Uncategorized

Membaca ‘Undang-undang Bunuhdiri’ Karya Rio Johan (1)

Di tulisan sebelumnya, saya sudah menceritakan tentang kesulitan membaca yang saya alami dan target menulis yang akan saya mulai hari ini. Buku pertama yang saya pilih adalah ‘Aksara Amananunna’ karya Rio Johan, pemberian teman baru di Jogja. 

Cerpen pertama cepet selesai, soalnya saya sudah baca sebelumnya dan tinggal mengulang saja, hihi.. Oh iya, ini bukan review serius, jadi tidak ada kajian khusus. Jadi sekadar tulisan biasa saja, iseng-iseng.

Judulnya ‘Undang-undang Antibunuhdiri’. Ketika membaca cerpen ini saya suka sekali. Dan akhirnya, dari obrolan saya dengan Pakdhe (yang memberi buku ini), saya menemukan tipe karya sastra yang saya suka. 

Saya suka yang ringan, tidak bertele-tele, ada kaitannya dengan sejarah atau kisah nyata, sedikit melibatkan sains, fokus dan tidak terlalu banyak menyebutkan nama atau deskripsi yang (seakan) harus dihapal). Beberapa contoh karya yang memenuhi kriteria ini, misalnya ‘Bumi Manusia’ karya Pramoedya Ananta Toer, ‘Trilogi Insiden’ karya Seno Gumira Ajidharma, ‘A man Named Dave’ dan ‘A Child Called It’ karya Dave Pelzer, sama ’24 Wajah Billy’ karya…lupa. 

Nah, cerpen Rio Johan yang saya sebut tadi mengingatkan saya kepada karya-karya mereka. 

Mengenai tema, ada dua hal menarik yang saya tangkap dari cerpen itu. Pertama, soal bunuh diri. Kedua, undang-undang dan apa yang terjadi dalam negara ini. 

Ok. Pertama, tentang bunuh diri. Di tulisan sebelumnya saya pernah berbagi tentang data yang saya dapat seputar kasus bunuh diri di Indonesia. 

Bunuh diri ini bukan perkara sederhana. Beberapa bulan lalu saya sempat, saking merasa magabut, ingin mendaftar ke salah satu komunitas antibunuhdiri. Jadi saya baru tahu kalau ada komunitas antibunuhdiri di Indonesia, lalu saya mendaftarkan diri. Dan tidak diterima. Sepertinya saya justru cocok menjadi pasien mereka (hahaha, asem dah ah). 

Suatu hari di Jakarta Pusat, seseorang dikabarkan bunuh diri dengan cara melompat dari ketinggian. Lantai 49. Kabar dari seorang teman yang melihat evakuasi di lapangan, dia jatuh dan tak berbentuk. Nggak perlu diceritakan detailnya ya. 

Saya datang ke RSCM dan mendapati moment yang awkward banget. Beberapa orang berkumpul di depan ruang mayat dan mereka menunggu kabar dari dokter seperti saya. Saya paling susah wawancara orang yang lagi berduka. Jadi saya menghabiskan banyak waktu berdiam dan memikirkan apa yang harus saya katakan atau lakukan. Setupid ya. 

Akhirnya, saya ikut masuk ke dalam ruang administrasi ketika mereka masuk dan saya nguping saja. Hiks. Ternyata beliau yang meninggal adalah bos sebuah perusahaan. 

Ada lagi kasus yang menimpa kakak kelas saya. Dia minum sabun setelah diputusin pacar. Percobaan bunuh dirinya gagal. 

Saya akhirnya menyimpulkan bahwa bunuh itu memang bukan main-main. Semua orang punya potensi yang sama untuk menjadi pelaku bunuh diri. Dan penderita gangguan kejiwaan adalah orang paling potensial. Sementara, gangguan kejiwaan juga bisa mengancam siapa saja, tidak kenal usia, tak pandang jabatan, kepintaran, atau kekayaan.

Ada satu kutipan yang saya suka di cerpen ini berbunyi, “Sesungguhnya bunuh diri di negeri R bukan lagi sekadar perkara depresi. Bunuh diri bukan semata  urusan pembebasan dari kungkungan ekonomi, kelelahan modern berkepanjangan, atau dalih dan dalil klise lainnya -sekalipun masih ada juga sejumlah kasus bunuh diri klasik seperti itu- melainkan sudah berubah menjadi suatu fenomena lunatik kolektif masa kini, yang daya tularnya ternyata lebih kilat dari dugaan.

Nah sebenarnya solusinya cukup sederhana sih. Bunuh diri biasanya dilakukan oleh orang-orang yang merasa buntu dalam menghadapi kesulitan hidupnya. Sementara, kebuntuan biasanya dihadapi oleh mereka yang memiliki gangguan sosial tertentu. Mereka merasa sendiri, tidak punya tempat bercerita, tidak ada tempat untuk meminta pertolongan atau sekadar bertanya atau minta didengarkan saja. 

(Keterbatasan ruang untuk huruf. Bersambung ke bagian 2…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s