Telling Islam to the World

PC180051.JPG
para founder gerakan Telling Islam to the World foto bareng dengan para donatur seusai jamuan makan malam dan penggalangan dana

 

Jum’at (8/12) lalu, sebuah gerakan bernama Telling Islam to the World diluncurkan di di Hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat. Ada tak kurang 88 tokoh Muslim hadir dalam acara tersebut.

Telling Islam to the World digagas oleh tiga lembaga, yaitu Dompet Dhuafa, Nusantara Foundation, dan Urban Syiar Project. Konon, kata para pendirinya, gerakan ini bertujuan mensyiarkan citra positif ajaran Islam ke mata dunia.

Kalau kata Direktur Utama Dompet Dhuafa, Pak Ahmad Juwaini, inspirasi untuk bikin gerakan ini muncul melihat kondisi di Amerika dan Eropa. Di negara-negara mayoritas nonMuslim lah. Di negara-negara tersebut, Islam diidentikkan sebagai agama dengan ajaran kekerasan dan terorisme.

Ya, walaupun nggak semua teroris itu orang Islam dan di Islam tidak ada ajaran untuk melakukan terorisme, pandangan Islam sebagai agama teroris itu berkembang. Mereka-mereka yang tidak pernah berinteraksi langsung dengan komunitas Muslim tentu gampang terpengaruh dan mempercayai stigma ini. Apalagi kalau melihat teror-teror yang pelakunya Muslim, korbannya adalah saudara-saudara mereka. Kedekatan secara spiritual, sosial, dan geografis ini memperkuat stigma yang ada.

Nah, para founder Telling Islam to the World ingin mengikis stigma tersebut. Sebagai kaunternya, mereka ingin menunjukkan Islam yang humanis, yang betul-betul menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, umat Islam yang ingin ditunjukkan oleh gerakan ini adalah umat yang memberikan bermanfaat bagi orang lain dan memberikan solusi atas permasalahan dunia saat ini.

Menurut Pak Ahmad, ini waktu yang pas untuk memperluas pandangan. Umat Islam seharusnya tak hanya memandang islam dari keperluan lokal Muslim saja, namun juga sebagai ajaran yang mampu memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan dunia secara menyeluruh. Islam itu, kata dia, tidak hanya berisi perkara peribadatan dan fikih, namun juga lingkungan, kemanusiaan, dan lain-lain. Dan, sebagai agama yang rahmatan lil alamin, seluruh permasalahan seharusnya dapat diatasi dengan merujuk pada nilai-nilai Islam itu sendiri.

Dalam mensyiarkan nilai-nilai positif ajaran Islam ini, Pak Ahmad menilai perlu ada pembagian peran dalam mensyiarkan Islam secara menyeluruh. Perlu ada yang menjadi komunikator seperti tiga lembaga yang menaungi, ada penyandang dana, ada pula pewarta informasi. Yang tak kalah penting, setiap Muslim menjadi pelaku nyata untuk menunjukkan Islam yang rahmatan lil alamin.

Dalam gerakan ini ada pula founder Nusantara Foundation, Pak Shamsi Ali. Imam besar Masjid New York ini bilang gerakan ini tak hanya melawan stigma negatif di negara mayoritas nonMuslim. Ada juga upaya perlawanan terhadap pesimisme, kemarahan, dan frustasi umat Muslim secara internal, terutama di kalangan generasi muda Indonesia. Telling Islam to the World juga akan mengabarkan perkembangan Islam negara-negara lain seperti Rusia, Perancis, Jerman, Inggris, dan AS.

Salah satu kegiatan yang mereka pelopori adalah pendirian mualaf center di Amerika Serikat. Hingga terakhir diberitahukan ke saya waktu itu, sudah terkumpul dana senilai Rp 485 juta. Ini berasal dari sumbangan para tokoh yang hadir dalam peresmian gerakan Islam to the World aja.

Dalam jamuan tersebut, hadir Wakil Menteri Luar Negeri RI Abdurrahman Mohammad Fachir, istri Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Madam Sofia Blake, Direktur Utama Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini, Imam Besar Masjid New York Shamsi Ali, inisiator Urban Syiar Project Peggy Melati Sukma, para dai seperti Ustaz Erick Yusuf dan Ustazah Tutty Alawiyah, pendiri Yayasan Insan Cendekia Madani Tamsil Linrung, perwakilan wali kota Depok, perwakilan pimpinan cabang istimewa Muhammadiyah Libya, sejumlah pengusaha, motivator, dan para donatur.

Acara ini diramaikan dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh mualaf asal Belanda Siti Malikah Feer, teater dari Sensyiar, nasyid Ebith Bit E, pembacaan syair oleh Peggy Melati Sukma, dan sejumlah lagu reliji yang dibawakan oleh Fadli Padi.

Begitu deh cerita foto dari salah satu liputan saya bulan Desember lalu. Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s