Memandang LGBT dari Dua Sisi Kepingan

Banyak perkara yang dulunya tidak masalah sekarang menjadi masalah. Salah satunya LGBT. Saya masih ingat, di surau ketika itu kami membahas tentang shalat. Siapa yang berhak menjadi imam dalam shalat?

Guru TPQ saya menjelaskan, laki-laki menjadi imam bagi perempuan, sementara perempuan menjadi imam bagi sesama perempuan dan anak yang belum baligh. Kalau tidak salah ingat Mas Imam, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga itu, menjelaskan waria boleh menjadi imam shalat bagi perempuan (apabila telah berganti kelamin menjadi perempuan).

Saya yang waktu itu masih kelas empat SD berpikir, “Oh berarti waria sudah ada dari dulu dan diakui keberadaannya dalam Islam ya?”

Hingga remaja saya masih meyakini hukum itu. Mungkin sampai sekarang, walau mulai agak ragu. Hukum itu mungkin berlaku karena pada dasarnya waria itu laki-laki, maka ketika seluruh jamaah perempuan, dia dianggap lebih laki-laki. Tapi kalau jamaahnya laki-laki, ada yang dianggap lebih tulen kelelakiannya. Wkwk.. Tapi, bukankah mengubah sesuatu yang sudah kodrat dari sananya adalah sesuatu yang dilarang? Mencukur alis dan mengikir gigi saja dilarang. Lha ini mengubah kelamin yang menjadi modal untuk berkembang biak.

Saya masih ingat kata guru saya ketika itu, “Sebenarnya nggak boleh melakukan operasi kelamin. Tapi kalau sudah terjadi, ya hukumnya begitu? Ketika shalat dia tetap dianggap laki-laki.”

Saya tidak mengerti perkara ini lah. Biar nanti kita buka-buka lagi buku dan bertanya-tanya lagi pada yang lebih memahami. Monggo.

Satu hal yang saya sukai dari Islam yang diajarkan di surau-surau ketika itu adalah, Islam itu mudah, Islam itu indah, Islam itu damai. Bayangkan, seorang ibu yang tidak mau sembahyang saja, bahkan yang bukan Muslim, wajib diperlakukan dengan baik. Dengan tetangga yang nonmuslim saja kita wajib menjaga hubungan baik. Dengan rekan bisnis yang nonmuslim saja, kita wajib bersikap jujur dan adil. Padahal mereka ini sudah jelas-jelas tidak mengakui Islam sebagai agama yang benar. Lalu bagaimana pula kita harus bersikap kepada orang-orang yang masih mengakui Islam sebagai agama yang benar, tapi dia belum menjalankan Islam dengan baik?

Tapi saya memang rasanya harus belajar kembali dari nol. Saya bergidik membaca komentar-komentar di sosial media. Mereka, para komentator, membenci, mencaci, melaknat kaum LGBT seakan bukan manusia. Beberapa kalimat yang umum saya baca, misalnya LGBT itu menjijikkan, LGBT itu lebih buruk dari binatang, hukuman bagi LGBT adalah dibakar, digantung, atau dilempar dari ketinggian.

Saya tidak yakin mereka yang ramai berkotek di media sosial itu adalah orang-orang yang benar-benar paham agama. Duh kalau saya bicara seperti ini nanti dibilang saya mendaku diri sebagai orang yang paham agama. Terserahlah, bukan maksud saya begitu. Selain tidak meyakini kapasitas pengetahuan agama mereka, saya juga tidak yakin mereka jauh lebih banyak ketimbang yang ‘tidak seseram itu’. Kalau kata Pak Haidar, mereka itu sedikit, suaranya aja yang lebih lantang.

Saya kemarin berbincang dengan dua orang teman. Teman saya yang pertama bilang, “Ya gimana, LGBT itu udah tahu salah. Tapi bukannya datang ke psikolog atau ke ustaz, malah datangnya ke kelompok yang begitu-begitu. Jadinya mereka kaya menganggap diri benar gitu lo, Han. Trus mereka bangga.”

“Ibaratnya gini, kamu tuh nyuri, trus kamu bukannya tobat malah kumpul ama para pencuri. Harusnya kan kamu tobat,” tambah dia.

Saya tidak menampik, ada lembaga-lembaga yang mengadvokasi kaum LGBT yang justru mencetak LGBT baru. Saya juga sudah bertahun-tahun risih dengan remaja-remaja yang makin ke sini makin gemulai. Mereka terekspos di TV-TV dan jumlahnya semakin banyak. Saya rela dibully kanan-kiri untuk tulisan ini deh karena saya menyinggung kedua kelompok baik yang mendukung LGBT maupun yang tidak. Tapi itu pendapat saya.

Tapi, perkara seksual tidak sama dengan perkara mencuri. Mencuri (kecuali klepto), seringkali karena unsur kepepet atau memang maruk, tidak punya rasa bersyukur, selalu merasa kurang, dll. Tapi LGBT adalah masalah psikis, hormonal, semacam itu. Bandingannya, seharusnya, dengan klepto tadi.

Mengapa kaum LGBT, pada akhirnya berlari ke komunitas yang mendukung pengakuan mereka? All people know lah ya, karena di sana mereka diterima. Mereka diajak memahami ‘kelainan’ yang ada pada diri mereka. Mereka diajak memperjuangkan hidup mereka (menakutkan nggak sih menjadi ‘berbeda’ di tengah masyarakat itu?), disupport untuk lebih percaya diri, untuk tidak minder, untuk punya harapan hidup, dll. Bahkan, mereka diperjuangkan haknya sebagai warga negara.

Itu satu semangat yang awalnya dibawa oleh support grup LGBT. Bisa dibayangkan, seorang waria tidak diterima secara agama. Walau mereka meyakini Tuhan, mereka seakan tidak bisa merengkuh karena dalam kepercayaan agama seakan tidak ada tempat bagi waria. Dia tidak diterima secara gender mainstream yang hanya mengakui dua jenis kelamin. Dia tidak punya banyak pilihan dalam bekerja. Lalu ketika mati, mereka kadang tidak diterima oleh sebagian orang yang mendaku tanah makam hanya untuk orang ‘normal’.

Sementara, di tempat-tempat yang seharusnya mereka disadarkan dan dinaungi, katakanlah di ruang-ruang agama, mereka sudah mendapatkan gambaran mengerikan. Dibakar, digantung, dilempar dari ketinggian, dll.

Sungguh cara berpikir yang agak tidak masuk akal jika seorang LGBT dipaksa kembali pada fitrah mereka sebagai laki-laki dan perempuan, dan menjadi heteroseksual, tapi mereka tidak diberi tahu cara kembali. Mereka tidak dibiarkan menguraikan permasalahan yang mereka alami. Perasaan mereka tidak dipahami. Kegalauan mereka tidak didengarkan. Keputusasaan mereka tidak diobati.

Secara alami saja, ketika ada dua kubu: yang satu melaknat, menganggap binatang, lalu yang lain memperjuangkan hak-hakmu, yang mana akan kamu pilih? Yang kedua kan? Jadi aneh kalau kita mempertanyakan kenapa mereka justru datang ke kelompok itu. we know exactly the answer.

Teman saya yang satu lagi punya pandangan yang lebih riil. “Mungkin karena pemikiran itu juga, aku sama teman-temanku akhirnya bikin komunitas untuk mensupport mereka. Tapi di sini mereka tidak diajak untuk menerima kondisi mereka. Mereka didengarkan, ditemani, dan didukung untuk kembali ‘normal’.”

Kalau saya ditanya bagaimana saya memandang LGBT, mungkin saya bukan yang bisa dibanggakan baik dari kalangan yang ‘agamis’ maupun yang ‘ham-is’ (duh aku kok jadi bikin dikotomi kaya gini). Saya masih berstandar ganda. Tergantung dari mana kita memandang LGBT. Jika dipandang dari hukum agama, LGBT (setahu saya) tidak punya tempat, dalam arti menyalahi kodrat. Menyalahi kondisi umum sosial masyarakat juga. Ini pasti juga dipahami oleh LGBT sendiri.

Tapi, secara kemanusiaan, mereka adalah makhluk Tuhan yang berhak hidup. Dia warga negara yang hak-haknya sama dengan kita. Maka dia berhak diperlakukan dengan baik dan mendapat hak sebagai warga negara.

Dan agama dengan kemanusiaan seharusnya tidak bertentangan. Kekeuh dalam memegang prinsip agama seharusnya tidak membuat kita abai secara sosial kemanusiaan.

Kalau Tuhan menghidupkan, mengapa kita bernafsu mematikan? Bukankah kita disarankan untuk berserah pada Tuhan? Bukankah hidup kita adalah anugrah? Bukankah semua yang kita miliki termasuk nyawa adalah pemberian Tuhan dan konon hanya titipan semata? Kita yang normal dan mereka yang LGBT sama-sama titipan. Jika miskin dan kaya sama-sama bisa menjadi ibadah, seharusnya LGBT dan non-LGBT bisa juga menjadi ladang ibadah. Yang dianggap normal beribadah dengan tetap menghormati dan membantu mereka (entah untuk mendapatkan hak dasar mereka atau untuk menjadi normal), yang LGBT juga punya ladang ibadah dengan menjalani sulitnya hidup ‘tidak normal’ dan sulitnya berjuang menjadi normal.

Salah satu hal sederhana (nggak sederhana ding) adalah mengubah persepsi negatif menjadi positif. Apakah dari menolak menjadi menerima? Atau dari yang awalnya dianggap kelainan lalu dianggap normal? Nggak, saya tidak sedang berbicara tentang itu. Satu contoh, dalam pembicaraan atau di tulisan, ayolah, mereka sudah tahu LGBT itu dosa (duh, kok berat nyebut ini karena menilai dosa atau tidak itu hak Tuhan). Ketimbang melaknat dan menutup segala ruang untuk mereka, kenapa tidak kita bukakan ruang yang lebar untuk mengajak mereka ke tempat yang menurut kita (atau kalian) benar. Kalau kalian berpikir seharusnya mereka menjadi normal, dan itu bukan mustahil, berikanlah sebanyak-banyaknya contoh siapa saja LGBT yang bisa kembali normal. Jika kalian bilang Muslim terbuka untuk membantu mereka kembali pada fitrahnya, sebutkanlah sebanyak-banyak komunitas dan sebanyak-banyak ulama yang bisa mewujudkan impian itu. Sampai mereka nggak bisa bilang bahwa LGBT nggak bisa sembuh. Sampai mereka bisa merasakan bahwa komunitas dan ulama Muslim adalah tempat konsultasi terbaik bagi mereka.

Melihat LGBT saya merasa perlu bersyukur saya tidak terlahir dalam kondisi seperti mereka. Saya tidak perlu merasakan pahitnya menjadi ‘berbeda’. Kita hanya orang-orang yang beruntung karena terlahir dalam kondisi mainstream sehingga tidak dikecam, dihina, dicemooh, dibully, disakiti.

Akhirnya saya hanya mampu mengingat kembali, apa yang membuat Rasulullah berhasil mengislamkan banyak pemimpin kaum nonmuslim? Konon katanya, akhlak. Bagaimana kita bisa mengajak mereka ‘kembali’ jika nafsu kita merasa jijik terhadap mereka. Bagaimana kita akan dapat merengkuh mereka jika tidak ada ruang di hati kita bagi mereka.

Saya seringkali miris jika di sela makan seorang waria datang, lalu beberapa teman laki-laki lari terbirit-birit. Oke, mereka takut dicolek atau dilecehkan. Atau ketika teman perempuan takut jika waria itu tiba-tiba mengamuk. Saya miris membayangkan, bagaimana jika saya dijijiki, ditakuti oleh orang lain? Then, saya cuma bilang. Kesulitan yang mereka hadapi untuk bertahan di tengah komunitas ini sudah cukup besar. Jika kita tidak mampu membantu mereka, tidak perlu kita menambah beban mereka.

 

Jakarta 07 Februari 2016

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s