Uncategorized

27 Mei: Kucing, Tenda, dan Buku-buku

Merapi belum juga tenang mengeluarkan isi perutnya yang mual-mual. Tiba-tiba pagi itu kami diguncang, tanah Jogja bagai diayak. Langit serasa hendak jatuh menimpa kepala.

 

Suara piring dan gelas beradu, berdenting melengking di pagi buta. Kami semua terbangun. Seekor kucing menyambar tumpukan perkakas kotor yang terkumpul di baskom, di atas meja.

Tak seperti biasa, saya mendadak ingin shalat subuh di mushala dekat rumah. Padahal, biasanya menarik selimut lalu kembali terlelap adalah pilihan terindah. Sampai di mushala tidak ada jamaah. Sama saja, saya shalat sendiri.

Pulang dari mushala saya menjemur baju yang sudah dicuci semalam. Saya membawa bak berisi pakaian itu ke samping rumah paman. Baru dua baju tersampir di tali jemuran, tiba-tiba bumi terasa bergoyang.

Saya masih belum sadar bahwa guncangan itu begitu kuatnya, hingga saya melihat tembok rumah paman yang hanya berjarak sekitar dua meter di depan mata runtuh, luruh perlahan menyisakan debu yang beterbangan. Saya mematung. Ada apa ini?

Terbayang satu per satu keluarga yang masih berbaring di ranjang masing-masing membuat saya bergidik. Saya segera berlari ke rumah. Baru beberapa langkah, bumi bergoyang kedua kalinya. Saya melihat ke langit, rasanya langit hendak dijatuhkan menimpa kepala. Saya terduduk sambil kedua tangan menelangkup di atas kepada. Bumi sedang diayak.

Mungkin Merapi meletus. Seberapa dahsyat letusannya sampai gempa terasa begitu hebat? Apa seperti Krakatau?

Saya melihat ke arah jalan raya. Pagar runtuh berurutan seperti deretan kartu remi yang berdiri, lalu ujungnya disentuh. Gila. Ini gempa atau apa?

Baru saja hendak berdiri lagi menuju rumah, seorang nenek tetangga lari tergopoh-gopoh sambil mulutnya terus berdoa. Wajahnya ketakutan, kebingungan, penuh pertanyaan. Mungkin seperti juta wajah saya.

Saya mendekatinya, merangkul dan memintanya duduk di halaman, di tempat tadi saya duduk. “Di sini saja dulu, Mbah. Saya lihat orang rumah sebentar.”

Ketika saya pergi, nenek itu pun lari ke jalan. Saya sempat hendak mengejar, tapi orang-orang sudah mulai berhamburan ke jalan. Ah piye iki??

Saya lalu menuju ke rumah. Nenek saya yang waktu itu kalau tidak salah sudah berusia 80 tahunan, yang sudah tidak bisa berjalan cepat, diseret begitu saja oleh kakak saking paniknya. Lalu dia terkapar di halaman dengan nafas tersengal-sengal. Mulutnya tidak berhenti berdoa. Saya khawatir bukan main.

“Rapopo. Rapopo,” kata nenek saya lirih sembari terus berdoa.

Kami memanggil-manggil Bapak, Ibu, dan kakak saya yang lain. Bapak dan kakak menjawab dari samping rumah. Mereka baik-baik saja karena saat kejadian sedang beraktivitas di sekitar kamar mandi. Ibu juga baik-baik saja walau saat kejadian masih terbaring di kamar.

Jaringan komunikasi terputus. Kami tidak bisa mengontak siapapun. Akhirnya, dengan mengendarai sepeda, saya datang ke rumah kakak sulung untuk memastikan kondisi keluarganya baik-baik saja.

Saya lupa cerita selanjutnya, hingga saya menggendong putra kakak yang waktu itu masih berusia dua bulan. Tiba-tiba orang-orang berkata, ada rekahan tanah memanjang di ladang dekat kampung kami. Rekahan itu mengeluarkan lumpur putih. Di kemudian hari, rekahan ini memang ada dan memang panjang, menembus ke jalan raya. Aspal di jalan hingga sekarang masih menyembul karena terdorong lumpur dari rekahan kecil itu.

Kalau tidak salah, saya sedang berjalan kaki karena diminta mengecek keluarga rumah Bulik yang satu kampung. Di tengah jalan, saya bertemu rombongan orang-orang. Mereka meminta saya berbalik arah.

“Balik-balik. Sudah disiapkan truk, semuanya suruh naik. Airnya sudah sampai ke Jalan Solo.”

“Air apa?”

“Lhoh piye toh? Katanya ada tsunami. Di sawah juga tanahnya merekah, lumpurnya mumbul. Wis nggak tahu apa yang terjadi yang penting selamatkan diri aja dulu.

Lalu orang-orang sekampung mulai terpisah-pisah. Ada yang naik truk, ada yang naik motor, ada pula yang menumpang kendaraan seadanya. Karena membawa bayi yang masih sangat rentan, kakak mendahulukan saya, meminta saya naik ke motor tetangga. Jalanan macet di mana-mana.

Kami berempat di atas motor. Saya menggendong bayi, ibu yang menyetir motor membawa putrinya yang seusia anak TK. Keluarga saya entah ada di mana.

“Buk, kita mau ke mana? Ayah mana bu?” tanya si anak kecil polos.

“Ibuk juga nggak tahu ke mana. Kita jalan-jalan ya. Ayah lagi kerja, Nak. Nanti Ayah pulang.”

Suara ibu itu gemetar menahan tangis. Dia sendiri tak tahu di mana suaminya. Sampai di jalan, di perempatan yang macet, kendaraan sudah tak dapat bergerak. Satu mobil polisi lewat memberikan informasi, “Tadi kami dengar dari radio, tidak ada tsunami. Jangan panik. Tetap waspada, tapi tidak usah panik ya, Ibu-ibu, Bapak-bapak.”

Cerita selanjutnya, kami duduk di pinggir jalan hingga lewat tengah hari. Saya mendekap Nafi, bayi dua bulan kami. Beruntung dia diam saja, tenang sekali. Saya harus segera mempertemukan dia dengan ibunya karena selama kekacauan itu dia belum minum susu.

Setelah berjam-jam kondisi terlihat aman, kami kembali ke kampung masing-masing. Keluarga kembali bertemu dan bertukar cerita tentang perjalanan mereka. Saya menyerahkan bayi Nafi kepada kakak untuk disusui. Lepas dari dada saya, baru disadari udara siang itu memang begitu panas. Wajah Nafi terbakar. Bagian yang menempel di dada saya terlihat putih, sementara yang lain merah belang.

Rumah kami rusak. Kami tidur di garasi rumah tetangga, bersama beberapa keluarga, selama beberapa minggu. Setiap malam para laki-laki berjaga. Kami memantau berita dari televisi dan radio. Kami menjadi sangat sensitif dengan gempa-gempa susulan. Terkadang, kami jadi bisa memperkirakan kisaran skala Richternya. Antara 3-4 SR.

Satu per satu keluarga kembali ke rumah. Kami tinggal di tenda selama sebulan. Kami membenahi rumah kembali. Saya dan kakak-kakak ikut mengaduk semen, mengangkat batako, dan semua pekerjaan bangunan. Bapak dan kakak ipar saya bekerja dengan luar biasa 7×24 jam selama masa itu, dari subuh hingga tengah malam. I do see a hero!

Sebulan berlalu, kami mulai kembali ke rumah. Saya tidak berani tidur di kamar karena waktu itu kamar saya yang paling parah. Tapi Bapak meyakinkan. Belakangan saya tahu, Bapak sedikit berbohong soal rekahan tembok di kamar saya, hanya untuk meyakinkan bahwa rumah sudah aman. Semua sudah terkendali. Kami bisa tinggal di rumah lagi dengan tenang.

Satu hal yang paling saya senang, buku-buku di dalam lemari utuh, bersih, dan baik-baik saja. Padahal, semua soal UMPTN yang saya pelajari malam sebelum gempa, hancur dimakan ngengat hanya sehari setelahnya.

Sampai sekarang, saya pikir, mereka yang pernah merasakan gempa Jogja pasti sangat sensitif dengan getaran bumi. Suatu hari di kantor, di Jakarta, saya duduk berhadapan di meja kayu yang disekat empat, berhadapan dengan seorang redaktur. Tiba-tiba saya merasa ada getaran yang agak kencang.

Saya sudah memegang meja, bersiap hendak berdiri, dengan ekspresi muka yang entah seperti apa. “Napa lu, Nda?”

“Ada gempa ya?”

“Yaelah, Nda. Tenang. Itu kaki gue. Di Jakarta mana ada gempa?”

 

*a late story. Nggak papa lah ya, semoga masih bermanfaat.

 

 

Advertisements

One thought on “27 Mei: Kucing, Tenda, dan Buku-buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s