Uncategorized

Kunjungan ke Fanpage Jonru

Kemarin iseng-iseng sudah mematikan lampu kamar tapi tak segera terlelap. Saya akhirnya membuka-buka hp dan mengecek akun media sosial.

Tidak ada yang menarik kecuali keputusan terbaru saya untuk meng-unfollow sejumlah akun yang postingannya tidak terlalu bermanfaat buat saya.

Bukan apa-apa. Semakin banyak orang di daftar pertemanan membuat laman beranda (homepage) semakin ramai. Informasi berseliweran sehingga saya tidak dapat mengikuti informasi dari teman-teman dekat. Maka, saya memutuskan hanya memantau informasi yang bermanfaat saja.

Setelah meng-unfollow sejumlah akun, saya tetap belum bisa tidur. Saya tiba-tiba iseng pengin nyari hiburan. Dan, yang terpikir adalah nengokin fanpage-nya Jonru. Yah, beginilah jalan hidup seorang fans sejati. Benci-benci rindu. Pengin nengok sesekali. Gemes-gemes kesel. Kesel-kesel penasaran. Huahahaha…

Tidak ada yang menarik kecuali postingan-postingan bernada sinis dan provokatif mengenai pemerintah, terutama Jokowi dan Ahok. Ya gitu-gitu aja modelnya. Sampai, saya tertumbuk pada satu gambar yang menunjukkan postingannya tentang kasus Sumber Waras.

Jujur saya tidak terlalu paham kasus ini. Baca-baca dikit, tapi masih jauh dari paham. Dalam foto yang diunggah, tercantum kalimat:

“Masih mencari niat jahat?”

Lalu diikuti kutipan kata-kata yang pernah diucapkan Ahok:

“2 Juni 2014 kita sudah mengadakan MoU dengan BPK. Tidak boleh ada lagi transaksi tunai. Jadi harus dari bank ke bank. Semua transaksi harus lewat rekening bank DKI.”

Lalu…

“FAKTANYA”

“Transaksi lahan Sumber Waras sebesar 753,7 miliar dibayar TUNAI… pada tanggal 31 Desember 2014 jam 19.00 WIB… dimana bank seluruh dunia sudah tutup!”

Hah? Helo? Saya merasa butuh ngucek-ngucek mata untuk memastikan tulisan yang saya baca itu benar, kalimat demi kalimat. Apa hubungannya transaksi dari bank-ke-bank dengan pembayaran secara tunai? Did he really mean that TUNAI = CASH, alias bayar langsung pake uang gepokan?

Ya gitu lucunya postingan di page ini. Makanya nengoknya sesekali saja, terutama ketika suntuk dan tidak ada aktivitas menarik lainnya. Saya tidak tahu dan tidak punya waktu menebak-nebak apa gerangan yang menjadi motif Jonru mengunggah postingan tersebut. Yang lebih menarik adalah membaca komentar-komentar yang ada. Masihkah orang-orang percaya? Bagaimana persepsi mereka terhadap kasus itu? Lalu terhadap postingan Jonru bagaimana?

Postingan itu disukai oleh 12.405 akun. Ada 1.338 komentar di sana. Saya menemukan satu komentar sangat menarik yang pada akhirnya, lets say, memberi wawasan. Postingan ini juga mendapatkan banyak pujian.

Wahyu Sabdono si penulis komentar itu. Saya tidak kenal dia, tapi saya suka argumen-argumen yang dia bangun. Dia menjelaskan dalam lima poin terkait mekanisme pembayaran transaksi Sumber Waras. Pertama, yang disebut tunai dalam tanda bukti pembayaran transaksi SW adalah (tentu saja) langsung lunas. Artinya, pembayaran itu tidak dilakukan dengan cara dicicil. Media yang dipakai berbentuk selembar cek.

Jadi, dengan poin ini sama saja dia ingin menyampaikan pembayaran tunai di situ tidak ada kaitan dengan MoU Pemda DKI dan BPK soal transaksi dari bank-ke-bank. Tidak menyalahi MoU itu, sebab tidak dilakukan dengan uang gepokan. Kedua, selama belum jam 23.59.59, transaksi masih bisa dilakukan karena hanya berupa pemindahbukuan saldo rekening dari bank yang sama (Bank DKI).  

Sebenarnya ada lima poin, tapi saya hanya memasukan dua poin ini yang terkait dengan SW.

Banyak sekali adu pendapat di sana. Ada yang informatif, ada yang sekadar mengumpat-ngumpat, ada juga yang mabok waham. Yang pasti, aroma kebencian sangat kental dari pihak-pihak yang tidak setuju dengan Wahyu. Bukan membangun persepsi, memberikan informasi, yang keluar berputar-putar hanya bahwa Gubernur nonmuslim tidak boleh didukung.

Padahal sejatinya masalah ini tidak ada kaitan sama sekali dengan Muslim atau nonmuslim. Sebuah komentar menarik menceritakan pengalaman masa kecilnya membantu teman nonmuslim yang disangka mencuri. Dia (Muslim), sebagai orang yang tahu betul bahwa pencuri itu bukan si nonmuslim, akhirnya merasa perlu membela si teman. Apalagi ia juga tahu, ketika kejadian si nonmuslim sedang berada di lokasi lain.

Silakan saja membenci Ahok sebagai nonmuslim atau Cina, walau membenci itu tidak baik (ehem, well, sometimes I cant resist this). Silakan tidak memilih dia lagi jika memang ia tidak layak dipilih, atau jika menurut keyakinan Anda dia tidak boleh dipilih. Toh yang bersangkutan sudah berkali-kali bilang, kalau tidak suka, kalau ada yang lebih baik, silakan pilih yang lain.

Silakan yakinkan orang lain untuk mengikuti langkah Anda tidak memilih Ahok. Tapi plis, lakukanlah dengan cara yang benar, bukan dengan fitnah. Apalagi Anda bawa-bawa Ahok sebagai nonmuslim, yang artinya Anda memposisikan diri sebagai Muslim. Larangan fitnah itu tidak hanya berlaku bagi sesama Muslim atau teman saja lo.   

Eh tapi Bang Jonru mngkn akan bilang itu bukan fitnah. Soalnya dia juga tidak bilang kalau tunai itu cash, walaupun secara implisit ya maknanya ke situ. Dia kan menulisnya tunai, pembayaran memang dilakukan secara tunai. Jadi bukan fitnah, tapi ya membentuk opini yang mengarah pada fitnah. Fitnah yang samar-samar.

Komentar lain yang menarik mungkin yang bilang uang Rp 750 miliar itu beratnya bisa mencapai 75 ton. Artinya harus diangkut dengan beberapa truk. Transaksi (korupsi) pakai koper saja bisa kena OTT, apalagi pakai truk isi uang. Penghitungan lembaran demi lembaran kertasnya saja bisa mencapai 13 hari nonstop.

Komentarnya memang sederhana. Bukan pembahasan yang berat seperti yang lain-lain, yang membahas soal prosedur pembayaran transaksi, prosedur pengadaan barang, bukti cek, dan sebagainya. Yang menarik, logika sederhana ini sering luput dari mereka yang percaya pada propaganda politik berkedok agama.

Saya masih ingat betul, akhir tahun 2014, ada sebuah postingan lewat di beranda. Unggahan dari salah satu teman itu menyebutkan, “Tarif Transjakarta akan Naik 300 Persen”. Padahal, hanya sekitar seminggu sebelumnya, saya menghubungi Dirut Transjakarta ketika itu, Pak Kosasih. Saya sudah menanyakan apakah tarif TJ akan naik sesuai kenaikan BBM?

Jawabannya, tidak. Logikanya gampang, TJ memakai BBG. Jadi kenaikan BBM tidak berpengaruh pada belanja BBG. Logika kedua yang lebih sederhana lagi, tarif yang terkait pelayanan umum itu kalau naik Rp 500 saja orang sudah protes bukan main, apalagi naik 300 persen.

Kadang, untuk menganalisa informasi di tengah hiruk-pikuknya hoax, kita hanya perlu logika-logika sederhana semacam itu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s