Hoax dan Literasi Masyarakat Kita (Cerita dari FGD)

​Lagi-lagi Hoax
Ada banyak hal menarik dalam diskusi tadi sore di markas Kibar. Temanya tentang maraknya hoax dan bagaimana mengatasinya. 
Berhubung waktu yang disediakan hanya dua jam, diskusi itu belum sampai memunculkan solusi-solusi. Sebab, ternyata perkara hoax itu tak bisa dibilang sederhana. 
Pemerintah memilih cara yang ‘tegas’ dengan melakukan pemblokiran situs-situs yang dianggap ‘berbahaya’. Semuanya memakai tanda kutip karena saya belum menemukan parameter yang jelas yang dibuat oleh pemerintah tentang bahaya yang dimaksud.
Dirjen Aptika Kemenkominfo mengatakan pemblokiran itu lebih didasarkan pada konten. Jadi tidak peduli itu website punya siapa, jika kontennya dianggap ‘berbahaya’, maka itu akan diblokir. 
Dewan Pers memilih solusi yang lain, yaitu barcode media. Barcode media ini diumpamakan seperti alur register. Sifatnya sukarela. Namun, media yang memiliki barcode akan mendapatkan beberapa kemudahan, misalnya tidak bisa sembarang diblokir karena sudah memiliki mekanisme pers seperti hak jawab, permintaan maaf melalui media masa, dan beberapa sanksi lain. 
Beberapa kalangan merasa barcode media bukan solusi yang tepat. Agak mirip dengan sertifikat halal MUI, yang justru dikhawatirkan akan memancing munculnya polemik baru. Lalu muncul berbagai pertanyaan. Bagaimana dengan nasib jurnalisme warga? Bagaimana dengan para blogger? Bagaimana nasib media alternatif? Dan sebagainya. (Btw paragraf ini nyomot dari diskusi di tempat lain dengan tema yang sama)
Dalam diskusi kemarin sore dibahas bahwa edukasi adalah hal yang sangat dibutuhkan saat ini. Ada kutipan menarik begini. “Selama masih ada orang yang bisa berbohong, hoax akan tetap ada. Yang harus diedukasi adalah orangnya, agar bisa membedakan mana hoax mana bukan.”
Adanya barcode media dikhawatirkan justru akan menimbulkan barcode-barcode tandingan. Akhirnya, ini akan menambah pekerjaan untuk mengedukasi masyarakat. Tak hanya mengedukasi tentang bermedsos yang benar, mengenali hoax dan bukan, tapi juga mana barcode yang asli dan mana yang palsu. 
Hal menarik lainnya, adanya berbagai ‘jangan-jangan’. Jangan-jangan, perkara hoax ini hanya menjadi ancaman di kota-kota besar. Jangan-jangan di daerah-daerah orang-orang tidak merasa begitu terancam. Jangan-jangan pembahasan tentang Pilkada DKI tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat di daerah, karena mereka lebih tertarik untuk membahas hal-hal yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari, semacam akan makan apa hari ini. 
Ini ditampik oleh Kemenkominfo. Dalam salah satu kunjungan dikatakan, pembahasan tentang Pilkada DKI juga sampai ke daerah-daerah. Bahkan, ada semacam wacana, seakan-akan umat Islam sudah harus bersiap untuk perang. Ini  terjadi karena adanya hoax-hoax yang bersifat lokal yang juga diproduksi di tingkat daerah. 
Yang menggelitik, ada dua peserta diskusi yang menceritakan pengalamannya berada dalam satu grup. “Ada lo ajakan untuk belajar panah untuk mempersiapkan revolusi.” 
Ada lagi yang bercerita, “Malahan ada yang membagikan broadcast tentang cara-cara membuat bom sederhana, misalnya dari kaleng.” Cerita ini memancing tawa dari para peserta, tapi iya, ini menyeramkan. 
Nah, ada lagi cerita menarik dari peserta lain. Dalam sebuah forum, kata dia, dibahas tentang perubahan besar yang terjadi di dunia. Dikatakan bahwa perubahan dunia pertama terjadi ketika ditemukan teleskop. Penemuan ini mengubah dunia secara utuh. Orang-orang mulai membahas macro-cosmos, tentang bumi dan alam semesta, planet-planet, tata surya, dan sebagainya. 
Perubahan kedua terjadi ketika ditemukan mikroskop. Di situ mulai dikenal microcosmos dengan virus, bakteri, antivirus, dan sebagainya. 
Menjelang era milenium, orang-orang bertanya tentang prediksi perubahan di tahun 2000. Banyak yang menjawab akan muncur teknologi baru laser, roket, dll. Tapi, tidak pernah diprediksi tentang adanya meso-cosmos, yaitu ruang di antara macro dan micro-cosmos. 
Ketika internet masuk, orang-orang membicarakan tentang keterbukaan informasi dan segala hal positif yang menyertainya. Namun, banjir informasi ini berlangsung terlalu cepat. Para ahli telah memperhitungkan hal-hal teknis semacam algoritma dan perkembangan teknologi, tapi lalai memikirkan manusianya.
Dalam meso-cosmos, manusia dapat terkoneksi tanpa saling bertemu. Pertemuan terjadi antara ide dan gagasan.  Internet mempertemukan orang-orang dengan ide dan gagasan yang sama.
Sebenarnya, orang-orang yang mudah memercayai hoax telah ada dari dulu. Namun kini mereka dimudahkan. Keyakinan mereka dikuatkan oleh pertemuan gagasan yang sama tersebut. 
Selain informasi palsu, media-media mainstream juga perlu mewaspadai data-data palsu. Misalnya data-data tidak valid yang dibuat untuk tujuan tertentu. Selain berita, media sosial, dan situs abal-abal, informasi dan data palsu paling banyak disebarkan justru melalui aplikasi komunikasi semacam grup WA, BBM, Telegram, dan semacamnya.   
Media mainstream juga memiliki peran dalam penyebaran hoax dengan memuat kabar burung yang tak berdasar (baseless). Misalnya, ketika ada rumor tentang kedatangan 10 juta tenaga kerja asing tanpa ada kejelasan dari mana sumbernya, media menanyakan hal tersebut kepada orang-orang yang berkompeten atau berwenang. Hal itu justru mem-blow up rumor yang tak berdasar tersebut. Contoh lain banyak ya. Dalam kondisi seperti ini media seharusnya menjadi verifikator, bukan kompor. 
Masih banyak lagi pembahasan menarik, misalnya cerita kelompok masyarakat anti hoax yang mempertanyakan secara mendasar pengertian hoax. Mereka juga menceritakan banyaknya masyarakat yang peduli pada hal ini dan bekerja sama untuk memberantas hoax. Jadi hoax yang muncul di tengah masyarakat juga diklarifikasi oleh masyarakat. 
Intinya, langkah-langkah semacam ini sudah cukup banyak dilakukan. Sayangnya, masih berjalan sendiri-sendiri. Nah, sepertinya akan ada diskusi lagi untuk membahas lebih lanjut tentang fenomena hoax. Yang saya tulis ini hanya sebagian. Masih banyak hal menarik yang dibicarakan pada pertemuan itu. Lain waktu belajar lagi. 
Besok pagi, akan ada pembahasan dengan tema yang hampir mirip di Dewan Pers. 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s