Ikut Nimbrung Soal Jilbab Haram, eh Najis

Menarik sekali mengamati perdebatan di medsos mengenai polemik yang bersumber dari iklan Zo***ya. Beberapa hari lalu, perusahaan fashion Muslim ini mendaku sebagai produsen hijab bersertifikat halal dari MUI pertama di Indonesia. Polemik ini tambah kenceng dengan beredarnya foto billboard gede dengan logo Zo***ya, dengan tulisan Yakin Hijab yang Kamu Pakai Halal? Orang-orang lalu terjebak membahas tentang halal dan haramnya hijab. Woohoo.. 
Malam sebelum gambar itu viral, saya mendiskusikannya dengan seorang teman. Kata dia, mengacu pada perkataan seorang tokoh ormas halal-haram, “Semua yang berasal dari babi, diolah menjadi apapun, haram hukumnya.”
Sepengetahuan saya, babi dan anjing adalah binatang yang haram untuk dikonsumsi. Sama seperti khamr yang memabukkan itu juga haram. Maka, semua bagian tubuh kedua hewan ini haram untuk dimakan, seperti halnya seucrit khamr haram dicicip. Namun, jika tidak dimakan, setahu saya, dia merupakan hewan najis, baik hidup atau mati.
Catatan khususnya di sini adalah, saya bukan ahli fikih. Saya juga bukan orang yang pernah secara khusus belajar fikih. Lha ngecap tinggal di pesantren saja hanya beberapa waktu pesantren kilat zaman SMP. Jadi ini hanya bagian dari pemikiran dan pendapat pribadi saya, berdasarkan apa yang pernah saya pahami dan berdasarkan diskusi dengan beberapa kawan yang saya anggap lebih tahu.
Apakah perkataan tokoh ormas itu salah? Tidak, karena dia berbicara seperti itu berdasarkan dalil. Semua yang berasal dari babi, diolah menjadi apapun, hukumnya haram (untuk dimakan). Sama dengan mengatakan, semua barang yang terpapar najis itu haram dipakai (apabila tidak disucikan).
Dalam kasus Zo***ya, LPPOM MUI awalnya mengatakan belum mengetahui adanya sertifikasi Zo***ya dan akan mengecek kembali, sebab banyak perusahaan yang mengajukan sertifikasi halal. Tak lupa, disebutkan pula bahwa LPPOM MUI mengapresiasi perusahaan yang mau mengajukan sertifikat halal, karena sifatnya yang sukarela.
Selanjutnya, LPPOM MUI menyatakan sertifikasi halal baru diberikan untuk kain yang digunakan oleh Zo***ya, bukan untuk produknya. Tidak atau belum ada jaminan bahwa dalam pembuatannya bahan itu tetap terjaga kesuciannya dr najis.
Beberapa orang berpendapat LPPOM MUI tak kuasa menolak jika ada perusahaan yang beritikad baik melakukan sertifikasi halal. Sertifikasi halal ini kan jaminan keamanan bagi sebagian kalangan Muslim. Dengan adanya sertifikat halal, kaum Muslim jadi terbantu untuk menemukan barang konsumsi yang aman secara syariah (walaupun ada lagi catatan agar MUI juga memperhatikan sumber dana untuk mendapatkan barang tersebut sebagai salah satu indikator kehalalan).
Tapi apa iya LPPOM MUI tidak kuasa menolak? Menurut saya, LPPOM MUI justru bisa dan sangat bisa menolak. Kenapa? Karena perkara penggunaan emulsifier dari gelatin babi dalam proses pembuatan benang itu adalah perkara najis dan suci, bukan halal dan haram. Sesuatu yang haram sama sekali tidak bisa dikonsumsi (kata teman saya, kecuali tidak ada makanan lagi di dunia dan hanya ada babi yang bisa dimakan, karena dalam kondisi itu hukum makan babi jadi halal).
Sementara, sesuatu yang najis masih bisa disucikan. Sifatnya nggak permanen. Bisa saja hari ini barang itu najis, hari itu juga disucikan, besoknya kena telek lagi, dan seterusnya.
MUI sebenarnya punya hak untuk menolak pengajuan sertifikat halal untuk sesuatu yang tidak relevan dengan perkara halal dan haram. Ini sama seperti seorang koki yang menolak disuruh ngobati pasien karena tidak sesuai dengan jobdesknya (sori contoh yang pertama kali terpikir itu).
Ketimbang mengeluarkan sertifikat halal untuk barang yang (dikhawatirkan) najis, MUI akan lebih baik jika melakukan sosialisasi kepada para pengusaha kain, bagaimana cara memproduksi kain yang bebas najis. Bahan-bahan apa saja yang bisa digunakan selain gelatin babi? Lalu jika tidak ada bahan lain, bagaimana cara mensucikan kain hasil produksi yang terpapar gelatin babi agar bisa sampai ke tangan konsumen dalam kondisi suci?
Itu pemikiran pertama. Kedua, kemarin saya membaca sebuah artikel tentang halal-haram kain. Di situ disebutkan bahwa enzim babi (entah yang dimaksud ini sama atau tidak dengan emulsifier dari gelatin babi),   digunakan untuk merontokkan kanji yang dipakai untuk membuat benang. Jika kanji itu tidak dihilangkan, maka air akan sulit meresap ke kain. Asumsi saya, enzim babi itu akan ikut luruh seperti halnya kanji.
Ada dua pertanyaan di sini. Bagaimana cara mensucikan kain yang sudah terpapar zat dari babi ini? Sepengetahuan saya, anjing dan babi termasuk dalam kategori najis mugholadzhoh. Artinya, untuk mensucikannya perlu dihilangkan materi yang tampak terlebih dahulu, lalu dicuci tujuh kali, salah satunya menggunakan tanah atau debu.
Seorang teman lain mengatakan kalau babi tidak perlu dicuci tujuh kali. Saya bertanya, trus gimana membersihkan kalau kita kena darah babi misalnya? Sampai sekarang belum dijawab. Tapi saya mencoba mencari jawaban lain berdasarkan pendapat ini
Dalam sebuah artikel konsultasi syariah disebutkan, tidak ada ayat atau hadis khusus yang membahas perlunya mencuci wadah bekas babi hingga 7 kali. Aturan ini hanya berlaku untuk air liur anjing. Di situ disebutkan sebuah riwayat ketika seorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, apakah boleh makan dengan wadah bekas kaum nonmuslim (yang diasumsikan ada bekas daging babi dan khamr)?
Lalu Nabi menjawab, kalau ada wadah lain, pakailah yang lain. Tapi kalau tidak ada wadah lain, cucilah lalu pakailah. Konsultan rubrik itu mengatakan, kalau memang harus dicuci tujuh kali pasti Nabi sudah memerintahkan, tapi Nabi hanya mengatakan cucilah.
Menurut saya nggak papa kalau ada yang meyakini seperti itu. Kalau diterapkan untuk kain yang terpapar babi malah enak. Tinggal dicuci, lalu barang itu menjadi suci.
Tapi saya sendiri masih meyakini posisi najis anjing dan babi itu sama. Jadi harus dicuci tujuh kali. Saya berkhayal (ingat bahwa ini bukan metode tafsir yang benar, jadi jangan ditiru), Nabi mengatakan cucilah itu sudah merujuk pada cara mencuci najis. Kan aturan cara mencuci najis sudah ada.  Jadi ketika Nabi bilang cucilah, maka bekas babi itu dicuci dengan cara mencuci najis mugholadhoh seperti yang dijelaskan di hadis yang lain. Ini teori ngawur tapi nggak ngawur saya lho, kalau salah jangan di-bully.
Masalahnya, mencuci kain tujuh kali bisa-bisa saja. Tinggal menyediakan tujuh ember berisi air, lalu celupkan kain-kain itu secara manual maupun dengan mesin. Tapi bagaimana dengan pencucian dengan debu atau tanah? Apa nggak sayang ya kain baru itu digosok-gosok tanah. Bagaimana efeknya terhadap kain yang baru? Embuh. Saya belum nemu jawaban.
Nah, soal mekanisme teknis ini yang sebenarnya perlu dirumuskan dan disosialisasikan oleh MUI atau diregulasikan oleh pemerintah (terserah deh, intinya pengusaha perlu memahami ini).
Kalau MUI atau pemerintah tidak melakukan itu, lalu apa yang musti kita lakukan? Teman saya sedikit memberikan pencerahan. Kata dia, dalam konteks jilbab, sebenarnya tidak perlu langsung dibilang najis sebab mbak-mbak yang berjilbab itu tidak melihat wujud zhahir dari najis yang dimaksud.
Ketika kita tidak tahu wujud zhahir dari najis itu, dan kita tidak tahu apakah dalam proses pembuatan kain yang kita pakai itu ada najis, maka hukumnya dikembalikan bahwa asal mula segala sesuatu adalah halal sampai ada yang mengharamkannya. Asal mula segala sesuatu adalah suci sampai ditemukan ada najisnya atau ada yang mengatakan ada najisnya. Kalau ada yang mengatakan ada najisnya, maka ia harus menunjukkan, menjelaskan, dan sebagainya. Kaya gitu-gitulah. Yang Muslim pasti paham. Hahaha… akhirnya saya pakai kalimat tidak jelas ini juga.
Nah, ada tambahan lagi dari perkataan seorang teman, ia mengutip perkataan Yusuf Qardhawi yang mengatakan, tidak perlu kita sampai menelisik halal atau haram sesuatu, suci atau tidak sesuatu. Sebab, ada hukum seperti yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya tadi. Kalau kita terus menelisik, yang timbul adalah keraguan, kegelisahan, dan kekhawatiran. Yang kemudian terjadi adalah kita merasa Islam itu sempit, membatasi, dan ribet. Padahal Islam seyogyanya sederhana, memudahkan, menenangkan, mendamaikan.
Nah, kalau dipahami seperti ini saya merasa Islam jadi tidak rumit. Jadi kalau kita mengetahui suatu tempat memproduksi kain yang najis, lalu tidak mensucikan ya jangan beli kain di situ. Pilih saja tempat lain. Atau kalau kita tahu suatu tempat memproduksi makanan haram, ya jangan makan di situ. Tapi kalau kita tidak tahu, maka kembali bahwa hukum asalnya makanan itu halal. Kalau kita sedang makan lalu diberitahu bahwa itu haram, ya rezekimu. Muntahkanlah, hahaha
Demikian saudara, pemikiran saya. Untuk teman-teman yang menggemari tulisan yang mencantumkan dalil-dalil, saya sengaja tidak mencantumkan dalilnya. Seperti saya bilang di awal tulisan ini, saya bukan ahli tafsir hadis maupun tafsir Alquran, jadi saya takut asal nyomot. Saya juga tidak ingin menjadikan tulisan ini semacam rujukan, karena ini hanya pendapat pribadi.
Jadi, kalau ada teman-teman yang merasa kurang yakin karena tidak ada dalilnya, atau ragu, atau keimanannya tentang halal-haram goyah setelah membaca tulisan ini, justru bagus. Tulisan ini hendaknya memancing teman-teman untuk datang ke ustaz atau ulama dan mendiskusikannya, lalu mendapatkan penjelasan gamblang beserta dalil-dalilnya dari mereka.
Wis, segitu saja. Matur suwun. Ojo lali, correct me if i’m wrong.

Handa Taulan

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

1 thought on “Ikut Nimbrung Soal Jilbab Haram, eh Najis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s