Sawang Sinawang

Pagi ini seseorang, sebut saja Sawang, datang padaku dan berkata, “Ternyata kamu kenal sama Sinawang, ya?”

Iya, kataku. Lalu ia bertanya di mana aku berkenalan dengan Sinawang. Kujawab saja seperti apa adanya. 

“Oh, dia pernah di situ? Hh.. kasihan dia itu,” kata Sawang padaku. 

Aku tak ingin lebih jauh menanyakan penilaian Sawang pada Sinawang. Tak juga bertanya apa yang membuatnya kasihan. Sudah terlalu gamblang apa yang sering kali dipermasalahkan orang dari perempuan itu. Jilbab. 

Selintas saja, aku sudah bisa membandingkan keduanya. Sinawang, seorang perempuan dengan latar pesantren yang kuat, memilih untuk tidak berjilbab. Dalam beberapa kesempatan, ia menjelaskan dengan gamblang pandangannya tentang jilbab yang memang berbeda dengan apa yang diyakini oleh sebagian besar Muslim di Indonesia. Pandangan itu pula yang mendasari keputusannya untuk melepas jilbab di masa akhir perkuliahan. 

Aku melihat, walau tak berjilbab, pengetahuannya tentang Islam cukup mendalam. Ia memahami hukum Islam secara esensi, alih-alih memilih jalur kontekstual. 

Keputusannya melepas jilbab bukan tanpa landasan. Hanya saja, landasan yang ia pilih bukan opsi populer di kalangan umat Islam Indonesia. Pandangan bahwa jilbab itu wajib seakan menjadi hukum yang disepakati bersama oleh seluruh umat. 

Tak heran, ketika ulama sekaliber KH Quraish Shihab melontarkan bahwa ada ulama yang mengatakan jilbab itu tidak wajib, ia langsung ‘dimangsa’ oleh banyak kalangan. Ia disebut menganut syiah, disangsikan keilmuwannya, bahkan ada yang tidak mau menganggapnya sebagai ulama.

Aku sendiri tak cukup berani untuk memutuskan melepas jilbab setelah memakainya hampir 13 tahun. Tapi aku percaya, berjilbab itu bukan perkara mudah. 

Aku sepakat dengan perkataan temanku kemarin malam. Intinya, hidayah itu bukan jaminan akan terus bersarang dalam satu pribadi. Begitu juga dalam berjilbab. 

Kadang aku tersenyum melihat perempuan-perempuan yang baru berjilbab. Aku ikut bahagia, pasti. Aku salut dengan semangat mereka yang membara. Mereka aktif dalam berbagai kegiatan positif. Itu luar biasa, apalagi jika melihat latar belakang mereka sebelumnya yang jauh dari dunia yang relijius. 

Tapi sebagian ada yang terlalu bersemangat. Seakan ini akhir perjalanan. Seakan pada akhirnya ia menemukan jalan terang. Seakan tak akan ia bergeming lagi dari pilihan. Aku selalu mendoakan demikian, tapi aku meyakini.. hidayah benar-benar rahasia Tuhan.

Itu pula yang membuat aku tak bisa menghakimi atau mengasihani Sinawang. Bagiku ia seorang dengan ilmu yang mendalam. Ia jarang asal berkomentar. 

Bagaimana Sawang? Ia seorang yang taat beribadah, setahuku. Namun, di mataku (semoga aku salah), ia sering kali terlihat emosional. Dalam beberapa kali kesempatan, argumen yang ia kemukakan lompat-lompat, sering kali disertai sentimen. 

Aku melihat kedua sahabatku ini berbeda jauh dalam pemahaman keagamaan. Seperti orang yang sedang menyelam dan sedang berenang di permukaan. 

Ucapan Sawang tentang Sinawang pagi itu mengingatkanku, dalam kehidupan ini, kita sering kali sawang sinawang. Kita terkadang mengagumi orang lain, juga mengasihani mereka, sembari lupa ada hal mengagumkan dalam diri atau ada yang perlu dikasihani.

Jakarta, 23 Desember 2016

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s