​Lelucon Tak Lucu

Cerita ini mungkin akan dinilai lucu atau menggelikan bagi beberapa orang. Bisa juga saya dianggap kurang kerjaan. Tapi saya merasa perlu menjadikan ini pelajaran pribadi. 

Ada beberapa lelucon yang bagi saya kadang salah tempat. Yang melemparkan lelucon menjadi turun beberapa tingkat. 
Pertama, guyonan tentang poligami. Lebih dari 20 tahun menjadi orang Islam karena keturunan, saya tidak pernah mempermasalahkan hukum poligami yang disebut dalam Alquran secara gamblang. Ketika itu, poligami terasa sebagai satu solusi yang fair. Biasa saja, seperti hukum lain. 
Praktik poligami yang dilakukan oleh banyak orang zaman dahulu juga menjadi fenomena biasa. Sebab, mereka umumnya adalah orang-orang yang tidak memahami dengan baik ajaran Islam, atau orang-orang yang bermasalah dengan pernikahannya. 
Namun, akhir-akhir ini isu poligami menjadi demikian menjijikkan untuk dibicarakan. Poligami justru dilakukan oleh mereka yang dianggap paham agama, bahkan disebut sebagai ustaz. Di mana-mana kita dapat menemui para lelaki bergurau dengan vulgar sembari mengatakan, “Kuotanya empat, masih tiga lagi.”
Atau, “Mau punya istri berapa?”

Atau, “Nggak mau nambah, Bang?”
Itu hanya candaan di mulut. Belum lagi ketika melihat para lelaki memuji pelaku poligami sebagai orang yang berani, hebat, dan sebagainya. Belum lagi yang mempromosikan poligami, sampai membuat seminar khusus. 
Poligami menjadi candaan yang menjijikkan dan tersebar di mana-mana, tatkala para manusia itu seakan tak lagi memperhatikan perasaan perempuan sebagai pihak yang diduakan. Dalam praktik yang (bagi saya) sudah sangat melenceng ini, poligami menjadi hukum yang (sekali lagi, dalam praktiknya) tidak adil. 
Ada lagi yang tak lucu. Ini yang saya sebut di awal sebagai sesuatu yang bagi orang lain mungkin menggelikan, tapi bagi saya menjengkelkan. 
Saya makan kepala ayam yang ditusuk dengan tusuk sate, dimasak, lalu dibakar. Khas menu angkringan. Saya memegang tusuk sate sembari memakan kepala ayam dari leher. Tiba-tiba seorang kawan melihat saya dan tertawa. 
“Kamu makan apa sih, Han?”

“Kepala ayam.”

“Kok lucu bentuknya. Coba kamu makan.”
Saya tidak paham. Saya melanjutkan makan. Lalu kawan lelaki itu meminta saya makan kepala ayam dari ujungnya. Bayangkan, ujung kepala ayam adalah bagian cucuk yang tidak bisa dimakan, lalu dia minta saya memakan dari bagian itu. 
“Coba, Han.”

“Nggak ah. Ngapain makan dari ujung?”

“Emang kenapa? Cobain, Han?”

Saya mulai jengkel. 

“Gimana mau makannya, bagian depannya seperti ini.”

“Emang kenapa bagian depannya? Cobain, Han.”

“Ini kan cucuknya, ga bisa dimakan.”

“Iya, ya? Nggak papa, cobain.”
Saya mulai merasa permintaannya irasional. Lalu saya tidak menggubris walau dia adalah senior saya. Saya melanjutkan makan. 
Dia kembali mengatakan bentuk makanan itu lucu. Lalu dia bertanya bentuknya seperti apa. Saya mulai merasa ada yang tidak beres, tapi saya tidak mau menanggapi. 
“Kayak kepala ayam,” kataku. 

“Gitu ya? Kamu polos sih, Han.”
Tak lama kemudian, kawan saya pamit pulang. Sampai di rumah, rupanya ia mengirimkan sebuah pesan via whatsapp. 
“Tadi lucu, Han. Besok kita makan kepala ayam lagi, ya.” 

“Ya.”

“Masih nggak tahu bentuknya kaya apa?”

“Emang apa?”

“Nggak jadi ah, Han”

“Hmm..”

“Nggak kaya apa-apa. Tapi ngilu ngelihatnya.”

Ok, fix. Saya paham maksudnya. Jadi sembari saya makan kepala ayam, dia membayangkan sesuatu hal yang membuat dia ngilu. Saya mulai muak dan merasa jijik pada isi otak kawan saya itu. 

“Lihat orang makan kepala ayam ngilu. Yang salah ayamnya atau pikirannya?” tanya saya. 

Lalu dia tertawa terbahak dalam chat kami. 

“Pikirannya kali ya?”

I dont know what to say. Buat saya itu lelucon yang sama sekali tidak lucu. Bahkan seakan tidak beretika. Saya mulai bertanya dalam hati, memang kau nggak punya lelucon yang lain? Lalu saya mulai merasa berkurang rasa hormat terhadapnya. 
Ayolah, berguraulah dengan baik. Bercandalah dengan logika. Gitu kalau kata teman saya. 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s