Pria, Agama Bukan Alat Bagimu

Hari itu kami terlibat perdebatan yang penting tapi tak penting. Sepasang suami-istri yang tergabung di salah satu grup whatsapp kami memancing pembahasan seru. Pasalnya, sang suami, sebut saja Mr P, memilih menegur istrinya di grup WA ketimbang menggunakan jalur pribadi (japri).

“Istri kan wajib menaati perintah suami sepanjang tidak melanggar perintah agama,” kata sang suami.

Kami, para perempuan, jujur saja agak hangat mendengar kata-kata itu. Ujung-ujungnya, ketika terpojok, ketika tak ada lagi argumen yang bisa dipakai, dalil dihembuskan. Wahai pria taat beragama, agama tidak diciptakan untuk menjadi alat pembenaran bagimu sembari mengesampingkan kebenaran yang lain. Agama juga tak digunakan untuk memaksakan hal yang menurutmu baik bagi orang lain, memberi keuntungan pada dirimu, namun mengabaikan penerapannya pada diri sendiri.

Bingung? Begini ceritanya..

Ceritanya, sang istri menebar ‘berita lucu’ yang multiinterpretasi. Dalam suatu razia di penjara perempuan, ditemukan terong di bawah kasur. Berita ini menjadi bahan guyonan.

Sang suami, sebut saja Mr P, tiba-tiba –merusak suasana- menegur istrinya untuk tidak berpikiran kotor. Beberapa perempuan di grup itu serentak berkomentar tanpa dikomando. Ada apa dengan terong? Siapa yang berpikiran kotor? Tidakkah Mr P ini yang berpikir terlalu jauh, berimajinasi terlalu liar, dan bertindak terlalu mengada-ada?

Tak hanya sampai di situ, Mr P juga melarang istrinya menjawab pertanyaan seorang teman di antara kami. Rombongan perempuan makin menjadi. Sang admin mengatakan, setiap orang berhak bersuara dan mengeluarkan pendapat di grup tersebut.

Keluarlah fatwa andalan, “Istri wajib menaati perintah suami sepanjang tidak melanggar perintah agama.”

Apakah ada yang salah dengan ‘fatwa’ tersebut? Tidak. Tapi, dear husbands, ingatlah bahwa seorang suami wajib memberikan hak istri sepanjang tidak melanggar perintah agama. Apa salahnya bersuara dan berkomentar?

Masalah ini kemudian menjadi perbincangan hangat di kelompok beberapa perempuan. Yang menjadikan kami kegatelan untuk berkomentar adalah ketidakberimbangan aturan itu diterapkan. Mengapa perempuan tidak boleh bercanda porno, sementara hampir setiap hari obrolan porno keluar dari ketikan-ketikan jari para pria? Tak ketinggalan Mr P.

Mr P, di grup tersebut, adalah salah seorang yang tak jarang mengeluarkan obrolan porno. Ok tidak porno, nyerempet porno. Eh tidak nyerempet tapi ambigu, multiinterpretasi. Sejenis dengan kasus terong di bawah kasur. Dia adalah pria lanyah yang akan dengan senang hati menyambar umpan obrolan temannya ketika menyangkut guyonan semacam itu.

Kami, para perempuan, bertanya-tanya. Mengapa dalam hal bercanda saja harus ada diskriminasi gender? Mengapa ketika tidak punya argumentasi yang bisa diterima, dalil agama selalu jadi senjata? Mengapa dengan dalil itu seakan ia punya legitimasi untuk melarang sang istri, namun ia tidak menerapkan hal yang sama pada diri sendiri? Mengapa dalil agama digunakan secara sepenggal, mengesampingkan dalil lain yang tidak berpihak kepada mereka (laki-laki)? Mengapa?

Dalam banyak kasus, laki-laki, terutama yang sudah menikah, seringkali menggunakan agama sebagai alat pembenaran. Untuk apa? Untuk memenuhi ego, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, untuk mendapatkan apa yang ia anggap benar, untuk berbagai alasan.

Seorang teman mengeluh suaminya melarang dia berinteraksi dengan laki-laki lain, kecuali ada sang suami. Sejauh ini belum bermasalah. Ini menjadi masalah ketika sang istri juga dilarang keluar rumah tanpa ada suami atau ibu. Sang istri hanya boleh keluar selama beberapa jam ketika membantu ibu mertua berjualan di pasar. Bahkan untuk reuni dengan teman-teman lama yang semua perempuan pun, sang istri dilarang.

“Kadang jenuh juga sih, tapi lumayan kalau di pasar bisa interaksi sama orang-orang, walaupun hanya beberapa jam.”

“Kenapa tidak mencoba berjualan online? Kan kamu nggak perlu keluar rumah, masih bisa ngurus anak.”

Larangan ini rupanya makin menjadi. Sang istri dilarang berjualan online, bahkan berdagang barang-barang kebutuhan perempuan, karena bisa saja yang membeli laki-laki. Bisa saja sang istri harus bertemu supplier laki-laki. (Wahai pria, peramlah istrimu di rumah, siapa tahu tiba-tiba ia menetas.)

Perintah agama bahwa seorang perempuan (istri) lebih baik di rumah menjadi dalil yang digunakan dan diiyakan oleh sang istri. Takut suami marah, takut dosa, takut dipukul, menjadi penghalang untuk bersuara.  

Apa benar larangan itu diberlakukan karena sang suami taat beragama? Ketika ditanya lebih jauh, larangan ini ada ceritanya. Sang istri dulu pernah berjualan pulsa. Dari situ, ia banyak berinteraksi dengan laki-laki, hingga ada laki-laki yang menggodanya. Imbasnya, sang suami cemburu. Bisnis itu dihentikan. Istri tidak boleh lagi berinteraksi dengan laki-laki dengan sejumlah larangan-larangan lainnya.

Jadi pria, alasan utama larangan itu sepertinya bukan agama. Rasa cemburu, rasa memiliki, rasa takut kehilangan, ego, rasa harus ditaati, harus dituruti, harus ‘memimpin’ dan serentetan ketakutan serta kekhawatiran lain lah yang sebenarnya menjadi motif utama. Agama, sayangnya, ‘hanya’ dijadikan alat untuk mewujudkan keinginan itu sendiri.

Apakah seorang wanita sepenuhnya taat? Ketaatan seorang istri yang bernilai ibadah akan diikuti dengan keikhlasan, ketenangan, ketundukan, dan serentetan perasaan positif lainnya. Rasa takut dan tertekan tidak masuk di dalamnya. Ini yang membedakan taat dengan terpaksa, yang kadang dirasakan istri dan tidak disadari suami.

Apakah aturan ini bisa diberlakukan sebaliknya? Bukankah aturan untuk menjaga diri itu juga berlaku untuk laki-laki? Apakah ketika di tempat kerja sang pria mendapat godaan, istri berhak untuk meminta dia mencari pekerjaan yang hanya memungkinkan ia berinteraksi dengan laki-laki saja? Apakah suami mau memenuhi, jika sang istri memintanya tidak menghadiri reuni atau kumpul-kumpul ngopi yang isinya hanya laki-laki saja?

Wahai pria, agama ada untuk memperbaiki tatanan kehidupan dalam masyarakat. Agama bukan hanya pemuas nafsumu. Bukan pula penguat egomu. Agama hadir untuk membawa ketenangan, bukan rasa penuh tekanan.

Wahai pria, kami perempuan dididik dengan baik dengan pendidikan yang mencukupi untuk menemani dan membantumu mengarungi rumah tangga. Kami teman, bukan ancaman. Kami tak segan meninggalkan segala prestasi yang gilang-gemilang, tangga karir, dan berbagai pencapaian lain untuk membantumu menjadi pemimpin yang baik. Untuk menjadi ibu dan istri yang baik. Kami tak enggan melambat agar engkau bisa melesat cepat. Namun kami ingin itu menjadi pilihan, bukan paksaan. Diiringi keikhlasan, bukan ketakutan. Kami teman, bukan ancaman.

Wahai perempuan, jangan sampai bahagiamu selesai di luar saja. Jangan biarkan suamimu menjadi sumber duka. Jangan berbuat jahat dengan membiarkan lelakimu tersesat. Jangan biarkan ia merasa nyaman dengan menekan dan tidak melaksanakan amanat. Jangan biarkan cerita duka dan segala sambat menjadi penat. Kasihan kami, yang melajang, mendengar, takut tersesat. 😛 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s