diari · Uncategorized

Berbagi Ruang dengan Makhluk Halus

Saya masih ingat, malam itu Ayah memarahi saya. Saya kecil sepertinya memang terlahir untuk menguji kesabaran orang tua. Saya tidak nakal lo, hanya mempunyai inisiatif yang lain dari keinginan orang tua saya.

Saya menangis meraung-raung mendengar suara Ayah saya yang menggelegar. Ibu, menggendong saya dan meminta diam, tapi saya tak dapat menghentikan isakan.

“Sudah, diam. Nanti kalau kamu menangis, ada yang dengar. Kamu lihat tidak, itu yang ada di sana. Di pohon itu,” kata ibu.

Kami memang tinggal di kampung. Di depan rumah saya ketika itu masih ada sepetak kebun dengan pohon-pohon besar. yang ditunjuk ibu adalah pohon paling tinggi dan paling besar. Sejak malam itu, saya percaya, setiap malam ada yang mengintip di balik pohon itu.

Masa kecil saya, dan mungkin juga masa kecil banyak orang, diliputi cerita yang membuat kita takut. Saya masih ingat, anak-anak yang pulang sekolah bersama seringkali berhamburan jika melihat truk. Kami disusupi pemikiran bahwa ada truk bertanda gunting yang suka menculik anak-anak SD yang pulang sekolah.

Suatu hari, di kelas empat SD, kakek saya sakit. Dia memang sudah lama sakit. Tangannya digigit ular kobra hingga membusuk. Berbagai pengobatan dijalani tapi tak berhasil. Akhirnya, ia hanya mampu berbaring di rumah dibantu nenek saya yang setia.

Mungkin merasa sendiri, kadang ia meminta kami datang. Permintaan ini tak kenal waktu, bahkan kadang seorang sepupu harus menjemput Bapak tengah malam.

Malam itu, sekitar pukul 01.00 WIB, pekerjaan di rumah baru selesai. Kami pergi ke rumah kakek berlima. Saya, ibu, dan ketiga kakak. Ayah di rumah.

Di kampung,  ada satu rumah yang saya takuti. Rumah itu kosong. Di siang hari pun saya selalu membayangkan ada orang di sana.

Malam itu, ibu dan kakak memilih lewat sana. Saya berjalan paling pinggir, paling dekat dengan rumah itu.

Rumah itu cukup besar untuk ukuran kampung. Halaman di depannya luas. Di belakangnya banyak pohon-pohon besar, sementara di depan rumah ada beberapa. Rumah itu berpagar menganga tanpa pintu.

Kami berjalan bersama, berjajar hampir memenuhi jalan. tak masalah, toh dini hari begini tidak ada orang lewat. Tepat ketika saya menginjakkan langkah pertama di samping pagar menganga itu, sebuah suara menggema dari atas sana. Dari arah yang sangat tinggi, sejajar dengan pohon-pohon besar di belakang rumah.

“hi hi hi hi hi…hi hi hi”

Suara perempuan itu nyaring sekali, terdengar beberapa detik. Keras sekali dan menggema. Suaranya saya perkirakan bisa terdengar di sepenjuru kampung. Saya beringsut memegang tangan kakak, namun ia merasa risih. Saya lalu berpindah ke tengah.

Ibu dan kakak berbincang-bincang seperti tak ada apa-apa. tak ada yang tampak kaget atau ketakutan. Keesokan harinya, ketika saya tanya, tak ada yang percaya dan tak ada yang mendengar suara itu.

Saya memang penakut ketika kecil. Makanya, Ayah saya selalu bilang. “Ngapain ngaji kalau takut setan? Sekarang itu setan sudah nggak berani muncul. Kalau dulu wajar masih banyak setan, karena orang dulu nggak bisa ngaji. Kalau sekarang banyak yang bisa baca Alquran. Setan itu takut sama orang ngaji.”

Ketika dewasa, saya mencoba membawa logika itu dalam kehidupan. Setan, makhluk halus, apapun itu, adalah ciptaan Tuhan. Jika saya percaya Tuhan menjaga dan melindungi, maka setan bukan tandingan bagi-Nya. Betul kan? sugesti itu menambah keberanian saya beberapa derajat. Tapi ya bukan berarti ga takut sama sekali, wkwk.

Tambah tua lagi, pemikiran semakin berkembang. Saya mulai memahami bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk berhalusinasi. Juga kekuatan untuk menseting pikiran. Secara spiritual dan supranatural, rasa takut seseorang dapat menunjukkan kelemahan yang bisa dimanfaatkan setan untuk menakut-nakuti manusia. Secara psikologi, rasa takut itu memicu halusinasi yang kemudian mewujud dalam bentuk seperti yang ia bayangkan sendiri.

Saya mulai mempertanyakan pengalaman saya ketika kecil. Bisa ada banyak kemungkinan. Bisa jadi malam itu saya memang digoda neng kunti. Bisa juga saking takutnya, memori bawah sadar saya memunculkan suara-suara itu.

Ilmu tentang mensugesti diri dan mensetting pikiran rupanya banyak membantu saya menghilangkan rasa takut. Saya mulai berani tinggal di kamar sendiri, lalu tinggal di kamar yang terpisah dengan rumah utama.

Ketika SMA, saya juga seringkali merasakan tindihan. Konon, kalau tindihan, ada makhluk halus yang menindih badan kita. Badan tiba-tiba tidak bisa bergerak walau rasanya saya sudah bangun.

Dari mencari-cari tahu, tindihan (sleep paralyze) rupanya merupakan momen dimana kita terjebak pada dua alam. Alam bawah sadar, atau alam mimpi, dan alam ketika kita bangun. sleep paralyze bisa terjadi karena banyak hal. Salah satunya, stres. Saya amati, tindihan yang saya rasakan memang meningkat ketika kuliah, ketika beban hidup (tsahh) terasa sangat berat. Saya pun mempercayai teori ini.

Artinya, untuk menghilangkan tindihan, saya perlu membuat pikiran saya relaks sebelum tidur. Benar saya, seiring dengan berkurangnya beban, tindihan semakin berkurang. Bisa dibilang, saya tidak pernah tindihan lagi sekarang.

Poin selanjutnya adalah mensetting pikiran. Saya mempercayai teori tentang ketakutan yang memunculkan bayangan-bayangan. Ini sering saya lakukan ketika saya terpaksa, mau tidak mau, harus berhadapan dengan rasa takut. Awalnya, ketika saya lagi rajin ibadah malam. Tempat wudhu di rumah saya ada di luar, dekat dengan tanah kosong. Setiap kali wudhu, hawa dingin pagi dini hari sering berhembus di kuduk. Saya sering membayangkan tiba-tiba ada sesosok makhluk yang iseng menggoda.

Tapi saya mencoba melawan itu dengan keyakinan bahwa selama saya baik, mereka juga baik. Selama saya tidak mengganggu, mereka tidak mengganggu. Di luar dari itu, saya sedang melakukan tindakan baik untuk beribadah kepada Tuhan, jadi kalau dia mengganggu saya, ya Tuhan lebih kuat daripada dia kan? wkwk..

Cara ini cukup berhasil dan semakin menguat seiring pengalaman. Saya tidak pernah mendapatkan gangguan macam-macam selama keluar rumah pada dini hari.

Suatu malam, teman saya mengirimi sebuah pesan. Dia tahu saya sering tidur pagi, mengingat saya memang baru mengantuk di pagi hari. Waktu itu saya juga sedang asik mengejar penyelesaian skripsi.

Tepat tengah malam, jam 00.00, dia mengirim sebuah pesan. “Bajingan!” kata dia. Ups, sori kasar, memang begitu dialognya.

“Apaan?” kata saya.

“Barusan aku lihat jari.”

“Maksudnya?”

“Barusan aku ada jempol lewat di sela-sela pintu, berlumuran darah.”

Bulu kuduk saya sempat meremang. Saya juga sempat terbayang ada ‘sesosok’ jempol berlumuran darah lewat di pintu kamar.

“Jangan dilanjutin! Awas ya, aku nggak bakal baca.”

Tentu saja kata-kata itu tidak berguna. Ia masih saja mengirimkan pesan. Ia bilang jari itu tahu-tahu menghilang.

Saya mulai menguasai diri dan mengingat prinsip untuk menseting pikiran. Lalu saya bilang, “Aku tahu cara ngilanginnya.”

“Gimana?”

“Deketin kelingking kamu ke jempol itu.”

“Asssuuu…wakakakak” kata dia.

Di Jakarta, di tempat saya tinggal sekarang, ada sebuah tangga gelap menuju atap. Kami menyebutnya lantai III, tempat menjemur pakaian. Tangga itu gelap, cocok untuk syuting film-film horor. Di lantai III juga tidak ada lampu sama sekali.

Kujurnya, sejak masih di rumah, saya terbiasa mencuci di malam hari. Iya, saya terbiasa makan jam 00.00, mencuci dan merapikan kamar tengah malam. Im a nocturnal.

Awalnya saya menunggu hingga pagi baru menjemur pakaian. Tapi kadang saya harus bekerja di pagi hari, sehingga kegiatan ini terasa tidak efektif. Akhirnya, saya nekat ke atas tengah malam. Awalnya saya merinding mengingat lantai III sangat gelap. Bisa saja dari baju yang terhalang tiba-tiba muncul sesosok wajah pangeran tampan. Ehh. Apalagi, di sudut lain tempat itu, ada setumpuk barang-barang gudang tak tertata. Ada lagi, sebuah bath tub tak terpakai warna putih dalam kondisi terbalik yang bentuknya kalau malam seperti nisan. Suasananya pas. Wkwk.

Saya lagi-lagi berprinsip seting pikiran sangat penting. maka saya menseting bahwa tempat itu hanya tempat menjemur baju biasa. Sejauh ini, sudah hampir setahun, tidak pernah terjadi apa-apa, dan gak minta.

Suatu hari, salah satu teman kantor cerita, salah satu mantannya dulu pernah tinggal di situ. Ia mewanti-wanti saya dengan sangat serius. Kosan itu angker. Saya bilang dengan santai, “Ah, kamu dulu kebanyakan maksiat kali makanya digangguin. Aku lama di situ, naik-naik ke lantai atas nggak ada apa-apa.”

“Beneran? Berarti emang tergantung amal dan perbuatan.” kata dia cengengesan, “Tapi bener, Mbak Han, kosan itu angker. Percaya deh ama aku.”

Suatu hari, ibu kos kami cerita, anaknya tinggal sendirian di kos. tengah malam, ketika ia lapar, ia turun ke dapur. Dari tangga ia melihat dari belakang, kakak perempuannya sedang makan. Namun, ketika ia turun, tak ada siapa-siapa di sana. Ia mencari-cari tak ada seorang pun di rumah. Ternyata kakaknya sedang di rumahnya, di Depok. Hayoloh.

Hari ini, seorang teman menanyakan kamar kosong di kos. Ia dan seorang teman lain mau pindah ke sini. Setelah saya kirim foto dan penjelasan panjang lebar, ia tampaknya tertarik. “Nggak ada apa-apa kan di sana? Aman? Nggak ada neng kunti?”

Saya bilang saya selama di sana tidak pernah menemui hal-hal semacam itu. ia pun meminta alamat dan petunjuk ke arah kos. Tak sampai berselang 20 menit, ia kembali mengirim pesan via WA. “Waddooohhh. Hahaha. Kok di situ ada ‘sesuatu’ ya mbak?”

Saya baru ingat, kata teman-teman, eneng satu ini memang punya kemampuan untuk melihat yang halus-halus. Nah loh, habis diterawang. wkwkkw

“Apa tuh? Makhluk halus? Kalo ada biarin aja. Living together happily ever after,” kata saya.

Iya, biar kan saja. Tuhan kan memang menciptakan makhluk seperti saya, kamu, dan dia. Mari kita memainkan peran masing-masing, hidup bersama tanpa saling ganggu. Tanpa perlu saling sapa. Hihi..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s