artikel · islam · Uncategorized

Hikmah Diharamkannya Bangkai

Orang-orang Arab jahiliah mengharamkan sebagian binatang karena dianggap kotor. Keharaman binatang juga terkait dengan alasan ibadah, yaitu untuk mendekatkan diri kepada berhala dan karena mengikuti waham (kepercayaan yang salah).

Di balik sikap itu, mereka juga menunjukkan perilaku yang kontradiktif. Mereka menghalalkan binatang yang kotor seperti bangkai dan darah yang mengalir. Ada pula yang mengkonsumsi makanan yang berlebihan, ada yang melarang secara keras.

Islam datang memberikan pandangan baru dalam masalah makanan hewani. Agama ini mengajarkan manusia untuk mengambil yang baik-baik dari segala yang telah dihamparkan Allah SWT di muka bumi. Walaupun begitu, Allah memberikan batasan berupa empat hal yang diatur dalam QS al-An’am: 145. Keempat hal tersebut antara lain bangkai, darah yang mengalir, dan daging babi yang dianggap kotor. Allah juga mengharamkan binatang yang disembelih dengan nama selain-Nya.

Ulama kontemporer Yusuf Qaradhawi menjelaskan dalam buku “Halal dan Haram”, bangkai diartikan sebagai makanan yang kematiannya tidak disebabkan adanya usaha manusia. Secara naluri, bangkai dipandang sebagai barang yang kotor. Asal-usul kematian binatang yang ditemukan dalam bentuk bangkai juga tidak jelas. Suatu binatang bisa saja mati karena penyakit, umur sudah tua, atau mengonsumsi makanan beracun. Dengan kata lain, bangkai tidak dapat dijamin keamanannya untuk dikonsumsi.

Diharamkannya bangkai juga menyimpan hikmah agar manusia tidak tamak. Dengan mengharamkan bangkai bagi manusia, Allah menyediakannya sebagai makanan bagi makhluk lain seperti burung dan binatang pemangsa lain. Ini juga memberikan isyarat agar manusia senantiasa memperhatikan binatang yang dimiliki dan tidak membiarkannya sakit, mati, lalu menjadi bangkai.

Dalam QS al-Maidah ayat 3, Allah memperjelas kategori bangkai ke dalam lima kelompok. Pertama, al-Munkhaniqah, yaitu binatang yang mati dicekik, baik menggunakan tangan maupun alat untuk menghimpit leher dan menghentikan pernafasan binatang tersebut.
Kedua, al-Mauqudzah yaitu binatang yang mati karena dipukul. Ketiga, al-Mutaraddiyah, binatang yang mati karena jatuh, misalnya jatuh ke jurang atau ke sumur. Keempat, an-nathihah, yaitu binatang yang mati karena ditanduk atau baku hantam. Dan, kelima, maa akalas sabu, yaitu binatang yang disergap binatang buas dan dimakan sebagian hingga mati.

Sebelum menutup ayat tersebut, Allah menyebutkan, “Kecuali yang kalian sempat menyembelihnya.”  Maka, selama hewan itu masih bergerak kakinya, ekornya, maupun kerlingan matanya, kemudian disembelih, hewan tersebut halal dikonsumsi.

Lebih lanjut, Qaradhawi menjelaskan, haramnya bangkai terkait dengan makanan. Pemanfaatan kulit, tanduk, tulang, maupun rambut tidak terlarang, sejauh tidak dimakan. Bahkan, hal ini merupakan perbuatan terpuji sebab barang-barang tersebut masih dapat digunakan. Artinya, manusia diajarkan untuk tidak menyia-nyiakan suatu barang.

Dewan Penasehat Institut Ilmu Quran (IIQ) KH Ahsin Sakho Muhammad mengatakan, batasan bagian tubuh bangkai hewan yang boleh dimanfaatkan merupakan wilayah ijtihad. Ada ulama yang mengatakan semua bagian yang masih berguna boleh dimanfaatkan. Pendapat ini bertumpu pada perintah Allah untuk memanfaatkan semua ciptaan-Nya yang ada di bumi.

“Itu bisa mencakup apa saja yang bisa dimanfaatkan. Jadi ini wilayahnya ijtihad.
Misal tulang digunakan untuk perhiasan. Boleh saja kan?” ujar Mantan Rektor IIQ ini kepada Republika, Selasa (19/4).

Pimpinan Pusat Kajian Hadis KH Ahmad Luthfi Fathullah cenderung lebih ketat dalam menetapkan batasan ini. Menurut dia, pemanfaatan bangkai yang diperbolehkan hanya terbatas pada bagian kulit saja. Daging dan bagian yang lain tidak boleh dimanfaatkan, sebab dikategorikan sebagai bangkai. Penggunaan kulit bangkai yang disamak dijelaskan dalam berbagai hadis.

Wilayah khilafiyah lain terkait dengan jenis bangkai hewan yang boleh disamak. Kiai Luthfi mengatakan, ulama tidak memperdebatkan bolehnya pemanfaatan kulit hewan yang halal dimakan. Artinya, jika suatu hewan halal dimakan selama hidupnya,  kulit dari hewan tersebut boleh disamak. Begitu pula kulit dari bangkai hewan itu. Hewan-hewan yang masuk dalam kategori ini antara lain sapi, kambing, domba, unta, rusa, dan sebagainya.

Yusuf Qaradhawi dalam kitab yang sama menyebutkan, dalam hadis riwayat Jama’ah, kecuali Ibnu Majah, diceritakan bahwa Maimunah (amirul mukminin) pernah mendapatkan sedekah dari bekas budaknya yang telah dimerdekakan (maulah). Sedekah itu berwujud seekor kambing yang kemudian mati.

Rasulullah SAW melihat kambing tersebut dan bersabda, “Mengapa tidak kamu ambil kulitnya, kemudian kamu samak dan memanfaatkannya?”

Para sahabat bertanya, “Itu kan bangkai?”

Rasulullah SAW kemudian menjawab, “Yang diharamkan itu hanyalah memakannya.”

Rasulullah menerangkan cara membersihkan kulit tersebut dengan cara disamak. Penyamakan dianggap sama dengan menyembelih binatang tersebut, sehingga kulitnya boleh digunakan.

Lebih lanjut, Kiai Luthfi memberikan batasan kategori hewan yang boleh disamak adalah yang termasuk dalam najis besar (mugholadhoh). Dengan begitu, kata dia, kulit anjing dan babi tidak boleh disamak.

Walaupun begitu, ia tidak menampik adanya pendapat lain yang membolehkan penyamakan kulit babi dan anjing dengan melandaskan pada hadis riwayat Muslim. Dalam hadis tersebut dikatakan, Rasulullah pernah bersabda, “Kulit apa saja kalau sudah disamak, maka sungguh menjadi suci.”

Hadis ini dianggap bersifat umum, sehingga mencakup pula kulit anjing dan babi. Qaradhawi menjelaskan, pendapat ini diikuti oleh Madzhab Dhahiri dan Abu Yusuf, serta diperkuat oleh Imam Syaukani.

Menurut Kiai Ahsin, pendapat ini juga didukung oleh Imam Malik. Imam Malik mengatakan, kulit babi yang disamak menjadi suci. Dengan begitu, berdasarkan keumuman hadis di atas, kulit ini dapat digunakan untuk membuat sepatu, tas, atau barang gunaan lain.

“Bahkan ada yang mengatakan kulit babi itu lentur untuk dipakai sepatu, tas perempuan,” kata dia.

Sementara itu, mazhab Hanafi menyatakan dengan tegas bahwa kulit babi tidak boleh digunakan. Sebab, sejak hidupnya babi sudah tidak boleh dikonsumsi. Barang yang telah dinyatakan haram sejak dari sumbernya dianggap tetap haram dan tidak bisa disamak.

“Kalau itu dibuka, mazhab Imam Malik, umat Islam akan bisa menggunakan berbagai unsur dari babi. Apa bedanya kulit dengan yang lain, bagaimana dengan yang lain? Padahal babi ini kan sumbernya haram. Maka akan lebih selamat lagi kalau menghindari,” anjur dia.

Kiai Ahsin juga menjelaskan, pada dasarnya tidak ada penjelasan bahwa para sahabat pernah menggunakan kulit babi yang disamak. Pendapat itu bermula dari pemahaman Imam Malik mengenai keumuman hadis di atas.

“Sahabat umumnya memahami bahwa babi itu sesuatu yang kotor. Sesuatu yang dari awalnya sudah kotor, diapakanpun kotor,” kata dia.

Mengenai batasan penggunaan kulit dari bangkai hewan yang disamak, Kiai Ahsin mengatakan, para ulama sepakat bangkai binatang hanya boleh digunakan untuk barang gunaan. Bagian manapun dari bangkai binatang tidak boleh dikonsumsi. Ia mencontohkan, misalnya penggunaan taring dari bangkai binatang atau binatang buat untuk obat kuat atau penggunaan kulit dari bangkai hewan untuk membuat kerupuk tidak boleh dilakukan. Ia menambahkan, pemanfaatan bangkai binatang untuk makhluk lain boleh dilakukan, misalnya untuk memberi makan binatang buang di kebun binatang.

Pada zaman dahulu, orang Arab biasa menggunakan kulit kambing yang disamak untuk menyimpan makanan. Ini dicontohkan oleh Saudah Umul Mukminin dalam hadis Bukhari.

Dikisahkan, ia mempunyai seekor kambing yang mati. Kulit binatang itu disamak dan digunakan untuk menyimpan kurma supaya menjadi manis. Kulit itu lalu digunakan pula sebagai girbah, yaitu tempat mengambil air yang terbuat dari kulit binatang.

Sementara, menurut Kiai Luthfi, penggunaan kulit yang disamak dapat disesuaikan dengan konteks perubahan zaman. Pada masa sekarang, kulit yang disamak dapat digunakan untuk membuat jaket, tas, sepatu, alas duduk, maupun keperluan lain yang tidak masuk ke dalam tubuh.
Bangkai Binatang?

Orang-orang Arab jahiliah mengharamkan sebagian binatang karena dianggap kotor. Keharaman binatang juga terkait dengan alasan ibadah, yaitu untuk mendekatkan diri kepada berhala dan karena mengikuti waham (kepercayaan yang salah).

Di balik sikap itu, mereka juga menunjukkan perilaku yang kontradiktif. Mereka menghalalkan binatang yang kotor seperti bangkai dan darah yang mengalir. Ada pula yang mengkonsumsi makanan yang berlebihan, ada yang melarang secara keras.

Islam datang memberikan pandangan baru dalam masalah makanan hewani. Agama ini mengajarkan manusia untuk mengambil yang baik-baik dari segala yang telah dihamparkan Allah SWT di muka bumi. Walaupun begitu, Allah memberikan batasan berupa empat hal yang diatur dalam QS al-An’am: 145. Keempat hal tersebut antara lain bangkai, darah yang mengalir, dan daging babi yang dianggap kotor. Allah juga mengharamkan binatang yang disembelih dengan nama selain-Nya.

Ulama kontemporer Yusuf Qaradhawi menjelaskan dalam buku “Halal dan Haram”, bangkai diartikan sebagai makanan yang kematiannya tidak disebabkan adanya usaha manusia. Secara naluri, bangkai dipandang sebagai barang yang kotor. Asal-usul kematian binatang yang ditemukan dalam bentuk bangkai juga tidak jelas. Suatu binatang bisa saja mati karena penyakit, umur sudah tua, atau mengonsumsi makanan beracun. Dengan kata lain, bangkai tidak dapat dijamin keamanannya untuk dikonsumsi.

Diharamkannya bangkai juga menyimpan hikmah agar manusia tidak tamak. Dengan mengharamkan bangkai bagi manusia, Allah menyediakannya sebagai makanan bagi makhluk lain seperti burung dan binatang pemangsa lain. Ini juga memberikan isyarat agar manusia senantiasa memperhatikan binatang yang dimiliki dan tidak membiarkannya sakit, mati, lalu menjadi bangkai.

Dalam QS al-Maidah ayat 3, Allah memperjelas kategori bangkai ke dalam lima kelompok. Pertama, al-Munkhaniqah, yaitu binatang yang mati dicekik, baik menggunakan tangan maupun alat untuk menghimpit leher dan menghentikan pernafasan binatang tersebut.
Kedua, al-Mauqudzah yaitu binatang yang mati karena dipukul. Ketiga, al-Mutaraddiyah, binatang yang mati karena jatuh, misalnya jatuh ke jurang atau ke sumur. Keempat, an-nathihah, yaitu binatang yang mati karena ditanduk atau baku hantam. Dan, kelima, maa akalas sabu, yaitu binatang yang disergap binatang buas dan dimakan sebagian hingga mati.

Sebelum menutup ayat tersebut, Allah menyebutkan, “Kecuali yang kalian sempat menyembelihnya.”  Maka, selama hewan itu masih bergerak kakinya, ekornya, maupun kerlingan matanya, kemudian disembelih, hewan tersebut halal dikonsumsi.

Lebih lanjut, Qaradhawi menjelaskan, haramnya bangkai terkait dengan makanan. Pemanfaatan kulit, tanduk, tulang, maupun rambut tidak terlarang, sejauh tidak dimakan. Bahkan, hal ini merupakan perbuatan terpuji sebab barang-barang tersebut masih dapat digunakan. Artinya, manusia diajarkan untuk tidak menyia-nyiakan suatu barang.

Dewan Penasehat Institut Ilmu Quran (IIQ) KH Ahsin Sakho Muhammad mengatakan, batasan bagian tubuh bangkai hewan yang boleh dimanfaatkan merupakan wilayah ijtihad. Ada ulama yang mengatakan semua bagian yang masih berguna boleh dimanfaatkan. Pendapat ini bertumpu pada perintah Allah untuk memanfaatkan semua ciptaan-Nya yang ada di bumi.

“Itu bisa mencakup apa saja yang bisa dimanfaatkan. Jadi ini wilayahnya ijtihad.
Misal tulang digunakan untuk perhiasan. Boleh saja kan?” ujar Mantan Rektor IIQ ini kepada Republika, Selasa (19/4).

Pimpinan Pusat Kajian Hadis KH Ahmad Luthfi Fathullah cenderung lebih ketat dalam menetapkan batasan ini. Menurut dia, pemanfaatan bangkai yang diperbolehkan hanya terbatas pada bagian kulit saja. Daging dan bagian yang lain tidak boleh dimanfaatkan, sebab dikategorikan sebagai bangkai. Penggunaan kulit bangkai yang disamak dijelaskan dalam berbagai hadis.

Wilayah khilafiyah lain terkait dengan jenis bangkai hewan yang boleh disamak. Kiai Luthfi mengatakan, ulama tidak memperdebatkan bolehnya pemanfaatan kulit hewan yang halal dimakan. Artinya, jika suatu hewan halal dimakan selama hidupnya,  kulit dari hewan tersebut boleh disamak. Begitu pula kulit dari bangkai hewan itu. Hewan-hewan yang masuk dalam kategori ini antara lain sapi, kambing, domba, unta, rusa, dan sebagainya.

Yusuf Qaradhawi dalam kitab yang sama menyebutkan, dalam hadis riwayat Jama’ah, kecuali Ibnu Majah, diceritakan bahwa Maimunah (amirul mukminin) pernah mendapatkan sedekah dari bekas budaknya yang telah dimerdekakan (maulah). Sedekah itu berwujud seekor kambing yang kemudian mati.

Rasulullah SAW melihat kambing tersebut dan bersabda, “Mengapa tidak kamu ambil kulitnya, kemudian kamu samak dan memanfaatkannya?”

Para sahabat bertanya, “Itu kan bangkai?”

Rasulullah SAW kemudian menjawab, “Yang diharamkan itu hanyalah memakannya.”

Rasulullah menerangkan cara membersihkan kulit tersebut dengan cara disamak. Penyamakan dianggap sama dengan menyembelih binatang tersebut, sehingga kulitnya boleh digunakan.

Lebih lanjut, Kiai Luthfi memberikan batasan kategori hewan yang boleh disamak adalah yang termasuk dalam najis besar (mugholadhoh). Dengan begitu, kata dia, kulit anjing dan babi tidak boleh disamak.

Walaupun begitu, ia tidak menampik adanya pendapat lain yang membolehkan penyamakan kulit babi dan anjing dengan melandaskan pada hadis riwayat Muslim. Dalam hadis tersebut dikatakan, Rasulullah pernah bersabda, “Kulit apa saja kalau sudah disamak, maka sungguh menjadi suci.”

Hadis ini dianggap bersifat umum, sehingga mencakup pula kulit anjing dan babi. Qaradhawi menjelaskan, pendapat ini diikuti oleh Madzhab Dhahiri dan Abu Yusuf, serta diperkuat oleh Imam Syaukani.

Menurut Kiai Ahsin, pendapat ini juga didukung oleh Imam Malik. Imam Malik mengatakan, kulit babi yang disamak menjadi suci. Dengan begitu, berdasarkan keumuman hadis di atas, kulit ini dapat digunakan untuk membuat sepatu, tas, atau barang gunaan lain.

“Bahkan ada yang mengatakan kulit babi itu lentur untuk dipakai sepatu, tas perempuan,” kata dia.

Sementara itu, mazhab Hanafi menyatakan dengan tegas bahwa kulit babi tidak boleh digunakan. Sebab, sejak hidupnya babi sudah tidak boleh dikonsumsi. Barang yang telah dinyatakan haram sejak dari sumbernya dianggap tetap haram dan tidak bisa disamak.

“Kalau itu dibuka, mazhab Imam Malik, umat Islam akan bisa menggunakan berbagai unsur dari babi. Apa bedanya kulit dengan yang lain, bagaimana dengan yang lain? Padahal babi ini kan sumbernya haram. Maka akan lebih selamat lagi kalau menghindari,” anjur dia.

Kiai Ahsin juga menjelaskan, pada dasarnya tidak ada penjelasan bahwa para sahabat pernah menggunakan kulit babi yang disamak. Pendapat itu bermula dari pemahaman Imam Malik mengenai keumuman hadis di atas.

“Sahabat umumnya memahami bahwa babi itu sesuatu yang kotor. Sesuatu yang dari awalnya sudah kotor, diapakanpun kotor,” kata dia.

Mengenai batasan penggunaan kulit dari bangkai hewan yang disamak, Kiai Ahsin mengatakan, para ulama sepakat bangkai binatang hanya boleh digunakan untuk barang gunaan. Bagian manapun dari bangkai binatang tidak boleh dikonsumsi. Ia mencontohkan, misalnya penggunaan taring dari bangkai binatang atau binatang buat untuk obat kuat atau penggunaan kulit dari bangkai hewan untuk membuat kerupuk tidak boleh dilakukan. Ia menambahkan, pemanfaatan bangkai binatang untuk makhluk lain boleh dilakukan, misalnya untuk memberi makan binatang buang di kebun binatang.

Pada zaman dahulu, orang Arab biasa menggunakan kulit kambing yang disamak untuk menyimpan makanan. Ini dicontohkan oleh Saudah Umul Mukminin dalam hadis Bukhari.

Dikisahkan, ia mempunyai seekor kambing yang mati. Kulit binatang itu disamak dan digunakan untuk menyimpan kurma supaya menjadi manis. Kulit itu lalu digunakan pula sebagai girbah, yaitu tempat mengambil air yang terbuat dari kulit binatang.

Sementara, menurut Kiai Luthfi, penggunaan kulit yang disamak dapat disesuaikan dengan konteks perubahan zaman. Pada masa sekarang, kulit yang disamak dapat digunakan untuk membuat jaket, tas, sepatu, alas duduk, maupun keperluan lain yang tidak masuk ke dalam tubuh.
Memanfaatkan Bangkai Orang-orang Arab jahiliah mengharamkan sebagian binatang karena dianggap kotor. Keharaman binatang juga terkait dengan alasan ibadah, yaitu untuk mendekatkan diri kepada berhala dan karena mengikuti waham (kepercayaan yang salah).

Di balik sikap itu, mereka juga menunjukkan perilaku yang kontradiktif. Mereka menghalalkan binatang yang kotor seperti bangkai dan darah yang mengalir. Ada pula yang mengkonsumsi makanan yang berlebihan, ada yang melarang secara keras.

Islam datang memberikan pandangan baru dalam masalah makanan hewani. Agama ini mengajarkan manusia untuk mengambil yang baik-baik dari segala yang telah dihamparkan Allah SWT di muka bumi. Walaupun begitu, Allah memberikan batasan berupa empat hal yang diatur dalam QS al-An’am: 145. Keempat hal tersebut antara lain bangkai, darah yang mengalir, dan daging babi yang dianggap kotor. Allah juga mengharamkan binatang yang disembelih dengan nama selain-Nya.

Ulama kontemporer Yusuf Qaradhawi menjelaskan dalam buku “Halal dan Haram”, bangkai diartikan sebagai makanan yang kematiannya tidak disebabkan adanya usaha manusia. Secara naluri, bangkai dipandang sebagai barang yang kotor. Asal-usul kematian binatang yang ditemukan dalam bentuk bangkai juga tidak jelas. Suatu binatang bisa saja mati karena penyakit, umur sudah tua, atau mengonsumsi makanan beracun. Dengan kata lain, bangkai tidak dapat dijamin keamanannya untuk dikonsumsi.

Diharamkannya bangkai juga menyimpan hikmah agar manusia tidak tamak. Dengan mengharamkan bangkai bagi manusia, Allah menyediakannya sebagai makanan bagi makhluk lain seperti burung dan binatang pemangsa lain. Ini juga memberikan isyarat agar manusia senantiasa memperhatikan binatang yang dimiliki dan tidak membiarkannya sakit, mati, lalu menjadi bangkai.

Dalam QS al-Maidah ayat 3, Allah memperjelas kategori bangkai ke dalam lima kelompok. Pertama, al-Munkhaniqah, yaitu binatang yang mati dicekik, baik menggunakan tangan maupun alat untuk menghimpit leher dan menghentikan pernafasan binatang tersebut.
Kedua, al-Mauqudzah yaitu binatang yang mati karena dipukul. Ketiga, al-Mutaraddiyah, binatang yang mati karena jatuh, misalnya jatuh ke jurang atau ke sumur. Keempat, an-nathihah, yaitu binatang yang mati karena ditanduk atau baku hantam. Dan, kelima, maa akalas sabu, yaitu binatang yang disergap binatang buas dan dimakan sebagian hingga mati.

Sebelum menutup ayat tersebut, Allah menyebutkan, “Kecuali yang kalian sempat menyembelihnya.”  Maka, selama hewan itu masih bergerak kakinya, ekornya, maupun kerlingan matanya, kemudian disembelih, hewan tersebut halal dikonsumsi.

Lebih lanjut, Qaradhawi menjelaskan, haramnya bangkai terkait dengan makanan. Pemanfaatan kulit, tanduk, tulang, maupun rambut tidak terlarang, sejauh tidak dimakan. Bahkan, hal ini merupakan perbuatan terpuji sebab barang-barang tersebut masih dapat digunakan. Artinya, manusia diajarkan untuk tidak menyia-nyiakan suatu barang.

Dewan Penasehat Institut Ilmu Quran (IIQ) KH Ahsin Sakho Muhammad mengatakan, batasan bagian tubuh bangkai hewan yang boleh dimanfaatkan merupakan wilayah ijtihad. Ada ulama yang mengatakan semua bagian yang masih berguna boleh dimanfaatkan. Pendapat ini bertumpu pada perintah Allah untuk memanfaatkan semua ciptaan-Nya yang ada di bumi.

“Itu bisa mencakup apa saja yang bisa dimanfaatkan. Jadi ini wilayahnya ijtihad.
Misal tulang digunakan untuk perhiasan. Boleh saja kan?” ujar Mantan Rektor IIQ ini kepada Republika, Selasa (19/4).

Pimpinan Pusat Kajian Hadis KH Ahmad Luthfi Fathullah cenderung lebih ketat dalam menetapkan batasan ini. Menurut dia, pemanfaatan bangkai yang diperbolehkan hanya terbatas pada bagian kulit saja. Daging dan bagian yang lain tidak boleh dimanfaatkan, sebab dikategorikan sebagai bangkai. Penggunaan kulit bangkai yang disamak dijelaskan dalam berbagai hadis.

Wilayah khilafiyah lain terkait dengan jenis bangkai hewan yang boleh disamak. Kiai Luthfi mengatakan, ulama tidak memperdebatkan bolehnya pemanfaatan kulit hewan yang halal dimakan. Artinya, jika suatu hewan halal dimakan selama hidupnya,  kulit dari hewan tersebut boleh disamak. Begitu pula kulit dari bangkai hewan itu. Hewan-hewan yang masuk dalam kategori ini antara lain sapi, kambing, domba, unta, rusa, dan sebagainya.

Yusuf Qaradhawi dalam kitab yang sama menyebutkan, dalam hadis riwayat Jama’ah, kecuali Ibnu Majah, diceritakan bahwa Maimunah (amirul mukminin) pernah mendapatkan sedekah dari bekas budaknya yang telah dimerdekakan (maulah). Sedekah itu berwujud seekor kambing yang kemudian mati.

Rasulullah SAW melihat kambing tersebut dan bersabda, “Mengapa tidak kamu ambil kulitnya, kemudian kamu samak dan memanfaatkannya?”

Para sahabat bertanya, “Itu kan bangkai?”

Rasulullah SAW kemudian menjawab, “Yang diharamkan itu hanyalah memakannya.”

Rasulullah menerangkan cara membersihkan kulit tersebut dengan cara disamak. Penyamakan dianggap sama dengan menyembelih binatang tersebut, sehingga kulitnya boleh digunakan.

Lebih lanjut, Kiai Luthfi memberikan batasan kategori hewan yang boleh disamak adalah yang tidak termasuk dalam najis besar (mugholadhoh). Dengan begitu, kata dia, kulit anjing dan babi tidak boleh disamak.

Walaupun begitu, ia tidak menampik adanya pendapat lain yang membolehkan penyamakan kulit babi dan anjing dengan melandaskan pada hadis riwayat Muslim. Dalam hadis tersebut dikatakan, Rasulullah pernah bersabda, “Kulit apa saja kalau sudah disamak, maka sungguh menjadi suci.”

Hadis ini dianggap bersifat umum, sehingga mencakup pula kulit anjing dan babi. Qaradhawi menjelaskan, pendapat ini diikuti oleh Madzhab Dhahiri dan Abu Yusuf, serta diperkuat oleh Imam Syaukani.

Menurut Kiai Ahsin, pendapat ini juga didukung oleh Imam Malik. Imam Malik mengatakan, kulit babi yang disamak menjadi suci. Dengan begitu, berdasarkan keumuman hadis di atas, kulit ini dapat digunakan untuk membuat sepatu, tas, atau barang gunaan lain.

“Bahkan ada yang mengatakan kulit babi itu lentur untuk dipakai sepatu, tas perempuan,” kata dia.

Sementara itu, mazhab Hanafi menyatakan dengan tegas bahwa kulit babi tidak boleh digunakan. Sebab, sejak hidupnya babi sudah tidak boleh dikonsumsi. Barang yang telah dinyatakan haram sejak dari sumbernya dianggap tetap haram dan tidak bisa disamak.

“Kalau itu dibuka, mazhab Imam Malik, umat Islam akan bisa menggunakan berbagai unsur dari babi. Apa bedanya kulit dengan yang lain, bagaimana dengan yang lain? Padahal babi ini kan sumbernya haram. Maka akan lebih selamat lagi kalau menghindari,” anjur dia.

Kiai Ahsin juga menjelaskan, pada dasarnya tidak ada penjelasan bahwa para sahabat pernah menggunakan kulit babi yang disamak. Pendapat itu bermula dari pemahaman Imam Malik mengenai keumuman hadis di atas.

“Sahabat umumnya memahami bahwa babi itu sesuatu yang kotor. Sesuatu yang dari awalnya sudah kotor, diapakanpun kotor,” kata dia.

Mengenai batasan penggunaan kulit dari bangkai hewan yang disamak, Kiai Ahsin mengatakan, para ulama sepakat bangkai binatang hanya boleh digunakan untuk barang gunaan. Bagian manapun dari bangkai binatang tidak boleh dikonsumsi. Ia mencontohkan, misalnya penggunaan taring dari bangkai binatang atau binatang buat untuk obat kuat atau penggunaan kulit dari bangkai hewan untuk membuat kerupuk tidak boleh dilakukan. Ia menambahkan, pemanfaatan bangkai binatang untuk makhluk lain boleh dilakukan, misalnya untuk memberi makan binatang buang di kebun binatang.

Pada zaman dahulu, orang Arab biasa menggunakan kulit kambing yang disamak untuk menyimpan makanan. Ini dicontohkan oleh Saudah Umul Mukminin dalam hadis Bukhari.

Dikisahkan, ia mempunyai seekor kambing yang mati. Kulit binatang itu disamak dan digunakan untuk menyimpan kurma supaya menjadi manis. Kulit itu lalu digunakan pula sebagai girbah, yaitu tempat mengambil air yang terbuat dari kulit binatang.

Sementara, menurut Kiai Luthfi, penggunaan kulit yang disamak dapat disesuaikan dengan konteks perubahan zaman. Pada masa sekarang, kulit yang disamak dapat digunakan untuk membuat jaket, tas, sepatu, alas duduk, maupun keperluan lain yang tidak masuk ke dalam tubuh.

***Tulisan asli dari artikel yang diterbitkan Harian Republika Jumat pekan ini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s