Uncategorized

Karena Kita Butuh Self-Healing

Saya sedang berada di kos. Suasana di akhir pekan sangat sepi. Saya malas jalan-jalan keluar, padahal hati sedang tidak asik buat diajak bersenang-senang.

Bete, agak tertekan, stressful rasanya. Seminggu ini saya malas ke mana-mana dan malas ngapa-ngapain. Kamar berantakan pun saya biarkan. Sekadar keluar untuk membeli makan pun rasanya malas. Akhirnya saya hanya tidur-bangun-menulis-internetan-tidur. Siklus yang menjemukan kan?

Beberapa hari terakhir badan saya rasanya sudah sangat tidak enak. Pegal-pegal semuanya. Saya seperti kelelahan padahal tidak melakukan banyak aktivitas. Kepala saya rasanya nyeri (bukan pusing).

Saya pikir, sepertinya ini efek kurang makan, makan kurang bergizi karena saya malas ke mana-mana, beban pikiran yang menghabiskan energi, daaaaann…PMS.

Ketika bangun tidur dan mendapati badan linu-linu dan kepala nyeri, saya mencoba membuat nyaman diri saya. Membuat teh manis hangat, ‘ngalah’ (sama diri sendiri) keluar beli makan, dan sebagainya. seharusnya saya sudah bugar. Tapi paginya tetap seperti itu lagi.

Suatu hari, di hari Rabu, hari deadline maha deadline saya, saya bangun dengan dua mimpi baik. Tapi ketika bangun, ya saya sadar itu hanya mimpi. Saya tiba-tiba saja sedih. Makin sedih. Nangis. Ah nggak jelas. Padahal saya sudah harus menelpon orang-orang dan membuat tulisan.

Dulu ketika masih di Jogja, ketika dalam kondisi lelah, bête, stres, saya akan wisata kuliner kecil-kecilan. Kalau tidak, pergi ke pantai atau ketemu teman juga menyenangkan.

Saya sadar Jakarta bukan Yogyakarta. Mau ke gunung harus ke Bandung. Mau ke pantai harus nyebrang lautan ke Kepulauan Seribu. Mau wisata kuliner malas membayangkan jalanan yang macet. Saya juga tidak terlalu banyak referensi tempat wisata kuliner di kota ini. Apalagi sendirian, duh.

Akhirnya, saya memutuskan. Saya butuh makanan bergizi. Butuh hiburan. Butuh mencintai diri sendiri. butuh bersenang-senang. Butuh mengakhiri semua ketidakjelasan, kebetean, kesedihan, dll. Saya butuh membuang hal-hal yang tidak penting yang mengganggu pikiran.

Taraaa… Momen aha pertama adalah muncul dari saat saya akhirnya memutuskan untuk merapikan kamar. Mencuci semua pakaian kotor yang menumpuk. Saya mengubah sedikit letak barang-barang, membuang yang tidak perlu, dan membuat kamar saya lebih ringkas. Menjadi anak kos, anak rantau yang tidak bisa pulang seminggu sekali memang riweuh. Banyak barang yang tidak bisa saya ungsikan.

Jika biasanya saya mengepel tiga kali (maksudnya dalam satu kali ngepel diulang tiga kali), kali ini saya pel sampai lima hingga enam kali. Ruangan jadi terasa lebih bersih dan lebih luas. Nggak cuma kamar. Dapur, ruang tamu, dan kamar mandi juga sepaket dibersihkan.

Setelah itu, baju yang sudah menumpuk pun mendapat giliran. Semua baju sudah bersih. Kamar sudah nyaman.

Saya lalu sadar beberapa barang stok sudah habis. Saya belanja. Saya sadar, saya sudah lama nggak belanja besar, belanja bulanan. Biasanya saya hanya belanja bahan seperlunya karena memang barang tidak habis bersamaan.

Saya belanja agak banyak (dari biasanya) karena bahan-bahan makanan memang sudah lama habis. Saya sudah lama nggak masak. Saya bertekat menyetok bahan-bahan pangan sehingga saya tidak malas memasak lagi.

Iya, kalau dulu saya memang bisa wisata kuliner sana sini. Di Jakarta saya tidak terlalu leluasa. Maka memasak sendiri adalah hal paling menyenangkan. Self-relieving. Ketika bête, saya pengin makan yang enak, masih fresh, atau masih panas. Pilihan terbaik adalah memasak sendiri.

Kalau memasak sendiri, otomatis selera masakan itu akan sesuai dengan lidah kita. Memotong sayur, menumis, menggoreng, proses ini sangat menyenangkan. Sebab, sembari melakukan aktivitas itu kita sudah bisa membayangkan hasil makanan yang akan kita buat.

Saya mencoba resep dari teman saya. Tumis campur-campur. Campuran mentimun, wortel, tahu, dicampur dan ditumis. Hasilnya krenyes-krenyes, segar.

Hari itu saya masih membeli nasi. Beras habis. Malam-malam, kepala saya nyeri lagi. Saya harus makan buah. Akhirnya, sekitar pukul 21.30 saya ke pasar. Saya beli sayur dan bumbu-bumbu. Dan buah. Sampai di rumah, saya memasak lalu makan.

Hari ini, saya sudah merasa cukup bugar. Rasa nyeri di kepala jauh berkurang. Saya masak lagi. Nggak perlu yang rumit-rumit, nggak perlu ribet-ribet. Yang penting apa yang pengin kita makan, kita buat sendiri dan terhidang ketika masih fresh from the kitchen.

Terimakasih wahai hari yang menyenangkan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s