Objektivitas Sumber Bacaan dan Trial by the Socmed

 

Kemudahan dalam mengakses internet saat ini menyebabkan setiap orang punya ruang untuk bersuara di sosial media. Tiap individu dapat langsung berinteraksi tanpa sekat dengan kapasitas argumentasi masing-masing. Orang-orang ini bahkan mempunyai ruang untuk saling menghakimi.

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi cerita sederhana yang mungkin dapat menggambarkan bagaimana penghakiman itu terjadi.

Saya adalah pengguna Facebook. Ada satu pola yang akhir-akhir ini saya amati di akun Facebook itu. Pertama, apa yang hari ini dibagikan oleh kawan-kawan saya, hari ini atau hari berikutnya akan ramai diungkap media online. Kedua, apa yang menjadi pembahasan di media online, di hari yang sama atau hari berikutnya akan muncul di berbagai postingan kawan-kawan.  Jadi, kalau kita rajin online, bisa dibilang kita dapat memprediksi apa yang akan menjadi bahan pembicaraan esok hari.

Dua hari yang lalu, salah satu akun di pertemanan saya membagikan tautan ‘berita’. Judulnya cukup bombastis, jika tidak mau disebut provokatif. “Memalukan! Wartawan Indonesia Kunjungi Israel Bertemu PM Netanyahu ‘Si Pembunuh’”. Di atas tautan tersebut, pemilik akun menambahkan komentar, “Pengkhianat bangsa Indonesia. Bangganya mereka bersanding dengan pembunuh.”

Sepintas saya tersenyum, tapi ada rasa miris yang muncul. Pertama, si pemilik akun memilih untuk menggunakan sumber dari media konservatif yang hingga kini tidak jelas akan dimintai pertanggungjawaban ke mana jika ada pemberitaan yang tidak benar. Kedua, komentar yang diberikan sangat tegas, keras, tapi sayang tidak berdasar (jangan panas dulu, saya akan memberikan penjelasannya di bawah). Ketiga, komentar itu dikeluarkan oleh admin akun masjid. Ini memang tidak mengherankan di zaman seperti sekarang, tapi bukan berarti kenyataan seperti ini perlu dianggap benar.

Pemisahan peran, atau penempatan yang sesuai, bagi saya sangat penting. Oleh karena itu, saya merasa perlu memberikan penekanan ketika seorang teman melontarkan gurauan, “Saya ini ustaz. Dari kecil mengaji, saya mondok selama enam tahun, kuliah di perguruan tinggi Islam. Jurusan yang saya ambil dapat lisensi langsung dari Cairo. Kalau saya lulus, saya akan dapat dua ijazah, salah satunya setara dengan lulusan al-Azhar. Saya biasa ngisi pengajian.”

“Cyin, kamu mau tahu pendapat saya? Saya tidak peduli. Di kantorku banyak ustaz (atau minimal ada beberapa). Tapi di kantor, kami hanya punya dua relasi: kami sama-sama karyawan perusahaan dan kami adalah teman,” jawab saya.

Hooh, setiap orang dilahirkan untuk memegang beberapa peran. Dia bisa menjadi pemilik akun pribadi, pemegang akun lembaga, ketua organisasi, pemilik yayasan, dan sebagainya. Peran ini kadang bisa dijalankan bersamaan, tapi perlu ada penerapan yang jelas. Perlu kesadaran untuk bisa memahami masing-masing peran, memisahkan, dan menempatkan diri sesuai dengan konteks situasi yang dihadapi.

Seorang pemilik akun pribadi bebas menyampaikan apapun di sosial media dengan risiko masing-masing. Namun, jika ia berperan sebagai admin akun lembaga, suaranya akan mencerminkan kelembagaan.

Kembali pada persoalan tautan ‘berita’. Saya menyebutnya dalam tanda kutip, sebab sebagian orang menganggap tulisan itu sebagai berita. Pada kenyataannya, anggapan itu hanya ilusi. Sebuah berita haruslah objektif. Unsur ini saja tidak terpenuhi.

Objektivitas memang sesuatu yang relatif. Ada yang menganggap objektivitas itu hanya ilusi, sebab setiap orang dilahirkan untuk punya stand point. Akhir-akhir ini, banyak media dianggap tidak lagi objektif sebab menunjukkan keberpihakan terhadap kalangan, kelompok, atau orang tertentu.

Snggapan ini bisa jadi benar, bisa juga hanya gambaran kegagalan orang dalam memandang kerja jurnalistik. Artinya, sebuah media bisa saja tidak objektif, sebab ia diperalat oleh banyak hal. Misalnya, ia dikekang oleh pemilik modal, ia diancam dan tidak berani melawan, ia disandera oleh pemasang iklan, dan sebagainya. Dalam lingkup yang lebih sempit, sebuah berita bisa menjadi tidak objektif sebab si penulis didikte oleh narasumber, didikte oleh perusahaan atau atasan, didikte oleh sekantung uang, dan sebagainya.

Namun, objektivitas sebuah tulisan dan media tidak menafikan bahwa ia harus memiliki sudut pandang. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, setiap orang dilahirkan untuk punya ide, gagasan, stand point, apapun kita mau menyebutnya. Ketika Tempo, misalnya, membela kaum LGBT, saya tidak melihat itu menyalahi prinsip objektivitas. Begitu pula ketika, sebaliknya, Republika mati-matian melawan LGBT. Keduanya akan menjadi tidak objektif apabila tidak mewadahi perspektif satu sama lain secara berimbang atau tidak mendasarkan sudut pandangnya pada argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sebuah berita dikatakan objektif jika ia selaras dengan kenyataan, tidak berat sebelah (ingat bahwa tidak berat sebelah sangat berbeda dengan tidak punya sudut pandang), dan bebas dari prasangka pribadi. Saya sendiri merasakan, menjaga objektivitas tulisan (dan perkataan serta pemikiran) bukan hal sederhana.

Mengapa tulisan “Memalukan! Wartawan Indonesia Kunjungi Israel Bertemu PM Netanyahu ‘Si Pembunuh’” tidak bisa disebut objektif? Kita belum mengurai sampai ke isi-isinya. Dari judulnya saja, subjektivitas penulis sangat bermain di dalamnya. Kata “malu” melibatkan perasaan yang sangat subjektif. Rasa malu seseorang tidak bisa dirasakan persis oleh orang lain. Karenanya, kata itu biasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan yang sangat subjektif, misalnya “saya malu” atau “kami malu”.

Ketika digunakan untuk menggambarkan perasaan orang lain, kata malu hanya menjadi sebuah pertanyaan atau asumsi. Kalimat yang lazim berbunyi, “Kamu malu ya?” atau “Tidakkah kamu malu?” Artinya, si penanya tidak dapat menyatakan dengan pasti bahwa yang bersangkutan benar-benar malu. Bahkan, ketika dipaksakan menjadi sebuah pernyataan, kalimat “Kamu pasti malu.” atau “Saya tahu kamu malu.” hanya menggambarkan asumsi.

Ketidakobjektivan kedua ada pada penyebutan “Si Pembunuh”. Dalam hukum, dikenal asas praduga tak bersalah. Dalam dunia pers, dikenal istilah ‘trial by the press’. Trial by the press, atau pengadilan oleh pers, adalah praktik jurnalistik yang menyimpang, dimana jurnalis atau lembaga pers melalui tulisan atau produknya menjadi hakim.   Ini sangat berlawanan dengan prinsip asas praduga tak bersalah.

Tanpa adanya pengadilan, sebutan pembunuh menjadi sangat subjektif. Bagi kita, saya, kaum Muslim, pembela kemanusiaan, dan orang-orang Palestina, Netanyahu adalah seorang pembunuh karena ia memimpin sebuah negara untuk melakukan penyerangan terhadap negara lain yang kita anggap lebih lemah dan menimbulkan banyak sekali korban. Bagi orang Israel, Netanyahu adalah pahlawan.

Bagi seorang Muslim, seorang pejuang Palestina yang membunuh tentara Israel adalah pahlawan. Maka Muslim akan menyebutnya mati syahid. Kita meyakini orang seperti ini akan masuk surga. Bagi anak tentara Israel yang mati, ia adalah seorang pembunuh. Bagi dia, ayahnya adalah pahlawan bagi negaranya dan pembunuh itu akan masuk neraka. Nah kan?

Argumen ini mungkin akan disanggah dengan mengatakan, “Saya kan Muslim, berarti saya ada pada stand point bahwa dia adalah pembunuh. Biar saja orang Israel menganggap dia pahlawan.”

Masalahnya, seperti telah saya tuliskan di atas, sudut pandang seseorang tidak boleh dicampuradukkan dengan objektivitas. Ketika kita bicara tentang objektivitas, perlu diingat kembali dengan peran apa kita bersuara, dalam konteks apa suara itu disampaikan.

Dalam konteks menuliskan sebuah berita, menyatakan seseorang sebagai pembunuh artinya ada keputusan hukum yang menyatakan ia telah membunuh. Pembunuhan sebagai tindak pidana, harus disertai bukti dan proses yang jelas. Orang yang jelas-jelas membunuh saja tidak serta merta bisa disebut pembunuh (dalam berita). Ia harus melalui serangkaian proses dengan sejumlah sebutan, mulai dari terduga, tersangka, hingga terdakwa. Terkait tanggung jawab Netanyahu, kita juga tidak bisa menggunakan kacamata hukum Indonesia, tapi hukum internasional. Kejahatan perang. Kalau mau menyebut dia sebagai pembunuh dengan cara yang objektif, dalam sebuah berita, maka bawalah ia ke mata hukum internasional, buatlah ia terbukti melakukan kejahatan perang sampai divonis.

Tapi Neng, tulisan itu kan bukan berita, tapi ‘berita’? Dyar! Argumentasi putus. Ok siap, saya salah.

Lanjut. Ini masih hanya membahas tentang judul. Belum ke isi-isinya. Isi dan isunya akan saya bahas pada tulisan tersendiri. Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, ada kecenderungan untuk melakukan penghakiman yang didasari penarikan simpulan instan. Ini terjadi akibat kuatnya subjektivitas (dan sentimen), disebabkan kecenderungan memercayai media yang juga melakukan hal serupa.

Media ini tidak memproses fakta dengan benar, sehingga memunculkan asumsi. Ada banyak hal yang dibiarkan kosong dan tidak terjawab. Banyak ruang untuk menelurkan asumsi-asumsi baru. Entah karena malas, tidak punya kapasitas, tidak punya akses untuk menelaah lebih lanjut, atau karena alasan lain, asumsi ini ditarik begitu saja menjadi sebuah simpulan. Ini menyebabkan pernyataan yang keluar menjadi tidak lengkap dan mengandung banyak cacat. Tak heran, dari sebuah berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, seseorang bisa mengadili orang lain sebagai pengkhianat.

Ok, sudah jam 03.15 WIB. Di tulisan selanjutnya, saya akan membahas tentang cacat dalam penulisan ‘berita’ di atas, tentang pernyataan “mengkhianati bangsa” yang menunjukkan kegagalan penulisnya memahami kinerja jurnalistik, ada pula pembahasan tentang simpulan instan lainnya. Saya tutup lapak dulu sementara.

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s