Uncategorized

Mengatasi Anak Tantrum

​Beberapa waktu lalu saya sempat membicarakan tentang anak tantrum dengan seorang kawan. Dia laki-laki (kayanya penting untuk disebut gendernya). 

“Kemarin anakku ngamuk. Oo.. Tak masukin ke kamar mandi. Tak siram. Diem dia,” katanya. 

“What??”

“Iya gitu. Kalau dia minta sesuatu, dia marah, ngamuk. Nggak boleh dituruti kalau lagi kaya gitu. Kalau dituruti ntar dia menggunakan cara itu terus untuk minta sesuatu.”

“Iya sih, nggak boleh dituruti. Tapi kenapa harus dimasukkan ke kamar mandi trus disiram begitu?”

“Karena cuma itu caranya. Nggak ada cara lain. Dia cuma diem kalau dibawa ke kamar mandi. Ntar dia keluar, nangis lagi, bawa lagi ke kamar mandi. Siram lagi.”

“Hm… gitu ya? Hm.. nonono. Pasti ada cara lain.”

“Misalnya apa?

“Aku nggak tahu. Sampeyan Bapaknya, yang paling tahu karakternya.”

“Kalau caraku ya gitu. Nggak ada cara lain.”

“Gimana kalau dipeluk?”

“Ooo.. tambah ngamuk. Setelah disiram begitu dia diem. Habis itu main-main lagi sama aku. gimana?”

>>> Sebelum melanjutkan membaca, saya akan memberikan sedikit background tentang siapa yang membuat tulisan ini. Saya. Saya belum menikah, tentu saja belum punya anak. 

Di kampus, saya dan teman-teman yang mengambil jurusan English for Children mendapatkan pelajaran tentang pendidikan dan psikologi anak. 

Jadi, saya di sini adalah pembelajar dan sempat menjadi pengajar anak. Saya bukan praktisi, tapi apa yang saya sampaikan dan lalukan sesuai dengan teori. Saya sendiri lebih percaya praktik daripada teori. Tapi mengerti teori juga penting, agar praktik tidak serampangan.

Nah, mari membicarakan tentang pilihan teman saya untuk mengatasi tantrum dengan cara menyiram paksa sang anak. Saya sadar, kita tidak bisa  dan tidak boleh memaksakan konsep yang kita anut kepada orang lain sih. Dengan segala argumen yang disampaikan tadi, saya tetap tidak bisa menerima bahwa menyiram anak adalah solusi terbaik.

Cara-cara seperti itu adalah gambaran bahwa kita sebagai orang dewasa belum mampu menemukan cara-cara yang arif untuk menuntun generasi anak-anak, adik-adik, keponakan-keponakan menjadi lebih baik. 

Apakah cara semacam itu boleh dilakukan? Kalau wajar atau tidak, saya akan bilang wajar. Berbuat kesalahan adalah sesuatu yang wajar. Namun menganggap benar suatu kesalahan adalah sesuatu pelarian. 

Ada banyak cara lain untuk membuat anak tidak berlarut-larut ketika marah. Namun, perlu dipahami bahwa karakter adalah pembiasaan. ada sifat-sifat alami anak yang mungkin tidak bisa diubah, tapi ada bagian yang bisa kita upayakan. 

Anak biasanya akan marah berlarut-larut karena didukung beberapa kondisi. Pertama, dia merasa marah (dengan cara menangis, berteriak, atau mengamuk) adalah cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Ini terjadi ketika orang tua selalu menuruti kemarahannya. ketika orang tua tidak tega melihat tangisannya. ketika orang tua dalam posisi kalah atau selalu mengalah (tapi ingat mendidik anak bukan kompetisi atau perang). 

Kedua, dia akan marah berlarut-larut ketika dia merasa tidak ada ruang untuk menjadi anak yang baik. marah menjadi bentuk ‘pemberontakan kecil’. kapan itu terjadi? ketika anak merasa diabaikan, tidak dihargai, sering direndahkan, sering dibandingkan dan berada di posisi yang kalah. Kapan lagi? ketika kemarahannya tidak membuat orang tuanya merasa harus mengubah sesuatu. 

Dari dua hal di atas, saya mencoba berada di titik tengah. Bagaimana mengahadapi anak yang merajuk, menangis, mengamuk?

1. Jangan tunggu kemarahannya menjadi-jadi, segera sadari bahwa anak sedang berada satu langkah menuju tantrum. Berikan sentuhan (di pundak atau di mana saja) untuk menunjukkan bahwa kita sadar, kita dekat, kita peduli. Berikan pelukan. 

2. dalam tahap dia ‘tidak jadi marah, tidak jadi merajuk’, berkomunikasilah. tanyakan dengan baik apa yang dia inginkan. atau jika anda sudah tahu apa yang dia inginkan, sampaikan dengan baik-baik mengapa permintaan itu tidak bisa dipenuhi, mengapa tidak bisa dipenuhi sekarang, atau mengapa dia harus melakukan sesuatu agar keinginannya bisa terpenuhi. 

3. ada dua kemungkinan setelah orang tua melakukan hal di atas. anak akan menerima apa yang disampaikan orang tua, atau dia akan mengatakan hal lain. biarkan komunikasi bergulir dengan sehat. 

4. ada masanya anak benar-benar tidak bisa menerima penjelasan orang tua (bisa jadi karena terlalu sering menggunakan penjelasan yang sama atau anak sudah dapat menebak jawaban orang tua). jika anak mulai merajuk dan sulit dinasehati, tetap pertahankan apa yang orang tua inginkan (tentunya setelah proses diskusi dan ortu juga sudah merefleksi diri). Jika pendapat anak benar, tidak ada salahnya Anda mengakui kekurangan dan meminta maaf (stay being human in front of your child 😄). namun jiika Anda benar, lanjut ke step berikutnya. anda boleh memperdalam penekanan suara untuk membuat dia sadar bahwa Anda punya keputusan. 

5. jika anak sampai menangis atau merajuk tanpa bisa dinasehati, biarkan dia sejenak. biarkan dia menangis sampai puas, sampai lelah. jangan sakiti. kadang dia perlu menumpahkan kekesalahannya. kadang dia perlu melakukan refleksi diri.

6. jangan tunggu kemarahannya menjadi benci. ketika dia sudah lebih tenang, sudah diam, segera datangi dia. berikan pelukan atau sentuhan. berikan makanan yang ia sukai. ajak dia bicara baik-baik. intinya, tunjukkan bahwa Anda tidak meninggalkannya karena abai. tunjukkan bahwa cara itu dilakukan orang tua sebagai wujud cinta, dan karenanya sebagai rasa cinta anak dan orang tua harus bekerja sama. 

itu sedikit yang saya pelajari. yang saya saksikan di siaran televisi (semoga bukan rekayasa). dan yang saya praktikkan kepada keponakan-keponakan. mendidik perlu kesinambungan. karena itu sulit mempraktikkan hal ini pada keponakan, karena orang tuanya punya konsep sendiri yang berbeda dengan saya. 

Tapi, orang tua punya kesempatan yang banyak untuk menerapkan itu semua. ingat untuk mengantisipasi tantrum dengan step 1, sehingga kita tidak peelu terlalu sering mengatasi anak yang sudah terlanjur mengamuk. 

Tentang apa yang dilakukan teman saya bagaimana? saya tidak bisa bilang kalau dia salah. dia yg menghadapi anaknya setiap hari. tiap anak punya karakter berbeda-beda dengan penanganan yang berbeda pula. Jika itu anak saya, saya berharap tidak melakukan itu.

Jakarta, 17 januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s