opini · Uncategorized

Ssst.. Jangan Berisik, Berjilbablah dengan Tenang

“Agama seperti alat kelamin. Bagus kalau anda mempunyainya. Dan boleh juga membanggakannya. Tapi jangan pamerkan kelamin Anda di tengah jalan sambil teriak-teriak. Apalagi memaksa orang memeluk alat kelamin Anda.”

Menjadi Muslimah di negeri ini gampang-gampang susah. Gampang, karena banyak teman. Muslimah di negeri ini tidak perlu merasakan menjadi minoritas yang harus memperjuangkan hak-haknya mati-matian seperti di negara-negara Barat. Tak seperti sekitar 20 tahun yang lalu, kini jilbab bukan hanya bebas digunakan, tapi juga menjadi tren.

Walaupun begitu, bukan berarti menjadi Muslimah di negeri ini gampang-gampang saja. Dalam perkara berjilbab misalnya, mayoritas penduduk negeri ini meyakini hukum bahwa berjilbab itu wajib. Munculnya satu pandangan yang menyatakan bahwa berjilbab tidak wajib bisa menjadikan seseorang dianggap kafir, bahkan jika yang mengucapkan adalah seorang ulama yang sudah menerbitkan satu set kitab tafsir sekalipun.

Keyakinan bahwa jilbab itu wajib, begitu pula mendakwahkan jilbab itu wajib, membuat orang terkadang secara tidak sadar mengintimidasi orang lain atas nama dakwah. Ada yang sekadar menyarankan orang lain berjilbab, ada yang menyindir, ada pula yang menjadikan bahan gunjingan.

Suatu hari seorang teman datang ke kos untuk makan bersama. Sembari makan dengan teman kos yang lain, sahabat ini mengeluarkan rokoknya. “Mbak Han, aku ngerokok ya. Mbak, aku ngerokok ya,” kata teman saya meminta izin.

Anak kos itu mempersilakan. Tapi, di kos, ketika saya bercerita tentang lucunya teman saya itu, teman kos tampak nyinyir sambil bertanya, “Kok temennya ngerokok sih mbak?”

Saya lebih senang teman saya tidak merokok sih. Tapi merokok atau tidak adalah pilihan pribadi. Lagipula, teman saya yang tidak merokok itu belum tentu pengetahuan maupun praktik agamanya lebih baik daripada yang merokok. Ya kan?

Bagi sesama orang yang meyakini jilbab itu wajib sekalipun, perkara berjilbab ini kadang masih dibikin ribet. Muslimah seringkali masih harus menghadapi tetek-bengek yang lain. Ada jilbab yang dianggap lebih syari dari yang lain, ada yang dianggap kurang atau sama sekali tidak syari. Tak heran tren berjilbab di negara ini begitu berwarna, dari yang model kupluk, model selendang, model taplak, hingga ninja.

Perbedaan ini sebenarnya tak harus menjadi masalah. Tapi, ada saja orang-orang yang sulit diam jika melihat sesuatu yang berbeda. Jadilah jilbab, sebuah ajaran yang bertujuan memuliakan perempuan, justru menjadi alat perang.

Yang jilbabnya besar merasa harus mendakwahi Muslimah yang jilbabnya kecil dan tipis agar memperlebar jilbabnya. Yang berjilbab kecil merasa yang berjilbab lebar terlalu ekstrim. Yang sudah berjilbab mengatai yang belum berjilbab. Yang belum berjilbab sinis terhadap yang berjilbab. Negara ini seakan menjadi hunian kaum yang saling sinis satu sama lain.

Saya sering membaca postingan berkelebat yang membela Muslimah-muslimah tidak berjilbab. Seakan, perempuan-perempuan tidak berjilbab ini sudah begitu jengah menghadapi cercaan. Di lain kesempatan, mereka yang berjilbab terkadang mengeluh karena diintimidasi. Ada yang sekadar dikatai, ada yang sampai didatangi Pak RT karena dikhawatirkan menyebarkan ajaran ekstrem. Di kesempatan yang lain, mereka yang berjilbab sedang dan tipis menjadi bahan gunjingan karena perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan imej perempuan berjilbab yang santun. Negeri ini menjadi begitu berisik.

Bagi saya, perjalanan berjilbab selama lebih dari 10 tahun adalah laku spiritual yang sangat privasi antara setiap individu dengan Tuhan. Mengapa orang perlu begitu ikut campur? Orang memakai jilbab (seharusnya) sebagai wujud ketundukan kepada perintah Tuhan yang ia yakini. Maka, semakin tunduk ia berjilbab, semakin tunduk pula hatinya untuk tidak terlalu mengganggu ketundukan orang lain. Bukankah agama datang untuk menundukkan hati dan jiwa kita, bukan untuk sibuk mengkritisi keimanan orang lain?

Kalau dilihat dari segi ekonomi, harga jilbab syari itu lebih mahal karena bahan yang digunakan lebih banyak. Belum lagi, perlu dipastikan agar jilbab yang lebar itu benar-benar aman dari memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang dianggap aurat. Oleh karena itu hijab syari perlu dilengkapi dengan kaos kaki, celana panjang, deker, manset, dan sebagainya. Kalau orang memilih tidak berjilbab syari karena tidak punya uang pun, menurut saya tidak bisa disalahkan. Bukankah ibadah itu seharusnya memberikan ketenangan, bukan menyulitkan, apalagi mendatangkan kesulitan?

Saya kadang geli melihat orang-orang yang baru-baru berjilbab. Di satu sisi, ini tentu kabar menggembirakan. Kita tentu senang melihat seseorang merasa mendapatkan hidayah, ketenangan, atau apapun namanya. Tapi, di sisi lain, kadang muncul rasa miris jika melihat gelagat berbangga hati yang begitu tampak.

Dulu, ketika masih belum berjilbab, saya mengagumi seorang komposer perempuan di Indonesia. Ia adalah komposer perempuan pertama di Indonesia yang berjilbab waktu itu. Gerakannya sangat enerjik seakan energinya tak habis-habis. Jilbab lebarnya juga tak menghalangi aktivitas seninya.

Tujuh tahun berlalu, saya sudah memakai jilbab. Selain (sekadar) meniru kakak pertama, saya juga termotivasi oleh perempuan ini. Namun, berita menyebutkan perempuan ini justru melepas jilbabnya.

Setiap ada ribut-ribut soal jilbab, saya selalu teringat kisah itu. Ibarat keimanan, berjilbab adalah laku spiritual yang semangatnya bisa naik-turun. Sekadar memahami bahwa jilbab itu wajib tak menjamin seorang Muslimah akan mampu mempertahankan hijabnya hingga mati. Ibaratnya, tidak ada yang bisa menjamin hidayah (jika berjilbab dipandang sebagai hidayah) akan dapat terus digenggam. Pengalaman hidup, ujian, cobaan, bisa membuat orang berubah haluan.

Di satu sisi, melihat orang berjilbab adalah sesuatu yang menggembirakan. Melihat orang berkelakuan baik, baik berjilbab atau tidak, lebih mendamaikan. Paling tidak saya kadang berpikir, perkara jilbab ini hanya perlu disikapi dengan sederhana: saling menasehati, saling menghargai, dan tidak berisik. Bergumullah dalam ibadah dengan tenang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s