artikel · islam · jurnalistik · opini · Uncategorized

Kemana Larinya Produk Jurnalisme Islami?

Saya masih ingat, beberapa tahun lalu, pelatihan-pelatihan jurnalisme Islami sempat marak di kampus. Saya sendiri kurang memahami mengapa ada dikotomi Islami dan tidak Islami dalam jurnalisme. Padahal, jika dijalankan dengan benar, prinsip-prinsip dasar jurnalisme tak seluruhnya lepas dari nilai-nilai Islam.

Saya pernah mengikuti beberapa pelatihan jurnalisme yang katanya Islami itu. Berkaca dari apa yang disampaikan dalam pelatihan tersebut, jurnalisme Islami dianggap sebagai bentuk pewartaan yang sesuai dengan nilai-nilai dan kaidah-kaidah keislaman. Sebagai contoh, dalam media-media “Islami” (untuk merujuk produk yang dihasilkan oleh jurnalisme Islami) kita tidak akan menemukan satupun gambar wanita telanjang. Bahkan wanita berpakaian sopan namun tidak berjilbab pun akan sangat jarang atau mungkin tidak akan pernah ditemukan. Produk-produk jurnalisme Islami dibanjiri dengan beragam hadis dan ayat Alquran, cerita Nabi, para sahabat, dan tokoh-tokoh muslim.

Kehadiran jurnalisme Islami juga dimotori oleh sebagian pihak yang merasa adanya ketidakberimbangan pemberitaan dari media-media mainstream yang dianggap terlalu berkiblat pada Barat. Dalam kasus Palestina misalnya, banyak media Barat cenderung menunjukkan keberpihakan kepada Israel, sementara kaum Muslim tentu saja akan berpihak pada Palestina. Walau kini keberpihakan bangsa Barat kepada Palestina semakin tampak atas dasar kemanusiaan, ini tak menyurutkan semangat ‘barisan pendakwah’ untuk membangun jurnalisme Islami.

Dengan gagasan ini, kita boleh berharap dalam lima hingga sepuluh tahun kemudian, artinya saat ini, bermunculan media-media Islam yang menyejukkan. Akan ada media-media yang mengajak orang melakukan kebaikan, menyerukan kegiatan positif umat Islam, menghapus stigma-stigma negatif yang berkembang, dan sebagainya.

Sayangnya, makna Islami ini nampaknya belum meresap hingga ke akar pemikiran. Pelaku-pelaku jurnalisme Islami masih dibingungkan oleh dikotomi Islami dan tidak Islami. Pertanyaan yang muncul masih seputar boleh tidaknya memasang foto dan kartun atau cukup menggunakan ornamen, atau yang sejenisnya. Jurnalisme Islami masih sekadar mengabarkan kegiatan-kegiatan lembaga dakwah dan menyampaikan cerita-cerita tokoh Islam, sementara jurnalisme umum (jika memang perlu ada dikotomi) sudah beranjak pada berbagai wacana.

Ide memunculkan gagasan jurnalisme Islami juga belum diikuti dengan pencetakan generasi pendakwah yang total terjun dalam dunia jurnalistik. Para tokoh yang akhirnya terjun ke dunia jurnalisme Islami kampus ketika itu umumnya adalah aktivis dakwah secara umum yang menjadi bagian dari divisi media. Mereka ‘nyambi’ dengan berbagai tugas dan mempelajari dunia media hanya sebagai passion atau hobby. Mereka lebih cocok disebut penulis ketimbang jurnalis yang memahami dan memegang kode etik.

Tak berniat membandingkan, tapi ini mungkin menjadi sebuah gambaran perlunya dedikasi dalam menekuni dunia jurnalistik. Saya masih ingat, suatu hari seorang jurnalis kampus kami mengadakan janji temu dengan seorang wakil dekan. Di sela kuliah yang padat, ia menunggu sang wakil dekan tepat di depan ruangan kantornya. Kami sedang menelisik pembangunan fasilitas kampus yang dirasa kurang representatif.

Perempuan yang ditunggu asik mengobrol di telpon dan tampak menyibukkan diri. Ada dilema antara tetap menunggu atau mengerjakan shalat terlebih dahulu. Beruntung, satu mata kuliah kosong. Personil kami mendapat bala bantuan sehingga ia dapat beribadah. Hingga ibadah selesai, sang wakil dekan belum juga nampak keluar dari ruangan. Padahal, di tengah menunggu itu, tepat ketika hendak beribadah, si jurnalis kehilangan perangkat selularnya. Dedikasi sebagai jurnalis kampus yang total memaksa dia menekan kegalauan akibat di perangkat itu ada pulsa amanah dari organisasi senilai beberapa ratus ribu rupiah. Ia tak beranjak hingga si ibu keluar dan mengatakan tak dapat melayani wawancara, menepati janji wawancara, sebab sudah terlambat mengikuti rapat. Barulah, ketika si ibu ngacir, teman kami berusaha mencari kembali perangkat tersebut.

Di lain waktu, salah seorang personil kami pernah membuat janji wawancara dengan salah satu jurnalis lembaga dakwah kampus. Dia diminta menjadi salah satu narasumber. Seusai kuliah, dia sudah menunggu di tempat yang dijanjikan 30 menit lebih awal. Katanya menunggu itu lebih baik daripada ditunggu yak an? Hingga waktu janjian berlalu, sang jurnalis tak jua datang dengan alasan shalat terlebih dahulu. Personil kami masih menunggu hingga satu jam berlalu.

Dia akhirnya memutuskan pulang setelah menunggu sekitar 1,5 jam. Di tengah perjalanan, tiba-tiba si jurnalis kembali menghubungi dia. Dia akhirnya berhenti di tengah perjalanan, masuk ke sebuah toko buku, dan meminta si jurnalis menemuinya di situ.

Personil kami kembali menunggu. Setelah 1,5 jam berikutnya (jadi total sekitar 3 jam), si jurnalis akhirnya mengatakan tidak jadi melakukan wawancara dengan alasan yang sangat tidak masuk akal bagi seorang jurnalis kampus, yaitu: mengerjakan projek katering.

Cerita di atas bukan pembandingan antara jurnalis umum dan jurnalis ‘Islami’. Ini hanya penggambaran bagaimana dua orang yang sama-sama bergerak di bidang jurnalistik, namun diproses secara berbeda menghasilkan perbedaan yang sangat signifikan. Dedikasi, semangat mendapatkan informasi, disertai etika jurnalistik yang baik inilah yang tidak ditemukan dari kader-kader jurnalis ‘Islami’ yang saya temui ketika itu.

Jurnalisme Islami masih menjadi sempilan di antara agenda-agenda dakwah yang menumpuk. Ia belum diperhitungkan sebagai salah satu bagian vital yang harus digarap secara serius.

Penambahan huruf –i pada kata Islam menunjukkan suatu sifat yang sesuai dengan ajaran agama tersebut. Maka, jurnalisme Islami hendaknya bermakna jurnalisme yang secara prinsip sesuai dengan ajaran Islam. Jurnalisme Islami hendaknya jujur, berkata benar, memihak yang benar, mengutamakan klarifikasi (tabayun), tidak menuduh, tidak menghasut, disertai niat dan tata cara yang baik, dan sebagainya. Inilah yang seharusnya tampak dari media-media Islam saat ini sebagai buah gagasan jurnalisme Islami bertahun-tahun yang lalu.

Sayangnya, dapat kita lihat di masa ini agama menjadi satu alat propaganda yang empuk. Budaya menuduh, menghasut, dan bergosip tumbuh subur di media-media yang mengatasnamakan Islam. Dalam jurnalisme (umum), haram hukumnya menyebut seorang terduga sebagai tersangka, apalagi terdakwa. Ada kode etik yang mengikat, yang bisa menyebabkan seorang jurnalis masuk penjara hanya karena salah dalam menyebut atau lupa menyertakan kata ‘diduga’.

Namun, banyak media bernafaskan (atau mengatasnamakan) Islam justru dengan mudah mencampuradukkan dugaan dengan dakwaan, mencampurkan isu atau gossip dan asumsi dengan fakta. Banyak media berkonten ‘Islam’ juga tak mampu membedakan mana berita mana opini. Ada pula kasus di mana pernyataan seorang tokoh hanya diambil secuplik dengan lead yang sudah sangat berbeda dengan apa yang dimaksudkan narasumber. Ini ditambah lagi dengan pernyataan dari tokoh lain yang seakan sengaja asal ditempelkan begitu saja.

Tidak jelas diketahui apa motif dibalik pengembangan media-media seperti ini. Namun, anehnya, media-media ini menjadi favorit dan seringkali dijadikan acuan di tengah surutnya kepercayaan terhadap media mainstream. Padahal, media membawa tanggung jawab edukasi bagi mereka yang membacanya. Dengan edukasi dari media-media seperti ini, tak aneh jika masyarakat Islam yang berkembang di kemudian hari menjadi mudah panas, mudah terprovokasi, seringkali lupa tabayyun, seringkali percaya bahkan andil dalam menyebarkan hoax, dan sejenisnya.

Media-media mainstream (dengan prinsip jurnalisme umum) tak luput dari kesalahan. Namun, media Islami telah sampai pada suatu tahap untuk berbenah diri. Peran media hendaknya tak hanya dipandang sebagai fungsi sempilan semata. Ia ibarat pisau yang dapat memotong dengan rapi, membunuh dengan keji, bahkan menggores tangan sendiri. Jurnalisme Islami, jika memang perlu dikembangkan, hendaknya lebih baik daripada jurnalisme yang telah berkembang secara umum. Ia hendaknya membersihkan cacat-cacat yang menyebabkan media mainstream kehilangan kepercayaan padanya. Ia semestinya lebih mencerahkan. Dan, ia tak lepas dari kode etik yang berfungsi menjaga perilaku dan melindungi jurnalis serta mewadahi kebutuhan pembaca akan muatan yang mencerahkan.

Jurnalistik tak cukup dipelajari sepintas lalu. Idealisme-idealisme dalam jurnalistik tak cukup ditanamkan sekali dua kali hunusan. Pengembangan media Islam hendaknya digarap dengan lebih serius dengan mencetak orang-orang yang memang berdedikasi dalam bidang jurnalisme Islam. Jika ini telah diterapkan, boleh kita bersabar sebentar dan memundurkan target untuk mendapatkan media-media Islam yang mencerahkan pada 10 atau 20 tahun mendatang.

Jakarta 07 Februari 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s