diari · opini · Uncategorized

Dimulai dari Atas

Sebulan lalu, tepatnya 7 Maret 2016, saya diminta meliput acara peluncuran buku untuk berita advertorial. Buku biografi itu ditulis seorang profesor dari universitas ternama. Hari itu dia berulang tahun yang ke-60.

Sebelum mengikuti acara, saya tidak tahu siapa profesor ini. Ternyata dia pernah menjabat ketua program S2 di kampus tersebut.

Awalnya acara berlangsung biasa saja. Ada ucapan selamat ulang tahun dan alunan musik khas daerah asalnya. Pembahasan lalu perlahan beralih pada sosok sang profesor.

Buku yang akan diluncurkan sengaja ditulis sebagai refleksi diri di usia yang ke-60. Itu juga bisa menjadi motivasi, mengingat sang profesor datang dari kalangan masyarakat miskin. Konon (saya mendapat satu eksemplar buku tebal itu namun belum sempat baca), buku ini berisi perjuangannya dari yang bukan siapa-siapa, lalu perlahan mampu mewujudkan impian-impiannya dalam dunia pendidikan.

Sesi selanjutnya berisi sanjung puji. Orang-orang yang sempat berinteraksi dan mengenal dia bergiliran memberikan kesan tentangnya. Hampir semuanya bicara hal yang baik-baik. Dia sendiri mengharapkan kritik, tapi tak satupun kritik terlontar. Mungkin dia memang orang baik.

Komentar-komentar yang bisa saya tangkap ketika itu, antara lain bahwa sang profesor seorang yang berilmu tinggi. Iyalah sudah sewajarnya. Ia bukan seorang yang ‘serius’. Rasa humornya tinggi. Namun, tidak semua orang dapat memahami guyonannya.

Lelucon yang ia buat membuat orang berpikir dan menyelami pemikirannya lebih dalam. Dia juga seorang yang detail. Kampus yang ia pimpin seakan disulap menjadi asri, bersih, dan rapi.

Hingga acara hampir selesai, semua berjalan wajar saja. Acara banyak diisi dengan nostalgia dan tawa. Lalu sang profesor membuat pengumuman. Hari itu, semua yang hadir, selain mendapatkan makanan berupa nasi kotak, juga membawa pulang satu eksemplar buku biografi karya dia.

Satu lagi ‘kemurahan hati’ beliau yang membuat saya mendadak sedih adalah ia membagikan sebuah sertifikat. Isinya menyatakan semua yang hadir menjadi pembicara dalam acara hari itu. Acara hari itu sejatinya hanya acara haha-hihi. Acara tidak penting. Hanya perayaan ulang tahun. Tidak ada isu khusus yang dibahas. Tapi dalam sertifikat itu semuanya mendapat sertifikat sebagai pembicara diskusi bertema pendidikan. Oya, seorang mantan menteri yang sudah sepuh hadir di situ. Tabik, bapak. Duniamu diinjak-injak.

Sampai kos, saya menyimpan sertifikat itu. Tak lama kemudian sertifikat itu saya gunting untuk membuat pernik-pernik lucu ketika kamar kos terasa membosankan.

Di hari saya menerima sertifikat itu, saya tahu peristiwa hari itu tidak akan terlupa begitu saja. Bagaimana seorang profesor justru menjadi inisiator sertifikat fiktif? Ada dua ironi di sini. Pertama, tindakan itu membenarkan pandangan bahwa sertifikat seminar, diskusi, dan semacamnya sebenarnya tidak penting. Hanya formalitas. Jika memang dalam kacamata sang profesor, sertifikat itu hanya formalitas belaka, mengapa tak dihapus saja persyaratan sertifikat mengajukan skripsi, syarat pendadaran, mendaftarkan diri untuk wisuda, dan tetek bengek lain. Bohong belaka.

Kedua, lebih parahnya, tindakan itu seakan menabrak aturan mendasar dari dunia pendidikan. Pemalsuan. Selain plagiasi, pemalsuan ijazah menjadi borok besar pendidikan negeri ini. Lalu mengapa pemalsuan-pemalsuan kecil ini justru dimulai di kampus yang ‘punya nama’? Justru diinisiasi, dimotori oleh orang yang pernah menjadi pemimpin tertinggi.

Like father like son. Pimpinan sudah limbung, para pengikut jangan terhuyung-huyung.

Jakarta, 14 Juni 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s