opini · Uncategorized

Ok Fine, Selera Kita Beda

Dua hari ini saya secara tidak sengaja terdampar dalam pembicaraan tentang kecantikan (dan mungkin bisa diberlakukan untuk kegantengan).

Kemarin teman kos saya ikut liputan. Sambil menunggu narasumber yang ngobrol di dekat motornya, kami juga ngobrol berdua. Teman saya ini, sebut saja mawar, bercerita.

“Aku tuh kan yah Mbak, kalau misal ada yang muji cantik atau manis, aku selalu bilang makasih. Tapi Anggrek (teman Mawar) tuh bilang, dia nggak suka bilang cantik. Nah aku tuh sukanya kalau ngomong sama dia, dia tuh suka ngebahas sesuatu dari sisi yang lain.” Mawar memulai ceritanya.

“Sisi yang lain tuh yang gimana?”

“Jadi Anggrek tuh bilang, dia nggak suka memuji dirinya cantik. Soalnya, kata Ustazah dia, perempuan itu baru bisa dibilang cantik ketika sedang tidur. Nah, aku kan nggak tahu gimana kalau aku tidur kan Kak. Jadi aku nggak pernah bilang diriku cantik.”

“Kok Ustazahnya bisa bilang begitu? Itu pendapat, lelucon, atau ada dalilnya gitu sampai si Anggrek bisa meyakini?”

“Kayaknya sih ada dalilnya gitu, Mbak. Tapi Mawar juga nggak ngerti dalilnya gimana.”

“Masak sih? Aku kok belum pernah dengar ya?”

“Nggak tahu juga, Mbak.”

Jadi pada intinya, menurut Ustazahnya si Anggrek, perempuan baru bisa dibilang cantik ketika ia tidur. Saya jadi membayangkan para perempuan di televisi. Memang cantik-cantik sih kalau sedang tidur. Ada yang masih memakai make up, ada yang tidurnya sambil senyum. Pokoknya indah dipandang. Tak heran banyak muncul adegan ketika suami atau pacar atau siapapun terkagum-kagum memandang wajah perempuannya ketika tidur. Para penonton juga mungkin ikutan kagum.

Tapi ini dunia nyata. Ini dunia yang ketika perempuan tidur, ia harus menghapus make-upnya. Lalu perlahan tapi pasti minyak-minyak mulai keluar di sekitar wajahnya. Ini dunia nyata. Di dunia ini sebagian perempuan tidur setelah mengoleskan beberapa jenis krim perawatan dan membawanya ke peraduan. Ini juga dunia nyata, ketika sebagian perempuan mungkin tidur dalam kondisi mulut ternganga atau bahkan ngiler juga.

Anggrek sering menginap di kos kami. Suatu hari Mawar iseng memotret Anggrek ketika tidur. Anggrek yang memang kalem cuma bisa tersipu malu ketika melihat fotonya. “Ih Kakak, aku kan malu.”

“Kan katanya kamu nggak bisa lihat kalau kamu tidur. Jadi ya udah atuh aku potoin.”

Saya tidak sempat bertanya bagaimana akhirnya persepsi Anggrek ketika melihat ia sedang tidur. Apakah dia akhirnya bisa sejenak memuji dirinya cantik atau tidak? Belum tahu.

Hari ini, saya masih berdiam di kantor hingga jam 00.00 WIB. Ada beberapa orang juga di sana, sedang piket. Sembari menyibukkan diri dengan aktivitas masing-masing, kami juga disuguhi tiga layar televisi. Dua untuk menonton bola, satunya lagi berisi acara diskusi tentang prostitusi yang menghadirkan NM sebagai salah satu narasumber.

Seorang teman yang pernah melakukan wawancara untuk kasus serupa mulai berbicara. Mulai dari analisanya tentang artis yang bersangkutan, tentang standar ganda orang dalam menuduh dan menyanggah argumen dalam kasus korupsi dan prostitusi, juga tentang perspektif pelacur sebagai korban.

Ia lalu menunjukkan foto profil salah satu narasumbernya. “Wow..badannya bagus juga,” kata Agus, salah seorang teman, ketika melihat seorang psk dengan tubuh agak subur, dibalut minidress ketat. Saya lebih tertarik menyimak penjelasan kawan saya, sebut saja Indra, tentang tarif short time dan long time, termasuk servis dan beberapa perkara lain yang off the record. Hahaha…

Kami kembali mengobrolkan hal yang lain, masih dengan topik yang sama. Indra lalu menunjukkan foto satu narasumber lain. “Eh cantik banget. Ini aslinya cantik juga nggak Bang?” kata saya spontan. Entah spontan atau polos. Atau pura-pura polos? Eh..

“Memang cantik dia.”

Sekadar keterangan, cewek itu bisa dibilang langsing, mancung, wajahnya ok lah menurut saya, rambutnya panjang agak bergelombang. Wis, cantik lah pokoknya. Usianya sekitar 20-an.

“Kalau cantiknya begini berapa, Bang?”

Kali ini Indra tidak langsung menjawab. Ia malah ngakak mendengar pertanyaan saya. Saya baru sadar, betapa…entah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, cara saya bertanya itu. Ujung-ujungnya saya ikut ngekek.

Tak lama kemudian, tampak pembawa acara bola di televisi. Rambutnya pendek seleher, mengenakan jas. Kulitnya tidak semulus cewek yang ada di foto barusan. Usianya juga terlihat lebih tua. “Itu cewek siapa ya namanya? Cantik banget.” kata Indra sambil melihat televisi.

“Hah, cantik? Masak sih bang? Sama yang tadi cantikan mana?”

“Cantikan ini lah, jauh.”

“Lhah, cantikan yang tadi lah Bang. Jauh.”

Kami lalu jambak-jambakan memperebutkan mana yang lebih cantik di antara keduanya. Tapi itu hanya terjadi dalam imajinasi. Kami tetap kekeuh dengan pandangan masing-masing. Saya akhirnya bertanya pada Agus yang duduk di samping saya, mana yang lebih cantik. Agus mengatakan hal yang sama.

“Kalau cewek cantik itu udah kelihatan, Han. Lihat aja tuh, udah kelihatan dia itu enerjik, positif juga, cerdas.” kata Agus.

“Manis lagi.” tambah Indra.

“Nah, manis lagi. Dari fisiknya, sikapnya, perilakunya tuh udah kelihatan semua.”

“Bentar, kita lagi membahas cantik dari sisi fisik aja loh. Kalau dari mukanya, cantikan mana hayo?” tanya saya lagi.

“Cantikan itu lah (yang di televisi). Semuanya tuh kelihatan, ya fisiknya, sikapnya, nyampur semua.”

Jadi, menurut teman saya ini, kecantikan wanita itu tidak terlepas dari fisik, sikap, perilaku, dan ini-itu lainnya. Semuanya tidak bisa dipisahkan. Istilahnya, telur, ovalet, fermipan, tepung, dan bahan-bahan lain sudah menjadi adonan kue, maka kita tidak bisa lagi memisahkan mana yang telur, mana ovalet, dan lain-lain. Begitulah kecantikan menurut teman saya, dengan sedikit pencitraannya, wkwkkw.

Apapun itu, cantik itu memang perkara yang sangat relatif. Kadang saya dan teman memandang satu foto lalu teman bertanya, “Ganteng nggak?”

Lalu kami punya pendapat yang berbeda tentang ganteng atau nggaknya orang itu. Kami lalu jambak-jambakan lagi. Eh salah. Kami akhirnya berhenti memperdebatkan kegantengan pria itu dan berucap, “Ok, fine. Selera kita beda.”

Perbedaan pandangan ini sesuatu yang sangat umum terjadi. Bahkan, mungkin semakin tua kita akan mulai memahami bahwa salah dan benar terkadang juga sesuatu yang relatif. Tergantung seberapa luas kita mampu memandang, seberapa banyak pengalaman kita dalam memandang, dan dari sudut mana objek yang kita pandang itu ditampakkan.

Prinsip selera kita beda ini cukup efektif untuk mencegah adegan jambak-jambakan antara saya dan teman-teman. Mungkin ini juga efektif untuk meredam adegan cakar-cakaran dalam menghadapi berbagai perbedaan pandangan, keyakinan, perbedaan apapun lah itu. Nah kan, ujung-ujungnya ke situ. Ya udahlah, daripada ke mana-mana, cukup sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s