang dalam. Lha… IPK tu bukan segala-galanya. Kalau mau ketrima kerja juga butuh soft skill atau pengalaman yang sesuai menurut standar perusahaan. Duh aku kok dadi senewen dewe,” kata teman saya yang resah itu sembari memberikan dua ikon ketawa sampai bercucuran airmata.

Kadang kami memang perlu sedih sekaligus tertawa kalau sudah ikut senewen gara-gara membaca berita. Berita-berita semacam yang ia bagikan itu mungkin awalnya ingin mengetuk nurani (entah siapa) bahwa banyak pengangguran tidak mendapatkan pekerjaan. Peluang kerja di negara ini masih minim dan ini butuh tindakan nyata dari pemerintah.

Tapi ini juga menjadi semacam stigma untuk menilai rendah pekerjaan tertentu. Berita semacam ini sudah mulai laris sejak Norman Kamaru ketahuan jualan bubur. Kabar yang beredar seakan-akan ramai nyokorke pria yang hobi goyang India ini. “Salahmu, rela keluar dari kepolisian cuma buat jadi artis. Sekarang nggak laku, jualan bubur. Mending kamu dulu nggak usah keluar,” mungkin begitu nada-nadanya.

Berita lain lalu muncul ketika Eva Arnaz juga memilih jualan makanan. Tuntutan sosial memang kadang lebih jahat dari ibu tiri yang kejam. Ia semacam momok yang menyuruh orang menyesali pilihan hidupnya. Siapa yang nggak nyinyir kalau membayangkan artis yang dulu jadi pujaan, terkenal seksi, lalu memutuskan berhijab, eh ujung-ujungnya jualan makanan.

“Ono meneh sing dadi keresahanku. Orang ganteng/cantik yang bekerja dengan profesi ‘kelas dua’. Emange wong sing biasa/elek doang sing layak kerjo di ‘kelas dua’? Pret banget. Njuk nak rupamu lumayan kudu nyambut gawe sing wah po piye?” begitu tulis teman saya setelah saya kipas-kipasi.

Kejadian ini memang juga menjadi sumber keresahan kami beberapa waktu lalu. Mulai dari berita cewek cantik yang jualan gethuk, lalu muncul berita-berita lain yang senada. Awalnya memang terdengar bombastis dan menggelitik. Tapi lama-lama berita semacam ini jadi memuakkan. Ukuran cantik/ganteng dan jelek kan relatif. Di berita-berita selanjutnya, foto bertebaran menceritakan cewek cantik yang jaga warung kopi, cewek cantik yang kerja di bengkel, cowok ganteng yang kerja di stasiun, cowok ganteng yang jualan durian. Tidak semua cowok atau cewek yang digambarkan di situ menurut kami cantik atau ganteng. Kalaupun mereka cantik atau ganteng, memangnya gethuk, kopi, duren, salak, atau makanan-makanan lain hanya boleh dijual oleh orang jelek saja? Duh.

Sudahlah. Mungkin teman saya hanya cemburu. Kami hanya lah perempuan-perempuan dengan kadar kecantikan yang membingungkan. Dibilang cantik kami akan bilang nggombal, kalau dikatai jelek kami akan mencak-mencak. Wajar kalau kami resah hingga senewen. Yang pasti tingkat kegantengan berbanding lurus dengan kebahagiaan ketika memandang. #abaikan

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s