Kupas Tuntas Radang Tenggorok

Banyak orang pernah mengalami rasa sakit di tenggorok atau sulit menelan makanan. Walau terkesan sepele, ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, apalagi jika memengaruhi asupan makanan untuk tubuh.

Rasa sakit di tenggorok bisa jadi merupakan gejala awal radang tenggorok atau tonsilofaringitis. Ini merupakan penyakit yang disebabkan terjadinya proses peradangan atau inflamasi pada selaput lendir atau mukosa tenggorok (faring) dan tonsil (amandel). Penyakit ini dapat dipicu oleh adanya infeksi, iritasi, maupun alergi.

Radang tenggorok sering terjadi pada balita, sebab pada masa ini tonsil bekerja sangat efektif untuk menyaring zat-zat yang tidak diinginkan tubuh. Pada usia 5-7 tahun, tonsil bukan lagi penyaring utama.  

Menurut Ketua Divisi Laring Faring Departemen Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Syahrial M. Hutaurk, sebanyak 80 persen kasus radang tenggorok disebabkan oleh infeksi. Sisanya terjadi karena alergi maupun iritasi. Berbeda dengan dua penyebab terakhir, radang tenggorok karena infeksi umumnya diawali demam.

Radang tenggorok bisa juga mengindikasikan adanya alergi. Kasus ini biasa ditemukan pada orang yang memiliki alergi debu dan tungau.  Asap, makanan tidak sehat, udara kotor, dan perubahan suhu yang ekstrem ketika menyeruput cairan yang terlalu panas juga dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan dan memicu peradangan. Penyakit ini juga bisa muncul mengiringi peningkatan asam lambung yang terjadi saat stress.

Berdasarkan waktu, radang tenggorok bisa dikelompokkan menjadi radang akut, subakut, dan kronis. Radang akut biasanya disertai gejala yang terlihat jelas, misalnya warna kemerahan, rasa nyeri, dan gangguan fungsi tenggorok yang menyebabkan pasien sulit menelan. Kasus ini cenderung lebih mudah disembuhkan dibandingkan jenis radang tenggorok lain, dan bisa diatasi dalam waktu kurang dari dua pekan.

Radang tenggorok subakut terjadi antara 3-8 pekan. Kasus ini bisa diikuti dengan perubahan suara menjadi serak dan sakit kepala. Jika terjadi lebih dari delapan pekan, penyakit ini bisa dikelompokkan kategori kronis. Kasus ini bisa diikuti rasa sakit pada telinga dan pembesaran kelenjar getah bening.

“Jadi kalau kelenjar getah bening membengkak, tidak selalu tumor. Bisa saja karena radang tenggorok. Nanti akan mengecil lagi,” kata Syahrial di Jakarta, Selasa (1/11).

Jenis bakteri yang paling sering menyebabkan radang tenggorok ialah streptococcus hemolyticus group A. Ada pula bakteri influenzae, pneumonia, viridian,dan pygenes. Penyakit ini juga dapat dipicu adanya epstein barr atau virus lain.

Secara patolofisiologi, proses terjadinya radang tenggorok diawali dari masuknya bakteri ke dalam tubuh dan tersangkut di selaput tenggorok. Bakteri ini tidak langsung menimbulkan reaksi, namun melalui masa inkubasi selama 3-7 hari. Setelah itu, terjadi peradangan atau inflamasi ringan yang sering kali tidak disadari.

Dalam kondisi tersebut, sekresi makanan dan minuman masuk ke dalam kripta dan terperangkap di dalamnya. Akibatnya, peradangan menjadi lebih parah. Jika tidak segera diobati, ini dapat mengganggu aktivitas tubuh, bahkan menyebabkan perubahan jaringan di sekitar tenggorok.

Radang tenggorok bisa terjadi lebih dari satu kali pada seseorang. Rekuren bisa dikategorikan kronis jika terjadi sebanyak 7x dalam setahun, 5 kali dalam dua tahun berturut-turut, atau 3x dalam tiga tahun berturut-turut.

Apabila tidak ditangani dengan tepat, radang tenggorok dapat menyebabkan komplikasi menyebar dan menyebabkan rhinitis kronik, sinusitis, otitis media, maupun pembengkakan jaringan abses di leher. Pada kasus terakhir, abses harus diangkat melalui operasi. Jika tidak, cairan atau nanah di dalamnya bisa pecah dan masuk ke dalam tubuh. Pada tahap ini, 90 persen kasus berakhir dengan kematian.

Komplikasi lain berupa hematogen dan limfogen, yang menyebabkan terjadi endokarditis, arthritis, miositis, nefritis, uvetis, iridosiklitis, dermatitis,pruritis, urtikaria, dan furukulosis. Radang tenggorok juga dapat menimbulkan gangguan tidur pada anak karena rasa nyeri dan obstructive sleep apnea (OSA).

Dengan penanganan yang tepat, semua jenis komplikasi di atas dapat dihindari. Beberapa langkah dalam tata laksana penyakit radang tenggorok, di antaranya pemberian antibiotik empiris, misalnya antibiotik lini pertama atau kedua. Penggunaan analgesik dan antipiretik juga dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri pasien.

Dalam beberapa kasus, tata laksana radang tenggorok juga perlu disertai pemeriksaan penunjang, misalnya ketika pasien tak kunjung sembuh setelah pemberian antibiotik lini pertama dan kedua. untuk kasus seperti ini, dokter akan memberikan antibiotik defitinif yang diawali dengan swab tenggorok dan resistensi. Petugas medis akan mengambil sampel kuman dari tenggorok pasien dan melakukan uji laboratorium untuk menentukan antibiotik yang tepat. Pemeriksaan DPL dan antistreptolysin O atau asto titer. Radiologi kadang dilakukan apabila diduga ada pembesaran di bagian belakang amandel yang tertutup sinus.

Obat kumur (gargle) juga lazim digunakan dalam pencegahan maupun pengobatan radang tenggorok. Edukator dan trainer Mundipharma, Merry Sulastri, mengatakan, penggunaan obat kumur antiseptik merupakan langkah pertama dalam pencegahan infeksi. Jurnal Dermatology 2002 menyebutkan, kandungan povidone-iodine pada obat kumur antiseptik dapat mengurangi jumlah bakteri dan virus pada rongga mulut hingga 99,4 persen dalam waktu singkat. Ini lebih efektif dibandingkan antiseptik lain seperti Chlorexidine Gluconae dengaa efektivitas hanya 59,7 persen dan Cetylpyridinum Cloride 97 persen.

Povidone Iodine memiliki spektrum yang luas, sehingga dapat membunuh bermacam bakteri, virus, jamur, protozoa, strain yang kebal terhadap antibiotik, mikrobakterium, infeksi nosokomial, yeast, dan bakteri gram positif maupun negatif.

Untuk mendapatkan manfaat yang optimum, berkumur tak hanya dilakukan di rongga mulut, namun mencapai tenggorokan. Oleh karena itu, gargling atau memainkan cairan di tenggorokan dianjurkan bagi penderita radang tenggorok.

Gargle dilakukan dengan memasukkan 10-15 mililiter obat kumur ke mulut. Setelah itu, pasien menengadah sekitar 45 derajat. Gargle dilakukan dalam posisi ini selama 30 detik, kemudian keluarkan. Cara ini dianjurkan sebanyak 3-5 kali sehari saat sakit tenggorokan.

Obat kumur tidak disarankan untuk digunakan setiap hari, walaupun diklaim aman oleh produsen. Penggunaan obat kumur secara berlebihan justru dapat mematikan flora-flora di tenggorok yang berfungsi positif. “Kalau ditanya aman atau tidak, aman. Tapi perlu nggak? Saya bilang nggak perlu,” kata Merry.

Obat kumur bisa dipakai untuk mencegah terjadinya radang tenggorok pada orang yang berada di lingkungan penyebar virus atau bakteri. Misalnya, ketika keluarga, teman kantor, atau teman sekolah mengalami flu. Ini juga bisa dipakai ketika seseorang merasa tidak nyaman, gatal, kering, atau bengkak di tenggorok.

Penggunaan obat kumur yang mengandung alkohol tidak direkomendasikan. Alkohol dapat menyebabkan rongga mulut dan tenggorok menjadi kering. Akibatnya, kelenjar ludah akan bekerja lebih keras untuk membasahi bagian ini. Kondisi ini justru memicu terjadinya bau mulut tidak sedap. Alkohol juga berbahaya bila tertelan oleh anak-anak.  

Kebiasaan lain yang juga bagus untuk kesehatan mulut dan tenggorok adalah nyirih. Menurut Syahrial, sirih mengandung antiseptik dengan kandungan lebih ringan daripada obat kumur. Yang perlu diwaspadai adalah pencampuran bahan-bahan selain sirih, misalnya kapur.

“Penelitian di India mengatakan, kanker lebih banyak terjadi pada orang-orang yang suka nyirih. Makanya sekarang mulai ditinggalkan. Jadi kalaupun mau nyirih sebaiknya menggunakan daun sirih saja,” kata dia.

Radang tenggorok bisa menular melalui udara, baik dari napas maupun lendir yang keluar saat penderita batuk. Kuman penyebab radang tenggorok juga bisa terperangkap di ruang ber-AC. Oleh karena itu, penggunaan masker sangat dianjurkan untuk meminimalisasi penyebaran penyakit ini.  

Note: Tulisan ini disarikan dari Seminar Radang Tenggorok yang diselenggarakan Betadine hari ini di Blue Jasmine Resto, the Maja, Jakarta untuk dipublikasikan Harian Republika. 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s