Membaca ‘Undang-undang Antibunuhdiri’ Karya Rio Johan (2)

​Jadi, kekuatan komunitas sangat penting untuk mengurangi angka bunuh diri maupun gangguan jiwa. Dimulai dari rumah yang nyaman, sahabat yang menyenangkan, rekan kerja yang manusiawi, dan sebagainya. 

Saya mungkin bisa mencontohkan cara paling sederhananya, bahwa kita perlu belajar untuk bercerita dan mendengar. Menjadi pendengar itu sulit bagi mereka-mereka yang ekstrovert dan jiwa pengendalinya tinggi. Tapi, bercerita, curhat, juga sulit bagi sebagian orang lain. Cuma curhat lo. Ada aja yang gengsi atau memang nggak punya teman curhat. 

Bercerita adalah cara paling sederhana (dan bisa jadi paling rumit bagi yang tidak terbiasa) untuk mengekspresikan diri. Karena itu, cara kedua adalah biarkan seseoranf mengekspresikan diri dan melepaskan bebannya. Seorang laki-laki biasanya dibully kalau mereka menangis. Buat saya, nggak papa selama menangis bisa membantu menjadi lebih baik. Asal jangan nangis manja. Halah. Nangis itu wajar tau. Setelah nangis mungkin perasaan kita menjadi lebih baik untuk menghadapi ide-ide selanjutnya. 

Itu tadi opini tanpa data dari saya tentang bunuh diri. Haha. 

Yang kedua, soal undang-undang. Dalam banyak masalah di negeri ini, undang-undang selalu dianggap sebagai solusi. Sudah ‘template’ kalau para pejabat atau anggota DPR mengomentari suatu masalah dengan mengatakan, “Perlu regulasi yang tepat untuk mengatasi hal tersebut.”

Atau, “Perlu dibuat undang-undang khusus agar blablaba..” atau “Undang-undang yang ada perlu diperbaiki.”

Nggak salah sih. Kan DPR memang ranahnya di situ. Fenomena itu bisa terjadi karena beberapa hal. Pertama, banyak undang-undang kita masih lemah. Ketika ada permasalahan, kita baru menyadari hal A tidak sesuai dengan undang-undang. Hal B belum ada undang-undang yang mengatur, dll. 

Kedua,undang-undang kita sudah bagus, tapi implementasinya belum. Akhirnya, dengan implementasi yang salah atau justru tidak diimplementasikan sama sekali, masyarakat disuguhi berbagai kekacauan dan menjadi tidak percaya pada undang-undang. (Dih instant banget nyimpulinnya).

Contoh sederhananya, surat izin mengemudi (SIM) diciptakan sebagai jaminan bahwa pengendara layak membawa kendaraan jenis tertentu. Artinya semakin banyak yang punya SIM, kondisi jalanan semakin tertib. 

Sayangnya,prosedur untuk mendapatkan SIM secara jujur sangat sulit. Orang harus bolak-balik tes, biaya yang standardnya hanya puluhan ribu bisa menjadi ratusan ribu, dll. Pada akhirnya, masyarakat sulit mendapatkan SIM dan memilih untuk menjalankan kendaraan tanpa SIM. 

Setelah jumlahnya terlalu banyak, polisi banyak membuat program SIM masal yang sering kali menghilangkan tes praktik. Lha kalau tes praktik yang sulit itu pada akhirnya tidak terpakai kenapa tidak disederhanakan saja? 

Dari implementasi aturan yang acakadut itu, lahirlah pengendara yang tidak memahami aturan lalu lintas (mungkin termasuk saya). Ini masih disusul dengan banyaknya tilang. Lalu terjadi lagi banyak penyelewengan dalam praktik tilang. 

Begitu kira-kira cerita tentang kacaunya implementasi regulasi. Jadi nggak salah sih kalau DPRD selalu mengusulkan perbaikan UU. 

Sayangnya ini juga bisa dimanfaatkan pihak tertentu untuk nyari-nyari projek. Semakin banyak pembahasan uu, semakin banyak saweran, makin banyak insentif, dll. 

Nah selama proses pembahasan undang-undang, gejolak selalu muncul. Lalu ada kubu pro dan kontra. Cerpen ini menggambarkannya dengan apik. 

“Lucu juga sebetulnya kalau dua kubu itu sudah berhadap-hadapan, saling memaki, saling mencibir, apalagi kalau sudah ada yang bertingkah konyol, seperti sandiwara komedi saja. Kenyataannya, sejumlah besar warga negeri R malah tidak ikut ambil bagian dalam perseteruan itu, sebagian karena tidak peduli, sebagian lagi karena bingung sendiri.” 

Uih, bagian ini seakan menangkap dengan baik fenomena yang bikin galau akhir-akhir ini. Demo-demoan, perang kubu, nyebar kebencian, dan sebagainya. Bagian ini ngena banget karena saya baca sesaat setelah saya merasa muak dengan semua yang terjadi di Indonesia baru-baru ini. Bagian yang paling saya suka ya, “Kenyataannya, sejumlah besar warga negeri R malah tidak ikut ambil bagian dalam perseteruan itu, sebagian karena tidak peduli, sebagian lagi karena bingung sendiri.” 

Iya. Nyatanya begitu. 

Nah, tulisannya hampir selesai. Yang pasti cerpen ini menimbulkan keinginan untuk membaca lebih banyak karya sastra dan menulis kembali. Setelah membaca buku ini saya berhasil menyelesaikan satu cerpen yang sekarang masih diendapkan. Walaaa… 

Oke, besok saya akan masuk ke cerpen kedua dan ketiga. Saya memutuskan untuk tidak membaca secara urut. Jadi yabg judulnya menarik dulu. Besok saya akan membaca cerpen di buku yang sama, yang judulnya ‘Komunitas’ sama ‘Ginekopolis’. Semoga tulisan ini bermanfaat. 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s