diari · Uncategorized

#CeritaAyah: Menghadapi Gosip Tetangga sebagai Mahasiswa Nggak Selo

Saya membuat empat buah tulisan bersambung yang saya beri nama #CeritaAyah. Saya memang sangat dekat dengan Bapak. Keinginan untuk membukukan cerita tentang Bapak sudah muncul sejak SMK. Anggaplah ini sebuah usaha untuk memulai upaya itu.

Tulisan ini, seperti umumnya tulisan saya yang lain, sebenarnya gambaran dari refleksi atas apa yang terjadi dalam kehidupan pribadi. Saya mencoba menyelami kembali pengalaman selama menjadi mahasiswa. Jadi, mungkin tulisan ini cocok dibaca oleh pelajar atau mahasiswa yang sedang galau menghadapi cobaan, namun ingin terus menggapai impian. Tulisan ini juga cocok dibaca oleh mahasiswa-mahasiswa dengan seabrek kegiatan yang membuat mereka nggak bisa se-selo mahasiswa lainnya.

Tenang, cobaan kamu bukan yang paling berat. Kamu juga tidak sendiri. Banyak mahasiswa lain yang merasakan tekanan yang sama. Cuma nggak ketahuan aja karena tidak semua orang mau saling bercerita. Semoga tulisan saya ini bisa menemani kamu agar tak merasa paling susah sendiri, hehe…

Empat cerita ini saling bersambung. Jadi kalau hanya membaca bagian awal saja, kita tidak akan dapat memahami pesan utuhnya. So, selamat membaca.

 

#CeritaAyah1: Gosip Tetangga

Suatu hari Bapak pulang dari hajatan pernikahan tetangga kami. Aku juga baru saja pulang dari rumah seorang murid les di sekitar Jakal Km. 13. Kami duduk berdua menonton siaran berita di televisi.

“Tadi kamu ditanyain, kok Mbak Yani nggak datang,” kata kakakku.

“Oh ya? Trus jawab apa?”

Perhatian sekali tetanggaku, seandainya aku bisa dekat dengan mereka, pikirku.

“Aku bilang aja kamu lagi ada kegiatan kampus, lha aku nggak tau kamu ke mana.”

“Oh.. ya wis rapopo.”

Kakak lalu masuk ke kamar dan tidur.

“Tadi ada yang nyeplos’e, trus aku pas di belakang” kata Bapak tiba-tiba.

“Nyeplos gimana?”

Lalu Bapak cerita. Ternyata dalam hajatan itu, beberapa pemuda menggosipkan aku. Baiklah.

#CeritaAyah2: Gagal Sukses secara Sosial

Aku memang tidak sukses secara sosial di kampungku. Padahal, Bapak dan kakak menghabiskan masa mudanya sebagai pengurus kampung. Bahkan, sejak kecil aku tidak dekat dengan anak-anak kampungku. Aku mengaji di kampung sebelah, sebab TPQ di kampungku hanya hidup ketika Ramadhan. Jadi, masa kecilku lebih dekat dengan orang kampung sebelah.

Ketika remaja, aku jarang datang ke pertemuan-pertemuan Karang Taruna. Selain waktu yang tidak memungkinkan, aku juga sulit untuk ‘blend’ secara sosial dan kultural dengan mereka. Beberapa kali undangan rapat Karang Taruna datang di hari yang sama atau sehari sebelum hari-H. Padahal, aku sudah kadung janji dengan teman, punya jadwal ngeles, atau ada acara lain.

Beberapa kali aku mengosongkan jadwal dan mencoba datang ke rapat Karang Taruna. Aku seperti terasing karena memang jarang berinteraksi dengan para pemudi. Rapat berlangsung tanpa menghasilkan keputusan final. Hanya beberapa orang yang berbicara. Rapat hari itu membahas rencana pembuatan seragam batik.

Beberapa bulan kemudian, aku mencoba datang ke rapat itu lagi. Ternyata, pembahasannya masih seputar seragam batik, namun berbeda dengan yang dulu. Kali ini tawaran datang dari salah satu partai politik.

Rapat itu hanya diselenggarakan sebulan sekali, tapi pembahasan hanya berkutat pada seragam batik dan kegiatan wisata, kerja bakti, hal-hal semacam itu. Aku membandingkan dengan cerita temanku ketika SMK. Karang tarunanya punya beberapa divisi mulai dari pendidikan, sosial, penggalangan dana, dan lain-lain. Semuanya berjalan. Mereka membuat kegiatan outbond di kampung dan dikomersialkan untuk membiayai kegiatan-kegiatan mereka.

Aku pernah menceritakan hal ini ke seorang teman. “Kalau di sini nggak bisa, Mbak. Kebanyakan udah pada kerja. Yang nggak kerja masih sekolah. Susah kalau mau kaya gitu.”

Memang pemuda-pemudi di kampungku umumnya bekerja setelah lulus SMA. Waktu mereka tersita untuk bekerja. Selain bekerja, mereka masih membantu pekerjaan orang tua di rumah yang umumnya petani atau pedagang. Dia bahkan tidak menunjukkan antusiasme sama sekali kepada ide-ide yang aku ceritakan.

Untuk dapat mempunyai hubungan sosial yang cair dengan mereka, aku harus mempunyai kedekatan personal dengan para pemudi. Kebetulan sepupuku punya sekumpulan sahabat yang seusiaku. Aku mencoba berbaur dengan mereka.

Suatu hari, mereka berkumpul di rumah saudaraku itu. Mereka berbincang sangat asik membicarakan pria-pria ketje yang mereka taksir. Aku sebenarnya tidak masalah dengan pembicaraan ringan seperti itu. Tapi mereka memakai kode-kode yang tidak aku pahami. Kupikir, mungkin hanya butuh waktu sampai aku benar-benar bisa berbaur dan memahami kode-kode mereka. Pelan-pelan mereka akan terbuka.

Beberapa kali kumpul, akhirnya aku merasa sedang membuang-buang waktu, sementara ada tugas kuliah, tugas organisasi, jadwal les, dan urusan lain yang menumpuk. Aku akhirnya menerima bahwa aku tak terlahir sebagai aktivis karang taruna.

Walaupun begitu, aku bukan tak peduli pada kampungku. Aku pernah menghidupkan kegiatan mengaji di surau kecil dekat rumah. Awalnya hanya dua anak yang kuajar, cucunya mbah rois. Kian hari jumlah anak yang datang ke sana bertambah. Lima, tujuh, hingga akhirnya pernah mencapai lima belas anak dan aku tak bisa mengelolanya sendiri. Aku mengajak beberapa pemuda tapi tidak ada yang mau. Kegiatan ini terpaksa berhenti ketika aku masuk kuliah dan tersandra dengan tuntutan-tuntutan baruku.

 

#CeritaAyah3: Cara Tepat Membandingkan Diri

Gosip semacam yang didengar Bapak hari itu bukan pertama kalinya aku terima. Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan, sebab itu ibarat kekurangan yang harus aku terima. Aku tidak bisa sukses di segala bidang.

Tapi, perkataan tetanggaku hari itu agak mengganggu. “Aku juga mahasiswa, tapi aku nggak sesibuk itu, masih bisa datang ke acara-acara kampung,” kata dia.

Sayang sekali Bapak harus mendengar hal semacam itu. Aku tidak suka membuat masalah yang membuat Bapak harus memikirkan hal yang tidak penting, sebab aku tahu beban Bapak untuk memikirkan keluarga sudah cukup berat. Aku ingin cukup hanya perkara-perkara rumah tangga atau amanah di kampung saja yang menjadi beban pikiran, bukan aku.

“Ya nggak bisa kalau bandingin aku sama dia. Kondisi kami beda,” kataku.

Aku yakin Bapak memahami maksudku. Aku menghabiskan waktu di kampus bukan sekadar untuk bersenang-senang. Sekali-dua kali aku memang bersenang-senang, ikut kongkow di kafe, main ke mall, atau sekadar menemani belanja untuk menjaga hubungan baik dengan teman sekelas. Ini penting untuk mendapatkan updet tugas-tugas ketika aku tidak masuk kelas atau ada perubahan.

Tapi, sebagian besar waktuku aku habiskan di kelas, di sekolah bersama anak-anak SMK, di organisasi kampus, dan di kos teman untuk mengerjakan tugas. Di malam harinya, hingga pukul 22.00 WIB atau 23.00 WIB, aku membimbing les privat di Jakal. Saya punya alasan sendiri untuk menjalani semua kegiatan yang rasanya ketika itu, seakan membuat otak saya berasap dan hendak meledak.

Saya harus tetap mempertahankan organisasi di SMK itu karena saya telah merintisnya sejak kelas dua. Saya perlu aktif di kegiatan kampus sebagai salah satu syarat tetap mendapatkan beasiswa. Saya juga harus bekerja untuk membiayai biaya-biaya yang tidak tercakup oleh beasiswa. See, itu bukan pilihan buat saya.

Bapak pernah bilang, “Sebenarnya kamu tidak perlu seperti itu.”

Tidak Bapak, ini bukan hanya perkara kurangnya biaya. Ada hal lain lagi yang akan aku jelaskan di bawah, nanti.

Sampai di rumah, dengan sisa-sisa tenaga yang ada aku akan mengerjakan tugas atau sekadar memikirkan apa yang harus aku lakukan seminggu berikutnya agar tidak terjadi kekacauan dalam bahtera kehidupan. Halah.

Aku selalu meminta Bapak menjemput ke kos teman-temanku sehingga ia tahu di mana harus mencariku. Aku juga membiarkan Bapak bertemu dan mengenal teman-teman dekatku. Buatku, yang paling utama dan membuatku tenang hanya Bapak mempercayaiku. Tak peduli bagaimana para tetangga bergosip dan menyangsikan keteranganku.

“Kalau suatu hari Bapak ragu dengan aktivitasku, cek saja ketika aku bilang aku pergi ke mana,” kataku pada Bapak suatu hari.

Sebutlah X, pemuda yang dengan semena-mena mendaku diri sebagai mahasiswa yang tidak sibuk. Dia adalah anak PNS yang sedari awal ditanggung keuangannya oleh orang tua. Dia tentu tak perlu risau apakah dia akan punya uang untuk membayar uang semester, atau apakah ia akan mendapatkan beasiswa semester ini atau tidak. Dia tak perlu risau bagaimana menutup biaya buku, biaya bensin atau angkutan, biaya jalan-jalan, dan biaya-biaya lainnya. Mungkin dia juga punya masalah keuangan, tapi tentu berbeda denganku.

Aku juga mengingat keluhan salah seorang kakak kelas di organisasi kampus. Di kampus, seorang kakak kelas digosipkan karena tidak melaksanakan tugas dengan baik. Belakangan, ia mengaku disibukkan oleh kegiatan-kegiatan karang taruna. Ia akhirnya mengundurkan diri dan memilih menjadi aktivis karang taruna.

Aku pernah secara tak sengaja berbincang dengan teman sekampus tetanggaku ini. Lalu aku iseng menanyakan apakah ia aktif di organisasi kampus. Ternyata ia juga tak aktif. See, hidup itu pilihan. Setiap orang dikaruniai kapasitas fisik dan otak yang berbeda. Saya dan dia mungkin punya kapasitas yang sama, namun kami memilih menggunakannya pada tempat yang berbeda. Ada pula orang dengan kapasitas lebih tinggi dari kami yang bisa menjalani peran aktivis kampus dan kampung secara total dan tetap imbang. Pada akhirnya, sangat tidak arif membandingkan ukuran sepatu kita dengan kaki orang lain.

Kita tidak bisa menilai dan membandingkan sebelum benar-benar memahami kondisi orang tersebut. Bahkan, ketika kita sudah memahaminya pun, kita sebenarnya tak perlu membanding-bandingkan dengan diri kita. Tapi dasar manusia itu gatal untuk mencari pembenaran, mencari kelebihan dan kekurangan, jadi tak heran kita suka membandingkan. Saya sendiri juga sering begitu.

Saya mengingat sebuah nasihat, dalam lihatlah ke bawah dalam perkara dunia dan lihatlah ke atas dalam perkara akhirat. Lihatlah ke bawah untuk meningkatkan rasa syukur dan lihatlah ke atas untuk meningkatkan daya juang.

(Bersambung dulu ya.. Bagian terakhir masih di-keep. Capek euy ngetiknya.)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s