Hal-hal Menakjubkan di Jakarta

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kota Jakarta tercinta. Kota yang sudah menemani hidup saya selama dua tahun terakhir. Check this out!

 

Gimana rasanya meninggalkan kota asal?

Saya datang pertama kali ke Jakarta pada 19 Mei 2014. Saya menempuh perjalanan dengan bus antar kota pada malam hari. Sendu-sendu romantis lah untuk merenungkan betapa perjalanan hari itu adalah keputusan besar yang saya lakukan, setelah keputusan untuk kuliah.

Kenapa? Sebab, pada hari itu saya sudah lulus kuliah, lalu mendapatkan pekerjaan. Sejak hari itu saya resmi menjadi perempuan mandiri yang (semampu mungkin) tidak lagi ‘minta sama orang tua’, tapi sudah waktunya memberi. Untuk hal ini memang saya sudah melatih sejak masih SMA hingga kuliah. Tapi ya belum pernah sepenuhnya mandiri. Jadi sejak itu saya harus mandiri.

Kedua, saya memang jarang di rumah. Aktivitas saya seringkali di luar rumah. Kuliah, kerja, mengerjakan tugas, lalu pulang. Saya pernah mengalami masa pulang hanya untuk tidur, menyusun jadwal kegiatan, lalu pergi lagi keesokan harinya. Pernah juga tiga hari di rumah-tiga hari di kos teman. Tapi tetap saja, saya tidak pernah benar-benar lepas dari orang tua. Setelah tiga hari saya akan merindukan tidur di rumah. Nah ini, saya akan tinggal jauh dari orang tua, mungkin selama bertahun-tahun.

Ketiga, saya akan kehilangan beberapa tahap perkembangan keponakan-keponakan saya. Ini sangat menyedihkan lo. Saya selalu memperhatikan perkembangan keponakan-keponakan. Dari situ saya mengamati setiap perubahan sikap dan sifat mereka, termasuk efek dari sikap dan respon orang dewasa terhadap mereka.

Kalau dibilang orang dewasa belajar banyak dari anak-anak, itu bener banget. Memelihara anak-anak itu seperti memelihara hamster. Hahaha, perumpamaan yang keji banget ya? Not in all aspect, tapi ada beberapa kesamaan menurut saya. Misalnya, pertama, racikan makanan kita untuk hamster salah. Minyak ikan bagus untuk membuat bulu hamster lembut dan mengkilap. Tapi kalau kebanyakan, bulu hamster bisa rontok. Kedua, hamster punya daya penciuman yang bagus. Maka dia mengenali pemiliknya dari aroma tangan kita ketika menyentuhnya. Ketika kita jarang memegang dia, siap-siap saja digigit.

Memelihara, mendidik anak-anak juga sama. Ketika racikan kata-kata dan sikap kita salah, perilaku anak akan sejalan dengan itu. Anak terlalu dituruti akan menjadi manja, tidak pernah dituruti akan menjadi pendendam. Anak terbiasa diperdengarkan kata-kata kasar akan beradaptasi menjadi kasar. Kalau kita berbicara terlalu manja, dia akan menjadi lemah. Sama juga ketika anak jarang ditemui, dibelai, didengarkan, dia akan merasa asing dengan kita.

Wooo… meninggalkan Jakarta itu salah satu yang bikin galau ya ini. Hehe… Jadi malam itu, di dalam bus, nano-nano lah rasanya. Angkutan melaju kencang, kondisi gelap, cucuran air AC di luar tampak seperti hujan, suasana dingin, trus saya cuma melihat ke luar jendela sembari merenungkan hal-hal di atas. Syahdu kan? Hahaha…

 

Culture Shock Itu Bagaimana Rasanya?

Culture shock pertama saya terjadi ketika memasuki kawasan Jakarta Timur. Ceritanya, saya dan keluarga sudah berencana, kalau saya sampai di Jakarta, motor akan dikirim dari Jogja. Jadi saya akan beraktivitas dengan motor di ibu kota. Sampai di jalan arah Cimanggis itu, saya langsung SMS orang tua, “Bapak, kayanya nggak jadi kirim motor. Di sini orang naik motor yak-yakan. Kayanya aku nggak berani naik motor di sini. Nanti aku naik angkot aja.”

Saya tahu Jakarta itu rawan macet. Saya sudah mempersiapkan diri kalau harus menghadapi macet seperti yang sering saya lihat di gambar-gambar. Tapi saya tidak pernah membayangkan orang bermotor di Jakarta itu yak-yakan pake banget. Saya menyaksikan dari dalam bus betapa orang tidak khawatir kalau saunyuk lagi motornya srempetan. Hadeh…

Culture shock kedua adalah soal suhu udara.  Waktu itu teman saya mendapatkan tempat kos di dekat kantor. Kami cukup nyaman di sana karena induk semang cukup baik, tetangga ramah, tempat kos juga bersih. Tapi, pada akhirnya kami harus sering sekali mengeluh, “Ya Allah, Jakarta kok panas biaaangeeet ya? Kok bisa gini sih?”

Alhasil, kami jadi rajin mandi. Lalu kami akhirnya membeli kipas angin, padahal dari Jogja sudah punya prinsip untuk siap hidup sederhana. Saya waktu itu hanya ingin punya kos sederhana, yang penting bisa tidur, dan bersih. Sudah. Ndak bakal beli macem-macem. Tapi kipas angin di sini menjadi kebutuhan. Bahkan, saya bilang normal kalau orang-orang di sini mau bayar mahal untuk menyewa kamar ber-AC. Lha memang gerah bianget.

Gambaran gerahnya kamar kami waktu itu seperti ini. Kipas angin sudah menyala 24 jam, tapi suasana masih panas. Keringat kami sampai bercucuran, termasuk pada malam hari. Pernah suatu hari saya mandi jam 08.00 WIB, lalu hanya berselang beberapa menit, keringat sudah mengucur lagi. This is real ya, bukan dilebai-lebaikan.

Saking gerahnya, kami akhirnya memutuskan untuk memangkas rambut –hal yang sudah sangat lama tidak saya lakukan ketika itu.

Setelah tinggal lama, kami paham bahwa kondisi kos kami waktu itu memang di luar kewajaran. Kamar kami menghadap ke arah barat dan menggunakan kanopi hitam. So we absorb the heat, hahaha… Walaupun itu di luar kewajaran, tapi Jakarta memang relatif lebih panas daripada Jogja, tempat kelahiran saya. Nanti saya jelaskan soal ini.

Nah, another culture shock adalah soal harga. Secara saya dulunya tinggal di Jogja yang harga barang-barangnya super duper murah, lalu pindah ke Jakarta yang…you know lah. Saya masih ingat waktu itu mau beli buku tulis. Harga satu buku tulis biasa di Yogyakarta adalah Rp 1.500 hingga Rp 2.500. Di Jakarta, waktu itu, saya tidak menemukan tempat fotokopian yang menjual buku tulis (yang lazim kita temui di Jogja). Fotokopian ya hanya melayani jasa fotokopi. Kalaupun menjual alat tulis, sedikit sekali jenisnya, dan bukan buku tulis. Nah, buku tulis yang saya temui waktu itu harganya Rp 7.500. nah, tiga kali lipat!

Begitu juga makanan, minuman. Duh, pokoknya kalau memikirkan harga barang-barang penginnya nggak beli apa-apa deh. Penginnya jadi Jinny yang bisa ngilang ke Jogja, beli barang, lalu ngilang lagi balik ke Jakarta. Saya paling ingat, waktu itu kami beli makanan di sebuah warung makan Padang. Saya hanya mau beli balado telur, karena kami sudah memasak nasi di kos. Rp 10 ribu. Satu potong ikan tuna harganya Rp 30 ribu. Gilak. Sampai sekarang saya tidak tahu apakah uda-uda itu mengerjai atau memang harga di warung itu segitu. Hufh.

Culture shock yang cukup menonjol juga adalah soal arah mata angin. Orang di Jogja selalu menggunakan arah mata angin sesuai peta: utara, selatan, barat, timur. Selain itu, keberadaan Gunung Merapi di sebelah utara dan jajaran pegunungan di sebelah selatan juga dari petunjuk arah. Jadi hampir tidak mungkin bingung arah di sana.

Di Jakarta, orang terbiasa menggunakan kanan kiri. Saya sangat tidak terbiasa dengan ini, jadi butuh waktu lama untuk memahami. Akibatnya, sulit untuk membayangkan peta Jakarta di otak, sebab tidak tahu mana yang utara (di peta posisinya di atas) dan mana yang selatan. Akibatnya lagi, google map tidak bisa menjadi petunjuk buat saya. Akibat yang lain karena saya tidak tahu arah mata angin adalah saya tidak tahu kapan saya mendekati atau menjauhi suatu objek. Jadi saya bisa saja tiba-tiba tersesat begitu jauh karena merasa mengambil arah yang sudah benar.

Culture shock yang lain sebenarnya masih banyak, misalnya soal aksen dan nada suara yang berbeda, gaya bercanda dan selera humor, modernisasi yang membuat kita perlu beradaptasi dengan banyak hal (e-money, kartu krl, dan lain-lain), bencana (banjir dan kebakaran), banyak lah.

 

Sinkronisasi dan Hal-hal Menakjubkan

Hari ini, sudah hampir dua tahun saya di Jakarta. Sebenarnya sangat tidak fair membandingkan kehidupan di satu daerah dengan daerah lain. Tapi saya akui, saya memang belum sepenuhnya bisa move on dari Jogja. Saya masih sering membanding-bandingkan, kalau di Jogja begini, di sini begitu.

Jadi, sekarang saya bisa merindukan kedua-duanya. Kalau lama tidak pulang, saya rindu Jogja yang syahdu, kehidupan yang melambat, keluarganya yang hangat, ahh… Ketika pulang agak lama, saya juga merindukan Jakarta, yang serba simple, yang panas, yang tertata, yang macet, dan sebagainya.

Nah, hal apa saja yang menarik di Jakarta buat saya?

Pertama,  Jakarta itu dipenuhi oleh orang-orang perantauan. Banyak orang tidak tahu arah. Banyak orang tidak tahu tempat. Jadi, kota ini didesain untuk memudahkan orang mencari tempat-tempat itu. Di mana-mana, kita bisa menemukan plang hijau petunjuk wilayah. Jadi kalau kita belum pernah ke suatu daerah pun, petunjuk itu akan sangat membantu. Memang di daerah lain juga ada. Tapi jumlah petunjuk ini sangat banyak di Jakarta, hingga ke jalan-jalan kecil. Yang nggak ada kalau sudah masuk gang-gang kompleks atau kampung-kampung mungkin.

Sebagai contoh, ketika saya bertugas di Jakarta Barat, saya pernah ditugaskan ke Tangerang. Waktu itu saya belum tahu Tangerang sama sekali, padahal waktu sudah sangat mepet. Akhirnya, saya hanya mengandalkan plang-plang yang ada dan tanya orang, dan tara…setelah perjalanan 2,5 jam, sampailah saya ke Tangerang kota. Pokoknya untuk keperluan pekerjaan saya, plang-plang ini sangat membantu.

Nah, saya tidak bisa membaca peta di Jakarta karena kemampuan spasial saya memang kurang bagus dan saya tidak tahu arah mata angin. Setelah dua tahun bisa sih membaca secara global. Tapi kalau sudah mencari detail, saya nggak paham deh. Karena itu saya memilih tanya orang untuk membantu menemukan tempat-tempat di Jakarta.

Entah berapa ratus orang sudah pernah saya tanyai selama hampir dua tahun ini. Menakjubkannya, belum pernah ada –dan jangan pernah ada- yang memberikan informasi salah, menjerumuskan, atau mengerjai. As I said, Jakarta dipenuhi orang perantauan. Mereka umumnya terbiasa dengan orang yang tidak tahu jalan. Mereka sendiri mungkin pernah merasakan sulitnya mencari tempat ketika awal datang ke Jakarta. Jadi, mereka akan dengan senang hati membantu.

Kalau di Jogja, saya ingat sekali, unggah-ungguh penting banget. Orang kalau nanya harus turun dulu dari motor atau minimal mematikan mesin motor. Nah, di Jakarta yang serba cepat ini, orang tidak masalah ketika kita berhenti lalu bertanya tanpa mematikan motor. Bahkan mereka tidak segan mendatangi kita. Ini bermanfaat sekali buat saya, karena untuk mencari satu tempat kadang saya perlu bertanya kepada beberapa orang. Bayangkan di tengah sempitnya waktu, kita sudah butuh perjalanan lebih lama, lalu kita harus berhenti dan turun berkali-kali untuk bertanya, berapa waktu yang kita habiskan? Jadi mereka itu baik banget kaaaann….ih gemes deh, wkwkwk

Walaupun saya sempat membandingkan dengan Jogja, ini bukan berarti orang-orang di Jogja itu rempong dengan mementingkan tata krama di perjalanan lo ya. Seperti yang saya bilang, kehidupan di Jogja jauh lebih lambat. Walaupun jalanan juga macet, tapi tidak separah di Jakarta, jadi orang tidak selelah itu di perjalanan dibandingkan di ibu kota. So, kalau di Jogja ya tetap harus mengikuti tata cara di sana.

Dan, walaupun saya bilang saya sudah menanyai ratusan orang dan tidak ada yang menyesatkan, bukan berarti ini cara terbaik buat semua orang. Saya cocok dengan cara ini. Selain itu, sejak awal di Jakarta saya sudah memutuskan untuk tidak takut mati. Karena kematian sudah ditentukan jalannya. Kalau mau duduk mati, ya sudah duduk pun akan mati. Selain itu juga, saya punya beberapa tameng kalau orang mau nakal atau jahat ke saya. Intinya, saya pengin bilang di Jakarta ini masih buanyak orang baik dan tulus, dan suka membantu orang lain. Dan kita tetap harus waspada kepada yang sedikit, yang tidak baik.

Hal menakjubkan selanjutnya adalah suhu. Setelah saya pindah kos, saya menemukan bahwa suhu di Jakarta tidak separah di kos pertama saya. Memang panas, tapi tidak separah di kos itu. Kalau kita keluar siang hari tanpa perlindungan, ya kita akan gosong. Di Jogja pun sama seperti itu.  Enaknya, suhu malam di Jakarta tidak dingin. Di kota ini selimut saya hampir tidak pernah dipakai untuk tidur. Tanpa selimut saja kita bisa tidur dan tidak akan kedinginan. Saya juga bisa mandi di malam hari tanpa ‘truthuken’ (menggigil), karena suhu air relatif sama pada siang dan malam hari. Kadang saya kangen dengan udara dingin yang menyegarkan, tapi untuk dua urusan di atas, Jakarta menakjubkan.

Berikutnya, setelah lama tinggal di Jakarta, saya juga mulai terbiasa dengan harga barang-barang di sini. Soal harga memang bisa dibilang soal mindset. Kalau tinggal di Jakarta dengan mindset harga Jogja, kita akan sangat tersiksa. Karena itu, langkah awal yang saya lakukan adalah merelakan. Awalnya berat sih, tapi lama-lama bisa kok. Relakan bahwa Jakarta memang bukan Jogja, dan harga barang di sini tidak sama dengan di sana. Ukur dengan uang yang kita miliki, apa yang mampu kita beli. Barang apa yang akan kita pilih, kualitas mana yang kita butuhkan, dan sebagainya. Setelah itu, tinggal pembiasaan.

Setelah lama tinggal di Jakarta, kita juga akan tahu semakin banyak titik. Jadi kita akan tahu tempat-tempat yang murah (murah ukuran Jakarta ya), tempat-tempat yang kualitasnya bagus, dan lain-lain. Harga mahal di Jakarta diikuti dengan standar gaji yang lebih tinggi. Jadi kalau dengan gaji yang lebih tinggi kita tetap tidak bisa mencukupi kebutuhan kita di Jakarta, ada dua yang musti dievaluasi menurut saya. Pertama, gaya hidup. Kedua, besaran gaji dari perusahaan. Kalau sudah ngirit-ngirit kok tetap tidak cukup ya tinggalkan saja tempat itu, karena Anda bekerja bukan untuk dirugikan kan?

Nah, sebenarnya kalau dibilang semua barang lebih mahal, menurut saya nggak juga. Untuk barang-barang tertentu lebih murah kok. Logikanya gini (semoga logika saya nggak salah), harga kosmetik di Jogja dan Jakarta umumnya sama atau perbedaanya tidak terlalu jauh. Dengan standar gaji di Jakarta yang lebih tinggi, kosmetik jadi terasa lebih murah. Begitu juga dengan sepatu, tas, dll yang harganya hampir sama.

Selanjutnya, moda transportasi dan layanan keuangan lebih lengkap. Ini udah jelas lah ya. Semua fasilitas umum, umumnya diujicoba di Jakarta. Jadi orang Jakarta ngerasain duluan. Adanya Transjakarta membuat biaya transportasi lebih murah. Kalau naik ojek (dan nggak bisa nawar seperti saya), sekali jalan bisa Rp 20-50 ribu). Kalau naik angkot dengan beberapa kali ganti, bisa Rp 12-15 ribu. Dengan adanya Transjakarta, kita hanya bayar sekali Rp 3.500. Kalau naik KRL hanya Rp 4.000. Rute-rutenya pun bisa ditelusuri.

Apalagi setelah ada ojek online, perjalanan lebih enak lagi. Misal tempat jauh dan tidak tahu tempat, tidak punya kendaraan, kita bisa menggunakan jasa ini. Tidak butuh waktu lama karena drivernya banyak. Nggak perlu terlalu parno, yang diberitakan di media itu hanya kasus beberapa pesanan dari sekian ribu atau sekian puluh ribu transaksi yang berjalan normal. Media memang harus menyampaikan, agar ada penanganan dan perbaikan. Tapi itu bukan berarti kasus itu jadi ancaman.

Kalau dibilang Jakarta seperti ibu tiri, dalam dunia kerja mungkin iya. Kita bersaing dengan banyak orang yang punya kualitas bagus di ibu kota. Tuntutan profesionalisme di sini lebih tinggi. Kasus salah-pecat, atau dianjing-anjingin banyak lah. Orang stres karena tuntutan kerja juga banyak. Orang lari ke kehidupan malam atau kehidupan bebas karena tekanan hidup juga banyak. Tapi tekanan hidup itu terjadi di mana-mana di negara berkembang ini, iya nggak sih?

Orang Jakarta menghadapi penatnya kehidupan kota yang penuh tekanan, hingga bunuh diri. Di daerah lain, orang bunuh diri karena tidak punya kerjaan atau karena kemiskinan. Kita hanya sedang menghadapi tekanan yang berbeda.

Taraf hidup yang tinggi di Jakarta membuat orang tidak sayang mengeluarkan uang untuk barang-barang haram atau gaya hidup yang sebenernya nggak terlalu urgen banget untuk mereka. Tapi, tidak sedikit juga orang yang taraf hidupnya tinggi ini nggak segan-segan untuk menyumbangkan dana ke hal-hal yang berguna, semacam anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan.

Masih banyak lagi hal-hal baik di Jakarta, tapi saya tidak ingin membuat tulisan ini lebih panjang lagi. sudah masuk halaman keenam, hehe. Yang pasti, banyak hal yang bisa dinikmati orang-orang Jakarta yang tidak bisa disentuh oleh orang-orang di daerah, bahkan di pinggiran. Tapi banyak juga kebaikan-kebaikan di daerah yang juga kita temukan di Jakarta. Dari Jakarta, semoga kita bisa menebarkan kebaikan-kebaikan ke berbagai penjuru Indonesia.

 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

1 thought on “Hal-hal Menakjubkan di Jakarta”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s